
BAB 18
"Hah lusa menikah...???Jangan bercanda Al...!"Seru mama dan papa Ghian, mereka terkejut dan sama-sama membulatkan matanya. Padahal dalam hati mereka bersorak ria, senang bukan main akhirnya rencana mereka berhasil. Ya tadi saat telponan sama sahabatnya yaitu orang tua Ameldita, mereka merencanakan untuk mendesak dan memaksa Alghi supaya secepatnya bertemu dengan gadis yang sudah dijodohkannya, namun Alghi tetap menolak mentah-mentah dan dia bilang sudah punya pilihan sendiri yang akan dikenalkan sore ini menjelang makan malam.
Deg ada hati seseorang yang merasa tersakiti, bertahun mengharap cinta terbalas, mengharap keajaiban datang untuk menyambut hatinya, kini hancur sudah seakan meluluh lantakan bangunan cinta yang tumbuh dihatinya, beserta tumbuhnya kebencian terhadap orang yang sudah merebut hati pria idamannya. Ya gadis yang berdiri menyajikan teh dan kopi hangat kepada majikannya yaitu Sari, benar-benar sakit hati saat mendengar apa yang dibicarakan oleh majikannya, tadinya sejak kejadian meracuni Ameldita dengan obat pencahar dan membuat Ameldita dilarikan ke rumah sakit, ia ingin melupakan rasa cinta dalam hatinya, namun sampai saat ini tidak bisa, ia masih mencintai tuan mudanya dalam diam.
"Menikah dengan Ameldita, tidak ini tidak mungkin aku tidak rela, aku mencintainya, kenapa bisa? Sial kenapa si Ameldita bisa beruntung?"Gerutu Sari dalam hatinya dengan tangan yang mengepal kuat.
"Tentu saja aku serius mah pah, jadi kalian tak usah menjodoh-jodohkan Al lagi, iya kan Mel?" Ucap Alghi serius seraya melirik wajah Ameldita yang terlihat gugup.
"Mmmm...i iya." Sahut Ameldita sedikit ragu menjawab, kalau saja Alghi tak menginjak kakinya, ogah untuk menjawab.
"Anton apa kau juga tahu rencana mereka hah..." Tegur mama Fiandra menatap tajam ke arah Anton yang sedari tadi hanya jadi pendengar.
"Benar tuan, bahkan saya yang sudah menyiapkan acara untuk hari pernikahannya." Tutur Anton sangat serius.
"Dan bagaimana dengan kedua orang tuamu Mel, apakah setuju?" Ujar papa Ghian menatap Ameldita, yang terlihat sedikit kesal karena tadi melihat Alghi menginjak kakinya, namun dia pura-pura tidak tahu, rupanya Alghi ni memaksakan kehendak terhadap asistennya itu yang notabe jodohnya sendiri.
__ADS_1
"Orang tuaku jauh tak mungkin untuk datang tuan jadi bisakah memakai wali hakim saja?" Jawab Ameldita, dia berpikir bahaya kalau orang tuanya datang, bisa-bisa dia disuruh pulang dan disuruh nikah sama orang yang dipilihkan mereka, lagian ini kan hanya kawin kontrak yang mungkin dibatasi waktu, namun Alghi belum memberikan surat kotrak perjanjiannya. Mungkin nanti pikir Ameldita.
"Jadi gimana kalian setuju kan Al menikahi Ameldita?" Sahut Alghi harap-harap cemas.
"Tentu saja kami merestui kalian, jika kalian bersungguh-sungguh, ingat pernikahan bukanlah sebuah permainan, mengerti..." Sahut papa Ghian seraya mengerlingkan matanya ke arah sang istri yang tersenyum bahagia, bagaimana tidak bahagia semua rencananya akan berhasil tinggal satu langkah lagi.
"Yes...thank you so much mah pah..." Ucap Alghi girang seraya memeluk kedua orang tuanya, karena mimpinya untuk memiliki gadis pujaannya akan tercapai juga, dan terbebas dari perjodohan itu.
"Sasaran tepat, akhirnya mereka kena perangkap jodohnya sendiri kan pah. "Sahut mama Fiandra setelah mereka berada dalam kamar.
Akhirnya mereka pun menghubungi kedua orang tua Ameldita dan mereka berbahagia karena perjodohannya berjalan lancar. Rencananya mereka akan hadir namun tentunya dengan menggunakan topeng seperti yang dilakukan Ameldita. Ini moment sakral anak si mata wayangnya tak mungkin mereka tidak hadir. Walau pun acara akad dilangsungkan secara tertutup dan hanya beberapa kerabat yang hadir serta tak ada acara resepsi, karena itu permintaan Ameldita, mungkin takut diketahui orang tuanya secara dia kan kabur dari rumah dan belum mengetahui bahwa semua itu sebagian dari rencana kedua orang tuanya.
"SAH...."Suara para saksi dan orang-orang yang hadir disana menggema mengucapkan kata sah setelah Alghi mengucapkan janji sucinya dihadapan penghulu dan kedua orang tua mereka, dia telah resmi menikahi gadis pujaannya.
Tiba saatnya pengantin perempuan dijemput dari kamar, dengan jantung yang berdebar dan deg degan tak karuan Ameldita yang duduk dengan cantiknya dengan riasan wajah yang flawless menggunakan kebaya putih mewah yang ekornya menjuntai, anggun nan elegan dikejutkan dengan terbukanya pintu kamar, nampak mamahnya Alghi dengan senyuman yang menghias wajahnya, tentunya dia bahagia karena anaknya sudah resmi beristri dengan wanita pilihan mereka.
"Masa Alloh kau cantik sekali Mel, tidak salah Alghi menentukan pilihannya, ayo sayang saatnya turun, kamu sudah sah menjadi istrinya Alghi anaknya mamah." Ucap mamah Fiandra menghampiri Ameldita yang terlihat gugup.
__ADS_1
"Terimakasih nyonya..." Sahut Ameldita seraya tersenyum hambar, dia gelisah dan merasa sedih karena harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai dan tanpa kehadiran kedua orang tua tercintanya, ya walau pun tanpa dia sadari merasa nyaman berada disamping Alghi, etah rasa cinta atau hanya rasa yang sekedar singgah sesaat, disaat hatinya kosong dan kesepian.
"Eit tidak panggil lagi nyonya kau seorang menantu mama sekarang dan untuk selamanya, jadi panggillah mamah." Sahut mamah Fiandra seraya menggapai kedua tangan Ameldita yang gemetaran, Ameldita pun menghambur pelukannya, kesedihan pun tak terbendung lagi , dia menumpahkan air matanya didada mamah Fiandra sang ibu mertua.
"Mamah paham apa yang kamu rasakan Mel, ini jalan hidupmu, mamah yakin kalian akan berbahagia." Sahut mamah Fiandra seraya mengelus punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang, seakan dia adalah anaknya sendiri, ya dia memang menginginkan anak perempuan namun Tuhan belum menghendakinya, makanya dia ingin secepatnya Alghi menikah agar bisa segera diberikan cucu.
Akhirnya Ameldita pun turun digandeng oleh mamah mertua, semua mata memandang ke arahnya terlebih kedua orang tuanya, dia sangat merindukan putri tercintanya, namun belum saatnya dia menunjukkan bahwa mereka hadir diacara sakral itu, mereka hanya bisa meneteskan air matanya dan berdoa agar putrinya selalu diberi kebahagiaan.
Alghi benar-benar tercengang melihat bagaimana cantik dan anggunnya gadis yang sudah halal menjadi istrinya itu bak seorang bidadari yang turun dari surga, sampai dia tak berkedip dalam beberapa detik, hingga Ameldita sampai dihadapannya dan pak penghulu berbicara: " Nak Alghi silahkan pakaikan cincinnya kepada istri anda."
Dengan gelagapan Alghi meraih cicin dan memakaikannya secara perlahan ke jari manis Ameldita, lalu Ameldita pun memakaikan cincin juga ke jari manis Alghi, Ameldita terpana dengan ketampanan Alghi, benar-benar tampan dan gagah dengan gaya rambut yang berbeda, setelan tuxedo yang rapi berwarna hitam itu menghias ditubuh kekarnya.
Mata mereka saling pandang, ada suatu getaran yang membuncah dihati mereka, saling tertarik dengan keindahan wajah masing-masing, Alghi pun melabuhkan ciumannya dikening Ameldita seraya berkata: "Kau benar-benar cantik Mel..."
"Jangan mesum tuan Alghiantara..." Sahut Ameldita tersipu malu seraya meraih tangan Alghi kemudian diciumnya sebagai tanda bakti seorang istri, ya walau pun bagi Ameldita itu untuk melengkapi sandiwaranya dihadapan kedua orang tua Alghi supaya nampak saling mencintai sesuai permintaan tuannya.
Setelah semua acara berakhir, akhirnya semua orang pun meninggalkan hotel Corrason bintang 5 itu, berbeda dengan kedua orang tua Alghi dan Ameldita, mereka berkumpul dihotel sebelah untuk merayakan kebahagiaan mereka karena sudah resmi menjadi besan. Sedangkan kedua mempelai masih berada dihotel tersebut
__ADS_1