
BAB 6
Menjelang sore hari, tiba sudah kedua orang tuanya Alghi dirumah setelah hampir dua pekan berada di kota Paris untuk menjalankan bisnisnya. Giandero Pratama bersama istri tercintanya Fiandra Elisabet ingin segera pulang dengan cepat, sebab mereka punya tugas untuk mencari anak sahabatnya yang melarikan diri dari rumahnya, dan kemungkinan anak itu yang bekerja jadi pelayan dirumah mereka karena mereka baru saja kedatangan pelayan baru, ya maksudnya memang untuk menjadi asisten pribadi anak simata wayangnya yang so sibuk itu, maklum seorang ceo diperusahaan Gian Pratama Grup.
Ya tapi maksudnya pelayan yang sudah lama bekerja mau diangkat menjadi asisten pribadi anaknya sedangkan yang baru ditempatkan sebagai art biasa, begitulah rencana mereka. Rencana pun tak sesuai dengan kenyataan ternyata Alghi mengambil pegawai baru.
Namun sejak kemarin sahabatnya mengabari bahwa putri sahabatnya melarikan diri ke negaranya dan bekerja sebagai tkw, tak menutup kemungkinan pelayan baru itu adalah putri sahabatnya yaitu calon mantunya.
" Pah mudah-mudahan saja pegawai baru kita adalah putri sahabat kita." ujar Fiandra penuh harapan.
"Amiiin...semoga saja, jadi kita tak susah payah mencarinya." jawab Gian sambil tersenyum.
"Tapi kata Alghi dia mengambil pelayan baru untuk menjadi asistennya pah, gimana dong?
" Bagus itu mah, berarti Alghi tertarik dengan anak sahabat kita, gimana gak tertarik coba Amel kan cantik banget, lihat saja tu photonya apa lagi aslinya, iya kan?"
"Mudah-mudahan saja Pah, jadi tak perlu lagi dipaksa, tapi apa yakin itu putri sahabat kita?"
"Kita lihat saja sampai mereka datang, karena melihat datanya sama seperti nama putri sahabat kita mah." sahut Gian seraya merapikan bajunya, setelah mereka siap dengan pakaian dinnernya, mereka pun segera turun ke bawah, sambil menunggu Alghi, biasa orang kaya mah mau dinner dirumah pun harus sempurna.
"Mana sih mereka ko belum datang juga, lama banget, mama kan kangen berat sama Alghi pah."
"Sabar mah, mama ko seperti tak mengenal Alghi, dia kan so sibuk, tapi terakhir chat katanya udah on the way."
Pukul 8 tepat setelah ada acara meeting mendadak dikantor, akhirnya Alghi beserta asisten tak lupa sang pengawal setia mengekor dibelakangnya, sampai juga dirumah.
"Assalamualaikum..." sahut Alghi seraya mencium tangan kedua orang tuanya, jangan ditanya lagi mama Fiandra langsung saja memeluknya dengan erat mencurahkan rasa kangennya terhadap putra kesayangannya, maklum anak satu-satunya.
"Waalaikum salam sayang..." Jawab kedua orang tua itu kompak.
__ADS_1
Setelah selesai perpeluk ria mereka menatap kearah pegawai baru yaitu asisten Alghi, sesaat mata mereka tak berkedip, mereka memandang dari atas hingga bawah, perkiraannya tak sesuai dengan harapan, ternyata asisten Alghi bukanlah putri sahabatnya, lihat saja penampilannya pun jauh dari kata menarik. Tentu saja karena mereka belum tahu yang sebenarnya siapa wanita itu.
"Mah Pah ini asisten Alghi...mamah pasti sudah tahu kan namanya..." sahut Alghi seraya menoleh ke arah Ameldita yang nampak grogi.
"Oh iya selamat datang Ameldita kami adalah kedua orang tuanya Alghi, baik-baik ya kerja sama Alghi, bantu dia, semoga kamu betah kerja disini." sahut kedua orang tuanya seraya mengulurkan jabat tangan disertai senyuman ramah, ya mereka memang rendah hati selalu baik pada semua pegawainya, makanya para pelayan disitu pada betah kerjanya.
"Terimakasih tuan, nyonya, insya Alloh saya usahakan..." jawab Ameldita seraya tersenyum dan menjabat tangan mereka.
"Anton apa kabarmu?" ucap Gian seraya menepuk pundak Anton yang sedari tadi melongo menyaksikan drama keluarga bahagia itu, meski pun sesekali dia membalas chat dari istri tercintanya.
"Alhamdulillah baik tuan." jawab Anton dengan senyum ramah sambil memasukan handphone ke saku celana.
"Semangat Anton jagain dan bantu terus Alghi ya." uap kedua orang tua itu.
"Siap tuan, nyonya..."
"Eh mari-mari kita makan dulu, mama lapar ni nungguin kamu dari tadi Al..."
"Apa kau akan tetap berdiri disitu..." suara bariton itu mengagetkannya. Nampaknya Alghi memperhatika gerak-gerik wanita impiannya itu.
"Meldhi mari sini makan bersama, jangan sungkan..." ajak Fiandra dan Gian dengan ramah.
"Baiklah, terimakasih..." sahut Ameldita seraya menghampiri kursi disamping Anton yang berhadapan dengan Alghi, sesekali Ameldita membenahi kacamatanya, dia grogi karena tuan mudanya sedari tadi menatap tajam ke arahnya.
Tentu saja dia sudah terbiasa duduk makan dengan elegan tidak seperti orang rendahan yang kaku, secara dia terlahir dari keluaraga yang berpendidikan.
Ameldita mencoba menyuapkan makanan yang sudah disajikan namun kenapa rasanya sangat pedas campur pahit dan asin luar biasa, dia pun meminum juice didepannya namun kenapa rasanya sama, dalam suapan ketiga dia tidak tahan lagi dia pun dengan tergesa meninggalkan kursinya dan saat ia berjalan dia terjatuh dengan keras hingga keningnya terkena ujung meja yang terbuat dari kaca, gimana tidak terjatuh kakinya si Sari yang sedari tadi berdiri menghadangnya seolah disengaja, ya karena pelayan yang bertugas menyajikan makanan dilarang meninggalkan tempat, harus menunggu sampai acara makan habis.
"Awwww...." Ameldita meringis kesakitan dengan menahan mulut yang penuh dengan makanan hampir menyembur untung ditutup pakai tangannya, niat hati ingin ke wastafel untuk memuntahkannya.
__ADS_1
Otomatis semua orang menatap ke arahnya dengan cepat kilat Alghi menghampirinya dengan penuh kecemasan, orang tuanya pun ikut menghampiri begitu pun dengan Anton.
"Kamu tidak apa-apa, ya ampuuuun...!" Teriak Alghi seraya berjongkok dan memegang kedua bahu Ameldita, kacamata tebal Ameldita pun jatuh etah kemana sesaat netra tersebut bertemu saling pandang, mata bulat yang indah dihiasi bulu mata yang lentik percis gadis idamannya, namun nampak air mata mulai berlinang karena menahan rasa sakit akibat terjatuh. Ameldita pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya, sebab mulutnya masih terisi dan ingin sekali menumpahkannya sudah tak tahan dengan rasanya.
Dan tes ada darah menitik dilengan kemeja Alghi, dia pun terkejut dan langsung memeriksa kening Ameldita. "Ya ampun kening kamu berdarah, kena ujung meja sepertinya..."
Dengan sigap Anton pun mengambilkan tisu dan memberikannya kepada Alghi, ia langsung mengusap darah dikening Ameldita penuh dengan rasa cemas hatinya seolah merasakan rasa sakit yang diderita gadis itu.
Ameldita pun berdiri dengan bantuan Alghi dan langsung berjalan ke arah wastafel, ia segera memuntahkan makanan yang sedari tadi bersemayam dimulutnya, sementara Alghi dan yang lainnya mengekor juga dibelakang.
"Aku tidak apa-apa tuan, silahkan lanjut makannya jangan hiraukan saya, sorry acara makan malamnya jadi agak berantakan." Ujar Ameldita terbata seraya mencuci mulut dan mukanya, dia meringis merasakan perih dikeningnya.
"Jangan banyak bicara, Totonnnnn...tolong bawakan kotak P3K." ucap Alghi sambil .menuntun lengan Amedita untuk duduk disofa yang tak jauh dari ruang makan itu, sementara orang tuanya pun nampak khawatir terhadap gadis itu, mereka langsung menghubungi dokter karena takut lukanya dalam, dan mereka merasa heran melihat rasa perhatian Alghi yang begitu dalam terhadap Ameldita, mereka berpikir tak mungkin kan kalau Alghi jatuh cinta secara selera Alghi tu tingkat tinggi atau mungkin hanya kasian saja kali.
"Kamu kenapa selalu ceroboh, kalau jalan tu pake mata, kan sudah sering saya mengatakannya." ucap Alghi mulai lagi mengesalkan hati Ameldita.
"Tapi tadi pas mau melangkah kakinya Sari menghadang jadi terjatuh." Ameldita merenggut sambil sesekali mengusap air mata dan ingusnya.
"Benarkah?" Alghi mengepalkan tangannya, "Sial dia lagi...berani sekali dia melukai orang yang ku cintai, awas saja akan ku beri petingatan, benar-benar keterlaluan." Gerutunya dalam hati seraya menatap tajam penuh kebencian ke arah Sari yang sedari tadi berdiri dan menampakan wajah seolah-olah ikut prihatin.
"Iya...tapi tuan jangan memarahinya kasian, mungkin dia tak sengaja melakukannya, seperti yang tuan bilang ku berjalan tak pakai mata, iya kan...?" Tutur Ameldita sambil menatap kedua mata tuanya, deg jantung Ameldita etah kenapa merasa tak karuan, begitu pun dengan Alghi, mereka sama-sama membisu dalam sesaat.
"Meldi ayo lanjutkan lagi makannya sambil menunggu dokter datang." Ajak mama Fiandra mengagetkan kedua insan itu.
"Ayo..." ajak Alghi pula, seraya berdiri dan memasukan tangannya ke saku celana, kemudian berjalan ke arah meja makan begitu pun dengan Ameldita, ia mengekor dan duduk kembali.
Ameldita brigidig enggan lagi memakan makanannya itu, masih terasa bagaimana dimulutnya, dia pun terdiam dan bingung apa yang harus dimakan.
"Meldi ayo makan lagi, isi perut dulu." Pak Gian pun menyahut.
__ADS_1
"Tapi saya sudah kenyang, terimakasih" jawab Ameldita seraya tersenyum dan sedikit memegang keningnya yang mulai berdenyut nyeri.
"Lho perasaan tadi kamu baru makan tiga suap itu pun kamu muntahkan, tu masih penuh piringmu, kenapa?" Sahut Alghi merasa heran karena dari tadi ia memperhatikannya, sementara kedua orang tua Alghi dan juga Anton saling pandang, segitu perhatiannya Alghi terhadap gadis itu, etah kenapa?