Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
17 - Kekuasaan dan Kasih Sayang (2)


__ADS_3

...⪻⪼...


Duke Ekan Flowerlax tersenyum melihat ekspresi kedua saudara Mirabeth di depannya. Ivew segera menggenggam tangan Laveron yang tersembunyi dibalik jubah hitamnya. Gadis bermata emerald itu sudah menduga permintaan yang akan diajukan duke untuknya. Fakta bahwa dirinya yang menjadi kontributor terbesar mengalahkan monster laba-laba kemarin tentu sudah diketahui oleh Duke.


“Maaf, Tuan Duke tapi adik saya baru saja semb-"


“Ekspedisi itu masih satu minggu lagi. Adikmu masih bisa istirahat, Laveron Mirabeth,” ujar Duke Ekan Flowerlax kembali memotong perkataan Laveron.


Pemuda bermata navy itu terdiam dan melirik Ivew yang membisu di sampingnya. Pemuda itu tentu sudah mengetahui situasi dan keadaan di dalam hutan hitam yang jauh dari kata baik dan tidak terduga. Apalagi sang adik yang sudah menghadapi serangan para monster sebelumnya membuat pemuda itu khawatir dengan kondisi mentalnya.


Di balik pintu ruang kerja duke Lolita berdecak kesal dan menahan amarahnya, gadis bermata delima itu hendak masuk ke dalam ruangan tapi di larang oleh Leister yang menyuruhnya untuk menunggu waktu yang tepat. Ivew melirik Laveron saat pemuda itu membalas genggaman tangannya. Gadis bermata emerald itu tersenyum tipis dan menatap Duke Ekan Flowerlax yang menunggu jawabannya.


“Baik saya akan ikut tapi saya punya satu syarat, Tuan Duke.”


Ivew menjawab dan menatap penguasa di depannya dengan wajah tenang. Duke Ekan Flowerlax tersenyum miring dan mempersilahkan gadis muda di depannya mengajukan syarat yang dimaksud.


“Saya ingin saudara saya juga ikut dengan saya dan dibebaskan dari misi prajurit militer lainnya sampai ekspedisi ini selesai.”


Duke Ekan Flowerlax tertawa dan menatap tajam Ivew. Gadis itu tetap tenang dan tersenyum menunggu jawaban pria di depannya. Pemimpin keluarga Flowerlax itu mengangguk dan membebaskan tugas Laveron menjelang ekspedisi hutan hitam. Sekaligus menjadikan pemuda itu sebagai ketua tim ekspedisi selanjutnya bersama rekan-rekannya yang juga ikut penyelidikan sebelumnya.


Ivew menghela nafas lega saat Duke Flowerlax menyetujui sarannya. Pintu di belakang mereka kembali terbuka menarik perhatian tiga pasang mata di dalam ruangan.


Mata merah darah Duke Flowerlax memandang tajam saat menemukan Leister yang dibantu Lolita masuk ke dalam ruangan. Keduanya berdiri di samping kanan Ivew setelah menyapa Duke dengan sopan. Leister tersenyum menyampaikan maksud kedatangan keduanya yang juga ingin ikut dalam ekspedisi hutan hitam. Manik mata merah darah penguasa di depan mereka memicing tetapi pria itu menganggukkan kepalanya dan mengizinkan Lolita serta Leister untuk ikut.

__ADS_1


“Beristirahatlah, Ivew!” ucap Lolita saat mengantar kepulangan Ivew dan Laveron kembali ke rumah mereka.


Ivew yang sudah duduk di atas kudanya menoleh dan mengangguk sopan kepada Lolita yang berdiri di halaman mansion Flowerlax sedangkan Leister sedang istirahat untuk memulihkan tenaganya. Kucing Veister yang tidak bisa datang ke ruang kerja Duke saat ini sedang duduk tenang dalam pelukan Laveron. Kedua saudara Mirabeth itu pamit kepada Lolita dan mulai memacu kuda mereka menuju rumah mereka.


Sepanjang perjalanan Laveron melirik Ivew yang berada di sampingnya. Wajah sang adik tampak tenang meski angin beberapa kali membelai mereka, menggerakkan rambut hitam legam sepunggungnya. Telinganya samar-samar menangkap senandung yang dilantunkan Ivew.


“Apa ada tempat yang mau kamu kunjungi sebelum pulang, Ivew?”


Laveron bertanya dan kembali fokus memandang jalanan di depannya. Senandung Ivew terhenti dan manik emerald-nya menatap Laveron yang tersenyum.


“Mungkin ladang bunga?” jawab Ivew tak yakin.


“Apa kamu ingin melatih kekuatanmu?” tanya Laveron berusaha menebak jalan pikiran sang adik.


“Bagaimana Abang tau?”


Gadis bermata emerald itu mengangguk dan mengikuti kuda Laveron yang memimpin jalan. Langit di atas mereka cerah bersamaan dengan burung-burung merpati yang terbang. Laveron menghentikan laju kudanya saat mereka sampai di ladang bunga yang berada di dekat perbatasan kota Osgord dengan jalan menuju kekaisaran.


Ivew menatap ladang bunga yang luas membentang di depan mata. Angin kembali membelai rambutnya dan gadis itu mengangkat tangannya saat merasakan angin berputar di telapak tangannya. Laveron duduk di atas rumput kering yang tersebar di sekitar mereka bersama dengan kucing Veister yang menjilat bulunya di samping Laveron.


“Sejak kapan kamu mendapatkan kekuatan itu?” tanya Laveron membuat Ivew yang sedang fokus memusatkan angin di tangannya menoleh.


“Beberapa hari yang lalu Bang. Aku mendapatkannya saat bertemu dengan wanita berambut putih di dalam mimpiku,” jelas Ivew dan Laveron mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Ivew mulai melatih menggunakan kekuatan anginnya untuk membawa bunga yang berada di jarak dua puluh meter darinya. Bunga mawar merah itu menarik perhatian manik emerald-nya dan kesempatan baik bagi Ivew untuk memanfaatkannya sebagai latihan. Jemari tangannya mulai bergerak mengendalikan angin di sekitar.


Angin berwarna biru muda itu tampak menari saat dikendalikan oleh jemari lentik Ivew. Perlahan bunga mawar itu terlepas bersama akarnya dari tanah dan Ivew segera mengendalikan anginnya untuk membawa mawar merah itu ke tempatnya. Gadis itu berseru senang saat mawar merah itu sampai di tangannya.


Laveron yang tadinya duduk kini bangkit dan mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya. Sedikit menjaga jarak dari Ivew pemuda bermata navy itu memutuskan untuk mengembangkan teknik pedang dan kekuatan mana di dalam tubuhnya. Suara tebasan pedang mengenai angin terdengar menggema.


Veister memandang kedua saudara yang sibuk mengembangkan kekuatannya. Kucing hitam dengan ekor perak itu kembali menjilat bulu hitamnya dan membuat perisai transparan yang melindungi mereka semua.


Ivew teringat dengan nyanyian gadis berambut putih di dalam mimpinya. Gadis bermata emerald itu tersenyum dan mulai bersenandung. Angin di telapak tangannya berputar dan mulai berubah bentuk menjadi pedang atau panah angin.


Ivew menggerakkan jemarinya dan melepaskan angin yang berbentuk panah ke salah satu bunga, meski meleset dampak dari tanah yang terkena panah itu cukup parah. Lubang sedalam dua meter menghancurkan beberapa bunga di sekitarnya.


Ivew terus bersenandung tak menyadari angin di sekitarnya mulai berhembus mengikuti melodi senandungnya. Bahkan, Laveron menghentikan tebasan pedangnya pada udara saat merasakan angin akan menerbangkan pedangnya. Veister yang tadinya sibuk menjilat bulunya beralih menatap Ivew yang tersenyum dan terus bersenandung.


Hingga akhirnya angin berwarna biru muda hadir di depan mata mereka dan berputar di sekitar Ivew menerbangkan kelopak bunga di kejauhan dan mengalir membentuk aliran air.


Laveron mendekat ke arah Ivew yang masih  tidak menyadari tindakannya. Rambut hitam legam sepunggung sang adik bergerak seolah angin membelai dan bermain dengannya.


“Wah ... itu tarian angin yang indah!”


Veister berseru senang dalam bentuk kucingnya tak menyadari Laveron yang berdiri di belakangnya. Pemuda bermata navy itu mengerutkan keningnya dan menatap kucing hitam berbulu perak yang sibuk menatap Ivew yang tertawa saat menatap kelopak bunga di sekitarnya ikut terbang.


“K-kamu ... bisa berbicara?!”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan komentar .... ✨


__ADS_2