
...⪻⪼...
Ivew terengah-engah menatap sosok bertaring di depannya yang berteriak kesakitan dalam lautan api hijau miliknya. Gadis itu terduduk dan menstabilkan nafasnya saat sosok bertaring itu berubah menjadi debu. Rayn yang melihat semua itu terdiam, manik orchid-nya menatap Ivew yang banjir keringat.
“Apa kamu terluka, Ivew?” tanya Rayn membuat Ivew mendongak ke arahnya.
Gadis dengan mata emerald itu menggeleng dan menyibak rambut hitam legam yang menutupi wajahnya. Ivew bangkit berdiri dan memandang jeruji hitam di depannya. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya di jeruji besi hitam itu dan menarik nafas panjang.
“Ayo! Kita ... bisa keluar dari ... sini!”
Ivew kembali bersemangat saat akhirnya bisa mendengar suara bersemangat salah satu elemental alam yang didapatnya. Gadis itu menguntai senyum di wajahnya dan mulai mengeluarkan api hijau untuk melelehkan jeruji besi hitam yang menghalanginya. Rayn terpana menatap gadis berambut hitam itu tenggelam dalam kobaran api hijau di sekelilingnya. Pemuda dengan mata orchid itu memegang dadanya saat merasakan detak jantungnya yang berdebar.
Hijau yang cantik. Batin Rayn menatap Ivew yang berhasil melelehkan jeruji besi di depannya.
Gadis bermata emerald itu akhirnya keluar dari jeruji besi hitam yang mengurungnya. Melirik ke ujung lorong Ivew segera berdiri di depan jeruji besi yang mengurung Rayn dan melelehkannya dengan api hijaunya. Gadis itu menguntai senyum saat berhasil melelehkan jeruji hitam di depannya.
Rayn melangkah keluar dari jeruji besi yang sudah meleleh dan tersenyum lembut ke arah Ivew seraya mengucapkan terima kasih. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan segera mengajaknya untuk keluar.
Keduanya berlari di tengah remang dan sepinya lorong di sekitar mereka. Manik orchid Rayn menangkap genangan darah yang kembali mengalir dari jeruji besi di sampingnya.
Langkah pemuda itu terhenti saat menyadari salah satu sosok yang berada di dalam ruangan itu. Ivew yang tak mendengar langkah kaki mengikutinya berbalik dan memandang Rayn yang terdiam.
Gadis dengan mata emerald itu kembali ke arah Rayn dan hendak menarik lengan sang pemuda. Namun, manik emerald gadis itu melebar menangkap pemandangan di depannya.
Rambut perak yang lusuh dengan baju yang sudah compang camping, genangan darah yang ada di sekitarnya dengan kedua tangan terikat rantai besi. Kelopak mata yang tertutup namun keduanya dapat melihat aliran darah yang mengalir bak air mata. Bau amis darah terasa kuat menyambut penciuman keduanya.
__ADS_1
“Itu ... Duke Ekan Flowerlax, kan?”
Rayn menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan yang disampaikan Ivew. Kakinya mulai melangkah mundur saat melihat sosok yang terikat rantai hitam itu menggerakkan kepalanya pelan.
Suara denting rantai bergerak disertai ringisan kesakitan bergema di sekeliling keduanya. Ivew sedikit mendekat ke arah Rayn saat merasakan tubuhnya merinding. Udara dingin serasa mengusik kulitnya, menggoreskan rasa dingin tak tertahankan
pada setiap inci tubuhnya.
“Si ... apa? Apa ... ada orang?”
Keduanya tersentak saat mendengar suara serak dari sosok bangsawan di depan mereka. Ivew terdiam menatap sosok angkuh dan berkuasa Duke Ekan Flowerlax yang hadir dalam ingatannya sirna saat menatap sosok tak berdaya di depannya.
Apa yang mereka lakukan pada orang ini? Batin Ivew menggenggam kedua tangannya.
Jangan-jangan suara teriakan itu adalah suara Duke Flowerlax? Kenapa mereka menyiksa Duke Flowerlax
Ivew melirik Rayn yang menyentuh bahunya memberi isyarat untuk pergi. Gadis dengan mata emerald itu
tampak ragu dan kembali mengikuti langkah Rayn yang menarik tangannya.
“Sepertinya hanya halusinasiku. Haha ... apa kematian akan datang menjemput ku? Oh Lolita ... putriku ... maafkan orang tua yang tidak berguna ini karena mengurungmu dalam perasaan ambisi.”
Langkah kaki Ivew benar-benar terhenti saat mendengar rangkaian kalimat yang disampaikan Duke Ekan Flowerlax. Manik emerald gadis itu melebar menatap sosok Duke Ekan Flowerlax yang tersenyum kecil di tengah ringisan sakit yang hadir dari mulutnya yang kering.
Tubuh penguasa Flowerlax itu tampak gemetar dan sedikit pucat karena banyaknya darah yang mengalir dari luka yang masih terbuka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
“Semesta ... aku percayakan putri cantikku kepadamu. Aku harap dia ... menemukan kebahagiaan yang dicarinya dan juga ... keluarga hangat yang memberinya kasih sayang.”
Duke Ekan Flowerlax terus berbicara pada remang dan sunyinya ruangan di sekitarnya. Denting rantai yang tertarik oleh gerakan tangannya kembali mengisi ruangan. Manik emerald Ivew berkaca-kaca menatap sosok Duke Ekan yang semakin lemah di setiap kalimatnya.
“Sayang sekali hadiah mawar yang kubawa untuknya hancur di perjalanan hari itu. Jika saja penyihir hitam ini tidak membawaku, mawar itu ... pasti sudah sampai di tangannya. Aku ... tidak sempat meminta maaf, menatap manik delimanya yang menawan.”
Rayn melirik Ivew yang tampak menahan tangisnya. Jemari tangan sang pemuda mengusap punggung Ivew yang gemetar. Pemuda dengan mata orchid itu menggigit bibirnya saat merasakan rasa perit menusuk hatinya. Memorinya kembali mengenang kepingan ingatan bersama sang ayah yang terbunuh karena serangan monster.
Saat penguasa wilayah Angena itu menyelamatkan putra bungsu mereka yang hampir di tangkap monster. Maju seorang diri sebagai seorang ayah yang siap melindungi keluarganya, Duke Angena menghunuskan pedangnya ke arah monster kadal yang hendak melahap putra bungsunya.
Gigi tajam monster itu mengenai lengannya, mengalirkan darah segar pada tanah di bawahnya. Manik orchid Rayn, bahkan sudah penuh air mata melihat sosok berdarah sang ayah.
“Jaga mama ya, Nak. Kuatlah mengarungi takdir dunia yang kejam ini.”
Rayn mengernyitkan keningnya dan mengepalkan tangannya yang lain. Berusaha mengusir memori buruk itu dari benaknya. Manik orchid pemuda itu melirik Ivew yang menghapus sisa air mata di wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah Duke Ekan Flowerlax di depan mereka.
“Semesta ... jika engkau mendengar pesanku. Tolong ... sampaikan salamku pada putriku dan juga putraku. Aku menyayangi mereka ... sangat sampai aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku ... akan menerima kebencian mereka kepadaku ... karena sikapku kepada mereka. Lolita ... Leister ... teruslah ... hidup dan maafkan ... aku."
Keduanya menjadi saksi berakhirnya hidup penguasa Flowerlax. Tanpa kehadiran siapa pun. Di tengah genangan darahnya yang terus menguarkan bau amis, tanpa mata yang bisa menatap remangnya cahaya, dengan rasa sakit yang menghujam tubuhnya serta rantai yang membelenggu pergerakannya.
Rayn menepuk pundak Ivew mengajak gadis bermata emerald itu segera bergerak sebelum sosok-sosok berjubah hitam itu kembali. Pemuda dengan mata orchid itu meraih kembali tangan Ivew, menuntun jalan sang gadis yang masih berurai air mata.
Aku bersumpah akan menghabisi mereka semua! Batin Ivew mengepalkan tangannya dan menghapus sisa air mata yang terus mengalir.
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨