
Halo ...White Blossom kembali menyapa🌺
Sambil nunggu aku update bab selanjutnya, aku kembali merekomendasikan cerita yang bagus nih! Buat yang suka cerita perjodohan, ayo merapat!
...Happy reading 🌺...
...⪻⪼...
Efir menoleh ke arah Etwar, sedangkan Windy tetap terbang di sekitarnya. Ekor Efir bergerak mengikuti gerak tubuhnya yang mengarah ke Etwar sepenuhnya.
“Kamu masih meragukannya? Setelah semua ini?” tanya Efir heran dengan keraguan yang masih dirasakan Etwar.
Etwar menggerakkan pelan sayap biru mudanya dan kembali menatap tangan kiri Ivew yang sedang mengendalikan air. “Bagaimana menurutmu, Windy?”
Kupu-kupu putih itu hinggap di atas kepala Efir. “Sejak awal aku sudah yakin dengannya. Dia bisa mengendalikan angin saat dia belum tahu apa-apa. Pada awalnya aku hanya memutuskan untuk mengamati gadis itu sambil memastikan kualitasnya dan lihatlah sekarang! Aku tidak menyesal mengikuti keputusan saintess alam sebelumnya. Aku yakin dia bisa, Etwar.”
Efir menganggukkan kepalanya. “Dia mampu bertahan dari serangan penyihir hitam itu. Walaupun ada insiden dimana dia sulit mengendalikan kekuatan api, tetapi aku melihat semuanya, Etwar. Aku tidak mendesakmu untuk menyetujui pendapat kami. Lihatlah dan beri dia kesempatan.”
Perbincangan ketiganya itu terhenti saat suara Ivew terdengar dan Windy segera melepaskan pelindung anginnya. Ketiga roh alam itu terdiam menatap senyum merekah di wajah Ivew saat gadis itu menunjukkan hasilnya. Ivew berhasil.
Bola api dan cincin air itu saling bergerak satu sama lain tanpa ada gangguan. Gadis itu berhasil mengendalikan dan menyambungkan inti kedua elemen di depannya. Efir segera berseru senang dan mendekat ke arah Ivew diikuti oleh Windy.
Windy segera menggunakan angin sepoi-sepoinya ke arah Ivew untuk menyejukkan sang gadis. Etwar menatap senyum yang merekah di wajah Ivew serta seruan senang dan selamat yang disampaikan Efir dan Windy.
“Tidak semua perubahan membawa hal buruk, Etwar. Aku yakin pasti ada takdir terbaik untuk dunia ini.”
Etwar mendekat ke arah Ivew saat kalimat-kalimat dari saintess sebelumnya mengalun dalam benaknya.
“Kita hanya harus mencari dan menemukannya! Resiko dari setiap pilihan pasti ada, tetapi jangan jadikan resiko sebagai alasan untuk tidak mencobanya!”
Etwar menatap senyum yang merekah di wajah Ivew. Salah satu sayap biru muda sang roh air itu bergerak ke arah Ivew menghasilkan gelembung air yang samar dan mengambil keringat yang tersisa di tubuh sang gadis. Efir dan Windy menatap Etwar yang mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
Aku kalah saintess dan kamu benar. Tidak ada gunanya ragu. Batin Etwar menatap wajah Ivew.
“Selamat, Ivew Mirabeth. Sekarang aku yakin … kamu adalah harapan yang kami semua tunggu. Selamat, Saintess. Sebagai roh air saya akan membantumu.”
Ivew terdiam menatap Etwar yang membungkukkan kepala angsanya di depannya diikuti dengan Efir yang sedikit membungkuk bersamaan dengan Windy. Gadis dengan mata emerald itu mengepalkan tangannya ketiga roh alam yang memberikan hormatnya.
“Kami siap membantumu, Saintess Alam Ivew.”
***
Ivew menatap malas langit-langit kamar di atasnya. Tiga hari berlalu setelah pelatihannya selesai bersama Etwar. Veister dan Ramound yang menunggunya di luar ruangan saat itu ikut senang saat Ivew menceritakan latihannya. Veister menggunakan kekuatan penyembuhan untuk memulihkan tenaga Ivew.
Ivew sempat melihat ke arah Ramound yang sedikit menjaga jarak darinya saat itu. Gadis itu segera teringat dengan pertanyaan yang diajukan Ramound saat mereka di atas kapal. Bangkit dari baringnya Ivew melirik jendela yang menampilkan suasana laut di siang hari. Cerah seperti biasanya, tetapi Ivew bisa merasakan perasaan aneh saat menatap sisi utara.
“Itu karena kamu sudah menguasai elemen air Saintess dan juga karena kita dikelilingi oleh air membuat koneksimu dengan elemen air semakin kuat. Keberadaan monster itu pasti juga akan berpengaruh seiring kuatnya koneksi kekuatanmu.”
Ivew mengangguk saat mendengar penjelasan Etwar. Semenjak hari itu roh air itu juga ikut kemanapun Ivew. Membantunya dengan berbagai penjelasan yang tak Ivew pahami, sebagai roh alam tertua tentu pengetahuan Etwar lebih banyak dibandingkan dua roh alam lainnya.
Veister yang kebetulan ada di daerah suku laut sesekali juga membantu mengatasi serangan yang datang, sedangkan Ramound selain menunggu latihan Ivew selesai dia juga ikut melatih kekuatan pedangnya bersama Ajata.
Ivew menatap lorong istana suku laut di depannya. Cukup sepi karena kebanyakan dari suku laut sedang berlatih mengendalikan kekuatan mereka bersama Rair dan hanya menyisakan beberapa penjaga di beberapa titik istana.
“Apa mereka baik-baik saja, ya?” gumam Ivew memikirkan orang-orang yang pernah dirinya temui di daratan.
“Windy … kamu ada disini?” tanya Ivew berjalan dan berhenti di depan balkon sembari menatap dinding suku laut di kejauhan.
Angin sepoi-sepoi hadir di sekitarnya dan tak lama kupu-kupu putih itu hadir di hadapan Ivew.
“Ada apa, Saintess? Apa butuh sesuatu?”
Windy terbang dan hinggap di atas tangan Ivew yang berada di balkon. Suara debur ombak beberapa kali terdengar dan Ivew cukup menikmati pemandangan di depannya.
“Apa kamu bisa melihat keadaan di daratan, terutama kota Osgord? Aku merasa gelisah akan sesuatu,” ucap Ivew.
__ADS_1
Windy tampak kembali terbang dan menyanggupi permintaan Ivew. Manik emerald Ivew menatap Windy yang menghilang di depannya. Gadis itu kembali berjalan hendak mencari Ramound atau Veister. Langkah Ivew terhenti saat menemukan Ramound yang berdiri di sisi lain balkon.
Mata lilac pemuda itu memandang ke arah jauh dan tak menyadari kedatangan Ivew yang berjalan mendekatinya. Di pinggang pemuda itu tampak pedang yang tersarung rapi dan keringat yang masih mengalir di dahinya saat Ivew mendekat. Menandakan pemuda itu baru saja selesai berlatih ilmu pedangnya.
“Tuan Muda Ramound? Anda baik-baik saja?” tanya Ivew membuat pemuda itu menoleh menatapnya.
“Ya … ah, haruskah aku juga memanggilmu saintess sekarang?” tanya Ramound dengan senyum tipis di wajahnya.
Ivew tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak perlu, Tuan Muda. Aku belum resmi menjadi saintess. Aku lebih senang dipanggil seperti biasa saja.”
Ramound tersenyum mendengar jawaban Ivew dan kembali menatap ke depan. Beberapa anggota suku laut mulai tampak keluar dari tempat pelatihan dan mulai beraktivitas.
“Jangan menyalahkan diri Anda terlalu larut, Tuan Muda.”
Ramound menoleh menatap Ivew dengan wajah terkejut. Tak lama pemuda itu terkekeh pelan. “Apa roh air yang memberitahumu?”
Ivew menganggukkan kepalanya. Etwar sempat mengatakan kepadanya bahwa Ramound pernah meminta untuk bertemu dengannya. Menyampaikan sebuah permintaan kecil yang berisi pertemuan dengan orang yang disayanginya, Duke Angena.
“Saya tahu … kematian adalah hal yang paling sulit kita terima jika keluarga kita mengalaminya. Akan tetapi, kita tidak bisa menentang takdir, Tuan Muda. Ada batasan yang harus kita ingat antara kehidupan dan kematian.”
Ramound terdiam mendengar kalimat Ivew dan kemudian menguntai senyum. “Aku tahu. Terima kasih sudah mengatakannya, Ivew.”
Ivew terdiam saat mendengar Ramound menyebut namanya dengan senyum tulus di wajah sang pemuda. Akhirnya … setelah sekian purnama Ivew bisa melihat raut wajah tulus dari seorang Ramound Angena yang biasanya selalu mengejeknya.
“Aku tidak tau ternyata kamu bisa menjadi motivator juga,” ucap Ramound mematahkan harapan baik Ivew tentang sang pemuda.
Suara keributan dari suku laut menghentikan kalimat protes Ivew. Keduanya terdiam menatap keributan yang terjadi dan penjaga dinding suku laut yang segera bergerak menuju ruang pertemuan istana untuk mencari Rair. Ramound segera mengajak Ivew untuk mencari Veister. Keduanya berlari menuju ruang pertemuan dan menemukan Veister yang juga berlari ke arah mereka dengan wajah panik.
Langkah Ivew terhenti dan hendak bertanya ke arah Veister. Namun, suara gadis itu tertahan saat mendengar pasukan penjaga suku laut yang menyampaikan pengumuman kepada seluruh anggota suku laut menggunakan teknik pengendalian sonar dengan media air.
“Daratan! Daratan kekaisaran telah diserang! Tingkatkan keamanan dinding laut segera!”
⪻⪼
__ADS_1