
"Lalu bagaimana keadaan putri kita?" Ucap papa Aldhiando cemas dan sedih bukan main, baru saja dia akan mendapatkan cucu, tapi takdir Tuhan belum mengizinkannya untuk menimang cucu, semua gara-gara penjahat itu. Dia mengepalkan kedua tangannya, belum diketahui siapa dalangnya, semua masih dalam penyelidikkan.
"Alhamdulillah dia sudah melewati masa kritisnya, kalian boleh menemuinya setelah kami memindahkan ke ruang rawat, tapi jangan berkerumun cukup dua orang saja, bergantian." Kata Dokter.
Papa Aldhiando pun berjalan menghampiri Alghi dan memeluknya memberi kekuatan.
"Sudahlah Al, Tuhan tahu yang terbaik untuk kalian, kalian masih muda, masih banyak kesempatan, jadi jangan bersedih lagi." Ucap papa Aldhiando memeluk menantunya.
"Iya sayang, jangan bersedih lagi, berikan semangat pada istrimu, kau adalah kekuatannya." Ucap mama Fiadra, mengelus punggung sang putra. Mama Fiandra benar-benar sangat sedih jadi teringat ketika dia kehilangan seorang bayi kembaran Alghi, dia meninggal pas dia lahir, lalu dilanjutkan dengan kepergian Adik perempuan Alghi yang meninggal juga saat dia dilahirkan, hingga Alghi hidup jadi anak tunggal yang manja, dan kini calon cucunya yang tidak terselamatkan, benar-benar membuat keluarga besar Alghi terpukul.
Setelah semua keluarga menjenguk Ameldita yang masih belum sadar akibat pengaruh obat, kini Alghi memasuki ruang rawat sang istri, dia duduk dikursi yang berada disamping kanannya, dia membelai rambut sang istri mengecup keningnya, lalu memegang tangannya perlahan, menangis sedih.
"Sayang...maafkan tak bisa menjaga kalian..." Kata Alghi sendu, dia pun mencium punggung tangan sang istri, dan mengelus perut ratanya.
Berulang kali mengucap kata maaf dan berurai air mata, hingga membangunkan si empunya. Ameldita membuka matanya, dia menatap ke arah tampan suaminya yang berurai air mata.
"Sayang sudah bangun...Alhamdulillah..." Kata Alghi mengucap syukur.
"Kak Meldi gak apa-apa jangan bersedih lagi, kak Al lihat kan aku baik-baik saja..." Ucap Ameldita tersenyum seraya memegang tangan suaminya.
__ADS_1
"Maafkan sayang, tak bisa menjaga kalian dengan baik, maafkan..." Kata Alghi mengecup kembali keningnya.
"Ka siapa yang dimaksud kalian, aku gak paham..." Ucap Ameldita menatap wajah suaminya yang nampak sendu.
"Sayang kau baru saja ke guguran, anak kita tak dapat diselamatkan..." Kata Alghi, menatap wajah sang istri yang mulai berkaca-kaca.
"Kak Al apakah itu benar...ja-jadi aku hamil, dan anak kita..." Ucap Ameldita, tak kuasa nahan tangis akhirnya dia meraung didada sang suami, sedih belum menyadari kehamilannya, tapi disaat ia tahu, ia sudah kehilangan calon anaknya.
"Benar sayang, kita harus ikhlas mungkin Tuhan punya rencana lain, kita ambil hikmahnya ya..." Kata Alghi memeluk erat sang istri.
"Tapi Meldi sangat sedih kenapa tidak menyadari kehamilanku sendiri, Meldi benar-benar tak berguna, orang tua kita sangat menharapkan kehadiran anak kita, pasti mereka bersedih..." Isak Ameldita, dia memukul-mukul dadanya sendiri, Alghi berusaha menghentikannya.
"Sayang jangan begini, kau jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua takdir dari Alloh, kita harus menerimanya dengan hati yang lapang, kedua orang tua kita bersedih namun mereka memahami semuanya, apa lagi mamaku sayang, mama pernah ditinggal dua anak, kembaranku dan juga adikku, jadi jangan bersedih lagi ya, kita berdo'a semoga kita diberikan yang lebih baik lagi." Kata Alghi panjang kali lebar, agar istrinya bisa memahami keadaan yang sudah dituliskan oleh yang Maha Kuasa.
Alghi dengan cepat menghubungi dokter yang menangani Ameldita, dia ingin mengetahui bagaimana kondisi istrinya, dan tak menunggu lama dokter pun datang, Dokter Eren langsung memeriksa Ameldita dengan teliti.
"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik, cuma masih butuh istirahat total dan perawatan selanjutnya, jadi belum boleh pulang ya...sabar semoga cepat pulih, semangat nona..." Kata Dokter Eren tersenyum ramah.
"Amiiin...terimakasih dok..." Kata Alghi dan Ameldita.
__ADS_1
"Sama-sama, ini resep obatnya ya, makanlah dulu nona supaya lekas sembuh..." Ucap Dokter Eren, kedimuan dua berlalu keluar.
"Sayang makanlah, ku suapin ya..." Kata Alghi.
"Tapi pasti rasanya gak nyaman kak..." Tolak Ameldita.
"Tidak apa-apa sedikit saja sayang, biar cepat pulih, kasian sama perutmu belum terisi." Kata Alghi membujuk sang istri yang manjanya mulai keluar.
"Baiklah...sedikit ya..., kak apa benar mama kak Al pernah kehilangan bayi?" Kata Ameldita ditengah-tengah menerima suapan bubur dari suaminya.
"Iya sayang, mereka meninggal dihari mereka terlahir, sedihkan kasian kedua orang tuaku, dan jadilah aku anak tunggal yang paling ganteng..." Ucap Alghi seraya tersenyum dan mengusap bubur yang menempel dibibir istrinya dengan jempol.
Ameldita terkekeh geli, mendengar suaminya yang percaya diri itu. " Kasian mama harus kehilangan mereka, Kak Al percaya diri sekali, iya kata mama ka Al, memang paling ganteng sedunia."
"Lalu menurut istri tercintaku, bagaimana?" Kata Alghi menggoda.
"Mmm...mau tahu banget atau mau tahu saja?" Ucap Ameldita tersenyum, sedikit terhibur dengan kehadiran sang suami romantisnya.
"Dua-duanyalah, jujur katakan...!" Kata Alghi genit dan mengerlingkan matanya sebelah.
__ADS_1
"Ya handsomelah kan suami aku...tapi mesuuum gak tertolong..." Kata Ameldita sambil tertawa.
Mereka pun tertawa bahagia, sedikit melupakan kesedihannya. Alghi tiduran disamping Ameldita, dia memeluk sang istri dan membelainya, berusaha memberi kenyamanan agar sang istri mau beristirahat dengan baik sesuai dengan saran dokter.