
BAB 17
"What menikah kontrak?" Ameldita terkejut jadi tuannya itu ingin menikahinya secara kontrak pakai perjanjian yang dibatasi waktu, seperti dinovel-novel itu.
"Siapa yang menyuruhmu protes, diamlah dan jadi anak yang penurut." Sahut Alghi menatap tajam ke arah Ameldita yang nampak terkejut.
"Kenapa...ini tentang hidupku, aku berhak untuk protes." Sahut Ameldita dengan muka yang ditekuk.
"Dan sudah saya bilang kamu tidak bisa menolak pernikahan ini, sudahlah ayo kita berangkat." Ucap Alghi seraya beranjak dari duduknya.
"Iiiih...menyebalkan, selalu saja memaksa, dasar buaya darat...!" Geram Ameldita seraya menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan mengekor tuannya.
"Sabar Mel...turuti saja apa yang direncanakan tuan, semoga kamu bisa melewatinya." Sahut Anton menimpali.
Mereka turun melalui lift menuju ke parkiran, dan Alghi merasa gemas melihat mulut Ameldita dari tadi menggerutu terus, dimaju mundurkan serta membuang muka ketika berhadapan dengannya.
"Awas saja nanti kalau kau sudah jadi istriku, akan ku kurung didalam kamar seharian, akan ku tunjukkan bagaimana buasnya buaya darat itu, ha ha ha..." geram Alghi dalam hatinya seraya senyum-senyum sendiri, dan Anton pun melihat sekilas kelakuan bosnya itu.
"Si bos ini sudah gila kali ya, senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan asistennya, dasar koslet." Ucap Anton dalam hati tentunya sambil geleng-geleng kepala dan memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"Totooon...aku tahu apa yang kamu pikirkan, jangan coba-coba menggibahku."
Anton jadi gelagapan dan berusaha mengelak sambil garuk-garuk kepala tak gatal, macam cenayang saja tu si bos pandai membaca pikiran orang. "Kagak bos, siapa yang berani menggibahmu he he."
"Awas saja gajihmu habis ku potong, cepat bukakan pintu!" Seru Alghi kesal.
"Siap bos, tapi masalah gajih tolonglah nego, jangan lagi dipotong, please..."
__ADS_1
"Tergantung sikap kamu...!"Ucap Alghi seraya masuk ke dalam mobil.
Ameldita pun masuk ke mobil dan duduk didepan disamping Anton yang mengemudi.
"Hai siapa suruh kau duduk disana Mel...kembali ke belakang...!Seru Alghi kesal juga.
"Tak ada yang nyuruh, aku sendiri yang mau, emang kenapa masalah?" Ameldita menyolot.
"Ku hitung sampai tiga, kalau kau tidak duduk dibelakang maka jangan salahkan aku jika aku berbuat nekad ya..." Alghi pun mulai berhitung dan sampai ke angka tiga, namun Ameldita masih kukuh duduk didepan dan tak mempedulikan yang lagi ngoceh seperti burung beo, hingga habis kesabarannya, Alghi pun keluar lagi dan membuka pintu mobil yang didepan, yaitu tempat duduk Ameldita, tanpa pikir panjang lagi Alghi membopong tubuh ramping Ameldita dan didudukannya dibelakang.
"Tuan apa yang kau lakukan, kenapa kau berbuat sesuka hatimu." Teriak Ameldita seraya memukul-mukul dada Alghi yang sudah duduk kembali disampingnya. Alghi pun menangkap kedua tangan itu, dan mendaratkan ciumannya dibibir Ameldita yang terus mengoceh kesal, tak peduli Anton meliriknya dari kaca spion.
Ameldita pun tertegun dia mematung membulatkan mata indahnya, merasakan hangatnya sentuhan bibir Alghi, tak bisa menolak dan tak bisa berkata apa pun lagi.
"Jangan membantah lagi, kalau gak ku akan menghukummu lebih dari ini, paham...!" Ucap Alghi penuh penekanan, seraya melepaskan genggaman tangannya.
Hampir setengah jam diperjalanan, akhirnya mereka sampai juga kerumah, dan memang benar kedua orang tuanya sudah menungu dimeja makan, dan mereka sudah pasang muka yang tidak bersahabat, bagaikan naga yang siap menyemburkan api dari mulutnya.
"Assalamualaikum..." Sahut mereka bersamaan.
"Waalaikum salam...,duduklah kami sudah menunggu kalian dari tadi" Jawab kedua orang tuanya.
"Mah, pah, aku..." Sahut Alghi namun terpotong kata-katanya.
"Makanlah dulu Al, nanti kita bicara, mari semuanya makan..." Ucap papa Alghi serius.
Kemudian mereka makan bersama, tak ada yang bersuara kecuali suara piring serta sendok dan garpu salung bersahutan. Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga.
__ADS_1
"Al sebaiknya sebelum kau bertindak berpikir dulu, jangan mengikuti nafsu yang akhirnya membuat dirimu rugi sendiri." Tegas papa Ghian bijak.
"Ya Al, selain membuat malu keluarga kamu juga babak belur kan?" Ucap mama Fiandra seraya menghampiri Alghi dan memeriksa bagian mana saja tubuh anak kesayangannya terluka, y dia tidak rela anak satu-satunya terluka sedikit pun.
"Sudah diobatin mah tadi sama Ameldita." Ucap Alghi seraya melirik ke arah Ameldita yang dari tadi menautkan jari-jari tangannya saling meremas, deg degan hatinya takut kena marah juga, karena yang membuat mereka berkelahi itu dirinya sendiri.
"Jadi apa masalahnya hingga kamu berkelahi tanpa bisa mengontrol emosi Al..., kamu tahu kan siapa Ricard Ricardo itu? Dia anaknya sahabat papa juga dan rekan bisnis kita, kau itu bisa-bisanya berbuat onar seperti anak kemarin sore saja" Ucap papa Ghian lagi, sambil menatap tajam ke arah Alghi dan Ameldita.
"Sorry mah, pah, Alghi khilaf, tapi kan bukan Alghi yang mulai, si Ricard tu yang mulai." Tutur Alghi menatap kedua orang tuanya.
"Dan mama baru dengar lagi kamu berkelahi, sejak lulus SMA, heran mama sama kamu Al...kenapa bisa seperti itu, mama takut terjadi apa-apa sama kamu." Tutur mama Fiandra berkaca-kaca matanya.
"Sorry mah, Alghi salah..." Sahut Alghi sungguh-sungguh.
"Dan yang dijadikan ribut itu Ameldita kan, asisten kamu? Dan mantannya Ricard?" Ucap papa Ghian seraya melirik ke arah Ameldita yang gugup, Ya mereka sudah tahu hubungan antara Ameldita dan Ricard, sebab tadi sudah telponan dengan kedua orang tuanya, bahkan mereka sudah mengatur sebuah rencana yang matang agar anak mereka jadi menikah.
"Maaf tuan, nyonya saya juga tidak paham dengan mereka." Sahut Ameldita gemetaran.
"Kamu tenang saja saya mengerti, posisi kamu tidak salah, malah kamu hebat diperebutkan oleh dua orang pria tampan." Ucap papa Ghian, kemudian melirik ke arah Alghi yang dari tadi memandangi wajah cantik Ameldita.
"Papa tanya Al, dan jawab dengan jujur dari hati kamu, apakah kamu jatuh cinta sama Ameldita? Hingga rela bersaing dengan tuan Ricard? Dan jangan pernah lupa bahwa pasanganmu sudah kami tentukan." Tutur papa Ghian dengan tegas.
"Papa sama mama kan sudah tahu bahwa Al tidak menerima perjodohan itu, kenapa terus memaksa, dan bukan lagi jatuh cinta sama Ameldita tapi Al akan menikahinya esok lusa, Al harap kalian merestuinya." Tutur Alghi seraya menggenggam tangan Ameldita.
Ameldita nampak bingung dan deg degan tak karuan, takut kena semprot, sial tuannya pun tadi nyuruh dia pura-pura cinta sama dia, terus setuju buat menikah, haduuuuhhh, maka kalau tidak dia harus mengganti rugi barang yang pecah itu. "Gila...bener-bener tu orang, pemaksa." Makinya dalam hati.
"Hah lusa menikah???" Jangan bercanda Al...! Seru mama dan papa Ghian, mereka terkejut dan sama-sama membulatkan matanya. Padahal dalam hati mereka bersorak ria, senang bukan main akhirnya rencana mereka berhasil. Ya tadi saat telponan sama sahabatnya yaitu orang tua Ameldita, mereka merencanakan untuk mendesak dan memaksa Alghi supaya secepatnya bertemu dengan gadis yang sudah dijodohkannya, namun Alghi tetap menolak mentah-mentah dan dia bilang sudah punya pilihan sendiri dan akan dikenalkan sore ini menjelang makan malam.
__ADS_1