
...⪻⪼...
“Kenapa aku selalu terlibat dengan hal ini?! Aku kan bukan anggota militer! Aku juga tidak paham dengan kekuatan ini!”
Ivew melepaskan rasa kesal di dalam kamarnya di paviliun barat. Kucing Veister hanya terdiam menatap Ivew yang tampak berapi-rapi, sedangkan Laveon dan Leister hanya terdiam dan bersandar pada sofa
berusaha melepaskan rasa lelah dan kesalnya.
“Kurasa karena kamu muncul sebagai pemilik kekuatan alam. Kamu tau Ivew ... bagi Kaisar kamu adalah variabel baru yang mungkin saja menjadi kunci untuk kemenangan kita.”
Ivew menoleh saat mendengar pendapat yang disampaikan Leister. Gadis bermata emerald itu menghela nafas dan duduk di samping Laveron yang sedari tadi diam.
Pemuda bermata navy itu melirik sang adik yang menutup matanya berusaha menenangkan diri, jemari pemuda itu merasakan rasa panas dari tubuh sang adik. Seolah sedang menyentuh api yang membara.
“Tenangkan dirimu Ivew! Tubuhmu terasa panas seperti bara api,” ucap Laveron sembari mengusap pelan kepala Ivew.
Gadis bermata emerald itu bergumam pelan dan bersandar pada bahu Laveron yang terus mengelus rambutnya. Leister hanya melirik kebersamaan Mirabeth bersaudara itu dengan senyum di wajahnya, sedangkan kucing Veister duduk dan melirik Ivew yang bersandar pada Laveron, manik mata dua warnanya menangkap cahaya jingga yang menguar dari tubuh Ivew.
Apa itu pengaruh kekuatan api? Batin kucing Veister terus menatap Ivew saat cahaya jingga itu mulai samar dan menghilang.
“Jadi apa rencana kalian selanjutnya?” tanya kucing Veister menarik perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan.
Leister yang sedang membaca beberapa dokumen yang diberikan Diano sebelum mereka berpisah melirik Laveron yang diam dan Ivew yang tampak memejamkan matanya. Pemuda bermata navy itu menghela nafas dan ikut bersandar pada sofa di belakangnya.
“Aku harus kembali ke pusat militer di istana utama dan mungkin akan berangkat dari sana untuk ekspedisi. Bagaimana dengan Anda,Tuan Muda?” tanya Laveron yang kini meletakkan dokumen yang dibacanya di atas meja.
__ADS_1
“Aku harus kembali ke wilayah Flowerlax. Aku mendapat surat dari Lolita yang dikirim lewat merpati surat ... ada sedikit gangguan di mansion,” jawab Leister merenggangkan tubuhnya.
Laveron mengangguk atas jawaban Leister dan melirik Ivew yang tertidur dengan posisi masih bersandar pada bahunya. Pemuda bermata navy itu tersenyum dan memposisikan sang adik lebih nyaman di atas pahanya.
“Tuan Muda, bisakah saya meminta sesuatu kepada Anda?” tanya Laveron memecah hening dan kembali menatap Leister yang memandangnya heran.
Pemuda bermata ruby itu mengangguk saat melihat tatapan serius yang diberikan Laveron.
“Saya ingin Anda menjaga Ivew selama saya tidak ada Tuan Muda. Saya tidak selalu bisa bersamanya dan mungkin saja bahaya selalu mengintai langkahnya. Jadi ... jika Tuan Muda ada di dekatnya bisakah, Tuan Muda menjamin keselamatannya?”
Laveron berujar sembari menatap manik ruby Leister yang kini menatapnya dengan hangat dan tersenyum tulus.
“Tentu Laveron. Aku pasti akan menjaga keamanannya karena bagaimana pun aku juga merasa bersalah. Karena aku lah kekuatannya jadi diketahui banyak orang,” jawab Leister tersenyum pahit.
Laveron mengangguk dan kembali mengelus kepala Ivew yang tertidur nyenyak. Pemuda bermata navy itu segera membaringkan Ivew di tempat tidurnya dan pamit kepada Leister untuk kembali ke markas utama pasukan militer.
“Wahai angin yang mengalun tak terlihat, lindungilah kami di bawah pelukanmu. Swieldn!”
Veister terdiam saat melihat perisai pelindung perak miliknya yang melindungi kamar Ivew dan juga kamar Leister. Manik ruby Leister menatap Veister yang berubah ke wujud manusianya saat mengucapkan mantra pelindung.
“Setidaknya perisai ini lebih kuat dari perisai yang pernah ku buat sebelumnya.”
Veister berujar dan melirik Leister yang menunggunya di depan pintu penghubung. Pemuda bermata ruby itu mengangguk dan menutup pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Ivew membiarkan sang pemilik kamar tertidur.
Leister duduk di atas sofa yang ada di depan tempat tidurnya diikuti oleh Veister yang duduk di hadapannya. Keduanya hening dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi di ruang pertemuan itu? Kenapa Ivew harus ikut?” tanya Veister memecah hening.
Leister menjelaskan semua hal yang terjadi tanpa terkecuali termasuk perintah akhir Kaisar yang menyuruh militer darat untuk bergabung melakukan ekspedisi menuju Kota Rizer.
“Tuan Veister apa menurut Anda ... kaisar tidak memanfaatkan kekuatannya Ivew untuk ambisinya?” tanya Leister menatap Veister.
Pemuda dengan mata dua warna itu tertawa kecil saat mendengar pertanyaan polos Leister. Tentu saja Kaisar Aradi akan memanfaatkan kekuatan Ivew, terlebih pengguna kekuatan alam sudah menghilang sejak sepuluh tahun terakhir yang menyebabkan kekacauan saat perang besar melawan monster sebelumnya.
Hal ini mengakibatkan manusia kehilangan sebagian besar wilayahnya. Untunglah saat itu ide kaisar yang masih menjadi pangeran mahkota berhasil membuat dinding pelindung kota dengan memanfaatkan kekuatan penyihir yang tersisa.
Kehadiran Ivew sebagai pengguna kekuatan alam adalah variabel berharga yang bisa dimanfaatkan. Bahkan, Duke Ekan Flowerlax sudah melakukannya jauh sebelum kaisar merencanakannya.
Memanfaatkan gadis bermata emerald itu menyerang monster dan mengurangi pengeluaran mereka dari segi penyihir dan juga pasukan militer yang akan diutus. Alam akan selalu membantu penggunanya setidaknya itulah yang diketahui semua orang.
Leister terdiam saat Veister menanggapi pertanyaannya dengan tawa. Pemuda bermata ruby itu menghela nafas dan menyadari kekeliruannya dalam bertanya. Senyum yang diberikan kaisar kepada Ivew selalu mengusiknya.
Meski Kaisar Aradi terkenal dengan sosok yang sangat menyayangi putra mahkota dan sang ratu, akan tetapi sifat angkuh sang kaisar sangat terkenal di kalangan bangsawan. Raja akan mengutamakan apapun untuk kepentingan rakyatnya dan itu adalah hal baik yang disyukuri rakyat tetapi bagi para bangsawan seperti Duke Ekan Flowerax ia harus berusaha melawan sikap angkuh kaisar demi mendapatkan perhatiannya.
“Setiap penguasa memang seperti itu, bukan? Memanfaatkan hal apa pun yang bisa menguntungkannya. Sebaik apa pun seorang penguasa dirinya pasti pernah memanfaatkan orang lain. Itulah dunia politik.”
Leister mengangguk saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Veister. Pemuda bermata dua warna itu benar. Khusus untuk Ivew yang mendapat perhatian kaisar karena potensi kekuatannya. Kaisar pasti akan melakukan apa pun demi keselamatan dunia yang ia pimpin dan para bangsawan harus mengikuti perintahnya jika tidak ingin berakhir dengan kematian.
Leister melirik pemuda berjubah hitam-perak di depannya yang bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela kamar.
“Ivew harus bisa mengendalikan emosinya. Jangan sampai kekuatannya berbalik menjadi bencana.”
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya ... ✨