TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
Draft


__ADS_3

BAB 21


Mau tidak mau dia harus menerima bahwa Alghi adalah suaminya, walau pun etah akan seperti apa kedepannya.


Karena merasa lelah setelah sarapan mereka tidur kembali, rencana siang nanti pulang ke rumah orang tuanya.


Alghi terjaga disaat jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, dia memandangi wajah istrinya yang masih terlelap didekapannya, menyentuh pipinya perlahan lalj mencium keningnya, hingga Ameldita terusik karena terganggu dengan gerakan Alghi, perlahan dia mbuka mata dan yang pertama dilihat wajah bantal Alghi yang berada tepat depan mukanya.


"Tu-tu-tuan apa sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak membangunkanku?" Ucapnya seraya menggisik matanya.


"Kau panggil apa? Coba diulang lagi..." Sahut Alghi sambil memeluk dan mencium bibirnya.


"Ihhh...lepaskan...apa ada yang salah?" Ucap Ameldita sedikit memberontak.


"Kalau masih memanggil tuan, aku tak akan melepasmu!" Seru Alghi sambil terus memeluknya erat sampai tak ada jarak diantara mereka.


"Iya, iya, iya...tadi keceplosan, ku belum terbiasa...sorry ka." Ucap Ameldita seraya menahan dada Alghi dengan kedua lengannya.


"Kau sangat cantik sayang..." Alghi menatap muka bantal Ameldita, yang nampak menggemaskan dimatanya, dia merapatkan pelukannya, meraba bagian punggung dan menjalar kebokong, Ameldita menggelinjang geli, hingga membangunkan bagian inti Alghi karena gerakannya. Alghi pun tak tahan hasratnya kembali menggelora si joni minta untuk bersarang dilembah kehangatan sang istri, dia membuka paha Ameldita kemudian mengarahkan senjatanya ke bagian inti Ameldita, dan terjadilah pertempuran kembali, kedua insan itu bergumul panas lagi dalam posisi miring dan saling memeluk.


Dari tadi telpon Alghi berdering namun tak dihiraukannya, karena masih berada dalam puncak nirwana, mengarungi nikmatnya surga dunia bersama istri tercintanya. Dua jam berlalu setelah mereka mandi dan berpakaian rapi, mereka bermaksud mau pulang ke rumah kedua orang tuanya, barulah Alghi membuka handphonenya, dan banyak sekali pesan serta panggilan yang tak terjawab. Dia pun menekan no mamanya.


"Assalamualaikum, mah..."


"Waalaikum salam, Al kenapa dari tadi mama telpon ko gak dijawab sayang...?" Seru mama Fiandra.

__ADS_1


"Sorry, sorry mah Al baru bangun, tadi habis sarapan pagi kita tidur lagi..." Jawab Alghi seraya mengelus rambutnya yang sedikit masih basah.


"Dan makan siang pun terlewat Al, tadi kita tunggu tak kunjung datang, istrimu makan apa dong? Kasian kan?" Sahut mama Fiandra khawatir.


"Belum makan sih mah, rencana mau order ni, tar makan malam disana ya..."


"Ok...kita tunggu y..." Sahut mama Fiandra seraya tersenyum.


"Ok mah bye..." Ucap Alghi mau nutup telponnya, namun tiba-tiba papa Alghi ikut nimbrung.


"Eh Al jangan terlalu ganas ya...kasian Ameldita, nanti ke lelahan."Ucapnya seraya tertawa dan membuat Ameldita yang mendengar menjadi merah merona, karena malu.


"Papa jangan godain Alghi ya...kaya gak pernah muda aja." Sahut Alghi tertawa juga sambil mengerlingkan sebelah mata ke arah Ameldita. Dan blush pipi Ameldita memerah karena benar-benar malu.


Mereka bercengkrama seharian penuh, Alghi benar-benar mengurung sang istri dalam kungkungannya, hingga pukul 7 malam tiba, mereka berangkat ke rumah kedua orang tuanya, Ameldita nampak semakin bersinar terang wajahnya, dia memakai dress yang menutupi area lehernya, tentu saja untuk menutupi jejak keganasan suami yang memenuhi seluruh lehernya, dress diatas lutut dengan tali melingkar dipinggang rampingnya, nampak manis dan elegan, dan senada dengan Alghi, yaitu berwarna navy, nampak serasi pasangan pengantin baru itu.


"Sedikit sakit..." Sahut Ameldita seraya memegang bahu Alghi.


"Mau ku gendong saja atau berjalan sendiri?" Ucap Alghi cemas, merasa bersalah juga, karena keganasannya Ameldita kesakitan, tak tega rasanya, tapi etah kenapa dengan melihat tubuhnya saja membuat juniornya mengeras, benar-benar menjadi candu baginya.


"Aku berjalan sendiri kak...malu ih sama papa dan mama." Sahut Ameldita.


"Yakin..." Alghi menatapnya lekat, seraya menautkan jari-jemarinya ke tangan Ameldita seakan tak mau berjauhan sedetik pun.


Ameldita pun mengangguk pelan, kemudian mereka berjalan bergandengan, nampak serasi. Mereka disambut hangat oleh kedua orang tuanya, disana ada nenek Alghi Nyonya Elisa dan juga sepupunya Mona, mereka belum pulang rupanya.

__ADS_1


"Halooo pengantin baru...tambah bersinar saja kelihatannya." Goda nenek dan Mona seraya tersenyum ke arahnya. Ameldita nampak malu, ia tersenyum seraya menyalami mereka.


"Silahkan duduk sayang...dan kita nikmati makan malamnya." Sahut mamah Fiandra tersenyum ramah.


"Al kemana kalian akan berbulan madu?" Ucap papa Ghian seraya mendudukan tubuhnya dikursi.


"Belum ada rencana pah, sepertinya Ameldita tak ingin kemana-mana." Ucap Alghi seraya melirik ke arah istrinya.


"Kenapa sayang, nikmatilah acara kalian biar lebih saling mengenal dan memahami satu sama lain." Sahut mama Fiandra, dia paham bagaimana Ameldita harus menerima pernikahan dengan orang yang dikenal baru beberapa saat, niatnya bekerja malah menjadi seorang istri, dan bagaimana jika ia tahu bahwa suaminya adalah orang yamg dijodohkan orang tuanya.


"Iya Mel nenek sudah tak tahan ingin menimang cicit, sebelum akhir usia." Sahut nyonya Elisa seraya mengelus bahu Ameldita yang kebetulan duduk berdampingan.


"Dan kami punya hadiah untuk kalian, ni..." Ucap papa Alghi seraya memberikan dua tiket itu ke Alghi.


"What tiket ke Paris?" Sahut Alghi terkejut bercampur bahagia, menerima tiket itu dengan senyum mengembang, dia melirik istrinya dan memberikantiket itu.


"Thank you pah, mah, kalian memang the best forever." U cap Alghi lagi, dia girang sekali, kemudian memeluk kedua orang tuanya.


Lain lagi dengan Ameldita, dia nampak biasa saja dan sedikit melamun, dia teringat dengan kedua orang tuanya, ya disaat mereka mengatakan bahwa dirinya sudah dijodohkan, dan akan memberi hadiah tiket bulan madu ke Paris atau ke Jepang, ko bisa kebetulan dapat tiket itu, sedih juga belum bisa memberi tahu bahwa dia sudah menikah.


"Hi...sayang kenapa melamun, berbahagialah, nikmati masa muda kalian." Sahut nenek Elisa memberikan semangat, dia pun paham dengan Ameldita, karena sebelumnya Fiandra dan Ghian sudah menceritakan bagaimana kisahnya.


"Eh iya nenek, mah pah makasih buat semuanya..." Ucap Ameldita seraya tersenyum manis.


Dan mereka pun menikmati makan malam bersama seraya bersenda gurau.

__ADS_1


Lain cerita dengan seorang gadis yang nampak kesal bukan main, melihat kebersamaan mereka, apa lagi melihat betapa mesranya Alghi dan Ameldita, sakit hatinya.


"Sial kenapa dia seberuntung itu, harusnya gue kan yang berada disamping tuan muda, gue sudah mengenalnya bertahun-tahun tapi kenapa tidak bisa mendapatkan hatinya, sialll..., aku tidak bisa menerima semua ini...!" teriaknya dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2