
"Benar om, saya pikir itu Ameldita, tapi mengapa dia tak mengenali saya, dan Alghi pun sama, kalau saja dia kenal pasti sudah babak belur sama dia, karena menyentuh istrinya." Jawab Ricard meremas wajahnya kasar.
"Apa kau belum tahu kalau Alghi hilang memori dimasa lalu, dia mengalami depresi, makanya kami berobat ke sini, dan Alhamdulillah kesehatannya sudah membaik dari sebelumnya, namun ingatannya masih belum kembali, kata dokter masih proses pemulihan, jadi tidak bisa dipaksakan untuk mengingat sesuatu, kalau dipaksakan maka akan mengalami kerusakkan pada sel otaknya, kami sangat khawatir." Tutur papa Ghian dengan wajah sendu.
"Oh my God..., aku tidak mentangka separah ini om, lalu kenapa Alghi bersama Ameldita, apa dia sudah mengingatnya?" Kata Ricard penasaran.
"Dia kekasih baru Alghi, namanya Missya, om belum tahu siapa sebenarnya Missya ini, masih dalam penyelidikan, kata Alghi dia tinggal sama nenek dan kakaknya, bahkan suaminya tak tahu dimana, karena Missya pun mengalami penyakit yang sama dengan Alghi." Ucap papa Ghian.
"Jadi dia namanya Missya om, dan hilang ingatan juga? Ini benar-benar membuat saya sangat shock om, tapi saya akan ikut menyelidikinya, saya yakin itu Ameldita." Kata Ricard semangat, ya meskipun dia tak bisa memilikinya, namun dengan melihatnya bahagia, dia pun ikut bahagia.
"Ya Ricard tante mohon bantuanmu...!" Sahut mamah Fiandra seraya mengusap air matanya.
"Insya Alloh om, tante saya akan membantu..., om lakukan tes DNA pada bayinya Missya, kalau memang ingin mengetahui siapa Missya sebenarnya, dan hubungi kedua orang tua Ameldita lakukan test DNA antara Missya dan mereka, bagaimana?" Kata Ricard serius.
"Benar juga idemu memang sangat luar biasa nak, mari kita lakukan disaat mereka masih dirumah sakit, jangan-jangan kekasihnya Alghi mau melahirkan, tunggu papa telpon Alghi dulu." Ucap papa Ghian seraya mengambil handphonenya, namun baru saja, mau menekan kontak yang bernama putraku, telpon itu berdering, dan ternyata panggilan dari Alghi.
"Halooo Al, bagaiman keadaan Missya? Kami sangat khawatir." kata papa Ghian.
"Pah, mah, kata dokter Missya mau melahirkan, jadi ku akan menemaninya bersalin, kalau mamah sama papa mau kesini, nanti alamatnya Al sharelok ya, Al masuk ruang tindakkan ni..." Ucap Alghi.
"Semoga dilancarkan persalinannya, oke Al, kita kesana." Kata papa Ghian lalu menutup panggilannya.
"Jadi Missya mau melahirkan pah?" Kata mama Fiandra, dia merasa senang, seakan itu kelahiran cucunya, namun dia pun sedih mengingat dulu sang menantu kesayangannya, tengah hamil kembar, dan jika masih ada bulan inilah saatnya dia melahirkan.
__ADS_1
"Iya mah, kita ke rumah sakit sekarang...ayo...!" Ucap papa Ghian.
"Eh nak Ricard apa kau ikut kami atau bagaimana?" Tanya papa Ghian, menoleh ke arah Ricard.
"Tentu saja om saya ikut, tapi saya bawa mobil sendiri." Jawab Ricard.
"Oh oke kalau begitu." Ucap papa Ghian.
Dan akhirnya mereka sampai dirumah sakit, disana nampak neneknya Missya dan Elkam sedang duduk dengan wajah yang sangat cemas.Mereka pun menghampiri mereka dan memperkenal diri masing-masing.
"Assalamualaikum nyonya, kami orang tuannya Alghi, dan ini temannya Alghi." Kata papa Ghian
"Waalaikum salam, oh oke, saya neneknya Missya, silahkan duduk, sorry jadi merepotkan putra kalian." Ucap nenek Briska.
"Is oke nyonya, jangan khawatir, selama putra saya tidak keberatan, lagian Missya memang kekasih Alghi kan, itu sudah menjadi tanggung jawabnya." Kata mama Fiandra seraya duduk disamping nenek Briska.
Ya...Alghi bermaksud melamarnya sore ini, tapi Missya keburu melahirkan, jadi ditunda dulu sepertinya." Ujar papa Ghian.
"Benarkah? Saya belum tahu..." Kata Nenek Briska.
"Iya Alghi sengaja tidak memberitahukan kalian, dia ingin memberi kejutan sama Missya." Ucap mama Fiandra.
"Tapi mereka baru saja saling mengenal, apa tidak terlalu cepat untuk meresmikan hubungan mereka?" Kata nenek Briska.
__ADS_1
"Maaf nyonya kalau menurut saya, mereka sama-sama sudah dewasa, jadi lebih baik menjadi pasangan halal, iya kan?" Kata papa Ghian.
"Bener juga, mungkin itu lebih baik." Kata nenek Briska.
"Nyonya bisakah anda menceritakan bagaimana Missya bisa hilang memorinya? Alghi bilang Missya tak mengingat masa lalunya, apakah benar?" Kata Ricard ikut nimbrung.
"Panjang ceritanya, dan itu menjadi rahasia keluarga kami, namun karena kalian akan menjadi keluarga Missya maka saya akan menceritakannya, jadi sebenarnya..." Ucapan nenek Briska menggantung disaat p suara yang memanggilnya.
"Nenek...bagaimana keadaan Missya?" Kata Bisma dan Josep yang baru saja datang.
"Bisma dari tadi nenek menghubungimu, namun tak diangkat terus, mengapa? Missya mau melahirkan dan Alghi yang menemaninya, ini orang tua Alghi Bisma." Ucap nenek Briska.
"What Missya mau melahirkan? Kalau begitu biar ku menemaninya juga..." Kata Bisma panik, lalu mau membuka pintu bersalin, namun dengan sigap Ricard menghalanginya.
"Hentikan tuan Bisma, yang boleh mendampingi hanya satu orang saja, jadi lebih baik anda menunggu bersama kami." Ucap Ricard menatap tajam ke arah Bisma yang nampak khawatir.
"Ta-tapi saya kakaknya, saya berhak mengetahui keadaannya." Ucap Bisma keukeuh.
"Kami tahu nak, tapi lebih baik kita mendengarkan apa yang dikatakan dokter." Kata papa Ghian.
Sementara Alghi, dia sedang menahan rasa sakit karena Missya mencakar tangannya, ketika dia menahan kontraksi bukaan sembilan menuju sepuluh, dokter menyarankan boleh untuk melahirkan secara caesar namun Missya menolak, dia ingin melahirkan normal, dan Alghi dibolehkan menemaninya karena dia mengaku sebagai suaminya.
Benar-benar pengalaman pertama bagi Alghi menemani orang yang melahirkan, sungguh sangat mengerikan dan ada rasa sakit juga yang dia rasakan, seakan dirinya yang mengalami penderitaan Missya, Alghi berusaha menguatkan Missya menghapus air mata yang terus berurai, mencium kening dan memegang tangannya erat sambil memanjatkan do'a-do'a dan berdzikir berharap meringankan deritanya Missya.
__ADS_1
Hingga terdengar tangisan bayi yang melengking memecah suasana diruangan bersalin itu, seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan memiliki wajah seperti Alghi, diteruskan dengan terdengarnya suara bayi kedua, seorang bayi yang sangat cantik wajahnya perpaduan antara Missya dan Alghi, jadi kedua bayi itu identik dengan wajah Alghi, dan dokter itu meletakkan kedua bayi tersebut diatas dada Missya.
"Selamat tuan bayi kembarnya mirip sekali dengan anda, yang perempuan sedikit ada garis wajah mommynya." Kata Dokter Rebeca seraya tersenyum.