Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
78 - Pembukaan Kisah Baru


__ADS_3

...⪻⪼...


Tiga minggu kembali berlalu dan sejak saat itu Ivew tidak pernah berbicara lagi dengan Laveron. Pemuda dengan mata navy itu selalu sibuk dengan pertemuan antara para prajurit, atau pertemuan dengan kaisar di istana kekaisaran.


Membuat gadis dengan mata emerald itu tidak pernah punya kesempatan untuk membicarakan pembicaraan mereka yang belum selesai. Ivew sudah diperbolehkan keluar kamar dan berjalan-jalan di taman mansion Angena untuk menghirup udara segar.


Gadis dengan mata emerald itu tetap dalam pantauan Veister serta penyihir lainnya mengingat luka fatal yang diterima sang gadis sebelumnya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan?"


Ivew menoleh saat mendengar suara seseorang dari arah belakangnya. Gadis dengan mata emerald itu berbalik dan memandang Ramound yang baru saja datang dengan baju putih panjang dan pedang yang tersarung rapi di pinggangnya.


Ivew membungkuk sejenak menyapa hormat bangsawan Angena di depannya, sedangkan pemuda dengan mata lilac itu hanya menatap Ivew datar dan mendekat ke arah sang gadis yang duduk di atas kursi taman.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku," ujar Ramound menatap Ivew yang duduk di sampingnya.


"Tidak ada, Tuan Muda. Saya tidak memikirkan apapun."


Ivew menjawab dengan senyum kecil terukir di wajahnya. Manik emerald-nya menatap Ramound yang terus menatap lekat wajahnya.


"Jadi kamu akan mencari roh kekuatan air?"


Ramound kembali bertanya sambil menyandarkan punggungnya pada kursi taman. Kedua tangan pemuda itu berada di dalam saku celana hitam panjang yang digunakannya.


Ivew mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ramound. Setelah kondisinya pulih gadis dengan mata emerald itu berdiskusi dengan Veister tentang perkataan Efir dan Windy saat itu. Pemuda dengan mata dua warna itu menyetujui perkataan sang gadis dan mulai mencari rute untuk perjalanan selanjutnya.


"Apa … aku boleh ikut?"


Ivew terkesiap dan segera menoleh menatap Ramound yang juga ikut memandangnya. Pemuda dengan mata lilac itu tersenyum kecil dan kembali memandang langit biru di atasnya.

__ADS_1


"Kenapa Anda ingin ikut, Tuan Muda? Itu bukan perjalanan yang menyenangkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


Ramound mengangguk atas pernyataan yang disampaikan Ivew. Mata lilac sang pemuda melirik Ivew sejenak dan kembali memandang langit di atasnya.


“Hanya ingin? Tidak ada alasan khusus,” jawab Ramound santai dan meraih bunga anggrek biru yang berada di dekatnya.


Jemari sang pemuda mengusap pelan kelopak anggrek biru di tangannya, sedangkan Ivew menatap tindakan yang ditampilkan Ramound.


“Apa tujuan Anda … untuk mencari sosok yang menyerang dan menculik tuan muda Rayn? Anda ingin balas dendam, Tuan Muda?” tanya Ivew pelan melirik bunga anggrek biru di tangan Ramound.


Bunga anggrek biru. Jika mengikuti filosofinya itu artinya keinginan yang kuat dan juga bisa merujuk pada arti balas dendam. Jika keluarga ini menyukai anggrek biru maka itu artinya mereka tidak akan membiarkan siapapun melukai mereka. Batin Ivew menatap lurus ke hamparan anggrek biru di depan mata.


Ramound yang mendengar pertanyaan yang diajukan Ivew tersenyum miring. Mata lilac sang pemuda kembali melirik anggrek biru di tangannya.


Dia bisa menebaknya. Gadis ini benar-benar menarik … aku tidak bisa melepaskan mataku darinya. Batin Ramound menggerakkan anggrek biru di tangannya.


“Mungkin saja, Lady. Aku hanya ingin ikut dan mencari suasana baru. Urusan di daerah akan kuserahkan kembali kepada Rayn,” jelas Ramound menyerahkan anggrek biru di tangannya kepada Ivew.


Namun, langkah sang gadis terhenti saat suara seseorang memanggil namanya. Manik emerald Ivew memandang Rayn yang baru turun dari kudanya dan melambaikan tangan ke arahnya sembari tersenyum hangat.


Ramound segera pamit ke dalam mansion meninggalkan Ivew yang menunggu Rayn mendekat ke arahnya. Pemuda dengan mata orchid itu tersenyum lembut dan kembali mengajak Ivew ke arah taman mansion Angena.


“Apa kamu baik-baik saja, Ivew?” tanya Rayn memulai pembicaraan sembari menyuruh gadis dengan mata emerald itu untuk duduk di sampingnya.


“Saya baik-baik saja, Tuan Muda. Saya sudah menjawab pertanyaan yang sama sebanyak sepuluh kali,” jawab Ivew tersenyum kecil.


Rayn tertawa kecil dan melirik Ivew di sampingnya. “Itu artinya ada banyak orang yang mengkhawatirkanmu.”


Ivew menganggukkan kepalanya dan ikut menguntai senyum saat merasakan angin sepoi-sepoi membelai tubuhnya. Rambut hitam sepunggung gadis itu sedikit bergerak membuat perhatian mata orchid Rayn terarah padanya.

__ADS_1


“Saat itu rambutmu berubah menjadi putih kan, Ivew?”


Rayn bertanya sembari jemarinya bergerak mengambil sehelai rambut hitam sepunggung Ivew, sedangkan gadis dengan mata emerald itu kembali mengangguk dan melirik rambutnya yang dipegang oleh Rayn.


Rona merah sedikit hadir di wajahnya dan Ivew segera menarik pelan helaian rambut hitamnya dari tangan Rayn. Pemuda dengan mata orchid itu tersenyum canggung saat menyadari tindakannya. Ivew kembali teringat dengan pesan Duke Ekan Flowerlax yang sempat keduanya dengar.


“Tentang Duke Ekan … kita harus menyampaikannya kepada mereka berdua bukan, Tuan Muda?”


Ivew bertanya pelan dan melirik Rayn yang duduk tenang di sampingnya. Pemuda dengan mata orchid itu mengangguk dan merenggangkan tubuhnya.


“Beberapa hari yang lalu aku sempat bertanya dengan Tuan Muda Leister tentang pencarian Duke Ekan. Ternyata keduanya masih terus mencari keberadaan sang Duke. Sebenarnya aku hendak memberitahunya hari itu, tetapi aku sadar itu bukan waktu yang tepat.”


Rayn menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada kursi taman di belakangnya. Rambut abu-abu tua sang pemuda bergerak pelan mengikuti gerakan angin yang datang membelai.


“Kita harus memberitahu secepatnya, Tuan Muda. Semakin lama kita memendamnya semakin mereka berdua larut dalam putus asa. Lebih baik kita sampaikan kabar buruk itu. Kenyataan harus disampaikan walaupun itu sangat menyakitkan.”


Ivew mengepalkan tangannya erat, gadis itu kembali teringat dengan perkataan dan pesan penyesalan dari Duke Ekan Flowerlax terhadap putri semata wayangnya. Pesan dan kata yang tak akan pernah didengar oleh Lolita.


Rayn menatap Ivew dan menyadari perasaan yang dirasakan gadis dengan mata emerald di sampingnya. Jemari tangan sang pemuda bergerak mengelus pelan puncak kepala Ivew, berusaha menenangkan gejolak rasa bersalah dari sang gadis.


“Tidak ada yang bisa melawan takdir, Ivew. Kita hanya kebetulan hadir di sana menjadi saksi dari penyesalan Duke Ekan. Semesta menghadirkan kita agar pesan sang Duke bisa sampai di keturunannya.”


Rayn kembali menampilkan senyum hangatnya sembari mengelus pelan puncak kepala Ivew. Gadis dengan mata emerald itu mengangguk pelan dan ikut menguntai senyum mendengar kalimat Rayn.


“Jangan biarkan hatimu lemah, Ivew. Sebagai saintess alam selanjutnya kamu harus menguatkan hatimu untuk menyampaikan pesan dan menyelesaikan tugasmu. Dengan begitu kamu tidak akan terjatuh lagi ke dalam lubang putus asa seperti sebelumnya.”


Rayn mengangkat tangannya dan meraih anggrek biru yang berada di dekatnya. Sama seperti tindakan Ramound sebelumnya pemuda dengan mata orchid itu tersenyum hangat dan menyerahkannya kepada Ivew.


“Ingat siapa dirimu dan apa tujuan kamu ada disini, Ivew.”

__ADS_1


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨


__ADS_2