Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
58 - Sang Penjaga Dunia (6)


__ADS_3

...⪻⪼...


“Persembahan? Persembahan apa yang kamu maksud?!” murka Duchess Veryn Angena yang tak bisa lagi menahan amarahnya. Tak ada lagi gurat kelembutan di wajah sang duchess.


Suara kemarahan duchess sedikit menenangkan aura Laveron yang tak terkendali. Manik navy sang pemuda melirik Leister yang terdiam dan Lolita yang juga terdiam di layar hologram. Kedua bangsawan Flowerlax itu hanya diam dan tak banyak bicara.


“Apa jangan-jangan mereka menunggu bulan biru?” ujar Risya Rozitto kembali menarik perhatian semua orang termasuk Kaisar Aradi yang merasakan sakit kepala melihat kacaunya pertemuan mereka.


“Bulan biru? Apa maksudnya itu, Lady Rozitto?”


Kaisar Aradi segera bersuara tegas menghilangkan keributan antara para peserta. Manik ruby Leister melirik Lolita yang menganggukkan kepalanya. Gadis bermata delima itu juga memanggil Grein yang segera muncul di sampingnya.


Kami tidak bisa membiarkan orang itu hilang begitu saja. Batin Leister kembali menatap wajah Risya Rozitto di layar hologram.


“Aku pernah membaca hal itu di buku lama saat berada di perpustakaan kekaisaran, Yang Mulia. Buku itu menjelaskan tentang legenda bulan biru yang akan mengabulkan semua permintaan. Namun, syaratnya adalah darah dari mereka yang dicintai oleh alam. Selain itu, bulan biru juga akan melemahkan tanaman-tanaman herbal seperti tanaman vanilla yang sering kita gunakan saat ini.”


Risya Rozitto menjelaskan dengan perlahan sembari membolak-balik buku yang berisi tentang catatan penting miliknya. Manik tuscany gadis itu menatap wajah-wajah di dalam hologram yang terdiam dan juga kaget.


“Aku berusaha memastikan kebenaran buku itu dan ingin membacanya satu minggu kemudian, tetapi aku tidak menemukannya lagi seolah buku itu tidak pernah ada.”


Risya Rozitto menutup buku catatannya dan menatap Kaisar Aradi yang menganggukkan kepalanya.


“Tapi itu hanya legenda, kan? Bisa jadi-”


“Tidak! Itu memang kenyataannya!”


Veister berdecak kesal dan memotong perkataan dari Duchess Veryn Angena membuat wanita dengan mata ungu itu tersentak kaget dan memandang Veister yang tampak gusar.

__ADS_1


“Tuan Veister, apa Lady Mirabeth adalah saintess alam selanjutnya?” tanya Duke Dexter Rizery menatap Veister yang duduk tak jauh darinya.


Kaisar Aradi dan semua peserta rapat menatap Veister menunggu jawaban dari sang penyihir suci yang bertugas menjaga saintess alam. Manik navy Laveron menatap setiap ekspresi dari sorot mata yang ditampilkan Veister.


Jadi begitu. Sekarang aku sudah tau dari mana datangnya kekuatannya yang tiba-tiba itu. Batin Laveron


mengepalkan kedua tangannya.


Veister menatap wajah-wajah yang menunggu jawabannya. Pemuda dengan mata dua warna itu melirik Laveron yang tampak mengepalkan kedua tangannya, sedangkan Windy tetap terbang di atasnya.


“Aku rasa sekarang saatnya. Biarkan mereka tahu kebenarannya agar mereka bisa membantu menjaga keamanannya juga.”


Suara Windy terdengar di kepala Veister. Sang penyihir suci itu akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban membuat semua peserta rapat berseru termasuk Risya Rozitto yang segera menyadari betapa berbahayanya situasi mereka saat ini.


“Apa Anda tidak punya petunjuk ke mana mereka dibawa, Kepala Penyihir Akserio?” tanya Laveron menatap Kepala Penyihir Akserio yang sedang berpikir.


Raceta yang berdiri di belakang Kaisar Aradi memandang peta kekaisaran dan mencoba mencari tempat yang memungkinkan sembari membaca dokumen di tangannya. Windy yang sejak awal terbang di atas kepala Veister hinggap di dekat bola kristal.


Kupu-kupu putih itu menarik perhatian semua pasang mata saat mengeluarkan angin kecil yang berputar di sekitarnya menunjukkan tiga titik berbeda warna yang samar dan terlihat berdekatan. Salah satu titik itu berwarna biru bercampur merah, titik lainnya berwarna lilac dan titik terakhir berwarna merah darah namun dengan nyala yang kecil.


“Mereka ada di daerah yang tidak memiliki sirkulasi udara. Aku bisa merasakan keberadaan samar dari gadis pengguna kekuatan alam itu serta beberapa orang di sekitarnya.”


Suara lembut kupu-kupu putih itu bergema dan sampai ke seluruh peserta rapat. Kaisar Aradi melirik Raceta yang segera meriah peta dan membentangkannya di atas meja. Manik perak sang kaisar menelisik peta daerah kekuasaannya.


“Saya sedikit ingat mereka berada di daerah yang jauh dari jangkauan masyarakat. Daerah yang cukup tersembunyi dan banyak bebatuan serta ada goa yang mengarahkan mereka ke bawah tanah.”


Suara Kepala Penyihir Akserio menarik perhatian Duchess Veryn Angena dan juga Lolita Flowerlax. Keduanya mulai berpikir tentang daerah yang banyak bebatuan, karena daerah Flowerlax dan Angena dibatasi oleh pegunungan yang cukup banyak batu besar.

__ADS_1


Kepala Penyihir Akserio kembali menutup mulutnya dan batuk-batuk. Veister berdiri dari kursinya saat menyadari ada darah hitam kembali keluar dari mulut Kepala Penyihir Akserio.


“Sial! Masih ada jejak sihir hitamnya!” umpat Veister dengan cepat berteleportasi ke tempat Kepala Penyihir Akserio berada.


Tak lama pemuda dengan mata dua warna itu muncul di layar hologram Kepala Penyihir Akserio dan menggunakan sihir penyembuhan.


“Kita bagi dua tim pencarian ke dua daerah itu! Kita harus bergerak cepat!” perintah Kaisar Aradi kembali menatap kembali layar hologram di depannya.


“Yang Mulia, daerah Angena memiliki karakteristik yang cocok yang disebutkan Kepala Penyihir Akserio,” ucap Raceta menyerahkan peta kekaisaran kepada Kaisar Aradi.


“Daerah gunung yang mengarah ke tembok pelindung bukan, Tuan Raceta?” tanya Duchess Veryn Angena mendapat anggukan kepala oleh Raceta.


“Tapi Ramound sudah menelusuri area di sana dan tidak ada hal aneh,” tambah sang Duchess.


“Penyihir hitam selalu licik, Duchess Veryn. Mereka pasti menyembunyikannya dengan baik agar tidak mudah terdeteksi. Dan jika benar mereka di sana itu adalah daerah yang sangat strategis untuk bersembunyi,” jawab Kaisar Aradi.


“Yang Mulia benar. Gunung yang berada di dekat wilayah Angena punya struktur bebatuan yang cukup kuat dengan tanah yang cukup lunak sehingga memudahkan untuk penggalian ruang bawah tanah dengan sihir. Berbeda dengan daerah Flowerlax yang struktur tanah dan bebatuan pegunungan di wilayah mereka keras. Saya benar kan, Lady Flowerlax? Tuan Muda Lesiter?”


Raceta melirik ke arah dua bangsawan Flowerlax yang mengangguk dan menyetujui pendapatnya. Veister yang baru saja kembali ke ruang pertemuan di mansion Rizery tersentak saat melihat Windy mengeluarkan angin berwarna biru muda di sekitarnya.


Warna angin yang mirip dengan punya Ivew. Semua mata memandang ke arah angin yang berputar di sekitar kupu-kupu putih itu saat mendengar suara samar-samar seorang gadis. Laveron langsung berdiri dan mendekat ke arah Windy diikuti oleh Veister yang berdiri di dekat Windy dan berusaha mendengar suara itu dengan seksama.


“Ha ... lo? Apa ada ... yang mendengar ... suara ini?”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2