
"Bos istri anda pergi keluar gara-gara photo ini, mungkin dia pikir anda masih mengenang mantannya...iya kan? Dan bos jangan berpikir macam-macam tentang pemandangan yang tadi anda lihat, bisa saja mereka bertemu secara kebetulan, coba anda renungkan...!" Ucap Anton menatap bosnya yang kalut.
"Antooon...kita ketempat tadi, istriku disana...!" Teriak Alghi saat menyadari kebodohannya.
Beberapa saat kemudian Alghi sampai didanau tersebut, dimana tadi istrinya berada, namun tak terlihat ada istrinya disana.
"Kemana istriku Tooon...?" Teriak Alghi cemas bukan main.
"Sebentar bos ku cari dulu ke arah sana ya..." Kata Anton tak kalah panik.
Mereka berkeliling dan bertanya pada orang-orang disana, tapi mereka bilang tidak tahu, Alghi dan Anton pun naik mobil kembali.
"Ricard..., pasti kau membawa istriku kan? Bedebah beraninya kau mengusik kembali kehidupan kami...!" Gerutu Alghi mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangannya, dia berprasangka buruk terhadap Ricard, karena tadi terakhir ditinggalkan Ameldita masih bersama Ricard.
Alghi ke bingungan, dia pun minta nomor Ricard ke papanya, lalu menghubungi nomor tersebut, namun alih-alih tak diangkatnya, begitu pun nomor sang istri sudah tak aktif, dan dilacak sinyal keberadaannya pun tak terditek, lalu dimana dia?
"Antooon kita jalan, dan sambil dilihat kiri dan kanan siapa tahu ada petunjuk, karena istriku tidak membawa mobil..." Ucap Alghi mulai khawatir dan etah kenapa jantungnya dari tadi terasa sakit bukan main dia pun mengelus dadanya perlahan.
"Bos jalan tertutup sama gerombolan orang-orang dekat jembatan, etah kenapa?" Kata Anton menghentikan mobilnya.
"Oh my God ada apa sih? Coba kita turun dan lihat...!" Kata Alghi.
Mereka pun berjalan menuju gerombolan orang tersebut, lalu Anton mencoba bertanya pada salah satu dari mereka: "Pak maaf ada apa ya, kenapa mereka berada ditengah jalan tak beraturan dan saling berdesakkan diarea jembatan, bukankah itu berbahaya?"
"Itu tadi ada seorang wanita yang terjatuh ke bawah jembatan mungkin karena terpeleset, disana kan licin bekas hujan pak, dan kata orang-orang wanita itu sedang hamil, kasian kan..., mereka mau menolongnya dan mencari keberadaan wanita itu, sudah ada beberapa orang yang turun kesana pak..." Tutur orang tersebut.
__ADS_1
Deg jantung Alghi seakan berhenti berdetak, lemas dan lututnya bertumpu pada trotoar, dia takut itu istrinya, istri tercintanya, dia menyesal tadi sudah meninggalkannya, bagaimana kini nasib sang istri belum ditemukan.
"Anton apakah itu istriku?" Tanya Alghi gemetar.
"Bos tenang, semoga bukan..., biarkan tim SAR melakukan tugasnya..."Kata Anton berusaha menenangkan bosnya.
"Tidak...aku harus mencarinya ton ke bawah..." Kata Alghi, dia bangkit lalu melempar jas yang dikenakannya, kemudian dia turun ke bawah jembatan dimana disana ada sungai yang memiliki arus deras, siapa pun yang terlempar kesana pasti akan hanyut terbawa.
Dan ketika Alghi berusaha untuk terjun kesungai itu, tiba-tiba muncul seseorang dari bawah air, rupanya dia berusaha berenang disungai itu, untuk mencari wanita yang terjatuh tadi, percis didepannya, laki-laki itu bangkit lalu melayangkan sebuah pukulan ke wajah Alghi, melampiaskan kemarahannya sambil berteriak.
"Semua gara-gara kau brengsek, kau suami yang tidak bisa menjaga istrinya, yang hanya bisa menyalahkannya, dan lihat sekarang dia terjatuh ke sungai, aku tak bisa menemukannya, aku tak berhasil menyelamatkannya, aaa...!" Teriak pria itu emosi dengan mata dan hidung memerah karena menangis dan terkena air sungai, yang ternyata dia adalah Ricard, dia tadi mengikuti Ameldita dengan mobilnya, namun ketika dia melihat Ameldita berjalan ditepi jembatan, dia turun karena takut Ameldita terjatuh, dan benar saja ketika dia sampai disana tubuh Ameldita sudah melayang dan terjatuh ke sungai itu.
Ricard tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak minta tolong dan memanggil tim SAR untuk menyelamatkannya, setelah itu dia ikut turun ke sungai berusaha mencarinya sekuat tenaga.
Alghi pun sempat membalas pukulan Ricard, karena tak terima tiba-tiba orang memukulnya, namun tubuhnya lemas setelah mendengar apa yang dikatakan Ricard.
"Hentikan tuan, jangan bertindak bodoh...disana arus air sangat deras, itu sangat berbahaya...!" Teriak Anton mencekal tubuh Alghi yang berusaha berlari ketengah sungai serta datang para pengawal lainnya untuk membawa Alghi ke tepi sungai, Alghi tetap meronta ingin mencari istrinya dengan tangan sendiri, bukan cuma mengandalkan orang lain.
Iya tadi Anton sempat nelpon papanya Alghi, jadi kini berdatangan para pengawal dan tim polisi untuk mencari keberadaan istri tuan mudanya, dan papanya Alghi pun sudah datang kesana.
"Hi lepas, lapaskannn..., biarkan aku mencari istriku, kalian semua jangan menghalangi, minggir...!" Teriak Alghi mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan para pengawal yang menghalanginya, dia seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, menendang dan memukul siapa pun yang mencekal tubuhnya, hingga papa Ghian terpaksa membius Alghi dari belakangnya, karena itu satu-satunya cara untuk melumpuhkan putra kesayangannya yang sedang dilanda kekalutan dan rasa emosi.
"Sorry Al, ini semua demi kebaikanmu dan melancarkan pencarian istrimu, biarkan mereka yamg bertugas mencarinya, semoga istrimu dalam keadaan baik-baik saja, pengawal bawa dia ke rumah, jangan biarkan dia keluar, jaga baik-baik...!" Kata papa Ghian.
Ricard terduduk ditepi sungai itu, meremas kepala dan mukanya kasar, menangis sedih, ini lebih mentakitkan dibandingkan ketika dia ditinggal menikah oleh Ameldita, sampai saat ini cinta itu masih tersimpan dilubuk hatinya yang paling dalam, kali ini dia benar-benar menyesal tak bisa menyelamatkan sang pujaan hatinya, masih terbayang ketika tubuh Ameldita jatuh melayang ke sungai, kini hancur sudah jiwa dan raganya, seakan tak ingin hidup lagi.
__ADS_1
"Ameldita kenapa semua berakhir seperti ini? Tidak cukupkah sakit ketika aku tidak memilikimu, ketika engkau jadi milik orang lain, ini benar-benar menyakitkan, aku tak sanggup lagi bertahan, aaaa...!" Teriak Ricard menggema, hingga orang-orang menoleh ke arahnya, namun dia tak peduli.
Papa Ghian menghampirinya dengan perlahan, dia kasian melihat keadaan Ricard yang menyedihkan, dia tahu anak sahabatnya ini adalah rival putra kesayangannya, namun meskipun demikian dia tak tega melihatnya seperti ini.
"Berdo'alah semoga keadaan Ameldita baik-baik saja, kau jangan seperti ini, biarkan tim SAR melakukan pencariannya, tenangkan dirimu nak...!" Ucap papa Ghian mengelus bahu Ricard yang basah kuyup, dia memahami bagaimana perasaan Ricard saat ini.
"Om aku menyesal telah membiarkan anak om menikahi kekasihku, aku pikir saat itu, anak om akan menjaganya dengan baik, dan aku masih bisa memantaunya dari jauh, meskipun itu menyakitkan, tapi om lihat betapa cerobohnya anak om itu, karena kebodohannya aku kehilangan orang yang paling ku cinta, aku kehilangannya om...!" Kata Ricard sendu, dia menangis meratapi semuanya, bagaimana bisa Ameldita nasibnya seperti ini, terhanyut disungai dalam keadaan hamil.
Papa Ghian pun bingung apa yang harus dikatakan pada kedua orang tua Ameldita, pasti mereka bersedih dan mungkin murka, karena mereka kehilangan putri satu-satunya dalam keluarga mereka, namun apa pun yang terjadi papa Ghian harus memberitahunya.
Dia pun langsung menelpon kedua orang tua Ameldita, bahwa Ameldita terjatuh ke sungai dan masih proses pencarian.
"Apa...? Putriku terjatuh ke sungai? Bagaimana bisa?" Ucap papa Aldhiando mengeraskan suaranya, karena shock mendengar berita buruk ini.
"Ya Ando, dan saat ini kami masih mencarinya..." Kata papa Ghian gemetar, dia pun merasa shock karena telah kehilangan putri menantunya.
"Ya Alloh, kenapa bisa seperti ini, kami sekarang menuju kesana...ok bye..." Ucap papa Aldhiando tergesa-gesa.
"Pah ada apa? Apa yang terjadi pada putri kita?" Tanya mama Liana yang baru keluar dari toilet.
"Mah kita harus pergi sekarang, kita cari putri kita, katanya Ameldita terjatuh ke sungai." Jawab papa Aldhiando panik, jantungnya berdebar tak karuan.
"Apaaa...? Putriku terjatuh ke sungai? Ko bisaaa...? kasian putriku pah, pasti kedinginan belum lagi babynya, ya Alloh tolong selamatkan putriku." Kata mama Liana histeris dia shock berat, tubuhnya terkulai lemas dan langsung meraung dalam tangisnya.
"Mah tenang, anak kita pasti selamat, papa yakin Alloh akan melindunginya..." Ucap papa Aldhiando berusaha tegar walau pun hatinya rapuh mendengar berita ini.
__ADS_1
Tak berpikir panjang pak Aldhiando bersama mama Liana dan sang kaki tangan juga para pengawal, mereka bertolak ke negara Brunei Darussalam, menggunakan jet pribadi, menuju dimana sang putri mendapatkan musibah tersebut. Mama Liana terus menangis tiada henti sambil sesekali dia mengucap kata Istighfar dan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa.