
...⪻⪼...
Ivew membuka matanya perlahan saat merasakan suara seseorang terus bergumam memanggil namanya. Manik emerald gadis itu menatap langit-langit ruangan berwarna abu-abu di atasnya. Berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan gadis itu sedikit mengerang saat merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya.
"Ivew?"
Gadis dengan mata emerald itu menoleh saat mendengar suara serak seseorang memanggil namanya. Tangan seseorang bergerak mengelus pipinya membuat pandangan Ivew segera bertemu dengan manik navy pemuda di depannya.
"Akhirnya … akhirnya kamu bangun."
Laveron, pemuda itu menunduk dan menggenggam tangan Ivew dengan kedua tangannya. Ivew menatap tangan Laveron yang terasa gemetar dan air mata yang tampak mengalir menuruni pipi sang pemuda. Ivew tersenyum kecil dan membalas genggaman tangan Laveron.
"Maaf ya, Bang. Aku membuat Abang khawatir."
Laveron menggeleng saat mendengar ucapan Ivew. Pemuda dengan mata navy itu menghapus air mata yang turun dari pelupuk matanya dan menatap wajah Ivew dengan senyum hangat.
Ivew terdiam saat merasakan perasaan rindu saat menatap wajah tersenyum Laveron yang sudah lama tidak dilihatnya. Ivew menggenggam erat tangan Laveron dan mulai merasakan air mata menggenang di ujung matanya.
Laveron yang menatap Ivew yang hendak menangis membantu sang adik duduk dan segera memeluknya erat. Memberi pelukan hangat pada tubuh yang semakin kecil dari terakhir dirinya ingat.
Ivew membalas pelukan Laveron dan mencengkram erat baju hitam yang digunakan sang pemuda. Air mata mulai turun menuruni pipinya seiring gema tangisan sang gadis yang menggema di dalam ruangan.
Pelukan yang terasa hangat membuat Ivew merasakan rindu pada sosok yang tak lagi bisa ditemukannya. Sosok hangat yang selalu hadir untuk menghiburnya.
Ivew menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Laveron, sedangkan pemuda dengan mata navy itu menyisir rambut hitam legam Ivew dengan jemarinya. Menahan rasa perit di dada saat mendengar suara tangisan sang adik.
Rasanya sama. Pelukannya terasa sama. Batin Ivew saat memorinya menghadirkan sosok pemuda dengan rambut hitam dan mata coklat yang tersenyum memanggil namanya.
Namun, hati Ivew kembali diiris sembilu saat mengingat sosok itu tak lagi ada bersamanya. Mengingat tulang dari tubuh sosok yang dirindukannya digunakan oleh sosok mahkota taring itu.
Rasa sakit menguasai hati Ivew dan gadis itu membiarkan air mata melepaskan segala rasa marah, putus asa dan kesalnya kepada takdir yang membawa cerita kehidupannya.
__ADS_1
Laveron melirik Ivew yang bersandar pada bahunya. Menatap air mata yang terus mengalir di menuruni
wajahnya. Manik emerald yang bersinar redup dan tubuh yang gemetar. Pemuda itu menepuk pelan punggung Ivew berusaha menenangkan sang adik yang memeluknya semakin erat.
"Kamu bisa membunuh abang kalau lebih erat dari ini, Ivew."
Laveron tertawa kecil dan terus mengelus pelan punggung Ivew. Pemuda dengan mata navy itu tersenyum saat mendengar decak kesal dari Ivew yang masih memeluknya. Ivew segera melepaskan pelukannya dari Laveron dan menatap senyum hangat di wajah Laveron.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Laveron menghapus air mata yang kembali jatuh menuruni pipi Ivew dan menyusun bantal untuk sang gadis bersandar.
Gadis dengan mata emerald itu mengangguk dan menyapu pandangan matanya pada sekitarnya. Ruangan dengan nuansa abu-abu dengan lampu gantung di atasnya berwarna ungu. Ivew langsung mengetahui saat ini dirinya berada di mansion wilayah Angena. Ivew kembali menatap Laveron yang sibuk menuangkan air untuknya.
"Terima kasih, Bang."
Ivew menerima gelas berisi air dari tangan Laveron. Manik navy Laveron menatap sang adik yang meminum air yang diberikannya. Perasaan lega hadir di hatinya saat menatap Ivew kembali terbangun dan membuka matanya.
Masih jelas dalam ingatan Laveron saat itu cairan merah terus mengalir dari luka di dada kiri sang adik.
tangannya. Pemuda itu tak sanggup jika harus kehilangan sang adik.
"Berapa lama aku hilang kesadaran, Bang?"
Ivew menyerahkan gelas kosong ke arah Laveron dan menatap wajah sang abang. Pemuda dengan mata navy itu meletakkan gelas di meja di samping tempat tidur yang digunakan Ivew dan beralih menatap wajah pucat sang adik.
"Satu minggu. Kamu tidak sadar selama satu minggu dan beberapa kali jantungmu berhenti mendadak. Untunglah … untunglah Veister menyelamatkanmu tepat waktu."
Laveron tersenyum pahit dan meraih kembali tangan Ivew. Manik emerald Ivew menatap gurat khawatir di wajah Laveron dan membalas genggaman tangan Laveron.
"Apa luka Abang baik-baik saja?"
Gadis bermata emerald itu teringat Laveron yang meringis saat terkena lidah api hijaunya yang tidak terkendali. Perasaan bersalah semakin menguat di dadanya saat mengingat yang lainnya juga terluka karenanya.
__ADS_1
"Tenang saja. Kami semua baik-baik saja. Tidak ada yang marah kepadamu, Ivew. Semua orang menunggumu bangun."
Laveron tersenyum hangat dan kembali mengelus puncak kepala Ivew. Ivew menatap perban yang membalut telapak tangannya. Gadis itu sedikit mengernyit saat merasakan rasa ngilu di dada kirinya.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu. Tidak semua lukamu bisa disembuhkan dengan sihir Veister atau potion tingkat tinggi, Ivew. Tubuh saintess wanita tidak bisa menerima banyak sihir dari luar."
Laveron merapikan selimut di sekitar tubuh Ivew berusaha membuat sang adik tetap hangat. Pemuda dengan mata navy itu menceritakan semua yang terjadi setelah Ivew kehilangan kesadaran.
Kepanikan yang terjadi antara dirinya dan Veister yang terus memanggil nama Ivew saat mata emerald gadis itu perlahan menutup. Veister yang mati-matian menggunakan sisa kekuatannya untuk menutup luka di dada kiri Ivew.
Laveron yang berusaha menghangatkan tubuh Ivew yang mulai dingin. Leister dan Ramound yang berjaga dari kemungkinan buruk dengan pedang yang siaga teracung ke depan.
Duchess Veryn dan Rayn yang duduk di dekat Laveron dan berusaha menyalurkan mana di tubuh mereka untuk memberi kekuatan pada Ivew. Veister menghela nafas saat berhasil menutup luka di dada kiri Ivew.
Namun, pemuda itu tetap cemas karena hanya bisa memberikan pertolongan sementara mereka harus segera kembali ke wilayah Angena dan memberikan potion tingkat tinggi satu botol kecil untuk Ivew.
Veister yang kehabisan tenaga dibantu oleh Leister dan mereka segera kembali ke mansion Angena dengan mantra teleportasi Veister. Pemuda dengan mata dua warna itu sedikit limbung saat mereka sampai di mansion Angena.
Efek serangan dari penyihir hitam saat itu masih melemahkan kekuatannya dan Veister harus meminum potion tingkat tinggi untuk menghilangkan sisa serangan si penyihir hitam. Sesampainya di mansion Angena Ivew segera mendapat potion tingkat tinggi dan ditempatkan di kamar dengan pengawalan khusus dari ksatria keluarga Angena.
Veister yang sudah pulih juga sesekali mengecek keadaannya, sedangkan Leister telah kembali tiga hari yang lalu ke wilayah Flowerlax untuk membantu Lolita mengurus wilayah Flowerlax. Namun, pemuda itu meminta Laveron untuk mengabarinya jika Ivew sudah sadar yang disetujui oleh Laveron.
Ivew terdiam mendengar semua penjelasan Laveron. Gadis itu mengepalkan tangannya mendengar nama Leister dan Lolita, ingatannya segera mengingat tentang nasib duke Flowerlax.
Aku harus mencari waktu untuk menyampaikan kabar buruk ini kepada mereka. Batin Ivew bersandar pada bantal di belakangnya.
Gadis itu kembali teringat dengan kalimat yang disampaikan Laveron saat pemuda itu memeluknya hari itu. Ivew menegakkan tubuhnya dan menatap Laveron yang memandangnya bingung.
"Abang aku ingin bertanya. Sejak kapan abang tahu kalau jiwaku bukanlah jiwa Ivew Mirabeth yang asli?"
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨