
"Bukan cinta sayang tapi itu obsesi, rasa serakah dan mencari kesenangan saja, dia mencari mangsa untuk dijadikan bank berjalan, jadi seperti itu menghalalkan segala cara, aku sangat mencintaimu sayang, tak akan pernah ku meninggalkanmu, sampai maut memisahkan kita, I love you so much..." Kata Alghi memeluk erat istrinya, tak peduli dengan supir yang sedang mengemudi dan mungkin mendengar serta melihat pembicaraan mereka, dunia terasa milik berdua yang lain ngontrak ha ha.
Beberapa saat kemudian mereka sampai dirumah, Alghi turun dari mobil sambil menggendong sang istri yang nampak lemah, depan pintu sudah ada nenek dan mama Alghi yang menunggu, mereka sangat khawatir dengan keadaan Ameldita, sejak ada kabar penculikkan itu mereka menangis sedih, tak tenang menunggu kabar, karena kasian Ameldita selalu mendapat musibah seperti ini, padahal tim pengawalan diperketat, selalu saja kecolongan.
"Sayang apa yang terjadi dengan istrimu? Dia baik-baik saja kan?" Kata nenek dan mama Fiandra.
"Dia baik-baik saja mah, nek, cuma dia shock berat dan sedikit lemas tubuhnya." Kata Alghi membawanya ke sofa, dia membaringkan istrinya disana.
"Ya ampun tangannya lecet Al, kenapa bisa seperti ini?
Sari...tolong ambilkan kotak P3K...!" Kata Nenek Elisa dan mama Fiandra cemas sekali.
"Baik nyonya..." Kata Sari.
Sementara Sari menggerutu dalam hatinya: "Sial selalu saja selamat si Ameldita ini, dan mengesalkan juga selalu dimanjakan, eu eu euh..., ingin sekali ku lenyapkan saat ini juga, awas kau...!" Sari mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang...pasti perih dan sakit ni..." Kata mama Fiandra meraih kedua tangan menantu kesayangannya.
"Tadi istri Al diikat tangannya mah terus mulutnya ditutup pakai lakban, makanya seperti ini, kasian kan mah...Al merasa bersalah..." Sahut Alghi sedih.
"Benar-benar keterlaluan si Dina ini, berani dia mengusik singa yang sedang tidur, hukum dia seberat-beratnya..." Kata Nenek Elisa ikut geram, begitu pun dengan mama Fiandra.
"Semua sudah tertangkap nek, mah, papa sedang menangani semuanya, tadi ada bantuan juga dari Ricard...sehingga memudahkan kami membekuk mereka." Tutur Alghi seraya mengobati tangan Ameldita perlahan.
"Apa Ricard...? Yang dulu sempat kau berkelahi dengannya? Anaknya sahabat papamu bukan?" Tanya mama Fiandra penuh selidik.
"Iya mah rivalnya Al..mantannya..." Ucap Alghi menoleh ke arah Ameldita yang sedikit meringis menahan perih ditangannya.
"Meldi mah..." Sahut Ameldita.
__ADS_1
"Jadi anak mama ni cemburu...?" Kata mama Fiandra melirik ke arah Alghi.
"Siapa bilang mah, Al cuma kesal saja kenapa si Ricard yang harus jadi pahlawan kesiangan kita..." Kata Alghi mendengus kesal.
"Namanya juga pertolongan Al, bisa datang dari siapa pun, jangan cemburu lagi, kau sudah memiliki Meldi, Ricard hanya segelintir masa lalu, iya kan sayang...?" Kata nenek Elisa menatap wajah Ameldita.
Ameldita menganggukkan kepala sambil tersenyum, dia tak mau membahas Ricard, takut menyinggung perasaan suaminya.
"Al jangan membiarkan istrimu sendirian, banyak penjahat disekitar kalian, harus lebih hati-hati." Kata mama dan nenek.
"Iya mah, Alghi selalu kecolongan, para pengawal itu dibius mereka juga mah, mereka tak berani mengalahkan secara fisik." Tutur Alghi.
"Licik juga wanita ular itu...! Kata mama Fiandra.
"Sayang...kamu demam, mah istri Al demamnya tinggi..." Ucap Alghi panik seraya meraba kening dan tubuh istrinya.
"Bawa istrimu ke kamar Al, sambil menunggu dokter Imron datang..." Kata nenek Elisa, ikut meraba keningnya Ameldita, dan ternyata benar-benar panas.
"Kak Meldi kedinginan..."Ucap Ameldita dengan tubuh yang gemetar.
"Iya sayang, mari ke kamar..." Kata Alghi mengecup kening istrinya kemudian dia menggendong dan membawanya ke kamar.
Alghi membaringkan istrinya perlahan, lalu dia mengelap seluruh badan istrinya karena Ameldita belum mandi, kemudian memakaikan baju tidurnya dengan telaten. Benar-benar suami yang siaga Alghi ini, patut dicontoh para readers.
Sambil menunggu dokter datang Alghi memeluk istrinya, karena Ameldita tubuhnya gemetaran, dia berusaha memberi kenyamanan, hingga pintu pun diketuk dari luar, dan Alghi bangkit membukanya, ternyata dokter Imron bersama nenek dan mama Fiandra.
"Silahkan masuk Om..."Kata Alghi.
Mereka sangat khawatir dengan keadaan Ameldita, dia demam tinggi tubuhnya menggigil, dokter pun memeriksa dan memberikan obatnya agar dia bisa istirahat.
__ADS_1
Pagi menjelang tiba Alghi sudah terjaga dari tidurnya, dia meraba kening sang istri, sedikit tenang demamnya sudah turun, namun dia masih terlelap karena pengaruh obat, Alghi memutuskan hari ini dia bekerja dirumah saja, menyuruh Anton mengirimkan berkas-berkasnya kerumah, dia tidak tega membiarkan istrinya dalam keadaan sakit.
"Kak...kak..., kak..." Sahut Ameldita meraba-raba kesamping kiri dan kanan.
"Sayang sudah bangun...?" Tanya Alghi yang baru datang dia membawakan semangkuk bubur dan susu coklat hangat kesukaan Ameldita.
"Kak sorry ku kesiangan, kak Al mau kerja kan?" Kata Ameldita berusaha bangkit dari tidurnya.
"Jangan maksain bangun, tenang dulu ya...ini ku bawakan sarapan..." Sahut Alghi, dia mencium kening istrinya, lalu membuatnya duduk dan bersandar dibantal dengan nyaman.
"Kak ku baik-baik saja, kalau kak Al mau kerja pergilah sudah pukul 9 ni, kesiangan..." Ucap Ameldita melihat jam dinding didepannya.
"Sayang...aku bosnya, jadi mau kesiangan atau tidak, gak akan berpengaruh, tenang jangan pikirkan pekerjaan dulu, ayo sarapan ya...kan harus minum obat sayang..." Kata Alghi, sambil memberikan minumannya, lalu dia menyuapkan bubur perlahan.
"Kak ku ke toilet sebentar ya..." Ucap Ameldita berusaha mau turun dari ranjangnya, namun dengan sigap Alghi mengangkat tubuh ramping istrinya, lalu membawanya ke kamar mandi.
Setelah Ameldita diturunkan, dia terkejut karena ditelapak tangannya ada darah yang masih segar.
"Sayang...apa ini? Apa kamu baik-baik saja atau kejadian itu terulang lagi, kau keguguran lagi?" Kata Alghi seraya memerikasa bagian belakang Ameldita, dan dia benar-benar shock dipakaian tidur bagian belakangnya terdapat darah yang membekas dan masih basah.
Alghi memeluk istrinya dan menangis sedih, dia pikir Ameldita keguguran lagi.
"Kak tenang dulu, ini bukan keguguran, ini jadwalku menstruasi, semalam gak keburu memakai pembalut, jadi begini..." Ucap Ameldita mengusap-ngusap punggung Alghi yang sedang menangis.
"What...benarkah? Kita tidak kehilangan buah hati kita lagi? Kata Alghi menatap wajah sang istri.
"Iya kak serius...ku menstruasi, jadi jangan menangis lagi kak..." Sahut Ameldita seraya mengelap aur mata Alghi.
"Alhamdulillah, ku trauma sayang, hati ini sakit, mengingat kejadian itu..." Kata Alghi mengecup seluruh wajah istrinya, padahal istrinya belum sempat cuci muka.
__ADS_1