
...⪻⪼...
Ivew menutup matanya saat cahaya coklat perak itu bersinar di sekitarnya, merasakan angin kencang menerpa tubuhnya dan kemudian tubuhnya yang terasa basah gadis bermata emerald itu membuka matanya dan menatap kaget pemandangan di depan mata. Sedetik kemudian teriakan kekesalan keluar dari mulutnya dan memanggil nama Veister.
Ivew berdiri dan menatap bajunya yang basah dan dirinya yang berada di dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Membersihkan tubuhnya gadis itu segera membuka pintu kamar mandi dengan keras dan bertemu dengan pandangan sombong Veister.
“Dasar penyihir licik! Kamu membuatku kesal!”
Ivew berseru kesal menatap Veister yang hanya tertawa di depannya. Gadis itu melirik rambut putih Veister yang tetap berada rapi di dalam jubahnya. Merasakan tatapan Ivew pemuda itu memilih mengangkat tudung jubahnya melindungi harta berharganya dan kembali berubah ke bentuk kucingnya.
Ivew menghela nafas dan melirik anggrek biru yang berada di jendela kamar, kelopak anggrek itu kembali bertambah dan mulai memenuhi sudut jendela. Telinga Ivew menangkap suara pintu terbuka serta suara Laveron yang memanggil namanya.
Melirik Veister yang berbaring di ujung kasurnya Ivew melangkah turun dan menemui Laveron yang kini menatapnya datar. Gadis itu sedikit mundur saat tatapan Laveron terasa berbeda dari biasanya. Saat hendak bertanya Laveron lebih dulu menjelaskan kekesalannya dengan menghela nafas.
“Kamu habis dari luar kan? Kenapa kamu meninggalkan kudamu di perbatasan hutan Ivew?! Untung saja aku berpatroli di sana dan mengenali kudamu.”
“Hah? Tapi kan bang-”
“Kenapa? Tidak mungkin kan kudamu berjalan sendirian keluar dari kandang! Busur panahmu juga ada di sana! Apa lagi alasanmu sekarang hm?”
Ivew kehabisan kata-kata dan melirik ke arah lain saat Laveron dengan cepat memotong kata-katanya. Sedangkan di atas tangga Veister dalam bentuk kucingnya menatap dalam diam dan kembali melangkah menuju kamar Ivew, berniat melanjutkan tidurnya. Ivew hanya menunduk saat Laveron melewatinya dan berjalan menuju kamarnya.
Gadis itu sedikit takut saat pertama kali melihat ekspresi marah Laveron. Suara pintu kamar Laveron yang tertutup hanya dilirik Ivew dari sudut mata. Ivew berjalan ke arah jendela samping rumah dan melihat kuda kesayangannya ada di sana sedang makan tetapi yang membuat gadis itu heran tidak ada kuda Laveron di samping kudanya.
__ADS_1
“Veister ini semua gara-”
Kemarahan Ivew saat dirinya memasuki kamar terputus dengan ekspresi yang ditampilkan Laveron. Veister yang dalam wujud manusianya tampak terengah-engah dengan wajah yang dibanjiri keringat. Pemuda itu terduduk di samping tempat tidur Ivew dengan kepala bersandar pada ujung tempat tidur.
Ivew menutup pintu kamarnya dan mendekat ke arah Veister yang menatapnya sayu. Gadis bermata emerald itu duduk di depan Veister dan hendak bertanya tentang keadaannya tetapi Veister memotong ucapannya. Pemuda bermata dua warna itu berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Kemarahan Ivew melebur bersamaan dengan rasa khawatir yang muncul. Mengusap keringat di dahi Veister dengan tangannya gadis itu tersenyum dan menyuruh Veister untuk istirahat. Manik mata emerald Ivew menangkan goresan panjang pada leher Veister yang sedikit terlihat olehnya. Samar-samar gadis itu melihat asap hitam kecil yang segera menghilang saat Veister mengarahkan tangannya dan mengucapkan mantra sihir.
“Apa seseorang menyerangmu?” tanya Ivew saat Veister tak lagi pucat dan terengah-engah. Pemuda itu menghela nafas dan mengangguk.
“Serangan itu terjadi secara tiba-tiba saat aku hendak menyusulmu pulang bersama kudamu. Aku memang berniat membawanya tapi saat serangan itu terjadi aku terjatuh dan terpaksa melarikan diri.”
“Lalu kenapa kamu tersenyum saat aku marah tadi?” tanya Ivew mulai diliputi rasa bersalah.
Veister tertawa kecil saat menatap Ivew yang menampilkan wajah datar. Pemuda bermata dua warna itu menghela nafas dan melirik kedua tangannya. Pemuda itu menatap Ivew dan mulai menceritakan penyerangan yang dialaminya. Saat dirinya berhasil melakukan teleportasi pada Ivew, pemuda itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kuda Ivew. Saat hendak memacu kuda itu menuju rumah Ivew sebuah bola hitam datang ke arahnya.
Veister berhasil menghindarinya tetapi pemuda itu terjatuh dari atas kuda. Serangan bola hitam itu kembali datang, hampir mengenai lehernya dan akibatnya jarak Veister dengan kuda Ivew menjadi jauh. Veister terpaksa menggunakan teleportasi dengan salah satu tangan membawa hasil buruan Ivew dan berakhir di dalam kamar sang gadis. Menstabilkan nafasnya saat pemuda itu menangkap suara kemarahan Ivew dan terkekeh pelan.
Ivew terdiam mendengar penjelasan Veister dan melirik wajah tenang pemuda di depannya. Suara langkah kaki Laveron menaiki anak tangga menarik perhatian Ivew, gadis itu berdiri dan duduk di tepi tempat tidurnya, sedangkan Veister berubah ke bentuk kucingnya dan tidur di sudut tempat tidur Ivew. Suara ketukan pada pintu kamar terdengar dan Laveron segera membuka pintu kamar bertemu dengan pandangan sang adik yang menatapnya bingung.
Pemuda bermata navy itu melangkah menuju Ivew dan memeluk tubuh gadis di depannya sangat erat. Ivew melirik Laveron yang tampak dipenuhi rasa bersalah dan membalas pelukan hangat yang diberikan pemuda di depannya meski dengan nafas yang sedikit sempit.
“Ada apa, Bang? Apa yang terjadi?”
__ADS_1
Ivew bertanya saat Laveron melepaskan pelukannya disertai suara cekikikan kecil.
“Maaf abang tadi tidak bermaksud marah kepadamu. Abang tidak tau kenapa tapi rasanya abang sangat marah dan harus mengeluarkannya.”
Laveron menjelaskan dengan suara sedikit serak. Ivew menatap Laveron yang selalu menghindari pandangan matanya dan melirik kucing Veister yang duduk menatap keduanya.
“Tidak apa-apa, Bang. Aku juga salah karena meninggalkan kudaku sembarangan.”
Ivew menjelaskan dengan senyum di wajahnya dan Laveron hanya mengangguk. Pemuda itu meletakkan tangan kanannya di atas gagang pedang yang tersarung di dalam sarung pedang di pinggangnya. Tangan kirinya beralih mengelus kepala Ivew dengan senyum kecil terbit di wajahnya. Veister yang dari tadi memperhatikan memicing matanya saat menangkap hal aneh dari Laveron.
“Aku ingin berdiskusi tentang sesuatu boleh, Bang?”
Ivew menatap Laveron yang terus mengusap kepalanya. Pemuda bermata navy itu mengangguk dan tersenyum.
“Aku tadi ... bertemu dengan tuan muda dan katanya abang menjadi perwakilan dalam rapat tahunan di Kekaisaran tiga hari lagi. Jadi ... itu ... tuan muda juga mengajakku untuk ikut. Apa abang mengizinkannya?” tanya Ivew melihat ke arah lain saat Laveron menghentikan usapannya pada kepala Ivew.
Ivew menatap kucing Veister yang berjalan mendekat ke arahnya. Gadis bermata emerald itu mengerutkan keningnya saat merasakan tidak ada jawaban dari Laveron. Gadis itu beralih menatap pemuda di depannya yang kini menampilkan raut berbeda dari yang biasanya.
Manik emerald Ivew melebar menatap benda berkilau panjang yang berada di tangan kanan pemuda itu. Senyum miring hadir di wajahnya dan pedang itu bergerak hendak menebas kepalanya, sedangkan tangannya yang lain bergerak menembakkan bola hitam ke arah kucing Veister yang menghindar dengan panik.
“Hihi ... Pergilah ke neraka dan matilah!”
...⪻⪼...
__ADS_1
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya .... ✨