TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 66


__ADS_3

"Apakah ku masih dialam mimpi?" Ameldita mencubit tangannya kuat-kuat takutnya ini semua mimpi, karena dia masih ingat tadi pagi dia tidur lagi, dan hanya sang suami yang berangkat ke kantor.


"Awww...!" ini terasa sakit, berarti ini bukan dialam mimpi, lalu aku ada dimana? Kak Al tolongin Meldi..." Ameldita ketakutan, matanya mulai berair, meraba saku baju piyamanya berharap bisa menemukan handphone untuk menghubungi sang suami atau kedua mertuanya, namun semua tinggal harapan, sakunya kosong tak ada apa pun, lalu dia harus bagaimana?


Ameldita bangkit dari duduknya mencoba berdiri dan mencari dimana pintu berada, berharap pintunya tak terkunci dan bisa keluar dari gudang itu.


"Awww...awww...!" Ameldita berteriak kesakitan, kakinya tertusuk pecahan kaca dan kaca itu masih menancap dikakinya. Luruh sudah air matanya membasahi kedua pipi cantiknya bersama rasa sakit ditelapak kaki. Dia pun memberanikan diri untuk mencabut pecahan kaca itu, darah pun keluar banyak dari kakinya membuat Ameldita histeris, karena sakit dan perih.


"Kak Al...mama...papa...tolongin Meldi, Meldi ingin keluar, Meldi takut kak...Ya Alloh tolonglah Meldi...tunjukkan jalan keluar dari sini, hamba mohon Ya Alloh..." Ratap Ameldita sedih, kenapa dia harus mengalami hal buruk ini.


"Deg!" jantung Alghi terasa sakit seakan ada benda tajam yang menusuknya, dia pun mengelus dada sambil mengucap istighfar, dia merogoh handphonenya lalu menghubungi sang istri yang berada dirumah, namun etah kenapa berulang kali memanggil dan mengirim pesan, tak diangkat atau pun dibalas, dia juga menghubungi nomor telephone rumah, yang mengangkat bu Ani, dan dia bilang Non Ameldita belum keluar kamar dari tadi, mungkin masih tidur.


Waktu sudah pukul 12 siang, Alghi dengan cepat menyuruh Anton untuk mengantarnya pulang, hatinya merasa tak tenang dan ingin makan siang dirumah saja bersama sang istri.


Setelah beberapa menit kemudian Alghi sampai dirumah, tak berpikir panjang dia langsung menuju kamarnya, tak sabar ingin melihat sang istri dan mencium kedua baby dalam kandungannya.


"Assalamualaikum sayang..., daddy sudah pulang..." Ucap Alghi membuka pintu dan langsung masuk kamar, namun apa yang terjadi, kamar itu kosong, Alghi pun mengetuk pintu kamar mandi, barang kali istrinya didalam, namun tak ada jawaban.


"Sayang...sayang...!" Teriak Alghi seraya membuka pintu kamar mandi. Namun tak ada juga, nampak kosong, lalu dimana istrinya berada, dia pun pergi ke ruang ganti baju dan ke balkon namun tak ditemukannya. Dan dia melihat handphone sang istri ada diatas nakas.


"Oh my God pantas saja tak mengangkat telpon, orang handphonenya tertinggal ni..., tapi pergi kemana?" Ucap Alghi bermonolog sendiri.


Alghi turun ke bawah mencarinya didapur dan bertanya pada para pelayan." Apakah kalian melihat non Ameldita keluar?"

__ADS_1


"Tidak tuan, kami belum melihatnya dari tadi..." Jawab mereka seraya menundukkan kepala tandanya hormat.


"Ada apa bos?" Tanya Anton yang sedang duduk diruang keluarga.


"Istriku tak ada dikamarnya ton, etah kemana? Coba tolong cari ditaman atau dikolam renang, heran tak seorang pun pelayan melihat istriku keluar kamar, dan handphonenya tak dibawa ada diatas, kemana ya, tidak biasanya begini?"Jawab Alghi sambil mondar-mandir tak jelas karena merasa panik.


"Ok bos ku mencari kesana..." Ucap Anton.


"Bu Aniii...kumpulkan semua pegawai disini termasuk satpam diluar...!" Teriak Alghi, dia sudah bingung harus mencari istrinya kemana.


"Siap tuan..." Jawab bu Ani, dia sedikit gemetar sudah pasti tuannya akan marah.


Dan semua pelayan sudah berkumpul semua, mereka berdiri sambil menundukkan kepala merasa tegang, takut kena marah.


"Tidak tuan, sejak tadi belum melihatnya." Jawab mereka geleng kepala.


"Sari apa kau melihat istriku...?" Tanya Alghi menatap Sari yang baru datang etah darimana.


"Ti-tidak tuan, sa-saya tidak melihatnya..." Jawab Sari grogi dan gugup.


"Baiklah...cari diseluruh ruangan rumah ini, termasuk gudang, jika kalian tidak menemukannya maka siap-siap kalian meninggalkan rumah ini, kalian ku pecat...!" Ucap Alghi geram, dia heran kenapa istrinya tiba-tiba menghilang dan tak seorang pun yang melihatnya.


"Bos disana tak ada juga..." Ucap Anton yang baru datang dari taman dan kolam renang.

__ADS_1


"What...lalu istriku kemana?" Jawab Alghi semakin bingung.


"Bos bagaimana kita cek cctv barang kali ada petunjuk..." Ucap Anton serius.


"Nah betul juga, ayo ke ruang kerjaku..."Ajak Alghi sambil melangkah menuju ruangan tersebut.


Sementara Ameldita masih berada digudang kotor itu, dia mencoba meraba-raba mencari dimana pintu berada, dan etah tertusuk apa lagi kakinya terasa sakit kembali.


"Awww...haduhhh...apa lagi ini, owww...sakit sekali, awww..." Teriak Ameldita, belum lagi perut bagian bawahnya terasa keram, dia semakin meringis kesakitan, benar-benar ini bagai mimpi buruk dalam hidupnya.


Dia pun mengusap perutnya sambil berbicara sendiri: "Sayang bersabar dan bertahanlah, berikan mommy kekuatan, ku yakin pasti kita bisa keluar dari sini."


Dia pun kembali berjalan menggunakan instingnya, karena memang gelap disana, dia ingin menemukan pintu untuk keluar, siapa tahu setelah mencapai pintu ada pertolongan, sudah tak peduli dengan rasa sakit yang mendera kakinya, dia memegang perutnya sambil terus meraba-raba jalan yang ditapakinya.


Hingga akhirnya dengan susah payah dia menemukan pintu yang mungkin terbuat dari besi, dia berusaha menggedor sambil berteriak sekuat tenaga, berharap akan ada orang yang mendengar suara gedoran tersebut.


Beberapa saat tak ada yang mendengar sama sekali, hingga ia terduduk depan pintu itu sambil menangis.


"Ya Alloh...jika memang hidupku harus berakhir disini, hamba ikhlas, tetapi tolong selamatkan kedua anak dalam kandunganku, mereka adalah harapan semua keluarga besar kami, hamba mohon ya Alloh..." Ameldita berdo'a memohon kekuasaan Sang Maha Pencipta.


Lalu ia bangkit, kembali menggedor pintu lagi sambil berteriak lebih keras, hingga lelah menderanya, bau anyir darah ditelapak kaki pun tercium menyengat, mungkin darahnya banyak yang keluar.


"Tolooong...tolooong...tolongin Meldi, siapa pun yang mendengar tolong keluarkan Meldi dari sini...!" Teriaknya semakin keras, hingga ia serak dan pandangan matanya mulai kabur hingga kegelapan menyapanya.

__ADS_1


__ADS_2