
...⪻⪼...
Ivew menatap gadis di depannya dengan tenang meski hati gadis itu bergemuruh dengan perasaan gugup saat seringai hadir di wajah menawan sang gadis. Manik delima gadis itu tampak tenang tetapi gerakan tubuhnya tampak berhati-hati. Beberapa pelayan datang dengan troli makanan dan cangkir teh. Uap hangat nampak mengepul dari cangkir teh di depan mata tetapi manik emerald Ivew lebih fokus menatap gerak-gerik gadis bangsawan di depannya.
“Hei Lolita!”
Gadis bermata delima itu menoleh saat mendengar suara seorang pemuda dari arah depan taman memanggil namanya. Senyum hadir di wajahnya menatap pemuda yang memiliki warna rambut yang sama dengannya itu mendekat. Ivew hanya bisa menguntai senyum meski hatinya terus mengutuk nasib saat mengetahui pemilik suara itu adalah Leister yang datang bersama kupu-kupu yang sama, Grein.
“Salam, Tuan Muda Leister,” ucap Ivew bangkit menyapa hormat kepada pemuda di depannya sedangkan Leister hanya mengangguk dan kembali menyuruhnya untuk duduk.
“Apa kamu sudah mengatakannya?” bisik Leister pada Lolita yang duduk di sampingnya. Gadis bermata delima itu menggeleng dan mulai meminum teh di depannya lain hal nya dengan Ivew yang terus memperhatikan gerak-gerik keduanya.
Mereka akur dan sangat dekat. Berapa banyak lagi informasi dalam novel yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Batin Ivew menghela nafas gelisah.
“Maafkan kami karena mengambil waktumu secara tiba-tiba, Lady Mirabeth. Tapi aku rasa ... aku harus menyampaikan hal ini, Lady.”
Leister memulai pembicaraan dan menatap Ivew yang membalasnya menatap pemuda di depannya dengan wajah bingung. Lolita yang duduk di depan Ivew melirik Leister yang mulai minum teh dan Grein yang terbang di sekitarnya. Manik delima nya menyapu pandangan pada sekitar gazebo memastikan jumlah para pelayan yang ada dan berbisik pada Ivew.
__ADS_1
“Karena Grein tertarik denganmu aku rasa Tuan Duke juga ikut mengawasi mu, Ivew. Pria itu tidak akan mengabaikan kekuatan atau hal apa pun yang bisa membuat kekuasaannya naik.”
Leister mengangguk dan membenarkan pernyataan Lolita. Manik mata emerald Ivew melebar dan menatap kedua bangsawan Flowerlax itu dengan gugup. Itu artinya langkah Ivew ke depannya akan sulit karena Duke akan mengawasinya terlebih sang abang yang tidak selalu bisa hadir bersamanya di karena kan pemuda itu juga harus menjalankan misi. Ivew menghela nafas dan menggenggam kedua tangannya erat. Lolita melirik Leister yang tetap tenang di sampingnya.
“Saya tidak memiliki kekuatan apa pun, Tuan Muda, Nona Muda. Dan kenapa Grein tertarik dengan saya? Saya hanya gadis desa biasa yang suka berburu, apa ada alasan lainnya?” tanya Ivew mencoba tenang.
Leister meletakkan cangkir tehnya dan melirik Grein yang terbang di atas kepalanya. Kupu-kupu merah bercorak perak itu hinggap di atas meja di samping cangkir teh Leister.
“Lady ... Grein adalah makhluk pusaka keluarga kami yang sangat peka dengan hal berbau alam. Apalagi saat kita pertama kali bertemu Grein lah yang mendatangimu bukan? Mungkin saja kekuatanmu belum bangkit saat ini, dan lihat! Bahkan, Grein berada di dekatmu lagi,” jelas Leister yang di angguki oleh Lolita saat kupu-kupu merah bercorak perak itu hinggap di punggung tangan Ivew dan mengepakkan sayapnya mengeluarkan serbuk perak yang samar.
“Aku ... tidak kami hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan oleh keserakahan Duke yang haus kekuasaan. Grein sama seperti sosok dewa bagi keluarga kami, sosok dewa alam yang selalu mencari wadah untuk kekuatannya. Cepat atau lambat dia pasti akan menyadari potensimu dan memintamu untuk ikut dalam setiap misi berbahaya,” tambah Lolita.
“Grein terbang dengan sangat cepat menuju ruang kerjanya Duke dan aku tidak bisa menghentikannya terlebih ksatria itu langsung membuka pintu saat aku mendekat,” jelas Leister sambil tertawa canggung sedangkan Ivew hanya bisa menghela nafas menyadari sifat ceroboh tuan muda di depannya.
“Hah ... maafkan kecerobohan kami, Ivew. Tapi kami akan membantumu agar terhindar dari perhatian duke. Dan juga ... kami ingin kamu ada di pihak kami. Karena itulah kami berdua memanggilmu saat ini, terlebih saudaramu juga akan sibuk dengan misinya kan?”
Ivew mengangguk saat mendengar pertanyaan Lolita. Pembicaraan ketiganya berakhir saat seorang pelayan datang dan memanggil Leister untuk menemui duke yang menunggunya. Lolita melirik Ivew yang diam dan meminta gadis itu untuk menemuinya kembali dengan mengirimkan lokasi tempat dan waktunya lewat surat. Lolita mengantar Ivew menuju kuda kesayangannya yang sudah menunggu bersama ksatria yang sama yang membawa kuda itu sebelumnya.
__ADS_1
Mata delima Lolita memandang hangat Ivew yang membungkuk hormat dan beranjak pamit. Suara tapak kaki kuda menggema dan Ivew menghela nafas menatap langit yang beranjak senja tidak menyadari banyaknya waktu yang dihabiskannya bersama dua bangsawan Flowerlax.
“Aku baru beradaptasi dengan dunia ini dan semuanya semakin rumit! Bahkan, dunia ini berjalan tidak sesuai dengan kisah aslinya,” gumam Ivew mulai mempercepat laju kudanya.
Manik emerald nya menatap samar-samar tembok besar yang menjulang tinggi di kejauhan, tembok yang melindungi mereka dari serangan para monster. Ivew membimbing kuda kesayangannya ke dalam kandang dan membuka pintu rumah dengan memasukkan sedikit mananya.
Cahaya hijau keluar dari telapak tangannya dan mengalir menuju pintu. Pintu rumah itu terbuka dan Ivew kembali menghela nafas hendak naik ke kamarnya di lantai dua. Rasa lelah dan ngantuk menyerangnya, gadis itu menaiki anak tangga dengan pandangan yang sedikit buram.
Pijakan kakinya pada salah satu tangga meleset dan Ivew segera membuka mata saat menyadarinya tubuhnya akan jatuh ke lantai bawah. Gadis itu segera menggenggam pegangan tangga bersamaan dengan tangan besar seseorang menahan punggungnya. Manik emerald Ivew membesar saat melihat sosok yang membantunya dan kemudian berseru kesal.
“Dari mana saja kamu Veister?! Ada banyak masalah yang terjadi hari ini dan kamu-”
Teriakan kekesalan Ivew terputus saat menyaksikan kondisi Veister yang penuh debu dan beberapa luka lecet terdapat di dahi pemuda bermanik dua warna itu. Ivew segera meneguhkan pijakan kakinya dan berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Veister dengan tenang. Duduk di atas tempat tidurnya Ivew merasakan tubuhnya sedikit berat. Manik emerald nya menatap pemuda di depannya yang menghela nafas sembari menggunakan sihir untuk membersihkan debu dan sisa lukanya.
“Aku kehilangan jejak kalian saat menuju kantor duke padahal aku tepat di belakang kalian berdua. Ada jejak sihir yang membuatku sulit melacak aroma dan kehadiranmu. Selain itu kupu-kupu merah bercorak perak itu ... cukup mengganggu. Ada yang aneh dengan mansion itu, Ivew.”
Suara Veister terdengar kesal saat menjelaskan semuanya sembari menatap Ivew. Manik dua warna pemuda itu sedikit berkilau saat merasakan aliran aneh di sekitar Ivew. Pemuda itu mendekat ke arah Ivew dan meletakkan tangannya di dahi Ivew, mengeluarkan cahaya coklat dari kedua tangannya dan menatap Ivew tajam.
__ADS_1
“Ada kekuatan aneh yang mencoba memasuki ingatanmu.”
...⪻⪼...