
BAB 13
Sementara Ameldita tertegun dengan apa yang diucapkan Alghi yang notabenya majikan atau bos, dia serius atau hanya bergurau saja, bukannya mengajak menikah itu pada orang yang dicintai?
"Jangan bergurau tuan, tidak lucu dan sama sekali tidak menarik!" Bentak Ameldita kesal bukan main seakan dirinya dipermainkan oleh sikap Alghi, tadi saja dia melihat bagaimana perlakuannya terhadap sekretarisnya, menyebalkan sekali.
"Siapa yang bergurau? Sudahlah pakai dulu pakaianmu, semua perlengkapannya ada disini, ditunggu di meja kerja, ada yang ingin dibicarakan." Ucap Alghi serius sambil memberikan paper bag tadi, kemudian ia keluar.
Baru saja Ameldita menarik napas dan mengusap dada, jantungnya bermaraton tak karuan, dia benar-benar shock banget dengan pernyataan tuannya, tiba-tiba suara itu mengagetkan lagi. "Dan satu lagi jangan mikirin mantan!" Seru Alghi menyembulkan kepalanya dari pintu.
"Ya Alloh iiiihh...bikin jantungan saja tu orang, benar-benar menyebalkan."
Beberapa saat kemudian Ameldita keluar dari kamar tersebut dengan menggunakan mini dress dibawah lutut tanpa lengan, nampak cantik dan mempesona dengan rambut yang dibiarkannya tergerai, selama menyamar tak pernah lagi menggunakan baju seperti ini baru kali ini dia mengenakannya.
Alghi benar-benar tercengang melihat penampilan Ameldita yang sedikit terbuka itu, cantik dan seksi, namun ia tidak rela kalau pemandangan indah itu dinikmati orang lain, benar-benar si Anton ini cari masalah, kenapa membelikan baju tanpa lengan. Dia pun mengambil handphone dan berbicara:" Apa tahu dimana letak kesalahamu? Totoooon carikan blazer atau cardigan yang pas buat Ameldita, gak pakai lama!"
Dengan ragu Ameldita menghampiri meja tuanya, dan dia merasa nervous karena dari tadi ditatap oleh mata elang itu seakan dia mau melahapnya.
"Duduklah, dan makanlah makan siangmu." Sahut Alghi, seraya memberikan kotak makan siang yang dipesannya tadi, dan Ameldita pun mendudukan dirinya didepan Alghi.
"Aku tidak lapar." Tolak Ameldita dengan wajah ditekuk.
"Dari pagi kau tu belum makan, nanti masuk angin, atau mau aku suapin?" Ucap Alghi memaksa dan menatap tajam wajah Ameldita.
__ADS_1
"No thanks...biar aku saja." Tolak Ameldita lagi, ia pun segera membuka kotak makan itu kemudian dia memakannya perlahan.
"Meldi jawab dengan jujur dia kekasihmu atau mantanmu?"
"Uhuuuuk..." Ameldita tersedak, dia terkejut dengan pertanyaan tuannya itu, Alghi pun dengan sigap memberikan air minum.
"Hati-hati makannya Mel..."
Beberapa saat Ameldita pun beres makannya, karena ada sisa makanan yang menempel dibibirnya, Alghi dengan cepat dia menyapu bibir itu dengan mulutnya, hingga si empunya melotot karena kaget, selalu saja tuannya ini membuat dadanya berdebar tak karuan.
"Hi...tuan apa yang kau lakukan...!"
"Menurutmu...??? Sahut Alghi seraya tersenyum.
"Jawab pertanyaanku atau ku tambah lagi ciumannya." Sahut Alghi dengan penuh kemenangan.
"Dia mantanku, puas..." Lalu Ameldita pun menceritakan sepintas bagaimana kisahnya dengan Ricard Ricardo.
"Kurang ajar sekali si Ricard tu, baiklah kalau begitu mau kah kau membantuku?"
"Dalam hal...???"
"Menjadi istriku, untuk menghindari perjodohan yang sudah diatur kedua orang tuaku." Tegas Alghi serius.
__ADS_1
"Gila...istri...untuk menghindari perjodohan?
No aku tidak mau, kenapa kau tak mencoba menerima perjodohan itu?" Jawab Ameldita dengan geramnya, bagaimana bisa dia menikah karena terpaksa, hanya untuk menghindari perjodohan, lalu bagaimana nasibnya nanti jika harus hidup dengan tuannya yang pemaksa dan angkuh juga menyebalkan itu.
"Karena aku tidak menyukai tentang perjodohan, dan aku punya pilihan sendiri."
"Ya kalau begitu menikahlah dengan pilihan sendiri dan dengan orang yang tuan cintai, bukan dengan saya yang baru dikenal beberapa saat." Tegas Ameldita seraya melipat kedua tangannya didada.
"Sayangnya kau tidak bisa menolak Meldi, kalau tidak kau harus melunasi ganti rugi barang yang kau pecahkan itu saat ini dan detik ini juga, bagaimana?" Tutur Alghi penuh penekanan hingga membuat Ameldita makin membencinya.
"Tuan benar-benar sudah tidak waras...!" Ucap Amedita mendelikkan matanya dengan mulut mengerucut geram.
"Ya itulah aku, setuju atau tidak kau harus melakukannya, anggap saja ini sebagian dari tugasmu sebagai asisten, paham, lusa kita menikah, dan nanti sore aku mau mengenalkan kau kepada kedua orangtuaku sebagai calon istri, titik tidak ada koma dan dilarang protes."Jelas Alghi tak mau ada bantahan lagi, tak ada kata kawin kontrak seperti idenya Anton, dia hanya ingin secepatnya menghalalkan gadis pujaannya, tak peduli apa pun yang akan terjadi kedepannya.
"Kauuuuuu...." Ameldita mengangkat telunjuknya ke arah muka Alghi sambil berdiri dengan gigi gemeletuk menahan emosi dan mau beranjak pergi.
Namun tiba-tiba Anton masuk dan seorang perempuan yang nampak seksi menerobos masuk dan menghambur pelukan kepada Alghi, dia Dina cinta pertama Alghi dimasa lalu, sudah lama putus lantaran beda prinsip dan Dina lebih memilih mengejar karirnya didunia artis, dan itu bukanlah keinginan Alghi memiliki istri seorang artis, karena dia tahu bagaimana kehidupan seorang artis.
"Tooon...kan aku sudah bilang jika..." Geram Alghi sambil berusaha melepaskan pelukkan perempuan itu.
"Maaf bos dia memaksa masuk..." Jawab Anton seraya mengatupkan kedua tangannya didada.
"Sayang aku merindukanmu, pasti kau juga merindukanku kan?" Ucap Dina dengan manja sambil mengeratkan pelukkannya.
__ADS_1
Sementara Ameldita benar-benar merasa kesal, benci dan ingin sekali memaki, bagaimama tidak, baru saja tuannya itu mengatakan ingin menikahinya lebih tepatnya memaksa, eh sekarang malah datang perempuan yang seksi memeluknya, menyebalkan bukan. "Dasar playboy kelas kakap disana disini cewe, cih murahan." Gerutu Ameldita seraya melenggang pergi dan menutup pintu dengan keras hingga terdengar bunyinya.