Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
28 - Hitam dan Putih


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew terdiam saat pedang itu dekat dengannya, gadis itu menyilangkan kedua tangannya dan melindungi kepalanya. Bersiap menahan rasa sakit dari tebasan pedang yang tampak tajam. Rasa panik dan cemas menguasainya saat membayangkan ekspresi wajah Laveron yang penuh dengan kebencian.


Suara pedang saling bersentuhan sama lain menarik perhatian Ivew untuk membuka matanya. Gadis dengan mata emerald itu terdiam saat di depannya berdiri sosok lain yang menggunakan seragam hitam khas prajurit militer, menatap nyalang sosok di depannya yang sangat mirip dengannya.


“Abang? Ada dua?”


Pemuda yang berdiri di depan Ivew itu berbalik dan tersenyum, sedangkan sosok yang berada di depan mereka menyeringai dan merubah bentuknya menjadi bayangan hitam dengan mata hijau terang. Laveron yang kini berdiri di depan Ivew menghunuskan pedangnya dan melindungi sang adik.


“Yang ini baru Laveron yang asli.”


Kucing Veister duduk di samping Ivew dan membuat perisai pelindung bewarna perak samar. Ivew menoleh menatap Veister yang tetap fokus ke depan. Suara tebasan pedang menarik perhatian Ivew dan manik emerald gadis itu menatap Laveron yang baru saja menebas bola hitam yang sama yang menyerang Veister. Efek dari bola hitam itu mengacaukan seisi ruangan dengan angin yang mampu melukai tubuh mereka.


Ivew berdiri dan menatap Laveron yang mati-matian menghindar dari serangan di depannya. Sedangkan sosok hitam di depan keduanya menyeringai dengan mulut yang sangat lebar. Mata hijau terang itu menatap Mirabeth bersaudara yang menampilkan ekspresi bingung dan marah.


“Khikhi ... ini hanya salam pertemuan kita. Jangan khawatir dan nikmati waktu tenang kalian.  Ternyata ada banyak hal menarik yang di sini. Khikhi ....”


Sosok hitam itu segera menghilang, melebur tak bersisa saat pedang panjang Laveron siap menebasnya. Pemuda bermata navy itu menggeram kesal dan melirik seisi ruangan yang kacau. Ivew yang berada di dalam pelindung Veister menghela nafas saat melihat Laveron dalam kondisi baik-baik saja, sedangkan Laveron yang di depannya kini menatap Ivew yang tampak bingung.


Pemuda itu sedikit ragu untuk mendekat, tetapi Ivew segera berlari memeluk sang abang saat Veister melepaskan sihir pelindungnya. Pemuda bermata navy itu sedikit kaget dan membalas pelukan erat sang adik kepadanya. Jemari tangannya bergerak mengelus rambut hitam legam sepunggung Ivew.


Laveron menutup kelopak matanya erat menahan rasa bersalah yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Pemuda itu yang kebetulan pulang lebih cepat dan sedikit kaget saat melihat pintu rumah mereka yang terbuka terlebih kunci mana tingkat satu yang digunakannya tidak berguna menahan penyusup.

__ADS_1


Dengan panik Laveron berlari menuju kamar sang adik dan menemukan sosok yang sangat mirip dengannya hendak menebas adiknya. Sosok itu juga ikut menyerang kucing Veister yang menjadi satu-satunya pertahanan darurat Ivew selain kekuatannya.


“Ini benar-benar, Abang kan?”


Ivew bertanya dengan suara sedikit gemetar dan berusaha memeluk Laveron, sedangkan pemuda bermata navy itu berdehem pelan dan mengangguk. Memeluk sang adik lebih erat dan menggumamkan kata maaf.


“Hah ... bagaimana mungkin sosok hitam itu bisa meniru abang dengan baik? Bahkan, aku tidak bisa membedakannya. Apa itu sihir hitam?” tanya Ivew beruntun sembari melepaskan pelukannya pada Laveron dan menatap sang abang yang juga tampak bingung dan menggelengkan kepalanya perlahan.


“Apa itu berarti ... tadi yang memarahiku juga bukan abang?” tanya Ivew kembali sedangkan Laveron menatapnya kaget sekaligus bingung.


“Memarahi Mu? Kapan? Abang juga baru pulang dan menemukan pintu rumah kita yang sedikit rusak.”


Laveron menjelaskan dengan gusar dan mengusap rambut hitamnya yang sedikit berkeringat. Manik mata navy-nya melirik atap di atas kamar Ivew yang hampir terlepas karena serangan angin akibat efek bola hitam, sedangkan Ivew menatap bunga anggrek biru di dekat jendela yang tetap utuh setelah semua yang terjadi.


“Mungkin saja ini serangan lanjutan dari sosok yang menyerangku tadi.”


Veister berubah ke bentuk manusianya. Ivew melirik Veister yang berdiri di sampingnya dan mengangguk.


“Lalu bagaimana caranya dia sampai di sini? Apa dia meninggalkan sihir pelacak saat menyerangmu tadi?” tanya Ivew menatap punggung Veister yang kini berdiri di depannya.


“Mungkin saja. Dari luka gores di leher ini atau dari ingatan kudamu yang dibawanya pulang ke sini."


Veister berujar saat Pemuda dengan jubah hitam perak itu segera mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan mantra sihir dengan lantang.

__ADS_1


“Itme Rutner!”


Ivew menyipitkan matanya saat angin kecil berputar di sekitar mereka memperbaiki segala kekacauan yang terjadi di dalam kamarnya. Gadis itu menatap Veister yang menutup matanya dan tampak fokus mengendalikan mantranya.


Rambut putih pemuda itu berkibar mengikuti gerak angin di dalam ruangan. Ivew mendekat ke arah Veister dan meraih rambut putih sebahu Veister yang tidak pernah menarik perhatiannya.


 Pemuda bermata dua warna itu sedikit kaget dan bersemu malu saat jemari Ivew terus memainkan rambutnya dengan senyum lembut di wajahnya. Menjaga jarak dari Ivew, Veister kembali menyembunyikan rambutnya di dalam tudung jubahnya. Ivew yang melihat hal itu hanya terkekeh pelan dan menatap kamarnya yang bersih.


“Terima kasih, Veister. Kamu melakukannya tanpa aku minta,” ucap Ivew terkekeh pelan dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya.


Veister hanya mengangguk dan menatap ke arah lain, sedangkan Ivew bersenandung pelan menatap langit-langit kamarnya yang kembali rapi.


Suara panggilan Laveron dari lantai bawah menarik perhatian Ivew dan gadis itu segera turun meninggalkan Veister yang menatap punggung Ivew yang hilang dari balik pintu. Pemuda itu menutup pintu dan bersandar pada pintu di belakangnya, jemari tangannya menutup wajahnya yang memerah dan merasa malu.


“Hah ... aku pikir jantungku akan meledak. Eh ... tapi aku kan penyihir hebat yang bisa mengatasi segalanya. Hahaha ... jadi itu hal yang mustahil. Ya, kan?”


Veister kembali terdiam dan samar-samar mendengar suara Ivew dan Laveron yang saling menyambung. Pemuda bermata dua warna itu beranjak menuju anggrek biru yang berada di dekat jendela kamar Ivew saat sebuah cahaya biru samar-samar bergerak memanggilnya.


Meraih salah satu kelopak anggrek biru yang jatuh Veister membungkuk hormat dan memakannya. Pemuda itu terdiam dan menatap bunga anggrek di depannya dalam saat bunga itu kembali bersinar biru samar.


“Jangan lengah penyihir suci Veister! Jaga dirinya baik-baik! Ini adalah misi yang diberikan untukmu demi kelancaran rencana kita!”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar .... ✨


__ADS_2