
"Apakah aku bermimpi atau berhalusinasi?" Sahut Missya menggisik matanya, karena bagaimana bisa Alghi tiba-tiba ada didepannya, bagaimana dia masuk, secara masih pagi juga.
"Anda baru saja terbangun nona, bagaimana bisa bermimpi, aku nyata didepanmu..." Ucap Alghi menyentuh hidung mancung Missya dengan telunjuknya.
"Hahhh...bagaimana anda bisa masuk tuan, ini masih pagi...?" Kata Missya.
"Terbang bagai spiderman ha ha ha..." Ucap Alghi tertawa.
"Ih ku serius ni...,jawab...!" Kata Missya sambil berjalan mengelilingi halaman rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik.
"Tadi sudah izin satpam, dan nanti ku izin sama nenekmu kalau dia sudah bangun..." Kata Alghi.
"Oh oke tuan Alghiantara, anda memang pemaksa dan pandai merayu orang, termasuk satpam." Ucap Missya bercanda lagi.
"Tapi aku masih normal tidak merayu satpam he he..." Kata Alghi melirik Missya.
"Dasar ya..., nyebelin..." Ucap Missya sedikit mencubit pinggang Alghi.
"Biar nyebelin tapi kan ganteng, dan kau suka he he..." Kata Alghi sambil memegang pinggangnya yang kena cubit.
"Ih makin percaya diri saja..., uuuhhh segarnya angin pagi ini..." Ucap Missya merentangkan kedua tangannya, dan lagi-lagi mengenai dada Alghi.
"Kau jangan menggodaku nona, tanganmu ni sengaja ya...?" Ujar Alghi seraya menyentuh tangan itu lalu menatap kedua bola mata indah didepannya, deg jantung mereka bermaraton saat mata mereka bertemu tatap, ada desiran halus yang merambat kesetiap nadinya.
"Missya I love you..." Kata Alghi lirih, Alghi mau memeluknya tapi tak sampai terhalang perut besar Missya, mereka pun tertawa bersama, merasa lucu.
Dan Alghi langsung mengelus perut besar itu perlahan, lalu berjongkok untuk menciumnya, dan lanjut berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Sekitar setengah jam mereka berkeliling sambil canda tawa, akhirnya mereka lelah dan saatnya untuk siap-siap bekerja.
"Awww...haduuuh..." Teriak Missya yang hampir terjatuh karena menginjak batu kecil.
"Missya hati-hati...!" Teriak Alghi seraya menangkap tubuh Missya, kalau saja terjatuh bisa berbahaya bagi bumil ini.
Mereka saling pandang posisi Alghi menahan tubuh bagian belakangnya Missya, namun itu hanya berlangsung sesaat karena terganggu dengan suara bariton yang menggema.
__ADS_1
"Missyaaa....!" Teriaknya, yang ternyata itu Bisma sang kakak, yang nampak sedang marah, seperti orang yang terbakar api cemburu, dia lupa kalau antara Alghi dan dirinya sudah menjalin persahabatan.
"Kakak..." Ucap Missya terkejut dan melepaskan diri dari genggaman Alghi, dia merasa malu kepergok sangat intim.
"Tuan Alghiantara rupanya sudah menjadi kebiasaan anda memasuki rumah orang, seperti maling." Seru Bisma seraya menghampiri mereka.
"Jadi maksud anda saya maling?" Ucap Alghi tak terima disebut maling oleh Bisma.
"Ya lalu apa lagi yang pantas bagi orang yang subuh-subuh sudah masuk rumah orang hah?" Ucap Bisma, yang tadinya dia tak suka berkelahi kini malah seperti orang menantang perang.
"Eh sudah-sudah kak jangan ribut malu ih, masih pagi." Kata Missya berusaha menghentikan pertikaian mereka.
"Hah...tuan Bisma saya bukan maling, dan saya sudah minta izin pada nenek anda kemarin, bahwa saya akan menemani Missya joging, jangan asal menuduh!" Seru Alghi.
"Hahhh...sayangnya aku tak percaya hal itu tuan Alghi...!" Kata Bisma geram.
Hingga datang sang nenek bersama Elkam menghampiri mereka. "Bisma nenek yang mengizinkannya, kau jangan bersikap seperti itu, jangan bikin malu nenek...."
Alghi menatap Elkam, mereka saling memberi isyarat lewat mata, tanda misi harus berhasil.
"Nenek keburu tidur, jadi belum sempat memberitahumu." Jelas nenek Briska.
"Missya masuk, hari ini istirahatlah dirumah..., jangan membantah!" Ucap Bisma meraih tangan Missya dan membawanya dari hadapan Alghi, membuat hati Alghi geram bukan main.
"Sorry nak Alghi, atas sikap buruk cucuku, dia memang tempramen." Kata nenek Briska, sangat malu terhadap Alghi atas sikap cucunya.
"Tidak apa-apa nek, tenang saja saya memahaminya." Ucap Alghi seraya tersenyum.
"Terimakasih sudah menemani Missya joging, mari duduk dulu nak..." Kata nenek Briska mengajak Alghi duduk dikursi taman.
"Baiklah nek..." Kata Alghi seraya mengikuti nenek Briska duduk dikursi.
"Nak Alghi apakah sudah punya kekasih, sorry pertanyaan nenek sedikit tidak sopan." Tanya nenek Briska sambil menatap bunga-bunga ditaman yang ada disekitar rumahnya.
__ADS_1
"Sudah nek, baru dimulai hubungan kami ini, dulu saya sudah menikah tapi istri saya sudah tiada, begitu menurut penjelasan kedua orang tuaku." Jawab Alghi sambil menatap jauh kedepan.
"Ya Alloh nenek ikut prihatin mendengarnya, semoga kau bertemu jodohmu yang sejati." Kata nenek Briska.
"Amiiin yra...., terimakasih, nek boleh saya bertanya sesuatu?" Sahut Alghi.
"Tentu saja boleh nak, apa yang ingin kau tanyakan?"Jawab nenek Briska.
"Apakah nenek tahu dimana suaminya Missya?" Tanya Alghi menatap wajah nenek Briska dengan intens.
"Panjang ceritanya nak, dan itu menjadi rahasia keluarga kami, begini ceritanya." Kata nenek Briska, namun baru saja nenek mau bercerita telpon Alghi berdering, dengan cepat Alghi pun mengangkat handphonenya.
"Halooo...Mama sama papa dah dibandara?" Kata Alghi.
"Iya Al, jemput kami, papa ada meeting dengan beberapa perusahaan di Swiss, jadi kami mau menginap dirumahmu." Ujar papa Ghian
"Oh oke, sekarang Alghi jemput, tunggu disana..." Ucap Alghi, dengan tergesa-gesa dia berpamitan pada nenek Briska.
"Nek sorry Al terburu-buru, mau menjemput orang tua dibandara, lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi ya." Pamit Alghi sambil menyalami nenek Briska.
"Baiklah nak, hati-hati dijalan..." Ucap nenek Briska.
"Oke nek...thanks." Jawab Alghi.
Alghi pun dengan segera berangkat ke bandara, setelah dia mandi sebentar dan memakai baju formalnya, dan benar saja kedua orang tuanya sudah ada diruang tunggu. Mama Fiandra langsung menyerbu dengan pelukannya, begitu pun dengan papa Ghian, mereka menumpahkan segala kerinduannya terhadap putra simata wayangnya, penuh perjuangan berat ingin membuat Alghi hidup dengan normal lagi.
"Al kami mendapat laporan dari Anton dan Elkam, bahwa kekasihmu itu wajahnya sama percis seperti istrimu, apakah itu benar?" Ucap papa Ghian menatap sang putra ketika mereka sudah sampai dirumah Alghi.
"Bagaimana Al tahu, kalau mama sama papa menghapus semua tentang istri Al, kalau saja Al tak memintanya pada Anton, pasti Al tak kan tahu bagaimana wajah istri Al." Kata Alghi sedikit emosi.
"Kami melakukannya demi kebaikan dan kesehatanmu Al, waktu itu kau benar-benar terpuruk dan depresi, kami tak sanggup melihatmu seperti itu." Ucap papa Ghian lagi.
"Iya sayang, mama tak tahan mihatmu menderita, jiwa dan raga mama ikut sakit, tolong maafkan kesalahan kami..." Sahut mama Fiandra menangis sedih.
__ADS_1
"Mama, mama jangan menangis, sorry jika kata-kata Al menyinggung perasaan kalian." Kata Alghi dan langsung memeluk mamanya lagi.
"Mama menangis bukan karena kata-katamu sayang, is oke semua akan baik-baik saja, semoga kau secepatnya menemukan kebahagiaan." Kata mama Fiandra seraya mengelus bahu sang putra.