
Diruang keluarga sudah ada sang nenek sedang duduk dan menonton ceramah subuhnya, dan dia tersenyum menyambut kedatangan Missya, namun dia menatap heran ke arah Alghi yang mungkin baru dilihatnya.
"Pagi nek..." Ucap Missya dan Alghi bersamaan.
"Pagi juga Missya...dan ini siapa?"Tanya nenek Briska menatap ke arah Alghi.
"Ini tuan Alghi nek, relasi bisnis kakak sama aku, kebetulan rumahnya juga dikomplek sini," Jelas Missya.
"Oh begitu rupanya, senang sekali bertemu denganmu nak..." Ucap nenek Briska tersenyum ramah.
"Terimakasih nek..." Kata Alghi menganggukkan kepalanya tanda hormat.
"Sama-sama, kalau begitu sarapan bersama dulu yuk...!" Kata nenek Briska.
"Terimakasih nek, tapi mungkin lain kali saja, karena saya belum mandi karena barusan sedikit berolahraga, jadi berkeringat, tidak enak nanti makannya." Ujar Alghi tersenyum.
"Baiklah nak Al, tapi lain kali jangan menolak ya, sering-seringlah main kesini, biar Bisma sama Missya ada temannya." Kata nenek Briska.
"Baik nek, insya Alloh saya usahakan, dan pasti saya akan sering kesini, saya undur diri, terimakasih." Ucap Alghi, seraya menjabat tangan nenek Briska, lalu dia pamit pulang.
"Sama-sama..., gagah dan ganteng juga tu anak, hampir kalah cucuku." Kata nenek Briska melambaikan tangannya sambil berguman dalam hati.
"Ngomong-ngomong kakakmu dimana? Tidakkah ikut joging, biasanya kalian kan pergi bareng?" Tanya nenek Briska heran, mereka tak tahu saja kalau dari tadi Bisma mihat Missya bersama Alghi dari balkon, dan dia merasa cemburu.
"Tadi terlihat masih gelap kamarnya, jadi Missya jalan sendiri, baiklah nek, Missya mandi dulu, sebentar lagi berangkat ke kantor kan." Ucap Missya seraya berjalan menuju kamarnya.
"Baiklah hati-hati jaga kondisimu, nenek sangat khawatir..." Kata nenek Briska.
"Siap nek don't worry..." Kata Missya menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ahhh...aku sangat bahagia...kenapa aku seakan terikat olehnya, apakah aku mengenal tuan Alghi sebelumnya? Ya Tuhan tolong ingatkan aku sedikit saja tentang masa laluku, aku ingin tahu siapa diriku sebenarnya?" Guman Missya setelah keluar dari kamar mandi dan duduk depan cermin untuk menata make up diwajah cantiknya.
Sementara didalam kamar, Bisma sedang marah-marah sendiri, dia cemburu melihat betapa romantisnya Missya bersama Alghi, padahal mereka baru saling kenal, dia merasa kalah dalam mengambil hati Missya padahal dia berada satu atap, namun untuk menunjukkan rasa cinta itu seolah terhalang dinding pemisah sebagai adik dan kakak, sanggupkah dia meruntuhkan dinding itu? Apakah neneknya akan merestui mereka? Jika Bisma menyatakan isi hatinya?
Walau pun demikian, Bisma tetap tak akan menyerah dengan keadaan, dia akan memperjuangkan cintanya, sampai takdir memutuskan tentang kehidupannya.
"Aku harus berusaha menjauhkan Missya dari Alghi, sebelum semuanya terlambat, aku tak mau kehilangan Missya...!" Guman Bisma.
Lain cerita dengan Alghi, setelah pulang dari rumah Missya dia menghubungi papanya, meelakukan video call.
"Assalamualaikum pah..." Ucap Alghi.
"Waalaikunm salam Al, bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya Papa Ghian disebrang telpon.
"Alhamdulillah baik pah, bagaimana kabar papa sama mama disana?" Jawsb Alghi tersenyum
"Semua baik jangan khawatir, tadi doktermu bilang Alhamdulillah kesehatanmu sangat membaik Al, jadi bisakah kau kembali ke Brunei Al, kami kesepian tampamu Al, apa lagi nenekmu sering sekali nanyain kamu Al, please papa mohon..." Ucap papa Ghian.
"Seorang wanita? Apa dia kekasihmu? Papa senang mendengarnya Al, papa akan kirim mata-mata yang profesional, minta nama dan alamatnya saja, pasti semua akan beres." Tanya papa Ghian penasaran, ada sedikit bahagia, karena putra kesayangannya sudah bisa move on dan kembali memulai kehidupan baru.
"Iya pah dia kekasihku, aku ingin menikahinya, tapi keluarganya tak mau memberi informasi tentangnya, dia nasibnya sama seperti Alghi pah, hilang memori dimasa lalu, bahkan dia sedang hamil pah, kasian kan..." Tutur Alghi jujur.
"What hamil...? Apa dia ditinggalkan suaminya?" Kata papa Ghian setengah berteriak dan sangat shock.
"Justru itu pah dia tak ingat apa pun tentang hidupnya, àEeyang dia tahu hidup bersama nenek dan kakaknya, meraka menjalin kerja sama dengan perusahaan Alghi pah, dan Alghi menyukai wanita itu etah kenapa?" Kata Alghi.
"Baiklah papa mengerti, jadi yang ingin kau tahu dimana suaminya dan siapa dia sebenarnya, begitu kan? Kalaj baut papa dan mama siapa pun dia, asal membuat kau bahagia, kami akan mendukungmu Al, baiklah papa akan mengirimkan mata-mata kesana, jalani hidupmu dengan bahagia putraku..." Ucap papa Ghian meneteskan air matanya, merasa terharu.
Terimakasih banyak pah, salam buat mama dan nenek, do'akan semua urusan Al lancar..." Ucap Alghi tersenyum dan mengakhiri panggilan telponnya.
__ADS_1
"Amiiin..., kami selalu mendo'akanmu Al, Insya Alloh kebahagiaan akan datang bersamamu." Guman papa Ghian.
Setelah mengakhiri pangilannya Alghi bergegas mandi, dan bersiap mau pergi kekantornya, dia semangat karena nanti siang ada meeting kembali diperusahaan Bisma, dan punya kesempatan untuk bertemy lagi dengan Missya, etah kenapa dia ingin selalu memandang wajah cantiknya yang nampak bersinar.
Bisma duduk dimeja makan untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor, namun mukanya nampak murung, tak berkata apa pun dia hanya fokus pada minuman dan makanan yang sudah tersaji didepannya. Hingga Missya datang dengan senyuman yang merekah menghiasi elok wajahnya, serta pakaian bumil yang modis melekat ditubuhnya.
"Pagi kak...sorry terlambat..." Ucapnya seraya duduk dikursi, namun Bisma tak menghiraukannya.
"Tidak apa-apa Missya, ayo sarapan dulu, apa masih bersemangat ngantor ni..." Nenek Briska menyahut sambil tersenyum ramah.
"Iya nek...harus semangat karena kan sebentar lagi Missya cuti melahirkan, jadi diam dirumah." Kata Missya, dia melirik ke arah Bisma yang cuek dan acuh.
"Kak...kak...kak..." Kata Missya, namun Bisma tetap mendiamkannya.
"Kak...kenapa sih dari tadi diam saja? Apa ada masalah?" Tanya Missya lagi.
"Iya Bisma ada apa? Nenek heran dari tadi diam saja..." Nenek Briska ikut bicara.
Bisma menarik nafas lalu mengeluarkannya kasar dan menjawab pertanyaan sang nenek: "Tidak ada apa-apa nek, jangan khawatir..."
"Kalau ada apa-apa bicarakan jangan diam, biar memudahkan segalanya, oke..." Kata nenek Briska lagi.
"Oke nek, baiklah ku berangkat dulu." Ucap Bisma pamitan. Begitu pun dengan Missya ikut berpamitan, dia mengekor dibelang Bisma yang diam seribu bahasa.
"Kak kenapa sih? Marah ya sama aku...?" Kata Missya setelah memasang seat beltnya.
"Mmm...siapa yang marah, cuma lagi kesal saja, kenapa tadi pagi tidak membangunkanku mau joging, apa sudah janjian sama Alghi?" Kata Bisma menatap lurus ke depan.
"Tidak..., aku tak sengaja bertemu dengannya, jadi jalan bareng, dan terrnyata rumah dia masih sekomplek dengan kita kak..., tadi ku mau membangunkan kakak tapi kasian kakak mungkin lelah, jadi ku pergi sendiri." Jelas Missya melirik ke arah Bisma yang masih acuh.
__ADS_1
"Benarkah? Terus apa kau menyukai Alghi?" Tanya Bisma menatap wajah Missya.
"Mmm...iya...dia baik kok kak..." Kata Missya jujur.