
Tak berpikir panjang pak Aldhiando bersama mama Liana dan sang kaki tangan juga para pengawal, mereka bertolak ke negara Brunei Darusalam, menggunakan jet pribadi, menuju dimana sang putri mendapatkan musibah tersebut. Mama Liana terus menangis tiada henti sambil sesekali dia mengucap kata Istighfar dan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa.
Papa Aldhiando memeluknya erat, berusaha menenangkan sang istri, sesekali dia mengelus kepala dan punggungnya, hatinya pun kalut dan sakit seakan tak bisa menerima kenyataan ini, berharap semua ini hanya mimpi buruk saja dalam hidupnya.
Sementara didalam kamar yang sangat mewah nan megah itu, Alghi masih terbaring karena pengaruh obat bius tadi. "Kak tolongin Meldi...kak Al...Meldi sayang sama kak Al, Kak...!" Teriak Ameldita ingin meraih tangan suaminya ditengah jembatan yang seakan jembatan itu patah mau terputus.
"Sayaaang raihlah tanganku, jangan kau lepas...sayaang...!" Teriak Alghi, namun apa yang terjadi jembatan itu putus menjadi dua, istri tercintanya jatuh kedalam sungai.
"Tidaaakkkk...!" Teriak Alghi menggema, dan dia terbangun dari mimpi buruknya, dia mengusap mukanya lalu meraba-raba ke kiri dan ke kanan, istrinya tak ada disampingnya, bersama dengan terbukanya pintu disana nampak mama Fiandra dan sang nenek menghampirinya.
"Sayang sudah bangun...? Sahut mama Fiandra seraya mengusap bahu sang putra.
"Mah, Al harus mencari istri Al, dia terjatuh kesungai, dan semua gara-gara kesalahan Al mah..." Kata Alghi, dia menyibakkan selimutnya lalu bangkit dan mau keluar dari kamar.
"Al tenangkan dirimu, kami semua bersedih dan merasa terpukul atas musibah ini, tim penyelamat dan para petugas kepolisian serta tentara sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan istrimu, jangan begini Al..." Ucap mama Fiandra dan sang nenek menangis memeluk tubuh Alghi yang nampak rapuh.
"Mah, nek, barusan Alghi memimpikannya, istri Al minta tolong, tapi Al tak bisa meraihnya, dia terjatuh ke sungai itu, mah, nek Al tak sanggup hidup tanpa dia, Al harus mencarinya...!" Kata Alghi bangkit dan melepas pelukkan mama serta neneknya.
"Al dengarkan mama...kalau kau pergi dalam keadaan seperti ini, keselamatan kamu terancam dan mama tak mau itu terjadi, jadi tenangkan dulu pikran dan tubuhmu, baru kita kesana mencarinya, kau juga demam Al, harus beristirahat, tidurlah dulu..." Bentak mama Fiandra, berusaha memberi pengertian.
"Al tak mengerti dengan jalan pikiran mama, bagaimana Al bisa tidur kalau istri Al belum ditemukan, dia kedinginan disana begitu pun dengan anak-anak Al, kenapa kalian tidak paham hah...minggir mah Al mau mencarinya...!" Teriak Alghi memaksa, dan dia berjalan mau keluar kamar, namun baru saja dua langkah dari ranjang tiba-tiba ada sebuah tangan yang membekap mulutnya hingga kegelapan memeluk dirinya.
Terpaksa mama Fiandra melakukannya sesuai perintah papa Ghian, dia menyuruh satu pengawal membius kembali Alghi, karena hanya itu satu-satunya cara agar Alghi mau beristirahat, suhu tubuhnya demam tinggi dan akal pikirannya sedang dilanda kekalutan, mereka takut dia ikut terjun ke dalam sungai hingga membahayakan dirinya, tidak dia adalah putra satu-satunya dalam keluarga besarnya, apa pun akan dilakukan demi keselamatannya.
Sementara ditepi sungai ada seorang pemuda tampan dan gagah dia baru saja menjelajahi kampung Ayer, berpetualang menghilangkan rasa jenuhnya, itu pun sekali-kali dia melakukannya, kalau lagi tidak sibuk urusan pekerjaan yang harus selalu dijalankannya.
Ketika dia melangkahkan kakinya hendak berjalan ke arah batu besar untuk mengambil photo, dia heran dibawah batu besar yang dibawahnya air sungai itu ada kain berwarna merah muda yang mengambang, namun tak terlihat itu apa, dia mengajak sang asistennya plus kaki tangan untuk menghampiri benda itu.
"Kau lihat jos benda apa itu?" Kata Bisma menunjuk ke bawah batu besar itu.
"Benar juga tuan muda, coba saya check dulu ya..., sebentar..." Ucap Josep sang asisten dan kaki tangan yang selalu setia itu.
"Oke, berhati-hatilah...!" Kata Bisma waspada.
Bisma berdiri disamping batu besar itu, sementara Josep turun ke bawah dan melihat benda apa yang mengapung disana, airnya tidak dalam, karena terletak ditepi sungai, dengan perlahan Josep mengangkat benda itu, ternyata kain dan pas diangkat kain itu terasa berat.
"Apa ini? What tubuh manusia...?" Guman Josep terkejut.
"Benda apa itu Jos....?" Teriak Bisma dari atas.
"Ini tuan tubuh seseorang yang terhanyut ke dalam sungai sepertinya...!" Jawab Josep.
__ADS_1
Bisma berjalan menghampiri Josep karena penasaran, dan shock juga mendengar itu adalah tubuh manusia.
"Serius Jos?" Kata Bisma sambil menyentuh kain tersebut, dan ketika mau diangkat berat juga.
"Benarkan tuan ini tubuh manusia?" Ucap Josep.
"Kita angkat Jos, kasian...semoga masih bisa tertolong!" Kata Bisma.
"Ok tuan, tapi apa tidak sebaiknya kita menghubungi yang berwajib tuan...?" Sahut Josep, karena walau pun bagaimana yang berwajib harus mengetahuinya, siapa tahu orang ini dalam pencarian keluarganya.
"Jos ini menyangkut nyawa seseorang, ayo angkat...!" Ucap Bisma suaranya meninggi, dia merasa kasian terhadap nasib orang ini, tak perlu menunggu yang berwajib kalau dalam urusan menolong nyawa manusia.
"Siap tuan..." Jawab Jos.
Mereka pun langsung mengangkat tubuh tak berdaya itu, dan betapa terkejutnya disaat tubuh itu diangkat ternyata seorang perempuan cantik yang tengah hamil, sungguh memprihatinkan keadaanya, wajahnya banyak yang memar begitu pun dengan tangan dan kakinya, lalu bagaimana kondisi kandungannya.
"Oh my God dia perempuan hamil Jos, kasian sekali nasibnya..." Ucap Bisma saraya berjalan ke tepi sungai dan langsung memeriksa denyut nadi perempuan itu, dan Alhamdulillah masih ada walaupun sedikit lemah, yang ternyata dia Ameldita istrinya Alghi.
Dan yang lebih mengejutkan bagi mereka, kandungannya bergerak-gerak, sungguh keajaiban Yang Maha Kuasa padahal ibunya pingsan tak berdaya.
"Jos kita bawa ke rumah sakit terdekat, cepatttt...! Teriak Bisma setelah melihat perutnya bergerak-gerak, mungkin gerakan bayi dalam kandungannya.
"Benar tuan dia butuh penanganan dokter secepatnya..." Jawab Josep.
Bisma dan Josep menunggu disana.
"Semoga wanita itu dan bayinya baik-baik saja, kita akan mengantarkan kepada keluarganya jika dia sudah siuman..." Ucap Bisma serius.
"Amiiin..., Ok tuan muda..." Jawab Josep sambil sesekali menoleh ke pintu ruangan, siapa tahu dokter itu keluar secepatnya.
Setengah jam berlalu, dokter pun keluar dari pintu, Bisma dan Josep menghampirinya dan bertanya:
"Dok bagaimana keadaannya...apa dia baik-baik saja, dan bayi dalam kandungannya bagaimana juga?"
"Mereka baik-baik saja, kami sudah menanganinya, apakah anda suaminya? Karena kami butuh pertanggung jawaban dari keluarganya." Kata dokter itu menatap ke arah Bisma.
"Emmm...iya dok..." Jawab Bisma sepontan, dan Josep yang mendengar pengakuan tuannya melongo kaget.
"Bisakah anda pergi ke ruangan saya?" Ajak dokter itu, dia ingin menjelaskan bagaimana keadaan perempuan itu.
"Ok dok..." Jawab Bisma tanpa pikir panjang, dia harus mempertanggung jawabkan semuanya, mengurus perempuan itu dan mengantarkan kepada keluarganya.
__ADS_1
Bisma duduk depan dokter itu, kemudian dokter itu menjelaskan tentang kondisi Ameldita secara detail.
"Istri anda mengalami beberapa benturan dibagian kepala dan tubuhnya, jadi sedikit kemungkinan istri anda mengalami hilangnya memori, tapi mudah-mudahan saja itu tidak terjadi tuan."
"Oh my God...,Lalu kondisi kandungannya bagaimana dok?" Tanya Bisma penasaran.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja, cuma sedikit lemah juga, karena mungkin sedikit kena benturan, namun kami sudah menanganinya, insya Alloh mereka baik-baik saja." Tutur dokter lagi.
"What mereka...,memangnya berapa bayinya dok?" Tanya Bisma terkejut mendengar kata mereka, itu artinya sang jabang bayi bukan cuma satu kan?
"Apakah anda belum melakukan USG, hingga belum mengetahui berapa calon anak anda?" Tanya dokter itu heran.
"Be-be-belum dok, kami belum sempat melakukannya." Jawab Bisma sedikit gugup, bagaimana mau melakukan USG wong dia bukan suaminya.
"Ya tadi kami melakukan USG untuk melihat bagaimana kondisi bayi anda, selamat bayi anda kembar laki-laki dan perempuan tuan, mereka semua sehat." Ucap dokter itu tersenyum.
"Kembar dok...? Alhamdulillah..." Kata bisma bersyukur, kasian juga dia sama perempuan itu, kenapa bisa dia terhanyut ke dalam sungai.
"Saat ini istri anda masih belum siuman, tapi kami akan memindahnya ke ruang rawat, anda bisa menemuinya." Ucap dokter itu.
"Oke dok, saya minta ruang VIP ya..." Kata Bisma.
Setelah mendengar semua penjelasan dari dokter, Bisma pun keluar diikuti oleh Josep. "Kasian perempuan itu Jos, semoga saja dia mengingat semuanya, hingga kita mudah mengantarkan kepada keluarganya." Kata Bisma seraya melangkah menuju ruang rawat Ameldita.
"Iya tuan mudah-mudahan saja...ta-tapi tuan boleh saya bertanya?" Tanya Josep ragu-ragu, takut menyinggung perasaan tuannya.
"Sejak kapan kau dilarang bertanya Jos?" Jawab Bisma.
"Bos mengapa tadi mengaku sebagai suami perempuan itu? Padahal kan tuan muda tidak mengenalnya sama sekali." Tanya Josep menatap tuan mudanya yang sedang berjalan.
"Lalu aku harus menjawab apa Jos, dokter itu butuh tanda tangan keluarganya, untuk mempertanggung jawabkan administrasi dan lainnya, coba kau pikir..." Jawab Bisma tegas.
"Benar juga tuan, kasian perempuan hamil itu, pasti keluarganya sangat sedih mencari keberadaannya, Ya Alloh...tak ada identitas siapa perempuan itu." Ucap Josep mencerna apa yang dikatakan tuan mudanya.
Bisma membuka pintu ruangan dimana Ameldita dirawat, melangkah perlahan lalu menghampirinya dan menatap wajah cantik yang nampak sedikit pucat, namun tidak sepucat tadi ketika dia mengangkatnya dari air sungai.
Hatinya merasa sakit melihat keadaan perempuan hamil terbaring lemah dan tak tahu identitasnya, dia tak tega dan merasa prihatin.
"Tuan muda apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Josep lagi.
"Ya kita menunggunya sampai perempuan ini terbangun, baru kita akan mengetahui siapa dirinya." Kata Bisma masih tetap menatap wajah Ameldita.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda tuan, dan nenek anda pasti khawatir, kalau tidak pulang ke rumah." Kata Josep, dia sangat khawatir dengan tuan mudanya, sang nenek pasti menunggu kepulangannya, dia itu kan cucu satu-satunya, sejak kecil ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil, neneknyalah yang mengasuh dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, saat itu usianya baru menginjak satu tahun.