
"Berani kau melukai istriku...jangan harap kau bisa hidup lagi, lepaskan dia sekarang juga...!" Geram Alghi mencekal leher Dina dengan keras, namun tiba-tiba saja datang 4 orang laki-laki yang bertubuh besar dengan muka yang seram, menodongkan pistolnya ke arah Alghi.
Terpaksa Alghi pun melepaskan cengkramannya dari leher Dina, lalu mengangkat kedua tangannya.
Namun bersamaan dengan itu, ada suara tembakkan yang menggema, nampak seorang pemuda yang gagah dan tampan bersama 10 orang pengikutnya lalu menodongkan senjata api ke arah kepala Dina dan ke 4 anak buahnya itu.
"Ricard..." Kata Alghi seraya menangkap senjata yang dilempar ke arahnya, Alghi pun menangkapnya dengan cepat, bukannya Alghi tak memiliki senjata, namun dia menyimpannya dibalik baju, untuk berjaga-jaga kalau waktu mendesak, namun Ricard memberinya senjata lumayan untuk dimanfaatkan.
"Selamatkan istrimu, yang lain biar ku tangani...!" Ucap Ricard sambil waspada, tadi sudah dia lumpuhkan sebagian anak buahnya Dina, namun tak menutup kemungkinan masih banyak lagi, karena wanita itu benar-benar licik.
"Kenapa kau mengetahui semua ini Ricard..., apa kau menjadi penguntit kehidupan kami...!" Kata Alghi tetap mencurigai Ricard.
"Tentu saja aku mengetahuinya, karena demi keselamatan orang yang ku cintai, sudah ku bilang jangan biarkan istrimu sendirian, tapi kau tak mendengar dan mengabaikannya, jika kau tak bisa menjaganya maka aku akan mengambilnya darimu, berulangkali ku ingatkan tuan Alghiantara..." Ucap Ricard disela-sela kewaspadaannya.
"Cukup tuan Ricard, jangan lakukan lagi, kau pikir aku tak sanggup menjaganya? Dan thanks atas bantuannya...!" Ucap Alghi meninggalkan ruangan itu menuju tempat istrinya disekap.
"Tangkap mereka semua...!"Teriak Ricard pada anak buahnya.
"Bhuuk, bhuk, bhuuukkk...!" Alghi menghajar para pria yang menyandera Ameldita, dengan gerakkan cepat dia menghabisi mereka, hatinya sakit melihat keadaan sang istri yang dalam keadaan terikat dengan mulut tertutup lakban, rambut acak-acakan serta mata memerah berlinangan air mata, dengan cepat dia membuka lakban dan tali yang mengikatnya, namun ketika membuka ikatan itu tiba-tiba salah satu pria yang tergeletak itu bangkit dan menarik pelatuk senjatanya mengarah pada Alghi dan Ameldita, dan dor...suara tembakkan itu menggema.
Namun apa yang terjadi penjahat itulah yang tertembak tangannya dan senjata yang dipegangnya terlempar kesamping, ternyata Ricardlah yang menembak penjahat itu. Ya Ricard berusaha melindungi orang yang dicintainya meskipun dia tak mungkin memilikinya kembali. Tapi setidaknya dia akan tenang jika orang yang dicintainya selamat dan hidup bahagia.
__ADS_1
Ameldita ketakutan dia berteriak histeris, sambil memeluk Alghi. "Kak aku takut...bawa aku pergi dari sini...!"
"Iya sayang kita akan pergi, jangan takut aku disini sayang..." Ucap Alghi memeluk erat sang istri, lalu mengecup keningnya.
Disaat mereka berpelukan, tiba-tiba datang lagi anak buahnya Dina mengepung mereka. Ameldita semakin ketakutan, namun Alghi berusaha menenangkannya, menyembunyikannya dibelakang tubuhnya, semantara tangan yang satu memegang senjata.
"Tuan Alghiantara pergilah bawa istrimu, biar ku hadapi mereka semua, cepattt...!" Teriak Ricard berusaha menghadang para penjahat itu.
"Ricard..., kenapa ada disini, dan kenapa dia berusaha menyelamatkan kami...?" Guman Ameldita dalam hatinya.
"Sayang pegang tanganku, kita pergi..." Ucap Alghi, bersamaan datangnya Anton dan para pengawal anak buah kedua orang tua Alghi.
"Tuan lewat sini, dibawah sudah ada papa anda menunggu, turunlah... !" Kata Anton.
"Sayang bertahanlah...jangan takut, aku akan melindungimu, maafkan aku terlambat menyelamatkanmu sayang..." Kata Alghi seraya berjalan menuju lantai bawah.
Disana sudah ada papa Ghian bersama para pengawal juga. "Al bagaimana keadaan istrimu? Cepat bawa masuk ke mobil dan langsung bawa ke rumah, mama sama nenekmu sudah menunggu disana."
"Istri Al shock berat pah, Alghi jalan dulu ya, lalu papa bagaimana?" Kata Alghi sambil berjalan menuju mobilnya.
"Biar papa selesaikan dulu urusan disini, semua harus dibereskan Al, dan wanita jahat itu harus dihukum sesuai perbuatannya." Kata papa Ghian.
__ADS_1
"Ok pah hati-hati wanita itu sangat licik..." Ucap Alghi sedikit khawatir terhadap papanya.
"Ok Al don't be worry, rawat dulu istrimu, kasian...nanti papa kabarin lagi." Kata Papa Ghian.
Alghi pun masuk ke mobil bersama istrinya yang masih berada dalam gendongannya. "Sayang minumlah dulu, Ya Alloh tanganmu memerah karena ikatan yang terlalu keras, kurang ajar wanita iblis itu." Kata Alghi sangat geram.
"Kak dia menginginkan kak Al kembali, dia juga yang membuat kita kehilangan calon anak kita waktu itu, dialah dalangnya." Ucap Ameldita menatap suaminya yang sedang mengelus tangan merahnya dan sesekali mengecupnya.
"Benar-benar wanita iblis, sudah gila dia, ku pastikan dia akan menerima ganjarannya." Kata Alghi geram.
"Maafkan sayang, kau selalu dalam bahaya sejak hidup bersamaku, aku bukan suami yang baik." Ucap Alghi sedih dan berkaca-kaca.
"Kak Al jangan bicara seperti itu, ini sudah kehendak Alloh, kita hadapi bersama..." Sahut Ameldita.
"Kita obati dulu memar ditanganmu, apa ada luka yang lainnya?" Alghi memeriksa seluruh tubuh istrinya.
"Jangan khawatir kak, tak ada yang parah cuma kepalaku masih sakit dan pusing tadi wanita jahat itu menarik rambutku dengan keras dan kasar." Isak Ameldita didada suaminya.
"Maaf, maafkan aku sayang, pasti sakit sekali...maaf..., benar kata Ricard, jangan membiarkan kau sendiri meskipun itu ke toilet...aku sungguh menyesal sayang." Ucap Alghi mengusap-ngusap kepala Ameldita sesekali menciumnya, dia merasa tak berguna membiarkan istrinya tersakiti.
"Kak jangan minta maaf terus, ini semua bukan kesalahan kak Al, wanita itu sangat mencintai kak Al, dia dibutakan oleh perasaannya, hingga setan memasuki raganya untuk berbuat jahat, kak jangan tinggalkan Meldi ya...Meldi takut kak..." Ucap Ameldita lirih.
__ADS_1
"Bukan cinta sayang tapi itu obsesi, rasa serakah dan mencari kesenangan saja, dia mencari mangsa untuk dijadikan bank berjalan, jadi seperti itu menghalalkan segala cara, aku sangat mencintaimu sayang, tak akan pernah ku meninggalkanmu, sampai maut memisahkan kita, I love you so much..." Kata Alghi memeluk erat istrinya, tak peduli dengan supir yang sedang mengemudi dan mungkin mendengar serta melihat pembicaraan mereka, dunia terasa milik berdua yang lain ngontrak ha ha.