Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
68 - Kemarahan Sang Saintess (3)


__ADS_3

...⪻⪼...


Rayn terdiam menatap Ivew perubahan yang terjadi pada separuh rambut Ivew. Warna putih yang sangat berkilau seputih warna awan, dan angin biru tua yang berputar di sekitarnya. Menggambarkan sosok yang agung seperti langit.


Rayn yang kini kembali berada di samping Ivew melirik sosok bermata bulan sabit itu dari atas. Jemari gadis itu menggerakkan tangannya ke arah tanah dengan cairan hitam di bawahnya.


Angin biru tua di sekitarnya membawa semua cairan itu berputar mengikuti arah angin dan berkumpul dalam pusaran angin biru tua yang berputar sangat kencang. Rayn terdiam saat cairan hitam yang semula berada di tanah itu menghilang tanpa sisa.


Sosok dengan mata bulan sabit di bawah mereka menyeringai. Sulur-sulur hitamnya kembali mengeluarkan duri tajam yang siap ditembakkan ke arah keduanya.


Ivew menggerakkan angin di tangannya dan menyerang sosok dengan mata bulan sabit itu terlebih dahulu. Salah satu panah angin biru tua itu mengenai sulur hitam sosok bermata bulan sabit, menghancurkan sulur itu yang segera menguap jadi debu hitam.


Rayn menatap pemandangan di depannya dalam diam. Melirik Ivew yang terasa berbeda dari aura yang dikeluarkannya. Sosok dengan mata bulan sabit itu berdecak kesal dan kembali mengeluarkan duri-duri hitam ke arah mereka.


Ivew segera turun dan mendarat di tanah bersama dengan Rayn. Pemuda dengan mata orchid itu kembali menghunuskan pedangnya ke depan dan mulai menangkis serta menebas duri-duri tajam yang mengarah ke padanya.


Ivew menggerakkan angin di tangannya dan kembali membentuk panah angin biru tua yang siap ditembakkan menuju sosok bermata bulan sabit di depannya. Duri tajam dan panah angin biru tua kembali bertabrakan di udara menghasilkan gema suara yang memekakkan telinga.


Asap kecil hadir saat kedua serangan itu beradu. Panah angin biru tua Ivew terus melesat saat berhasil menghancurkan duri hitam yang baru saja ditabraknya.


"Ho … jadi ini kekuatan sesungguhnya seorang saintess? Atau itu hanya pinjaman?"


Sosok dengan mata bulan sabit itu kembali terdiam saat salah satu panah angin mengenai bahunya. Mengeluarkan debu hitam yang membuatnya meringis kesakitan.


"Diamlah! Dan tunggu saja kematianmu!"


Ivew terus mengeluarkan panah anginnya dan sosok dengan mata bulan sabit itu berdecak kesal. Sulur-sulur di belakang tubuhnya membentuk duri tajam yang lebih lebar dari sebelumnya. Namun, Ivew tak terlihat gentar dan terus mengeluarkan panah anginnya.


Gerakan Ivew sedikit terhenti saat telinga gadis itu mendengar ringis pelan dari Rayn yang berada di belakangnya. Mata emerald Ivew yang bercahaya menatap duri tajam yang menancap di bahu dan paha Rayn.


Pemuda itu menancapkan pedangnya di atas tanah menahan tubuhnya yang hendak jatuh karena rasa sakit. Ivew menggeram kesal dan mengendalikan anginnya untuk membentuk sebuah tembok.


Tembok angin itu mulai menembakkan satu panah angin yang cukup besar ke arah sosok bermata bulan sabit itu. Gadis itu segera mendekat ke arah Rayn yang bernafas tersengal.

__ADS_1


"Maaf ya, aku jadi beban."


Ivew menggeleng mendengar ucapan Rayn. Gadis itu melirik sekitarnya dan menggunakan anginnya untuk melindungi Rayn.


"Aku tidak punya kekuatan penyembuh. Bisakah Anda bertahan, Tuan Muda? Aku akan menyelesaikannya secepat yang aku bisa."


Ivew menatap Rayn yangduduk di depannya. Pemuda itu sedang membalut luka di pahanya dengan sobekan baju yang digunakannya. Manik orchid Rayn menatap wajah Ivew. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk.


"Tenang saja. Aku masih sanggup dan jangan memaksakan diri. Aku minta maaf tidak bisa membantumu."


Ivew menggelengkan kepalanya dan segera membentuk pusaran angin untuk melindungi Rayn. Manik orchid Rayn menatap punggung Ivew dari sela-sela pusaran angin. Ujung rambut gadis itu semakin memutih dan terus menjalar hingga puncak kepalanya.


Seharusnya aku yang melindunginya! Bukan aku yang dilindungi! Batin Rayn menggenggam tanah di sampingnya.


Ivew merenggangkan jemarinya dan mulai menambah kendalinya pada tembok angin di depannya. Panah-panah angin itu terus keluar dari tembok angin di depannya. Manik emerald Ivew menatap sosok dengan mata bulan sabit yang terus mengeluarkan duri dari sulur hitamnya.


Dia menambah kekuatannya dengan darah manusia? Benar-benar tidak punya hati! Pendosa harus dibasmi! Batin Ivew saat merasakan gejolak kekuatan di dalam tubuhnya.


Panah anginnya terus menghancurkan duri hitam yang dikeluarkan sosok di depannya. Rambut hitam Ivew mulai berubah menjadi putih dan hanya menyisakan bagian hitam di dekat telinga sampai puncak kepalanya.


Gadis dengan mata emerald itu tersenyum kecil saat kembali mendengar suara lembut angin yang selalu membantunya. Tembok angin itu mulai berubah menjadi beberapa pusaran angin.


Ivew menggerakkan tangan kanannya dan dua pusaran angin itu segera menghancurkan seluruh duri hitam yang baru saja ditembakkan sosok dengan mata bulan sabit itu. Ivew tersenyum saat melihat sosok di depannya mulai gentar dengan serangannya.


Tubuh sosok hitam itu mulai menguarkan asap hitam dengan satu sulur yang tinggal di belakang tubuhnya. Dua pusaran angin lainnya masih berputar di sekitar Ivew menunggu perintah sang saintess alam untuk bergerak.


"Hebat! Aku merasa tersanjung bisa melawanmu, Saintess."


Sosok dengan mata bulan sabit itu mematahkan empat kaki tajam yang berada di sekitar tubuhnya dan menggabungkannya dengan cahaya hitam yang keluar dari tangannya. Sebuah tongkat hitam hadir tipis panjang hadir di tangannya. Ivew mengernyit menatap tongkat hitam tipis yang berada di tangan sang penyihir.


"Itu tongkat penyihir hitam! Berhati-hatilah Ivew!"


Ivew mengangguk mendengar suara lembut angin kembali memberinya peringatan. Rayn yang berada di dalam pelindung angin Ivew terdiam saat menatap tongkat tipis panjang di tangan sosok bermata bulan sabit itu.

__ADS_1


"Itu tongkat penyihir hitam, kan? Apa dia salah satu penyihir hitam dari sejarah?" gumam Rayn.


Panah angin biru tua Ivew terus ditembakkan ke arah sosok dengan mata bulan sabit. Tongkat panjang sosok itu segera menebas panah angin yang terarah kepadanya.


Cahaya hitam dari tongkat itu menghancurkan seluruh panah biru tua Ivew. Gadis itu menggigit bibirnya dan kembali konsentrasi memadatkan angin pada tembok angin di depannya. Sosok dengan mata bulan sabit itu mendekat ke arah Ivew dengan tongkat hitam panjang yang mengetuk tembok angin di depan Ivew.


"Hihi … "


Ivew tersentak saat tembok angin di depannya hancur oleh cahaya hitam dari tongkat tipis sosok hitam di depannya. Gadis itu segera membuat perisai angin di depannya saat satu-satunya sulur di belakang tubuh sosok itu mengeluarkan duri hitam.


Ivew terhempas ke arah perisai yang melindungi Rayn. Pemuda dengan mata orchid itu tersentak menatap Ivew yang mengerang kesakitan. Sosok bermata bulan sabit itu mengeluarkan satu sulurnya dan langsung melilit lengan Ivew.


"Ivew!"


"Hihi … ayo, Saintes! Kembali bersama kami dan penuhi harapan master!"


Ivew mengepalkan tangannya saat merasakan rasa sakit dari lilitan sulur hitam di lengannya. Cairan merah mengalir turun dari lengan Ivew. Gadis itu menatap tajam sosok bermata bulan sabit yang kini berdiri beberapa langkah di depannya.


Api hijau kembali muncul dari tubuh Ivew membakar sulur hitam yang melilit lengannya. Gadis itu memegang lengannya yang terasa panas dan perih. Rayn yang berada di belakang Ivew berseru dan meminta perisai yang melindunginya dihilangkan.


Sosok bermata bulan sabit itu tersenyum dan mengarahkan tongkat hitam panjangnya ke arah Ivew yang menatapnya tajam dengan tangan mengeluarkan api.


"Perlawanan yang sia-sia. Sekarang sambutlah kematianmu! Hihi …."


Tongkat hitam panjang yang tipis itu mulai bersinar hitam. Manik emerald Ivew menyipit tajam dengan api hijau yang siap keluar untuk melakukan perlawanan, sedangkan Rayn berteriak panik di belakangnya memukul perisai angin yang melindunginya.


Sosok dengan mata bulan sabit itu menyeringai dan mulai mengeluarkan cahaya hitam yang tinggal dilepaskan. Namun, sosok itu tersentak saat merasakan sesuatu mengenai sulur terakhir di belakang tubuhnya dan suara seseorang yang menginterupsi mereka.


"Cukup sampai disitu!"


...⪻⪼...


Gimana? Gimana bab ini?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨


__ADS_2