
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda tuan, dan nenek anda pasti khawatir, kalau tidak pulang ke rumah." Kata Josep, dia sangat khawatir dengan tuan mudanya, sang nenek pasti menunggu kepulangannya, dia itu kan cucu satu-satunya, sejak kecil ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil, neneknyalah yang mengasuh dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, saat itu usianya baru menginjak satu tahun.
"Saya akan menelpon nenek jos, tunggu sebentar...!" Bisma pun keluar ruangan untuk memberi kabar kepada sang nenek.
"Ok tuan..." Ucap Josep.
"Assalamualaikum...nek..." Kata Bisma.
"Bisma kau dimana? Kenapa jam segini belum pulang nak?" Jawab nenek Briska disebrang telpon.
"Nek Bisma lagi menolong orang yang kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit." Ucap Bisma.
"Ya Alloh siapa dia Bisma dan bagaimana keadaannya?" Tanya nenek Briska.
"Dia perempuan hamil nek, Bisma menemukannya ditepi sungai, kasian...sekarang sudah ditangani dokter, keadaannya baik, cuma belum siuman juga, jadi terpaksa Bisma harus menunggunya, nanti setelah siuman baru bisa menghubungi keluarganya, karena tak ada identitas nek..." Jelas Bisma pada sang nenek.
"Malang sekali nasib perempuan itu, apa Josep bersamamu?" Kata nenek Briska.
"Iya nek ada, nenek jangan khawatir ya...istirahatlah nek..." Ucap Bisma.
"Ok hati-hati Bisma, kalau tidak suruh bi Surti menjaganya, kau pulanglah istirahat dulu..., besok kesana lagi menjenguknya." Kata nenek Briska khawatir terhadap cucunya.
"Nenek jangan khawatir ada Josep disini, kalau nanti belum ditemukan identitasnya, Bisma bawa pulang saja ya nek, kasian...sambil menunggu hasil penyelidikan dimana keluarganya." Ucap Bisma mohon izin kepada neneknya.
"Oke itu lebih baik, kalau menolong jangan setengah-setengah." Kata nenek Briska.
"Oke nek...,Bisma tutup dulu ya telponnya..." Jawab Bisma.
"Bye Bisma..." Ucap nenek Briska.
Setelah mengakhiri panggilan telponnya Bisma masuk lagi ke dalam ruangan, memandang Ameldita yang masih terbaring diranjang pasien. Etah kenapa Bisma ingin menemani perempuan hamil ini, berat rasanya meninggalkannya.
"Bagaimana Jos apa sudah ada tanda-tanda dia siuman?" Tanya Bisma perlahan.
"Belum tuan, tadi kata perawat masih dalam pengaruh obat jadi belum ada reaksi siuman, sabar saja..." Kata Josep.
"Oh ok kalau begitu, kau istirahatlah dulu, biar aku yang menjaganya." Ujar Bisma seraya mendudukkan dirinya dikursi yang ada disamping Ameldita.
"Tidak tuan ku harus menjaga anda, ini perintah dari nyonya besar." Kata Josep seraya duduk disofa dan mengeluarkan hanphonenya.
"Terserah kau saja Jos, kalau kau ngantuk tidur saja disitu..." Ucap Bisma.
"Siap tuan muda..." Kata Josep sambil manatap layar handphonenya.
Tiga hari berlalu, Bisma masih setia menunggu Ameldita siuman, namun belum ada tanda-tanda dia akan terbangun. Bisma memberanikan diri menyentuh tangan yang berkulit putih itu dengan perlahan, mencobanya mengajak berbicara:
"Hi...siapa pun kamu, darimana pun asalmu, tolong bangunlah, setidaknya demi anak dalam kandunganmu, kau dengar..., kasianilah mereka, mereka sangat membutuhkan dirimu."
Dia memandang kembali wajah itu, terlihat cantik luar biasa walau dalam keadaan koma, siapa pun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.
"Wajahmu sangat cantik, andai saja kita dipertemukan sebelum kau menikah dan memiliki anak, pasti ku akan berusaha mendapatkan dirimu dan hatimu, meskipun harus mempertaruhkan nyawaku." Ucap Bisma lagi.
Dan setiap pagi neneknya Bisma selalu datang menjenguk Ameldita, dia merasa kasian terhadap Ameldita yang sebatang kara dalam kondisi koma, dan yang menyedihkan lagi dia sedang mengandung.
Jari-jari tangan Ameldita perlahan bergerak, dia merespon sentuhan Bisma, Bisma pun terkesiap tangan itu masih dalam genggamannya.
"Dokter, dok...coba periksa keadaanya, tadi jari tangannya bergerak dok..." Teriak Bisma memanggil dokter.
Dengan cepat dokter pun langsung memeriksa keadaan Ameldita, berharap kondisinya akan membaik.
__ADS_1
"Perkembangannya cukup bagus, dia sudah bisa merespon apa yang kita bicarakan, jadi sering-seringlah diajak ngobrol tuan." Kata dokter.
"Ok dok semoga cepat siuman..." Ucap Bisma sedikit tenang setelah mengetahui keadaan Ameldita semakin membaik.
"Amiiin...bersabar dan berdo'alah tuan...yakinlah istri anda akan pulih secepatnya..." Kata dokter.
"Thanks dok..." Kata Bisma tersenyum, etah kenapa kalau dokter itu berkata istri, hatinya sedikit berbunga-bunga berharap yang dihadapannya saat ini benar-benar istrinya, namun jangankan istri pacar pun tiada, hidup hanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja menanggung beban dan tanggung jawab sebagai satu-satunya penerus keluarga.
"Tuan muda perusahaan yang di Swiss sedang bermasalah, jadi tuan muda sendiri yang harus mengatasinya..." Ucap Josep serius.
"Ya Tuhan..., kalau begitu kita semua kesana, sekarang juga, dan bawa wanita ini juga, kita akan merawatnya di sana...! Kata Bisma.
"What kita bawa ke Swiss tuan?" Tanya Josep heran.
"Kau pikir kemana Jos, memangnya tega membiarkannya sendiri dalam keadaan koma, lalu siapa yang akan merawatnya, sudah ayo siapkan semua...!" Jawab Bisma.
"Siap tuan, saya siapkan semuanya..." Kata Josep, dan tanpa berpikir panjang Josep pun menyiap segalanya, dan akhirnya mereka terbang ke Swiss, menggunakan pesawat pribadi, begitu pun dengan sang nenek beliau ikut juga kesana.
Sejak tragedi jatuhnya Ameldita ke sungai, semua orang berduka, Ameldita yang menjadi kesayangan semua keluarga dan orang-orang terdekatnya tak ditemukan, dan itu menjadi pukulan berat bagi mereka.
Mama Liana jatuh sakit, dia merasa sangat terpukul dengan kepergian putri kesayangannya, begitu pun dengan papa Aldhiando kondisi kesehatannya sangat tidak baik, namum ia berusaha tegar dan disibukan dengan urusan pekerjaannya.
Tiada lagi keceriaan dalam keluarga papa Ghian dan mama Fiandra, mereka pun nampak sangat sedih karena harapan mereka untuk memiliki cucu-cucu yang lucu, sirna sudah, dan yang lebih parah keadaan Alghi, dia mengalami depresi berat dan kebilangan sebagian memorinya karena saat itu dia ikut menceari Ameldita terjun kesungai dan kepalanya terbentur batu.
Flashback
"Sayang...sayang...aku akan menyelamatkanmu...!" Teriak Alghi ketika sadar dari obat biusnya.
Dia menengok ke arah kiri dan kanan, tak ada siapa-siapa disana, mungkin mama sama neneknya lagi keluar kamar, dia bangkit dari tidurnya lalu menyibakkan selimut dan beranjak ke arah pintu, namun pintunya terkunci.
"Sial...aku harus keluar dari sini, aku harus menyelamatkan istri dan anak-anakku, mereka sangat membutuhkanku, kenapa kalian malah mengurungku...!" Gerutu Alghi kesal dan emosi.
Dia pun menghampiri jendela, mencoba membukanya, namun terkunci juga. "Benar-benar keterlaluan mama sama papa ini, tak memahami bagaimana perasaanku, aaarghhh...!" Gerutunya lagi makin berang.
Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore, Alghi sudah sampai disungai tersebut, masih nampak beberapa petugas yang beroperasi mencari keberadaan istrinya, disana pun nampak mama Liana, papa Ghian serta papanya sendiri dan juga Anton, mengitari pinggir sungai dengan memakai tongkat, berusaha meraba-raba bagian sungai dengan tongkat tersebut, siapa tahu Ameldita ditemukan, sekilas mama Liana melihat ke arah Alghi yang menyerbu terjun ke arah sungai itu.
"Pah itu Alghi...bukannya dia dikurung dikamarnya ya...?" Kata mama Liana menepuk bahu suaminya.
"Mana mah..." Tanya papa Aldhiando.
"Benar juga itu Alghi, hi...tolong hentikan dia...cepattt..." Teriak papa Aldhiando kepada para pengawalnya.
Hingga papa Ghian dan Anton pun menoleh, karena mendengar teriakkan papanya Ameldita.
"Ada apa Andho...?" Teriak papa Ghian seraya menghampirinya.
"Alghi...Alghi, ayo kita hentikan dia...!" Teriak papa Aldhiando langsung berlari bermaksud menghentikan tindakkan Alghi, namun tak bisa dihentikan Alghi sudah terjun kedalam sungai itu, dan karena terburu takut dicekal para pengawal itu, kepala Alghi terbentur batu dibawah sungai sana.
"Alghiiii...Al..." Suara papa Ghian melengking dan menggema memanggil putra kesayangannya yang hilang kontrol.
"Para penyelam...ikuti Alghi...dia terjun dibagian sini..."Teriak Anton memberi perintah pada petugas tim SAR.
Tanpa pikir panjang para penyelam itu pun langsung turun lagi kedalam sungai tersebut, hingga tak berlangsung lama mereka menemukan Alghi pingsan dibawah air, dan kepalanya nampak terluka.
Papa Ghian berteriak histeris ketik⁰a tubuh putra kesayangannya diangkat oleh para penyelam itu, lalu dia menghampirinya dan memeluk tubuh itu sambil menangis.
"Alll..., papa sudah bilang biar kami yang mencarinya, kenapa kau tak mendengarkanku Al...!" Tangis papa Ghian pecah , dia tak sanggup kalau harus kehilangan putranya juga.
Ricard datang menghampiri papa Ghian, dia terkejut ditengah ke kalutannya saat melihat Alghi dalam keadaan tak sadarkan diri, dengan bagian kepala yang terluka.
__ADS_1
"Kau bodoh tuan Alghiantara..., cepat bawa dia ke rumah sakittt..."Teriak Ricard kepada para pengawal disana, sambil meremas mukanya kasar. Ya dia pun masih setia mencari keberadaan orang yang dicintainya, tak kan berhenti sampai menemukan titik terang.
"Pergilah Ghian, anakmu membutuhkan dirimu, biarkan kami disini mencari keberadaan putri kami..." Ucap papa Aldhiando, khawatir juga terhadap menantunya yang terlihat putus asa dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tubuh mama Liana lemas menyaksikan semua kejadian ini, dia hampir tak bisa menopang tubuhnya lagi, untung papa Ghian dengan sigap menahan tubuh rapuh itu.
"Pah..., mama benar-benar tak sanggup menanggung derita ini, ini sangat menyakitkan bagiku pah..., kenapa nasib putriku berakhir seperti ini...?" Rintih mama Liana, lukanya mendalam.
"Sabar mah, ini ujian dari Alloh, kita harus kuat menjalaninya..." Ucap papa Aldhiando memeluk tubuh istrinya yang menangis sedih.
Alghi pun sampai dirumah sakit, dengan cepat dokter membawa dia ke ruang IGD. Papa Ghian dengan cepat menghubungi orang rumah terutama mama Fiandra.
"Halooo..., mah papa dirumah sakit...!" Ucap papa Ghian ditelpon.
"Apakah istrinya Al sudah ditemukan pah?" Jawab mama Fiandra sedikit girang.
"Belum mah, ini putra kita Alghi dia masuk IGD, kenapa dia bisa keluar dari kamar? Apa tak ada yang menjaga disana mah?" Kata papa Ghian.
"Apaaa...? Alghi...? Ya Alloh kenapa bisa keluar pah, pintu dikunci dan ada empat orang penjaga depan pintu, tadi mamah makan dulu sama nenek pah." Ucap mama Fiandra, shock bukan main, jantungnya berdetak tak karuan, sakit rasanya, kemudian dia bergegas menuju rumah sakit.
"Ya sudah, hati-hati dijalan mah, kita bicarakan lagi nanti." Kata papa Ghian.
"Tapi kenapa Alghi pah, ko bisa di IGD, apa yang terjadi?" Tanya mama Fiandra seraya duduk dikursi mobilnya, dan dengan segera mobil itu berjalan.
"Tadi Alghi menjatuhkan diri kesungai, mungkin bermaksud mau mencari istrinya dan naas sekali, dia terjatuh kepalanta terkena batu, untung para penyelam ada disekitar kita, dan langsung mengangkatnya dari bawah air, begitu mah ceritanya." Tutur papa Ghian.
"Ya Alloh nekad sekali anak kita tu, berbahaya kan...begini kan jadinya, Ya Alloh..." Kata mama Fiandra seraya berurai air mata.
"Dia tak sadarkan diri mah, terkena benturan batu kepalanya..." Ucap papa Ghian sedih seraya meremas kepalanya.
"Tidaaakkk...pasti dia kesakitan pah, kasian Alku..." Mama Fiandra meraung, sakit rasanya tak sanggup menerima penderitaan sang putra.
"Mah, tenangkan dirimu, papa tahu pasti ini terasa berat buat kita semua, beristighfarlah dan bersabar, ingat Tuhan tak kan memberi ujian yang tak mampu kita jalani, sudah dulu ya...nanti kita bahas lagi kalau mama sudah sampai di rumah sakit." Kata Papa Ghian khawatir juga terhadap istrinya.
"Ok pah, bye..." Ucap mama Fiandra menutup telponnya.
"Ya Alloh kuatkan kami semua dalam menghadapi segala ujian dari-Mu, jangan biarkan anakku kesakitan Ya Alloh..." Do'a mama Fiandra menggema dalam duka dan sedihnya.
Beberapa menit kemudian mama Fiandra sampai dirumah sakit, dimana sang putra kesayangannya berada, dia langsung menyerbu, memeluk tubuh suaminya yaitu papa Ghian, dia menangis pilu, sedih tiada tara.
"Sabar mah ini semua ujian buat kita...yang kuat..." Ucap papa Ghian berusaha menenangkan istrinya, walaupun dirinya sendiri seakan tak sanggup menerima semua cobaan ini.
"Tapi pah, pasti Al kesakitan, kasian dia pah..." Kata mama Fiandra.
"Itu pasti mah, semoga anak kita mampu melewatinya...kita berdo'a yang terbaik buat dia." Kata papa Ghian mengelus bahu sang istri yang benar-benar nampak rapuh.
Setengah jam kemudian, pintu ruangan IGD itu terbuka, mama Fiandra langsung menghampiri dokter yang keluar dari sana.
"Dok bagaimana keadaan anak kami, dia baik-baik saja kan dok?" Tanya mama Fiandra tak sabar.
"Iya dok bagaimana kondisinya putra kami?" Tanya papa Ghian menatap wajah dokter itu.
"Alhamdulillah anak kalian sudah melewati masa kritisnya, tetapi dia belum sadarkan diri karena pengaruh obat yang kami berikan, jadi bersabar dan berdo'alah..." Dokter itu menjelaskan keadaan Alghi.
"Apa kami sudah bisa menemuinya dok?" Kata mama Fiandra.
"Boleh, boleh...kami sedang memindahkannya ke ruang rawat, ditunggu sebentar tuan dan nyonya." Ucap dokter tersebut.
"Terimakasih dok..." Kata mama Fiandra dan papa Ghian.
__ADS_1
Mama Fiandra terus mondar-mandir tak tenang, menunggu dokter itu memanggil, untuk memasuki ruang rawat Alghi. Hingga beberapa menit kemudian, dokter mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruang rawat Alghi.
Mereka berjalan perlahan, tubuh mama Fiandra lemas seketika, melihat sang putra yang menjadi kebanggaannya kini terbaring tak berdaya, dengan kepala yang memakai perban, selang infus menusuk ditangannya, betapa ikut merasa sakit atas apa yang diderita sang putra, tetesan air mata pun terus mengalir tiada henti.