TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
Draft


__ADS_3

BAB 9


Matahari pagi yang cerah sudah menampakkan wajahnya, disertai sejuknya angin yang semilir, bersiap menemani hari-hari insan didunia berkarya. Ameldita terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 07: 30, tadi setelah sholat subuh dia ketiduran diatas sajadahnya eh ternyata kesiangan, sementara belum menyiapkan pakaian tuan mudanya yang akan berangkat ke kantor pukul 08:00.


Dengan tergesa dia berlari ke kamar tuan mudanya mengetuk pintu namun tak ada jawaban, dia nerobos saja masuk dan apa yang dilihatnya pemandangan yang sangat menggoda iman, bagaimana tidak tuan mudanya baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk saja untuk menutupi auratnya, sementara dada yang berbentuk roti sobek itu dibiarkannya, dan rambut yang basah itu menambah keseksiannya, sesaat Ameldita tertegun dan memandang ke arahnya.


"Hi tutup mulutmu, nanti masuk lalat tu, kau mengagumiku y?" Sahut Alghi seraya berdiri dan menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Jangan mengada-ngada ku terpaksa memandangmu, karena didepan mata tuan, sorry." Jawab Ameldita sedikit malu dan grogi juga, lalu ia secepat kilat mencarikan pakaian yang akan digunakan tuan mudanya.


Alghi merasa ingin sekali ngerjain asistennya setelah satu minngu ini dia bed rest dan baru hari ini dia mulai beraktivitas lagi, merasa kangen ingin melihat wajah kesalnya yang selalu menarik dihati Alghi, apa lagi dengan wajah tanpa penyamaran, begitu cantik dan menggoda.


" Ini tuan bajunya...warna gray oke kah?" sahut Ameldita tanpa menoleh.


" Boleh juga" Jawab Alghi seraya tersenyum melihat sikap asistennya yang grogi.


"Ni ku taruh disini ya." Ucap Ameldita seraya membalikan badannya, dan ternyata menubruk dada bidang tuannya, si roti sobek itu berdiri dibelakangnya.


"Eh sorry, sorry...kenapa tuan berdiri disini, aku kan..." Kata-katanya terhenti saat Alghi marangsek maju hingga tubuh Ameldita terbentur lemari, deg deg deg, jantungnya seakan mau lepas, dia menahan dada bidang itu dengan kedua tangannya, namun mata mereka bertemu pandang seperti mengagumi keindahan masing-masing.


Perlahan wajah Alghi mendekat menghampiri bibir merah alami Ameldita, dan Ameldita pun sesaat membiarkannya, seolah terlena dengan sosok tampan rupawan itu, tidak munafik dia benar-benar kagum dengan ketampanan makhluk ciptaan Tuhan ini, sungguh sempurna.


"Hi...minggir ku mau ngambil underwear ni, kedinginan tahu." Seraya menyentil kening Ameldita dengan telunjuknya, ternyata tuannya mau mengambil underwear yang ada dilemari belakang Ameldita berdiri.


Dengan rasa malu dan wajah sedikit memerah, Ameldita pun menggeser tubuhnya, sambil mengusap kening yang terasa sedikit ngilu akibat disentil tuannya.


"Oh oke..., kenapa sih harus menyentil keningku, kan sakit."


"O ya...tapi sepertinya kau..." Ucapan Alghi menggantung sebab Ameldita sudah keluar dari ruang ganti itu. Alghi pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum, merasa senang hati karena telah memberikan sedikit shock terapi kepada Ameldita.


"Gila lama-lama gue bisa mati berdiri kalau begini terus, aku pikir tadi.." Rutuk Ameldita seraya merapikan bantal guling milik Alghi, namun kata-katanya terpotong saat suara bariton itu menyelanya.


"Kamu pikir saya mau ngapain?Jangan ngarep, masih pagi otakmu sudah kotor."

__ADS_1


"Lho kenapa jadi memutar balikan fakta ya, siapa


juga yang ngarep." Gerutu Ameldita kesal, mukanya ditekuk sambil melirik sinis.


"Ni pakaikan...". Ucap Alghi seraya mengalungkan dasi ke leher Ameldita yang masih merenggut.


"Emang harus banget ya aku yang pakaikan?" Mata Ameldita mendelik kesal seraya memanyunkan bibir seksinya hingga membuat jiwa kelelakian Alghi goyah, ingin rasanya menerkamnya saat itu juga.


"Tentu saja, itu kan sudah tugas kamu, kenapa keberatan atau menginginkan yang lainnya?" Goda Alghi sambil menghampiri Ameldita yang masih pasang muka cemberut, supaya memasangkan dasinya.


"Tuan tolong jangan dekat-dekat..." Sahut Ameldita seraya mundur, namun Alghi tetap mendekat.


"Bagaimana bisa menjauh kan dasinya kamu yang pasangkan, cepat-cepat nanti kesiangan ni, hari ini ada meeting juga, Anton udah nungguin tu dibawah."


Dan mau tidak mau Ameldita pun memakaikan dasinya, walau sesekali dia menarik nafas dan menghembuskannya, untuk menetralkan perasaannya yang tak karuan, sementara Alghi menikmati suasana saat itu, sungguh sangat menyenangkan, ingin rasanya Alghi segera memiliki gadis pujaannya.


"Kamu belum mandi ya" Sahut Alghi seraya mengendus-ngenduskan hidung mancungnya dan membuat Ameldita mundur karena takut mengenai wajahnya.


"He he he...iya, kenapa harum ya..." Jawab Ameldita jujur.


"Hduuuuuuuhhhh lima menit, mending tak usah mandi saja, bagaimana bisa, dasar menyebalkan, tuan muda kampret." Gerutu Ameldita benar-benar kesal, dan benar saja dia tak mandi, langsung pakai baju semprot parfum dan rambut kuncir kuda, karena takut terlambat dia pun membawa peralatan make up nya, dia pikir nanti saja dimobil memakainya.


Dia berjalan terburu-buru, nampak sudah Alghi baru beres sarapan, begitu pun dengan yang lainnya, semua orang menatap ke arahnya, dia pun heran ada apa? Apakah ada yang salah dengan dirinya? hingga semua mata menatap ke arahnya.


"Mel kamu cantik sekali hari ini, tapi kenapa bajumu kancingnya tidak rapi tu...." Puji mama Fiandra seraya tersenyum.


"Ya ampun benarkah nyonya...sorry terburu-buru."


Jawab Ameldita merasa malu, sambil merogoh bagian kancing bajunya."Haduuuuhhh ko bisa begini sih, malu-maluin saja." gumannya dalam hati.


"Dasar ceroboh...ayo-ayo nanti saja kamu betulkan dikantor, kesiangan ni ada meeting sebentar lagi, jangan lupa bawakan barang-barangku." Ujar Alghi ketus dan angkuh, sambil menyalami kedua orang tuanya.


"Al jangan terlalu kasar Al, nanti kamu jatuh cinta"

__ADS_1


Ucap Papa Gian menepuk bahu anak kesayangannya.


"Sudah sejak lama papa, ku jatuh cinta padanya." Guman Alghi dalam hati ya namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakan secepatnya.


Mereka pun akhir masuk ke mobil mewah itu. Alghi langsung beralih ke hanphonenya, sambil berkata: "Betulkan dulu tu kancing bajunya, saya gak mau ya nanti kamu ditertawain semua orang pas dikantor, terus nanti saya yang menanggung malu karena punya asisten yang..."


"Jelekkkk....menyusahkan..."Ameldita menyela ucapan Alghi dengan kesalnya, pasti dia kan meghinanya lagi, ya walau pun sekarang wajahnya sudah cantik.


"Kamu sendiri yang ngomong ya, bukan saya." Jawab Alghi seraya menggerakkan sedikit bahunya dan dengan seyuman menggodanya.


"Berbalik arah sana...ku mau betulkan dulu, please kalau gak keluar dulu deh..." sahut Ameldita memohon dengan mengatupkan kedua tangannya didada.


"Brani ya kau menyuruh-nyuruh bosmu, dasar kau ni, cepatlah..." Ucap Alghi seraya membalikkan badannya ke arah kaca mobil, dan dengan sigap menutup skat pembatas duduk bagian depan supaya Anton tak melihatnya.


Ya dari tadi Anton hanya jadi pendengar saja interaksi antara bos dan asistennya, sambil sesekali dia tersenyum, namun lama-lama dia memakai headset juga mendengarkan lagu kesukaannya.


Dan dengan cepat kilat Ameldita pun merapikan kancing bajunya, tak lupa ia menggunakan pelembab muka danđ bedak tipis dihiasi lip balm pada bibirnya.


"Tak usah tebal-tebal bermake up, nanti malah kelihatan nora." Suara Alghi menggelegar ditelinganya.


Ameldita pun menoleh sambil memegang cermin kecilnya, lalu berbicara dalam hatinya:" Rese banget sih jadi bos, bikin sakit telinga, untung ganteng..."


Maksud Alghi kan Ameldita sudah cantik alami tak perlu polesan tebal lagi, tapi dia susah untuk berkata baik-baik dan malah bikin kesal hati Ameldita.


"Gak jugaaa...cuma tipis doang biar gak terlihat pucat, tar tuan juga yang malu karena punya asisten yang dekil dan jelek, iya kan?"


"Mmmm....ni makan, kamu tadi belum sempat sarapan kan?" Alghi memberikan kotak makan yang berisi roti beserta susu kemasan.


Ya tadi sebelum berangkat dia sempat minta sedikit sarapannya dibekal, dengan alasan takut gak keburu sarapan, padahal bekal itu khusus buat Ameldita, karena dia tahu gadis pujaannya kesiangan dan belum sempat makan.


"Buatku...???" Sahut Ameldita seraya menatap ke arah tuan mudanya.


"Ya iyalah masa buat kucing..." Ujar Alghi ketus, masih fokus dengan handphonenya.

__ADS_1


"Thanks..." Ucap Ameldita singkat, kemudian dia melahap rotinya hingga habis.


__ADS_2