
"Halo anak-anak dady, baik-baik ya disana jangan membuat momy repot." Sahut Alghi mrngelus perut sang istri yang lagi memejamkan mata.
Anton sudah biasa menjadi penonton atau pendengar yang setia disaat mengemudi, kalau saja tidak memakai headset, menurut kacamatanya Nyonya Ameldita lagi memendam rasa kesalnya, terlihat dia berdiam diri dan tak menghiraukan ocehan suaminya.
"Tooon...lebih hati-hati menjalankan mobilnya, jangan terlalu cepat...!" Ucap Alghi.
"Tapi ku ingin cepat-cepat sampai dirumah..." Kata Ameldita.
"Ja-jadi yang mana ni bos yang harus saya lakukan?" Ucap Anton bingung, kalau sudah berbeda pendapat begini.
"Sedikit cepat tapi hati-hati..." Jawab Alghi.
"Siap bosss..." Kata Anton, kembali fokus pada jalan.
"Sayang...sayang..., tidurkah? Ujar Alghi menyentuh wajah sang istri lalu mencium keningnya.
Tak ada jawaban dari istrinya, mungkin istrinya lelah hingga dia tak bisa menahan kantuk, begitu pikirnya.
Namun dia pun tahu, pasti istrinya marah karena kejadian tadi, diamnya adalah sebagian protes sang istri yang lagi merajuk, Alghi harus berusaha membujuknya.
Setelah sampai ke depan rumah seperti biasa Alghi menggendong sang istri ala bridal style langsung menuju kamar, dia membaringkan sang istri diatas kasur, dan menyelimutinya, istrinya nampak benar-benar tertidur, berulang kali dia mengecup keningnya, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alghi memeluk tubuh sang istri dalam tidurnya, tanpa melakukan aktivitas malamnya karena sang istri sudah terlelap tidur, tak tega kalau harus mengganggunya.
Pagi sekali Ameldita merasakan lapar, dia pun bangkit dan turun menuju dapur, disana sudah ada beberapa pelayan yang sibuk bekerja, dan memberi salam sambil menundukkan kepala kepadanya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Kata bu Ani kepala pelayan disana.
"Tidak bu, terimakasih...ku hanya ingin membuat sop, tiba-tiba jam segini perutku lapar." Ucap Ameldita tersenyum.
"Biar ibu bantu non, kalau tidak biar ibu menyuruh koki membuatnya ya, nanti tuan dan nyonya besar marah non kalau tahu anda berkutat didapur." Kata bu Ani khawatir.
"Jangan khawatir bu, mereka belum bangun, ni kan masih subuh, lagian ku ingin masakan sendiri bu..." Ucap Ameldita seraya menyiapkan wajan dan sayuran yang mau dipotong.
"Tapi non...hati-hati perlahan memotong sayurannya." Sahut bu Ani, takut sekali kalau tangan Ameldita terluka, bisa bahaya kalau terjadi hal itu, semua pelayan akan kena marah.
"Jangan khawatir bu, aku bisa melakukannya..." Ucap Ameldita seraya mulai motong-motong sayurannya, namun dari belakang terdengar bunyi barang terjatuh, keras sekali hingga membuat Ameldita menoleh kearah suara tersebut dan tangannya pun terluka karena pisau yang dipakai memotong sayur wortel itu terkena jari telunjuknya.
"Eh apa tu bu yang jatuh? Awww..." Teriak Ameldita memegang tangannya yang terkena pisau.
Dan ternyata dibelakang ada Sari yang sengaja memjatuhkan panci, agar konsentrasi Ameldita terganggu disaat motong sayurnya dan ternyata berhasil membuat tangan Ameldita terluka karena terkejut.
"Tanganmu terluka non, mari saya bantu mengobatinya..." Ucap Sari menghampiri Ameldita yang meringis kesakitan, dan bu Ani pun panik takut kena marah tuan dan nyonya besar.
"Tidak apa-apa Sari cuma luka sedikit nanti saya obatin ko, kamu lanjut saja pekerjaanmu..." Kata Ameldita, dan etah kenapa tiba-tiba perutnya merasa mual, tak tahan lagi dia pun pergi ke westafel kamar mandi dapur, dia memuntahkan isi perutnya berulang kali, sementara tangannya masih berdarah, dan darah itu memenuhi mulutnya karena dia menahan rasa mual dengan menutup mulutnya.
"Oh ya ampun non..." Ucap Sari dan Bu Ani menghampiri Ameldita, namun Sari malah sedikit mendorong tubuh Ameldita yang lemas, dan membuat tubuhnya hampir terjatuh kalau saja Alghi tak menahannya dari belakang.
"Sayangngng...be careful...oh my God...!" Teriak Alghi panik, ada 3 nyawa yang harus dijaga disana, kalau saja Alghi tak datang maka etah apa yang akan terjadi pada mereka.
Dan rasa mual itu masih mendera Ameldita, dia pun kembali memuntahkan isi perutnya, Alghi berusaha memijit-mijit tengkuk istrinya berharap sedikit meringankan rasa mual sang istri, dan dia terkejut melihat mulut juga pipi istrinya penuh dengan darah.
__ADS_1
"Darah apa ini sayang, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Alghi sambil membersihkan wajah istrinya.
"Kak telunjukku yang terluka..." Kata Ameldita menunjukkan jari telunjuknya, yang nampak darahnya keluar semakin banyak, padahal perasaan lukanya sedikit.
"Oh my God apa yang terjadi sayang...?" Alghi meraih jari telunjuk Ameldita, lalu mencuci darahnya, dan dia membawa sang istri untuk duduk dikursi.
"Bu Ani...kenapa istri saya bisa terluka? Apa kerja kalian hah..." Teriak Alghi emosi, dia tak rela istrinya terluka sedikit pun, tapi kini istrinya benar-benar terluka dan dia tak bisa menjaganya dengan baik.
"Maaf tuan, tadi non Ameldita memasak sop, tapi disaat memotong sayuran, tangannya terkena pisau, maafkan kami tuan..." Ucap Bu Ani ketakutan.
"Kak sudah bukan salah bu Ani atau siapa pun, ini semua kesalahanku, jangan marah sama mereka kasian..." Kata Ameldita menatap wajah suaminya yang lagi marah.
"Ambilkan kotak P3K cepat..." Ucap Alghi, dan Sari pun pergi mengambilkannya, sementara bu Ani mengambilkan tisue untuk mengelap darah yang masih keluar.
"Sayang lukanya sedikit tapi dalam ...kenapa kau harus memasak? Kalau mau sesuatu tinggal bilang pada koki, nanti mereka yang membuatkannya." Kata Alghi meniup-niup jari istrinya seraya memberikan obat serta membalut lukanya dan terlihat Ameldita meringis kesakitan.
"Meldi lapar dan mau makan masakan sendiri, tapi keburu terluka ni..." Ucap Ameldita mengerucutkan bibirnya.
"Jangan maksain diri sayang...berbahaya, kenapa tidak membangunkanku sayang, jadinya begini kan terluka pasti sakit ni..." Kata Alghi sambil mencium tangan istrinya.
"Meldi tak mau ganggu tidur ka Al..." Ucap Ameldita menatap wajah sang suami.
"Tak ada yang merasa terganggu, justru khawatir kalau begini kan...jangan diulang lagi sayang, ku akan menjagamu apa pun yang kau inginkan akan ku berikan." Alghi memeluk tubuh lemas sang istri lalu memberikannya air minum yang hangat.
"Kak sopku belum beres, tinggal memasukkan sayurannya..." Ucap Ameldita manja.
__ADS_1
"Ok tunggu biar ku selesaikan masakannya ya..." Ujar Alghi mencium kening sang istri mesra, lalu dia berkutat didapur dan memasukan sayuran ke dalam wajan tersebut.
"Kak emang bisa gitu..." Ucap Ameldita menghampiri suaminya seraya menaruh dagu dibahu sang suami.