
Halo ... White Blossom kembali menyapa 🌺
Aku kembali dengan rekomendasi novel yang menarik nih! Jangan lupa mampir ya!
...Happy reading 🌺...
...⪻⪼...
Veister terdiam dan memilih untuk mendengarkan perdebatan antara kedua roh alam di depannya. Etwar menghela nafas menghadapi sikap keras kepala dan tidak mau mengalah Efir.
Roh air itu kembali menatap ke arah ke arah dinding dan Veister menyadari bahwa roh air di depannya selalu menatap ke arah dinding kamar di belakangnya.
Penyihir suci itu mengikuti arah pandangan Etwar dan menemukan kadal rumput berwarna coklat yang terdiam di tempat.
Veister mengerutkan keningnya merasakan perasaan familiar saat melihat kadal rumput berwarna coklat itu yang menjulurkan lidahnya.
Veister segera menatap ke arah Etwar yang terdiam dan kemudian tersenyum kecil. Roh air itu menggerakkan salah satu sayap biru mudanya dan menggunakan kekuatan airnya untuk membentuk penghalang kedap suara serta menggerakkan airnya untuk membentuk sebuah tangan dan menutupi kedua telinga Ivew.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Efir masih tak menyadari situasinya.
Mata rubah berekor sepuluh itu memandang ke arah dinding kamar dan kemudian segera menyalakan api merah kecil dan mendekatkannya ke arah kadal rumput coklat itu.
Kemudian seringai lebar hadir di wajah roh api itu dan segera dirinya mendekat hendak meraih kadal rumput tersebut.
Veister menghindar saat Efir berlari secepat kilat menuju dinding. Untunglah Etwar menggunakan kekuatan airnya untuk menahan Efir.
“Tidak sopan sekali kamu, Efir! Beraninya kamu mengkritik perasaanku?”
Kadal rumput berwarna coklat itu bersuara dan menghasilkan batu kecil dari tanah disekitarnya, menimbulkan sedikit getaran yang membuat pijakan Veister hampir jatuh.
Kadal rumput coklat itu segera melompat ke arah batu kecil yang mengambang di depannya dan mendekat ke arah Efir dan Etwar yang berada di atas elemen alam mereka masing-masing.
Veister menelan ludah menatap ketiga roh alam yang saling bertatapan di depannya. Manik dua warna pemuda itu melirik Ivew yang masih terlelap dan tidak terganggu dengan aura yang dikeluarkan ketiga roh alam tersebut.
__ADS_1
“Tentu saja! Kamu itu terlalu sensitif! Aku tahu kita semua kehilangan! Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk kabur!”
Kadal rumput coklat itu kembali menjulurkan lidahnya. Mata coklat kehijauan kadal itu menatap nyalang sosok rubah berekor sepuluh yang menjadi perwujudan roh api di depannya.
“Aku tidak kabur, Efir! Aku hanya menenangkan diri!”
Kadal rumput coklat itu tampak menggeram dan menggerakkan ekor panjang dengan ujung runcing itu ke depan.
“Heh, menenangkan diri? Menenangkan diri sampai saintess alam kedua juga mati dibunuh?! Jika saja kamu ada saat itu mungkin keadaan bisa berubah lebih baik!”
Api merah bata mulai menyala terang di sekitar Efir seiring meningkatnya kemarahan sang roh api. Veister melangkah mundur ke samping Ivew dan segera menggunakan sihirnya untuk melindungi Ivew.
Kadal rumput coklat itu kembali menggerakkan ekornya dan menghasilkan gumpalan bebatuan di sekitarnya dan hendak menembak nya ke arah Efir yang juga sudah bersiap dengan bola api kecilnya.
“Hentikan kalian berdua! Apa kalian ingin melukai saintess alam selanjutnya? Apa kalian tidak malu di hadapan penyihir suci?”
Kedua roh alam itu terdiam mendengar suara rendah Etwar. Lingkaran air hadir di belakang sayap biru mudanya membuat kedua roh alam yang sedang tersulut amarah itu segera diam.
“Kita masih di istana kekaisaran. Apa kalian ingin membahayakan posisinya yang belum dilantik menjadi saintess alam selanjutnya?! Pikirkan keadaan ke depannya! Jangan mudah tersulut amarah!”
Veister kembali menelan ludah merasakan aura berat dari kemarahan Etwar. Aura biru muda tampak menguar dari tubuh angsa itu. Lingkaran air di belakang sayapnya tampak bergerak hendak menyerang kedua roh alam di depannya.
“Jadi dia saintess alam selanjutnya?” tanya kadal rumput hijau itu mendekat ke arah tempat tidur Ivew.
“Lihat! Itu saja kamu tidak tahu! Menenangkan diri apanya?” ejek Efir kembali terbang ke dekat Etwar.
Kadal rumput coklat itu kembali menggerakkan ekor panjang tajamnya tetapi terhenti karena aura yang dikeluarkan Etwar dan lingkaran air di belakang roh air itu yang masih bersiaga. Veister tetap diam dan berdiri siaga di samping tempat tidur Ivew.
“Aland! Berapa kali harus aku katakan! Tenang dan jangan sensitif! Dan kamu Efir! Jaga mulutmu!”
Kedua roh alam itu kembali diam dan menganggukkan kepalanya. Veister menghela nafas saat merasakan tekanan dari aura ketiga roh alam itu mulai berkurang.
Ternyata sesama roh alam pun mereka juga sering bertengkar. Batin Veister menambah sihir pelindungnya di sekitar Ivew.
...***...
__ADS_1
Ivew membuka matanya saat merasakan sesuatu yang berat menimpa rambut hitam sepunggungnya yang tergerai di sisi lain bantal. Berusaha menggerakkan kepalanya, tetapi tetap tertahan oleh sesuatu yang menghimpit rambutnya.
Manik emerald Ivew berbalik dan gadis itu tersentak saat menatap Veister yang tertidur dengan kedua tangan yang menjadi bantal untuk kepalanya itu menghimpit rambutnya.
Kenapa Veister bisa ada di sini? Batin Ivew berusaha tenang saat menatap penyihir suci itu yang tertidur lelap.
Merasakan pergerakan di sekitarnya, Veister membuka matanya perlahan dan mata dua warnanya itu bertemu dengan raut wajah Ivew yang menatapnya bingung dan sedikit mengernyit.
“Selamat pagi, Veister. Bisakah kamu bergeser? Rambutku sakit.”
Penyihir suci itu menggosok matanya dan melirik tangannya yang meraba rambut hitam halus Ivew. Pemuda itu segera bangkit duduk dengan posisi tegak, sedangkan Ivew bangkit duduk dan menatap Veister yang mengusap wajahnya.
Manik emerald Ivew terkejut memandang dinding kamarnya yang sedikit retak dan beberapa debu halus pada lantai kamarnya.
“Veister, apa yang terjadi selama aku tertidur? Jelaskan!”
Penyihir suci itu segera memandang ke segala ruangan dan menemukan kekacauan yang tak bisa dijelaskan oleh dirinya secara sepihak.
Pemuda itu menghela nafasnya dan menggunakan kekuatannya untuk memulihkan keadaan seperti semula.
“Itme Rutner!”
Ivew menghela nafas lega menatap ruangannya kembali seperti semula. Sangat mengundang masalah jika nanti pelayan atau Raceta menatap ruangannya yang kacau dan bisa saja dirinya dianggap membahayakan kekaisaran.
Bukannya menyelamatkan kekaisaran dirinya malah dianggap penjahat dan dihukum mati. Lalu apa gunanya dia datang ke dunia ini jika seperti itu.
“Semalam para roh alam beradu pendapat.”
Ivew menoleh ke arah Veister dan mengerutkan keningnya. Adu pendapat? Apa yang terjadi?
Veister yang sadar dengan kebingungan gadis di depannya menghela nafas dan kembali menggunakan sihir kedap suara setelah sihir air sebelumnya dibatalkan Etwar menjelang pagi. Mencegah para penyusup yang hendak mendengar pembicaraan mereka.
“Roh tanah muncul saat Tuan Efir dan Tuan Etwar berdiskusi. Lalu dia bertengkar dengan Tuan Efir, dan hampir menggunakan kekuatan mereka,” jawab Veister tersenyum getir menatap wajah Ivew.
“Oh roh tanah muncul dan … apa?! Roh tanah muncul?! Bagaimana bisa?!”
__ADS_1
...⪻⪼...
Masih ada yang menunggu kelanjutan kisah ini bukan? Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... 🌺