Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
33 - Api dan Angin


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew terdiam menatap tato bunga di tangannya. Dua kelopak bunga tato itu telah memiliki warnanya masing-masing. Kelopak berwarna biru muda yang ia yakini adalah kekuatan angin dan kelopak bewarna merah bata yang gadis itu yakini adalah simbol kekuatan api. Ivew melirik gaun hijaunya yang sedikit kotor karena debu dari kebakaran hutan di sekitarnya.


Gadis itu segera berbalik dan bertemu dengan pandangan panik dan kagum semua orang. Kucing Veister hanya mengangguk saat Ivew menatap manik dua warnanya sedangkan Leister yang tersadar dari rasa kagetnya segera mendekat ke arah Ivew yang tampak canggung dengan perhatian yang di dapatnya.


“Apa kamu baik-baik saja, Ivew?”


Leister bertanya dan meraih kedua bahu Ivew dengan panik. Mata ruby pemuda itu memandang wajah Ivew yang sedikit kotor karena debu. Jemari tangannya bergerak membersihkan debu di pipi Ivew dan menatap mata emerald gadis itu sedangkan para ksatria lainnya mulai bergerak membantu rekan-rekan mereka.


“Ah ya ... saya baik-baik saja, Tuan Muda,” jawab Ivew berusaha mengalihkan pandangan dari wajah Leister yang terlalu dekat dengannya.


Pemuda bermata ruby itu tersentak setelah mendengar jawaban Ivew dan menjaga jarak dari gadis di depannya. Menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya akibat tindakannya barusan.


“Kamu mendapatkan kekuatan api?”


Kucing Veister mendekat ke arah keduanya berusaha menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Ivew menoleh dan mengangguk. Gadis bermata emerald itu melirik tato kelopak bunga di tangan kanannya. Dua warna telah hadir mengisi tato kelopak bunga itu artinya masih ada tiga kekuatan lagi yang menunggunya.


“Kenapa hutan ini tiba-tiba terbakar, Tuan Muda?”


Ivew bertanya menatap Leister yang sedari tadi memperhatikan tindakannya. Pemuda bermata ruby itu mengalihkan pandangannya menatap sisi kiri hutan yang terbakar habis.


“Grein pernah berkata kalau api adalah kekuatan alam yang akan datang mencari tuannya. Dia bisa membakar apa saja dan tak peduli dengan kacaunya alam sekitar. Berbeda dengan angin yang sudah ada bersama tuannya sejak lama, api selalu datang mencari dan menjelajah. Jadi menurutku ... hutan ini tiba-tiba terbakar karena api itu datang mencari mu, Ivew.”

__ADS_1


Leister menjelaskan semuanya sembari menatap Ivew yang melirik tangan kanannya. Sedangkan kucing Veister mengangguk dan membenarkan ucapan Leister.


“Lalu apa yang harus kita lapork-"


Cahaya perak hadir di sekitar mereka memotong ucapan khawatir Ivew. Ketiganya berbalik memandang hutan yang terbakar kembali ke keadaan semula. Tak ada debu atau bagian hutan yang hangus. Angin bergerak di antara mereka membelai rambut hitam Ivew yang menatap kaget pemandangan di depan mata.


“Tenanglah .... semua akan baik-baik saja. Alam akan selalu membantumu memulihkan semua yang terjadi.”


Manik emerald Ivew melebar saat mendengar suara halus di antara angin yang menggerakkan helai rambut di dekat telinganya. Gadis bermata emerald itu tersenyum dan berbisik pelan mengucapkan rasa terima kasihnya.


Kucing Veister yang berdiri di samping Leister mengangguk saat hutan di depan mereka kembali normal. Leister menghela nafas dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dan meminta kepada prajurit yang menemani mereka untuk merahasiakan semua hal yang mereka lihat.


 “Jadi api itu jadi milikmu? Kekuatanmu? Sama seperti angin itu?” tanya Leister menatap Ivew yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Leister tertawa kecil membayangkan ekspresi kemarahan Laveron sedangkan Ivew hanya bergidik ngeri membayangkan wajah tegas Laveron. Keduanya kembali larut dalam pembicaraan mengenai kekaisaran. Tata krama yang harus di jaga Ivew saat bertemu para bangsawan nantinya, pertemuan mereka dengan kaisar dan putra mahkota serta pertemuan rutin untuk membahas tentang serangan monster.


“Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?” tanya Ivew mengelus kucing Veister yang tertidur di dekatnya.


“Ha? Kamu lupa aku kan membawamu sebagai sekretarisku nantinya. Aku tidak bisa membawa Lolita karena selain duke tidak mengizinkan dirinya juga mendapat tugas mengawas daerah perbatasan,” jawab Leister menatap Ivew heran.


Gadis bermata emerald itu terdiam dan sedikit bergidik saat membayangkan dirinya akan bertemu dengan semua karakter penting dalam novel Jalan Takdir.


“A-apa saya juga akan masuk ke ruang pertemuan?” tanya Ivew dan Leister kembali mengangguk dan semakin bingung saat gadis bermata emerald di depannya berwajah pucat.

__ADS_1


Ahh! Aku melupakannya! Kenapa aku menyetujui permintaan Tuan Muda! Aku tidak ingin bertemu para karakter itu! Batin Ivew panik dan tanpa sadar mencubit pelan kucing Veister yang tadi dielusnya.


Kucing hitam itu segera bangun dan mengaduh kesakitan sembari menatap Ivew tajam sedangkan Ivew yang tak menyadari tindakannya terus menggerutu dan panik dengan kemungkinan yang terjadi.


“Apa ... kamu baik-baik saja, Ivew? Ada yang salah?” tanya Leister setelah memperhatikan Ivew cukup lama. Gadis bermata emerald itu hanya tersenyum dan mengangguk sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding kereta kuda di belakangnya.


Sangat baik sampai aku siap untuk mati. Batin Ivew hanya bisa menghela nafas dan berusaha memikirkan rencana untuk menghindari perhatian para karakter kepadanya.


Leister membiarkan Ivew sibuk dengan pikirannya dan mulai memeriksa beberapa dokumen yang berada di tangannya. Kereta kuda keluarga Flowerlax itu terus berjalan dan mulai memasuki daerah kekaisaran Attle. Hutan-hutan dan pepohonan yang cukup jarang menemani mereka selama perjalanan, berbeda dengan Kota Osgord yang pepohonan dan hutannya rimbun.


Ibukota Kekaisaran memiliki ciri khas sendiri pada hutannya. Selain jarak antara pohon satu dengan pohon lainnya yang cukup jauh, tinggi pepohonan di sekitar cukup rendah dari pohon lainnya. Hanya dua meter sampai tiga meter, sedangkan hutan di daerah lainnya bisa mencapai lima puluh meter seperti hutan hitam.


Saat memasuki kawasan kekaisaran mereka di sambut dengan tembok pembatas yang mengelilingi kekaisaran dengan diamater dua puluh kilometer. Tembok yang digunakan sebagai pertahanan terakhir jika tembok pelindung setinggi empat puluh meter yang mengelilingi seluruh wilayah kekaisaran Attle runtuh.


Kereta kuda mereka mulai menuruni lereng gunung yang menjadi jalan satu-satunya menuju ibukota kekaisaran dari kota Osgord. Manik mata emerald Ivew terpesona menatap pemandangan kota di bawah mereka. Sinar mentari senja memberikan kilauan pada atap menara istana di kejauhan. Leister tersenyum saat melihat wajah riang Ivew, wajah gadis itu bercahaya terkena mentari senja yang bersinar seolah menyambut kedatangan mereka.


Kereta kuda mereka akhirnya berhenti setelah memasuki gerbang istana dan memastikan identitas mereka pada prajurit kekaisaran. Istana dengan warna putih dengan pilar emas dan atap berwarna biru muda itu tampak berkilau di basuh cahaya senja. Kereta kuda mereka mengarah pada paviliun yang berada di sisi barat.


“Selamat datang di Istana Kekaisaran, Ivew.”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2