
BAB 14
"Antooon...ikuti dia, kalau sampai kau tidak menemukannya maka kau akan mendapatkan hikuman seberat-beratnya!" Teriak Alghi emosi sambil menghempaskan tubuh Dina yang tak tahu malu itu.
"Kenapa kau datang lagi, apa urusanmu?"
"Lho kenapa sayang apa salah jika aku menemui mantanku, apa kau tidak merindukanku?"
"Tentu saja salah, dan aku sudah melupakan masa laluku, aku sekarang sudah menikah, mengerti..." Jelas Anton penuh penekanan.
"Oh apakah secepat itu kau punya penggantiku dihatimu dan siapa istrimu?" Sahut Dina merasa sedih, ya karena dia berharap dengan menemui Alghi, bisa kembali seperti dua tahun lalu, lama sudah tak bertemu, dan sudah bosan menjadi playgirl, namun sayang tak sesuai harapan.
"Sudah sejak lama aku melupakan tentangmu, sekarang seluruh jiwa dan ragaku hanya milik istriku, perempuan yang cantik tadi adalah istriku, jadi tolong jangan lagi ganggu kehidupanku." Jelas Alghi sungguh-sungguh, ya walau pun pernikahannya belum terjadi namun untuk membuat perempuan itu pergi harus menggunakan trik yang jitu, karena sudah tahu wataknya.
"Kau pintar sekali memilih perempuan Al, dia cantik dan jauh tak sebanding denganku, pantas saja kau mudah menyingkirkanku dari hatimu, tapi aku tak kan menyerah, aku masih mencintaimu Al." Sahut Dina seraya menyentuh bahu Alghi yang nampak tak bersahabat.
__ADS_1
"Cukup ku tak ingin mendengar lagi bualanmu, Ingin ku panggilkan satpam untuk mengusirmu atau keluar dengan suka rela?" Geram Alghi, dia masih memikirkan kemana Ameldita perginya, Anton masih belum memberi kabar.
Sedangkan Ameldita keluar dari gedung pencakar langit itu dengan rasa kesalnya, dia berjalan menyusuri trotoar tak tahu kemana arah dan tujuan, bingung, sedih, semua berkecamuk dalam pikirannya, haruskah ia menghubungi kedua orang tuanya untuk membayar semua ganti rugi, tapi tidak dia tak ingin menyusahkan mereka, dia harus bisa melewatinya.
Setelah jauh berjalan akhirnya dia berhenti di satu taman yang banyak sekali anak-anak sedang bermain, dia merogoh handphonenya yang sedari tadi berdering, muncul sebuah nama My Love makin geram saja, benar-benar keterlaluan tuannya itu, membajak handphone dan menyimpan nomornya dengan nama yang menggelikan buat Ameldita, dan dibiarkan saja terus berbunyi bahkan dia duduk dikursi seraya memandangi anak-anak yang bergembira ria, sesekali teringat akan kedua orang tuanya yang selalu memanjakannya dengan penuh kasih sayang, tak terasa air matanya pun menetes membasahi kedua pipinya, hingga tiba-tiba ada anak perempuan cantik dengan rambut yang dikepang dua menghampirinya.
"Kakak cantik kenapa bersedih, maukah ice cream?" Ucap anak kecil itu, sambil memberikan satu ice cream.
Ameldita mengusap air matanya, lalu tersenyum dan mengusap kepala anak itu. "Terimakasih cantik, tapi kakak lagi tidak mau makan ice cream. Tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya.
"Mel kau disini?" Ada seseorang menyapanya dari belakang, Ameldita pun menoleh dan dia terkejut saat melihat satu sosok yang sangat dibencinya.
Ricard pun berdiri dihadapan Ameldita, seraya ingin menyentuh kedua bahu Ameldita namun Ameldita menepisnya kasar.
"Jangan kurang ajar tuan Ricard, aku bukan siapa-siapa lagi, dan aku tak ingin mendengar semua bualanmu." Tegas Ameldita dengan sorot mata yang tak bersahabat.
__ADS_1
"Mel aku ingin berbicara sebentar saja, please aku mohon..." Ucap Ricard memelas, sambil meraih kedua tangan Ameldita, kemudian menggenggamnya erat.
"Saat itu aku dijebak Mel, kamu tahu sendiri aku hanya mencintai kamu, jika kau tak percaya aku akan menunjukkan rekaman cctvnya.
"Tidak perlu tuan Ricard, karena dia sudah tidak peduli lagi dengan urusanmu, dan lepaskan tanganmu darinya...!" Tiba-tiba suara bariton itu menggema ada aroma cemburu rupanya dan membuat mereka menoleh secara bersamaan, ya dari tadi pria tampan rupawan itu sudah ada disana, sejak tadi Anton memberi kabar bahwa Ameldita ada ditaman, dia langsung bertolak kesana, dan ketika dia mau menghampirinya eh keduluan sama Ricard.
"Jangan ikut campur urusan pribadi saya tuan Alghi, anda tidak tahu apa-apa tentang kami..."Tegas Ricard sedikit emosi karena setiap ada kesempatan untuk berbicara selalu jadi penggangunya.
"Siapa bilang bukan urusanku, tentu saja dia urusanku, karena dia calon istriku...!" Seru Alghi penuh dengan penekanan.
"Apa kau bilang...!"Teriak Ricard emosi memuncak, dan buuuk...satu pukulan dilayangkannya ke arah Alghi tepat mengenai sisi bibirnya hingga mengeluarkan darah segar.
Alghi pun tak tinggal diam dia membalasnya dan memasukan tendangan ke arah dada laki-laki itu hingga membuatnya terhuyung ke belakang.
'Hi apa yang kalian lakukan, hentikaaan...!" Teriak Ameldita histeris dia ketakutan melihat kejadian itu, hingga datang orang-orang kesana, memisahkan dua insan yang lagi berbaku hantam itu, ada juga yang mengambil kesempatan membuat video serta memotret untuk dijadikan hot news, dua orang CEO berkelahi ditaman memperebutkan seorang perempuan, begitulah judul hot news itu, dan menjadi tranding topic.
__ADS_1
"Ingat ini belum berakhir..."Geram Ricard mengacungkan telunjuknya ke arah Alghi yang digandeng oleh Ameldita, seraya pergi meninggalkan tempat itu.
Etah kemana si pengawal setia Alghi tak menampakkan hidungnya, mungkin dia sibuk menghandle pekerjaan lainnya, Dengan terpaksa