Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
54 - Sang Penjaga Dunia (2)


__ADS_3

...⪻⪼...


Manik dua warna Veister melebar mendengar jawaban yang disampaikan gadis dari keluarga Rozitto itu. Semua orang yang hadir dalam pertemuan itu terdiam dan mulai merangkai kesimpulan dari segelintir fakta yang ada.


“Lady Rozitto, yang anda maksud jejak organik manusia itu ... apa itu bisa berarti mayat manusia?” tanya Kaisar Aradi mewakili pertanyaan yang terbesit di kepala semua orang.


Gadis dengan mata tuscany itu mengangguk menjawab pertanyaan yang diajukan kaisar. Laveron dan Leister melirik Veister yang tampak menguarkan aura di sekitar tubuhnya.


Kedua mata yang berbeda warna itu tampak bercahaya dan pemuda itu mengepalkan kedua tangannya erat. Jubah hitam-perak yang digunakan bergerak mengikuti aura yang keluar dari tubuhnya.


“Penyihir hitam sialan!” umpat Veister berusaha mengendalikan kemarahannya.


Kepala Penyihir Aksario Norldi menatap peserta pertemuan yang diam dari hologram di depannya dan menatap ke arah Veister, sang penyihir suci yang tampak menahan amarahnya.


“Apa itu benar, Lady Rozitto? Bisa jadi ada kekeliruan, bukan?” ungkap Kepala Penyihir Aksario menarik perhatian semua orang.


Gadis dengan mata tuscany itu mengerutkan alisnya dan menatap pria yang terbalut jubah putih itu menyeringai dan memandangnya remeh.


“Aku Risya Rozitto, tidak pernah berbohong mengenai hasil penelitian yang kami lakukan! Kami sudah berulang kali memeriksanya! Aku bersumpah atas nama keluarga Rozitto, Tuan Kepala Penyihir!” sergah gadis dengan mata tuscany itu menatap kepala penyihir Aksario yang kembali terdiam dan sedikit terbatuk-batuk.


Risya Rozitto, putri tunggal dari keluarga Rozitto itu menahan amarahnya saat kepala penyihir Aksario meragukan hasil penelitian yang dilakukan dirinya dan keluarganya berulang kali. Manik tuscany gadis itu melirik peserta rapat lainnya dan bertemu dengan pandangan mata delima Lolita yang tersenyum dan mengangguk ke arahnya.


“Keluarga Rozitto terkenal akan ketelitian mereka, Kepala Penyihir Aksario. Mereka selalu berulang kali melakukan pemeriksaan pada hasil penelitiannya. Aku bisa menjamin itu!”


Pandangan orang-orang di dalam ruangan dan hologram itu beralih ke arah Lolita yang bersuara. Gadis bermata delima tampak tenang menjelaskan pendapatnya dan Grein yang kini hinggap di atas rambut peraknya. Leister ikut tersenyum dan membenarkan pernyataan yang disampaikan Lolita.

__ADS_1


“Itu artinya mayat-mayat yang hilang saat perang dulu digunakan mereka untuk membuat cairan hijau itu? Tapi kenapa?” gumam Kaisar Aradi.


Veister terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Kaisar Aradi dan ikut memikirkan hal yang sama. Ingatan sang penyihir suci itu memutar kenangan saat dirinya bersama saintess alam bertahun-tahun sebelumnya. Saat itu perang dengan para monster hanya dalam level ringan dan tidak terlalu mengancam nyawa.


Mereka masih bisa mengirim para ksatria untuk menumpas monster-monster yang berdatangan. Namun, satu tahun berikutnya keadaan berbalik kacau saat orang-orang ditemukan meninggal secara tidak wajar dengan kondisi tubuh menghijau dan mengeluarkan bau busuk.


Veister seketika tersentak saat mengingat bau busuk itu mirip dengan bau cairan hijau yang mereka temukan. Saat itu mulai muncul sosok-sosok berjubah hitam yang menggunakan sihir hitam terlarang untuk menguasai umat manusia. Saintess alam yang saat itu hanya menguasai salah satu kekuatan angin mulai mendapat petunjuk untuk menerima berkah dari roh alam lainnya.


Semua berjalan lancar saat saintess alam mulai bisa mengimbangi kekuatan dan serangan para monster bersama dengan Veister sebagai penyihir suci yang membantu sang saintess. Pemuda dengan mata dua warna itu mengernyit dan merasakan hatinya berdenyut sakit saat mengingat perpisahannya dengan saintess alam.


Saat langit bergemuruh dengan kemarahan petir, angin yang berubah menjadi badai disertai hujan yang menandakan tangisan alam, tanah yang sedikit bergetar dan api kemerahan yang samar muncul di atas tanah.


Manik dua warna Veister saat itu melebar menatap darah yang jatuh dari lubang luka di dada sang saintess. Dua sulur besar yang menusuk dadanya tepat saat sang saintess hendak menggunakan kekuatannya untuk membasmi


salah satu sosok hitam bertaring.


“Aku serahkan ... kepadamu.”


Itu adalah kalimat terakhir yang bisa diucapkan sang saintess saat alam akhirnya memanggil jiwanya keluar dari raganya yang sudah berkorban. Senyum hangat hadir di wajah pucat sang saintess bersamaan dengan gema alam yang terus meraung akan kepergiannya.


Larut dalam luka dan rasa bersalah karena gagal melindungi sang saintess, Veister tersentak saat salah satu sosok berjubah hitam itu hadir di hadapannya dengan seringai lebar di wajahnya. Tangan dengan kuku panjang itu mengeluarkan bola hitam dan mengarahkannya pada Veister yang tak sempat bereaksi.


Sang penyihir suci berteriak menahan sakit saat merasakan tubuhnya seperti dirobek. Manik dua warnanya berkilat akan kemarahan dan memandang sosok hitam yang menyeringai ke arahnya.


“Sampai jumpa lagi, Penyihir Suci yang Agung.”

__ADS_1


Pandangan Veister menggelap dan yang terakhir dilihatnya adalah sosok hitam itu yang mendekati tubuh tak bernyawa sang saintess dengan seringai lebar yang tetap tertuju ke arahnya. Saat membuka matanya kembali barulah Veister menyadari dirinya berada di dunia yang berbeda. Dunia yang modern dan penuh dengan kendaraan besi yang berjalan.


Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?! Itulah yang terjadi saat aku sampai di dunianya Cona dan menyadari bahwa dunia kami adalah kisah yang ditulis orang itu. Batin Veister larut dalam pikirannya dan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya lebih erat.


“Sepertinya cairan hijau itu memiliki tujuan untuk melemahkan lawannya. Hal itu terbukti saat beberapa ilmuan yang memiliki ketahanan dan aura yang cukup besar menjadi lemas karena berpapasan dengan bau dari cairan ini.”


Veister kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar penjelasan yang disampaikan Risya Rozitto. Gadis dengan mata tuscany itu terus menjelaskan efek lain yang dirasakannya dan orang-orang yang membantunya


meneliti cairan hijau itu.


“Alasan itu bisa diterima. Ada lagi, Lady Rozitto?” tanya Kaisar Aradi memerintahkan Raceta yang berada di belakangnya untuk mencatat informasi.


“Saya ingin menambahkan Yang Mulia. Dari prajurit militer laut yang melakukan patroli di sekitar laut pagi ini, mereka menemukan keanehan pada bagian laut yang mengarah ke tembok pelindung di dekat gunung atbu. Mereka menemukan awan hitam bercampur merah dan hijau yang terus berpendar di atas gunung. Dan juga suku laut menyampaikan, mereka memiliki firasat buruk saat melihat kondisi makhluk hidup di dalamnya, Yang Mulia.”


Kaisar Aradi dan peserta rapat lainnya mendengar dengan seksama rangkaian informasi yang disampaikan Duke Dexter Rizery.


Situasinya tiba-tiba tidak terkendali. Apa yang kulewatkan? Batin Kaisar Aradi menghela nafas gusar.


“Apa orang-orang yang hilang ini ... juga akan bernasib sama seperti mereka?”


Duchess Veryn Angena memecah hening membuat Laveron dan Veister merasa was-was. Pemuda dengan mata navy itu mengepalkan tangannya berusaha menenangkan diri sedangkan Veister melirik Laveron yang kini menundukkan kepalanya dengan Windy yang terbang perlahan di dekat kepalanya. Pemuda dengan manik dua warna itu bergumam memikirkan sosok seorang wanita dalam benaknya.


“Hah ... apa yang harus aku lakukan kakak?”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2