
BAB 7
"Atau makanannya kurang enak ya..." sahut mama Fiandra lagi.
"Bisa minta menu yang lain ko Meldi." ujar Pak Gian menimpali.
"No thanks..." sahut Ameldita singkat.
Saking penasaran tanpa aba-aba dan merasa jijik sedikit pun Alghi mencoba menyuap makanan dari piring Ameldita, sontak saja orang yang ada disitu melongo merasa tidak percaya dengan sikap Alghi yang berubah, biasanya jangankan menyuap punya orang lain, dengan melihat bekasnya saja sudah enggan, nah ini ko malah mencobanya, heran kan???
Dan alhasil Alghi langsung pergi ke watafel memuntahkan makanan tersebut. Sungguh bukan makanan itu, pantas saja Ameldita tadi memuntahkannya juga.
"Al kenapa sayang, ada apa dengan makanannya?" sahut Mama dan papa secara bersamaan. Dan Anton pun langsung menghampirinya karena khawatir bosnya itu kenapa-kenapa.
"Ada apa bos, apa yang terjadi?" sahut Anton khawatir lalu memberikannya tisu.
"Gila tu makanan apaan yang disajikan buat Meldi pantas saja dia tak mau makan, kalau gak percaya coba saja Ton." jelas Alghi sambil membersihkan mulutnya.
"Ko bisa boss..., heran siapa yang berani melakukannya, kurang ajar?" Rutuk Anton ikutan kesal.
"Mah Pah ada yang meracuni makanan Meldi, hahhhh pedasss." sahut Alghi seraya mengipas-ngipas mulutnya pakai tangan, karena dia tak tahan dengan rasanya.
"Hah siapa yang melakukannya sayang, ko bisa sih?" Seru mama dan papahnya terkejut, karena yang disajikan pasti sudah diteliti kesehatan dan gizinya, serta kebersihannya, kenapa masih bisa kecolongan.
"Kita harus menemukan orang itu, papah tidak ada toleransi buat orang yang jahat." Ujar Gian menggeram kesal.
Ameldita tiba-tiba saja perutnya tak nyaman terasa diaduk-aduk melilit sakit, ia segera pamit dan pergi ke toilet, tak tahan lagi, sepertinya makanan itu ada obat murusnya, dan mulai bereaksi.
"Ahhhhh..., maaf tuan, nyonya saya kebelakang dulu ya mau ke toilet." Ucap Ameldita sambil memegang perutnya dan dengan cepat ia meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Karena terus bolak balik ke toilet akhirnya dia lemas, dia berbaring diatas sofa dengan wajah yang pucat pasi sepertinya dehidrasi karena kekurangan cairan.
Setelah makan malam selesai, Anton pun pamit pulang dan Alghi serta kedua orang tuanya pergi ke kamar masing-masing tentunya setelah dokter memeriksa luka Ameldita, dan sempat pula memberikan obat sakit perut kepada Ameldita, dan mereka juga telah memeriksa cctv tersembunyi, karena ingin mengetahui siapa yang mau mencelakai Ameldita, nampak sudah buktinya ternyata si Sari lah pelakunya, mereka pun langsung mengintrogasi Sari karena alasan apa dia beberapa kali melakukan kelicikan terhadap pegawai baru, tadinya mereka ingin memecat Sari dan mengembalikan ke habitatnya, yaitu dijalanan, Sari pun tentunya menolak tidak mau dan memohon ampunan atas segala kesalahannya dan esok hari mau minta maaf kepada Ameldita, mereka pun tak tega masih punya sisi prikemanusiaan, dan akhir keputusan memberi satu kesempatan bagi Sari asalkan mau bertaubat dan merubah sifat buruknya.
Sementara Alghi masih gelisah memikirkan bagaimana keadaan Asisten plus gadis impiannya yang tadi dia lihat masih bolak-balik ke toliet, dia mencoba merebahkan badannya dikasur yang luas dan nyaman itu, namun tetap saja resah, dia pun mengambil handphonenya mencoba menekan kontak yang bernama Gadis impianku, ya waktu dikantor tadi sempat menyimpan no Ameldita.
"Kriiiing...kriiiing...kriiiinggg...."Suara panggilan telpon Ameldita berbunyi, dia yang masih berbaring disofa pun mengambil handphonenya, dan betapa terkejutnya saat melihat panggilan yang muncul nama my Love, perasaan dia tak pernah menyimpan no itu, dengan ragu-ragu dia pun menekan tombol hijau itu.
"Halooooo..., haloooo..., halooooo...." Suara Ameldita melemah dia seakan tak kuasa untuk berbicara pun dan yang nelpon pun beberapa saat tak mau menjawab etah kenapa?
"Apa kau sudah tidur, Hai....!"Jawab Alghi dengan rasa khawatir karena tak ada jawaban lagi dan terdengar suara barang terjatuh sepertinya dari meja, karena dia benar-benar tak ingin terjadi sesuatu akhirnya secepat kilat dia pergi ke kamar Ameldita yang kebetulan pintu kamarnya belum terkunci dan sedikit terbuka.
Dia mengetuk pintu perlahan namun tak kunjung dibuka, akhirnya dia memberanikan diri masuk dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan gadis itu berantakan rambut kusut, wajah pucat, kancing kemejanya setengah terbuka terpangpang jelas bagian dadanya yang besar seakan menantang itu menggunakan bra berwarna broken white, celana kulotnya pun satu kaki terangkat sampai pahanya dan siempunya setengah pingsan rupanya, tapi dia masih tersadar, dia belum berganti pakaian rupanya.
"Astagfirulloh...kau kenapa? Apa yang terjadi Meldi.." Alghi langsung menghampirinya dengan rasa cemas ya walau pun jantungnya maraton karena pemandangan itu, wajar laki-laki normal.
"Tuan ke- ke- kenapa kau kesi-ni...? A-aku..." Belum usai dia berkata sudah mules lagi dan dengan sempoyongan dia pergi ke toilet dan hampir saja kesandung kalau saja tak ada Alghi yang menopangnya.
Alghi pun secepatnya menghubungi dokter keluarganya, yaitu Dr.Imron yang selau siaga kapan pun diperlukan.
Setelah beberapa saat keluarlah Ameldita dari toilet dengan muka makin pucat dia sudah tak peduli lagi dengan keadaan tubuhnya yang berantakan yang jelas dia benar-benar merasakan sakit yang tiada tara.
"Mel kamu dehidrasi, saya sudah memanggil dokter sebentar lagi sampai, berbaringlah tapi sebaiknya ganti baju dulu, basah tu bajunya, nanti masuk angin dan tambah parah lagi." Ucap Alghi seraya merengkuh tubuh Ameldita dan didudukan diujung ranjang. Alghi pun dengan sigap mengambilkan baju tidur yang bermotif kucing, dia memberanikan diri meraih kancing kemeja yang sudah setengah terbuka itu, namun Ameldita masih sadar dia tak mau tubuhnya ternoda dan terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.
"Sorry tuan biar aku saja, bisakah tuan keluar dulu." Ujar Meldi dengan suara yang lemah tubuhnya merasa lemas sekali.
"Minum dulu air, tapi apa masih kuat memakainya." Sahut Alghi khawatir, seraya memberikan gelas air dan langsung di arahkan ke mulutnya.
"Makasih maaf ngerepotin tuan..."Ucap Ameldita seraya mengusap mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Santai saja jangan sungkan..." Ucap Alghi dengan sedikit tersenyum, hatinya merasa teriris melihat keadaan gadis pujaannya yang sakit, ingin rasanya dia memeluk erat untuk meringankan sakitnya, namun hanyalah angan sepertinya masih takut dia akan menolaknya.
"Baiklah ku keluar dulu ya, ganti dulu bajunya."
Alghi pun pergi keluar sambil menunggu kedatangan dokter. Ameldita pun hanya mengangguk lemah, dan dengan perlahan dia mengganti pakaiannya.
Setelah beberapa saat pintu diketuk kembali ternyata Alghi bersama seorang dokter laki-laki yang masih nampak ketampanannya walau pun sudah berumur. Mereka pun menghampiri Ameldita yang sudah berbaring lemah dikasur.
"Dok dia Ameldita asisten saya, coba periksa, dari tadi dia bolak balik ke toilet, sakit perut karena mengkonsumsi banyak pedas tadi saat makan." Sahut Alghi penuh dengan kecemasan.
"Oh asistenmu Al, baru ya dikira om pacar kamu, soalnya kamu sekhawatir itu." Ucap dokter Imron menohok hati Alghi seraya tersenyum, karena dia heran saja ko Alghi begitu perhatian malam-malam menunggu asistenya yang sedang sakit biasanya kan menyuruh Anton kaki tangannya kalau pun ada teman atau pegawainya yang sakit.
" Sial om Imron ni bikin gue mati kutu, maunya bukan sekedar pacar tapi istri." Guman Alghi dalam hati sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Ya soalnya sudah tak ada orang Om semua sudah tidur, kasian kan kalau dibiarkan, Anton dah gak bisa diandalkan kalau malam-malam dia dah berbuntut." Sahut Alghi lagi.
"Oh begitu ya, nona tolong sedikit angkat bajunya." Sahut dokter Imron karena ingin memeriksanya tentu saja harus memeriksa bagian perut dan dadanya. Namun kenapa gadis itu tak menyahut sama sekali. Alghi pun menyahut:" apa om kenapa harus mengangkat bajunya, periksa aja langsung!" Dia gak rela tubuh gadis itu dipandang orang lain.
"Ya gak bisa dong Al yang sakit tu bagian perut kalau tak langsung melalui kulit mana akurat." ucap dokter Imron agak kesal juga, posesif banget sih tuan muda ni, emangnya dia pacarnya apa?
Alghi terkejut karena Ameldita tak menyahut, dia pun menoleh ke arahnya ternyata Ameldita pingsan, Alghi pun meraba kening gadis itu ternyata panas, badannya demam, tangannya dingin, wajah pucat sekali.
" Mel...Meldi kenapa seperti ini...Om cepat periksa dia, dia pingsan...!" Teriak Alghi panik seraya menyentuh tangan Ameldita.
Om Imron pun memeriksa denyut nadinya lewat tangan namun agak sedikit susah soalnya Ameldita kan memakai baju yang menyerupai kulit diseluruh badannya, sementara untuk memeriksa dengan benar harus menyentuh bagian kulitnya bagaimana bisa?
" Al sepertinya kau harus membuka baju dalam Meldi deh..." Ucap Om Imron dengan seriusnya.
"What bagaimana bisa Om, ku tidak bisa." sahut Alghi gamang antara membukanya atau membiarkannya, sebab pasti Ameldita marah kalau ketahuan jejak penyamarannya.
__ADS_1
"Ayo Al tak ada jalan lain kalau tidak berbahaya ni"
"Oke Om tunggu ku pangilkan mama." Alghi panik, dia menghubungi no mamanya, tak mungkinkan Alghi sendiri yang membukakan pakaiannya.