TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 51


__ADS_3

"I love you sayang, istirahatlah dulu, ku lanjut kerja ya..." Kata Alghi mengecup kening istrinya sambil menaikan selimut sampai menutupi dada sang istri, kemudian dia berlalu keluar menuju meja kerjanya.


Tak terasa perjalanan hidup Ameldita bersama Alghi berjalan hampir 8 bulan, mereka hidup bahagia menjalani pernikahannya, walau pun belum dikaruniakan buah hati.


Hari ini ada acara pembukaan perusahaan cabang baru kedua orang tua Ameldita yang didirikan dinegara Brunei, kebetulan Amelditalah pemegang perusahaan tersebut, mau tidak mau Ameldita harus menerimanya, karena dialah satu-satunya pewaris keluarga pranata, tentunya dengan bantuan sang suami tercintanya.


"Kak apakah ku sanggup menjalankan perusahaan papa? Aku sedikit ragu kak..." Kata Ameldita disela-sela melangkahkan kaki seraya menggandeng tangan suaminya, mereka nampak serasi bagaikan raja dan ratu, dengan gaun mahal rancangan designer terkenal didunia. Memiliki warna yang senada dengan sang suami yaitu warna navy.


"Yakinlah sayang, semua akan berjalan lancar, jangan ragu ku akan selalu membantumu sayang..." Ucap Alghi mencium kening istrinya.


"Terimamakasih suamiku tersayang...sudah mendukungku dalam segala hal" Kata Ameldita menatap wajah tampan suaminya.


"Terimakasih doang...???" Alghi menunjuk pipinya.


Ameldita paham betul apa yang diinginkan suaminya, dia pun langsung mengecup pipi kiri dan kanan suaminya, lalu tersenyum.


"I love you more than anything..." Kata Alghi mengusap pipi yang memerah sang istri.


"Me too..." Ucap Ameldita.


Dan akhirnya mereka menasuki ruangan mewah nan megah itu, disana sudah banyak tamu undangan yang hadir, begitu pun dengan kedua orang tua mereka sudah berada disana.


Acara pembukaan cabang persahaan baru pun dimulai, Papanya Ameldita memberi sambutan dan penyerahan perusahaan tersebut atas nama Ameldita Pranata Pratama. Semua orang bertepuk tangan ikut berbahagia serta mendukung Ameldita dan mengucapkan selamat.


Setelah itu mereka menikmati acara selanjutnya, seperti makan, berdansa dan juga bernyanyi sesuai kemampuan masing-masing.

__ADS_1


"Sayang, apa kau merasa lelah? " Kata Alghi melirik istrinya yang nampak gelisah.


"Sedikit kak..." Kata Ameldita.


"Kalau begitu kita ke ruang istirahat saja ya...makan sesuatu dulu sayang, dari tadi kau belum makan, takut masuk angin." Ucap Alghi khawatir, dan sekarang-sekarang ini etah kenapa Ameldita kelihatan tak nafsu makan, maunya dipelukkin terus dan sedikit sensitif, jadi sebisa mungkin Alghi tidak berbuat kesalahan.


"Baiklah, tapi pamit dulu sama papa mama, takut Meldi ketiduran, sudah malam juga ni..." Sahut Ameldita.


"Ok sayang..." Dan mereka pun pamit kepada kedua orang tuanya, sementara kakek dan nenek mereka sudah pulang duluan, karena tidak kuat berada dipesta terlalu lama. Mereka pun berjalan menuju ruangan khusus.


"Kak...aku mau makan mie pedas..." Kata Ameldita seraya mendudukkan dirinya disofa.


"What mie instan maksudnya? Atau mie apa sayang?" Kata Alghi heran, karena mana ada dipesta seperti ini mie instan.


"Iya mie instan buatan kak Al sendiri..." Ucap Ameldita serius, sambil menatap layar handphonenya.


"Ja-jadi kak Al gak mau buatin, ya sudah ku gak akan makan males..." Ucap Ameldita cemberut lalu merebahkan badannya dikasur yang tersedia disana.


"Maksudku bukan begitu sayang, tapi kita harus pulang dulu ke rumah baru membuat mienya, bagaimana? Sekarang makan yang ada saja dulu, biar perutnya terisi ya..." Ujar Alghi berusaha membujuk istrinya, yang sedang merajuk. "Salah lagi kan haduuuh..." Guman Alghi dalam hatinya.


"Ya sudah Meldi mau cari makanan sendiri, jangan ikutin Meldi...!" Kata Ameldita, dia bangkit dari rebahannya, lalu keluar dari ruangan itu.


"Buuuk..." Ameldita menabrak seseorang hingga minuman orang itu tumpah dan terkena baju orang itu sendiri.


"Eh sorry, sorry...gak sengaja..." Ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


"Meldi...!"


"Ricard...!"


Mereka sama-sama terkejut, tak menyangka bertemu lagi, setelah kejadian penculikan beberapa bulan lalu, mereka tak pernah lagi bertemu, bahkan Ameldita belum sempat mengucapkan terimakasih pada Ricard atas bantuan penyelamatan dirinya waktu itu. Hari ini terpaksa juga Ricard datang ke acara peresmian perusahaan Ameldita biasa menggantikan kehadiran kedua orang tuanya dikarenakan mereka sibuk.


Tadinya Ricard tak ingin menemui Ameldita, cukup dia tahu saja bahwa Ameldita kini hidup bahagia bersama suaminya, tak sanggup bertemu tatap dengannya, karena rasa cinta itu masih tersimpan dihati terdalamnya.


"Apa kau baik-baik saja..." Ucap Ricard, karena dia melihat wajah Ameldita ditekuk, tak seperti yang tadi didepan podium nampak tersenyum mengembang bersama suaminya kini terlihat kusut bagai kain tak disetrika.


"Seperti yang kau lihat ku baik-baik saja..." Kata Ameldita berusaha terlihat normal tak ingin terlihat menyedihkan didepan mantannya yang susah move on itu.


"Oke...so mau kemana terburu-buru..dan dimana suamimu?" Tanya Ricard menatap wajah cantik Ameldita, hatinya masih saja merasa terpikat kalau memandang wajah Ameldita, rasa sesal itu masih menghantuinya hingga kini.


"Ma-mau kesana, dan suamiku ada lagi diruangan istirahat..." Jawab Ameldita menunjuk ke tempat makanan, dan menunjuk ke arah khusus room.


"Kenapa membiarkanmu sendiri, apa dia tidak belajar dari pengalaman yang lalu?" Ucap Ricard kesal terhadap Alghi, selalu saja lengah, dia khawatir kejadian yang tak terduga terulang lagi, karena dia tahu pasti siapa Ameldita, selalu diincar para musuh disekelilingnya.


"Tak apa-apa, cuma sebentar ko, dia akan menyusul, ku kesana dulu, nikmatilah pestanya tuan Ricard, dan terimakasih, waktu itu sudah menyelamatkanku, so sorry baru sempat mengucapkannya." Ucap Ameldita menangkupkan kedua tangannya didepan dada, lalu dia membalikkan badannya maksud mau pergi ketempat makanan, namun etah kenapa kakinya kesandung dan tiba-tiba hampir terjatuh, untung saja Ricard berusaha menahannya tubuhnya.


"Mel hati-hati...kenapa dari dulu kau masih seperti ini, ceroboh dan tak melihat apa yang ada didepan matamu." Tutur Ricard, memegang tangan Ameldita dan menahan pinggangnya supaya Ameldita berdiri lagi dengan tegap.


Dan tiba-tiba saja tangan Ricard ada yang menghempaskannya dengan kasar beserta suara bariton yang menggema. "Lepaskan istri saya tuan Ricard Ricardo...!kenapa kau selalu ada disekitar kami, apa pekerjaanmu sudah kurang...?"


Ricard mengibaskan tangannya lalu memasukkan kedalam saku celananya. "Tentu saja untuk melindungi orang yang ku cintai, karena suaminya tidak becus menjaga dia dengan baik..." Tegas Ricard dengan suara yang meninggi dan menatap tajam ke arah Alghi."

__ADS_1


"Ternyata sampai detik ini kau masih belum move on, apa tidak ada lagi wanita yang menginginkanmu tuan Ricard...jauhi kami mulai saat ini, jangan pernah muncul lagi dihadapan kami...mengerti...!" Ucap Alghi mengeraskan rahangnya sementara tangannya merangkul bahu sang istri dengan pisesif.


__ADS_2