
⪻⪼
Ledakan yang berasal dari dalam kamar menggema ke seluruh mansion Rizery. Mereka yang berada di depan pintu kamar Ivew terlempar ke arah dinding di belakang mereka. Mansion Rizery kacau dan mengalami kerusakan di beberapa tempat.
Laveron mengerang saat merasakan rasa sakit yang menjalar di punggungnya serta kepalanya yang pusing. Menggerakkan tangannya menuju sisi kiri kepalanya Laveron menemukan darah merah yang mengalir.
Manik navy pemuda itu menatap kepulan asap dan debu dari kamar di depannya. Mengedarkan pandangannya ke sekitar manik navy Laveron menemukan beberapa ksatria yang terluka dan juga Wine yang terduduk di sampingnya.
Pemuda dengan mata aquamarine itu melirik Laveron dan segera bangkit berdiri. Tangan pemuda itu terulur di depan Laveron dan segera membantu sang pemuda untuk bangun.
Laveron membawa kakinya berjalan ke dalam kamar Ivew yang hancur dan penuh debu di bantu oleh Wine yang membimbing langkahnya. Manik navy sang pemuda menatap seisi kamar yang berantakan dan penuh dengan lubang bekas tusukan pada dindingnya.
“Ivew? Kamu ada di sini?”
Kedua pemuda itu mengernyit saat mencium bau darah serta bau busuk dari seisi kamar. Wine menunjuk ke sisi lain dinding di dekat pintu dan menemukan genangan darah di sana. Pemuda dengan mata navy itu gemetar melangkah menuju genangan darah dan menatapnya dengan wajah menahan amarah.
Wine menatap kedua tangan Laveron yang mengepal erat, pemuda itu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan mencari petunjuk tentang keberadaan si pemilik kamar. Manik aquamarine Wine menemukan tulisan dari darah di sudut lain pada bagian dinding kamar berdekatan dengan kaca yang hancur.
Wine melirik Laveron yang menunduk memandang genangan darah di depannya. Suara langkah kaki dari luar ruangan menarik perhatian keduanya dan menatap ke arah pintu masuk kamar.
“Apa yang terjadi?”
Diano yang berdiri paling depan menatap kekacauan di dalam kamar diikuti dengan Leister yang membantu Veister berjalan. Ketiga pemuda itu terdiam saat menatap genangan darah yang terdapat di samping mereka.
“Di mana, Ivew?” tanya Veister setelah hening cukup lama.
__ADS_1
Manik dua warna pemuda itu menatap Laveron yang diam dan menghindari tatapan mereka. Leister menatap darah yang terus mengalir dari luka di kepala Laveron. Diano segera mengajak mereka untuk menuju ruang tamu di mansion nya sembari meminta Wine melaporkan semua kejadian kepada Duke Rizery yang masih dalam perjalanan menuju mansion.
Diano segera memanggil beberapa penyihir untuk menyembuhkan luka mereka semua dan meminta ksatria keluarga Rizery bersama pasukan militer laut untuk mengumpulkan petunjuk dari kamar Ivew yang hancur.
Leister menatap langit-langit di atasnya, mata ruby pemuda itu mengingat sosok hitam yang menyeringai kepadanya dan berusaha memfokuskan ingatannya saat sekilas mengingat benda yang dipegang sosok hitam itu.
“Ke mana perginya, Ivew?”
Laveron bertanya lirih saat penyihir selesai menyembuhkan lukanya meninggalkan mereka untuk beristirahat. Leister melirik Laveron yang bersandar pada sofa di belakangnya mata navy pemuda itu tampak berair seolah menahan tangis, sedangkan kedua tangannya tampak terkepal menahan amarah.
Mata ruby Leister melirik Veister yang duduk diam sembari memulihkan kekuatan sihirnya dengan meditasi. Diano juga ikut meninggalkan mereka untuk melaporkan kerusakan yang terjadi kepada Duke Rizery di ruang kerjanya dan juga kepada Kaisar melalui sambungan video khusus.
“Itu pasti serangan penyihir hitam,” ucap Veister membuka matanya dan menarik perhatian Laveron yang memandang jendela.
“Penyihir hitam?” tanya Leister menatap Veister dari kertas yang berada di tangannya.
Suara ketukan dari pintu menarik perhatian mereka dan menatap Diano yang membuka pintu bersamaan dengannya datang Duke Dexter Rizery. Ketiganya segera berdiri dan memberi salam hormat pada penguasa keluarga Rizery. Rambut biru sang duke tampak selaras dengan rambut milik Diano. Duke hanya tersenyum dan menyuruh mereka untuk kembali duduk.
“Maaf atas kelalaian yang terjadi. Kami lengah dengan penjagaan kami,” ucap Duke Dexter Rizery. Diano yang berdiri di belakang kursi sang Duke juga ikut menunduk meminta maaf.
“Tidak ada yang menduga tentang hal ini Duke,” jawab Leister mewakil Laveron yang diam.
Duke Dexter menatap wajah-wajah di dalam ruangan dan melirik Diano untuk menyerahkan berkas di tangannya. Mata hitam sang duke menatap Leister yang menunggunya untuk berbicara.
“Tuan Muda Leister, saya mendapat kabar saat kunjungan ke istana kekaisaran tadi. Ini terkait dengan hilangnya Duke Ekan.”
__ADS_1
Leister tersentak saat mendengar kalimat yang di sampaikan Duke Dexter dan tetap menunggu pria itu untuk melanjutkan kalimatnya, sedangkan Veister dan Laveron tetap menyimak pembicaraan walaupun pemuda dengan mata navy itu merasa jengah dan berharap secepat mungkin bisa mencari keberadaan Ivew.
“Kemungkinan besar sosok penyerang kali ini juga berkaitan dengan hilangnya Duke Ekan. Ilmuan dari Kota Rozitto melaporkan hasil penelitian mereka ke istana dan saya sempat bertemu dengan salah satunya. Kaisar juga meminta masing-masing daerah untuk waspada dengan situasi yang terjadi.”
Leister mengangguk saat mendengar penjelasan Duke Dexter dan melirik Laveron yang menunduk di sampingnya. Pemuda bermata navy sedari tadi nampak menahan amarah terbukti dari mana yang sedikit menguar menyelimuti tubuhnya.
“Duke Dexter, saya ingin bertanya. Apa para ilmuan itu juga mengamati kuda Duke Ekan yang ditemukan di lokasi hari itu?” tanya Veister menatap wajah Duke Dexter.
“Ya, Tuan Veister. Setelah dilakukan pengambilan sample darah mereka menemukan sesuatu yang aneh dalam darah kuda itu, seperti cairan hitam dengan bau busuk yang mirip dengan bau yang tertinggal di kamar lady itu.”
Duke Dexter menjelaskan sembari menatap kertas di tangannya dan melirik Veister yang mengangguk. Pemuda dengan manik dua warna itu mengangguk dan menghela nafas saat akhirnya dirinya membongkar identitas aslinya sebagai satu-satunya penyihir suci yang masih ada di Kekaisaran Attle.
“Kami juga sudah berkomunikasi dengan kaisar dan kaisar memberi perintah untuk melakukan pencarian secepatnya. Kita bisa mengandalkan tulisan darah dan mana hitam yang tertinggal di ruangan.”
Veister dan Leister mengangguk mendengar ucapan Duke Dexter.
“Aku akan mencoba melacaknya dengan sihirku. Tapi sebelum itu aku butuh potion tingkat tinggi untuk memulihkan sihirku. Apa kalian bisa menyediakannya?” tanya Veister dan diangguki oleh Duke Dexter Rizery yang sedikit kaget dengan permintaan Veister.
“Jadi? Apa yang harus dilakukan? Aku tidak ingin kehilangan adikku lagi! Aku tidak ingin kematian memisahkan ku dengan adikku lagi!”
Laveron berseru dan melepaskan amarahnya tepat saat Duke Dexter Rizery dan Diano keluar dari ruangan untuk melakukan pencarian. Leister yang mendengar hal itu menatap Laveron dengan wajah bingung dan berusaha mencerna pernyataan sang pemuda bermata navy sedangkan Veister hanya menatap diam pemuda bermata navy itu.
“Apa maksudmu kematian memisahkan mu dengan adikmu lagi, Laveron?”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨