
BAB 10
Setelah menempuh sekitar 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga dikantor, sebuah bangunan yang menjulang tinggi dan dengan desain yang sangat megah, perusahaan itu didirikan oleh nenek moyang keluarganya hingga banyak cabang dimana-mana.
Mereka pun turun dari mobil mewah itu, Anton dengan sigap membukakan pintu tuannya, namun saat membukakan pintu eh ada pemandangan yang menarik sepertinya, terlihat mereka saling pandang penuh perasaan dan tangan Alghi lagi mengusap saus sisa makan yang menempel dibibir seksi Ameldita, romantis sekali.
"Kau ini selalu saja ceroboh, cari perhatian ya" Goda Alghi mengerlingkan matanya.
" Mmmm...gak juga." Ucap Ameldita merasa gugup berkali lipat, jantungnya berdegup sangat kencang. Kenapa selalu saja memberi perhatian lebih tuan mudanya itu, dia takut terlena dengan semua itu. Sedangkan perasaannya tidak bersambut mau bagaimana? Oh no..."
Ameldita dengan cepat dia keluar dari mobil sedikit membenahi kemeja longgar warna pinknya, begitu pun dengan Alghi kemudian mereka bertiga berjalan bersama, menuju lift khusus ruang CEO, tak ada pembicaraan diantara mereka hanya sesekali mata mereka saling pandang. Ada beberapa karyawan yang mencuri-curi pandang, ada juga yang berbisik:"Siapa wanita cantik itu? Mungkin saja tuan muda ganti asisten, karena yang seminggu lalu kan jelek dan culun, bukan tipenya."
Akhirnya sampai juga diruangan kerjanya, Alghi mendudukan badannya dikursi kemudian membuka laptopnya, dan datang seorang wanita seksi dengan pakaian yang sedikit terbuka membawa berkas-berkas ditangannya.
"Tuan ini berkas yang harus anda tanda tangani, serta jadwal untuk hari ini, dan meeting akan segera dimulai."
Rupanya dia adalah sekretaris tuannya, seksi dan genit risih sekali Ameldita melihat penampilannya, sementara Alghi sudah terbiasa menghadapi perempuan seksi ini, tak ada yang menarik dihatinya selain gadis pujaannya.
__ADS_1
"Oke kita segera ke ruang meeting." Alghi bangkit dari duduknya. Sementara Ameldita masih mematung seolah tak dianggap sesekali bibirnya dimanyunkan kedua tangannya saling bersahutan, bingung apa yang harus dilakukan, sedih karna dianggap gaib dari tadi.
Alghi dan Susan serta Anton pun keluar namun beberapa detik berjalan Alghi balik lagi dan menghampiri Ameldita yang masih mematung
"Apa kau tak lelah dari tadi berdiri disitu, periksa ni berkas-berkas yang ada di meja, atau mau ikut ke ruang meeting?" Ucap Alghi menatap wajah cantik yang nampak sangat menggemaskan itu, karena bibirnya dimaju mundurkan dari tadi, bukan tak menganggapnya dari tadi dia pun sempat melihat dengan sudut matanya. Namun sengaja dia biarkan karena merasa lucu dan menggemaskan, ingin sekali melahap habis bibir seksinya.
"Ku periksa saja berkasnya." Jawab Ameldita seraya meraih berkas-berkas itu.
"Oke hati-hati jangan sampai rusak ya." Sahut Alghi kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
"O ow banyak juga berkasnya semoga bisa." Ya walau pun tidak terjun ke dunia bisnis tapi dia juga kuliah jurusan management bisnis dan perkantoran jadi tidak terlalu awam dengan urusan kantor, itu pun terpaksa karena kemauan ayahnya, yang sejatinya dia ingin menjadi dokter.
"Awww..., eh sorry sorry tidak sengaja." Teriak mereka bersamaan. Mereka membalikan badannya masing-masing.
"Amelditaaa...!"
"Ricard...!
__ADS_1
Mereka sama-sama terkejut dengan telunjuk mengarah kedepan. Ameldita benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, yang dulu pernah dia cintai, 3 tahun sudah mereka menjalin hubungan backstreet dari orang tuanya, makanya dia selalu menolak perjodohan yang sudah diatur oleh mereka.
Tapi sayang semua hancur berkeping- keping disaat Ameldita menyaksikan pergumulan antara kekasihnya Ricard dan sahabatnya sendiri yaitu Mirna. Sejak saat itu dia pergi dari kehidupan Ricard dan tak ingin melihatnya lagi, walau pun Ricard berulang kali minta maaf dan mengaku itu hanya sebuah kesalahan namun tetap saja hatinya hancur.
"Mel benarkah ini kau? Kenapa ada disini?"
Tanya Ricard seraya menyentuh tangan Ameldita namun Ameldita menepisnya dengan kasar.
"Tolong kondisikan tangan anda tuan Ricard yang terhormat, hubungan kita sudah berakhir sejak kau menghianatinya." Seru Ameldita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mel dengar dulu penjelasanku, aku merindukanmu Mel, please...aku ingin menjelaskan semuanya..." Mohon Ricard seraya mengatupkan kedua tangannya didada.
"Aku tak mau mendengarnya, dan jangan muncul lagi didepanku...!" Teriak Ameldita seraya berlari kencang dan bruk dia menubruk dada bidang yang sedang berjalan.
"Hi...kalau jalan tu pakai mata...haduuuhhh basah kan jadinya bajuku!" Teriak Alghi yang kebetulan bawa segelas juice, belum sempat dia minum eh tumpah mengenai jasnya.
"Sorry sorry..."Ucap Ameldita gelagapan sambil menepuk-nepuk bagian dada tuannya yang terkena juice.
__ADS_1
"Kau..." Alghi terkejut karena yang menubruknya Ameldita, dia menatap kedua bola mata indah itu dengan tajam, penuh dengan linangan air mata dan tanpa kompromi air mata itu mengalir membasahi kedua pipinya yang ayu.
"Kenapa mesti menangis...kau itu selalu saja terburu-buru, ada apa?" Tanya Alghi seraya memegang bahu Ameldita supaya menatap ke arahnya. Dan blom sempat Ameldita menjawab pertanyaannya, tiba-tiba suara teriakkan mengagetkan mereka.