TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 79


__ADS_3

Mereka berjalan perlahan, tubuh mama Fiandra lemas seketika, melihat sang putra yang menjadi kebanggaannya kini terbaring tak berdaya, dengan kepala yang memakai perban, selang infus menusuk ditangannya, betapa ikut merasa sakit atas apa yang diderita sang putra, tetesan air mata pun terus mengalir tiada henti.


"Sayang kenapa seperti ini...Al..." Ucap mama Fiandra sedih seraya mengelus pipi dan bahu sang putra.


"Al lekas sembuh nak..." Kata papa Ghian mengusap tangan Alghi perlahan.


Mama Fiandra langsung mengambil wudhu, begitu pun dengan papa Ghian, mereka melakukan sembahyang bersama, berdo'a memohon kesembuhan sang putra, lalu mereka mengaji disamping Alghi, berharap Alghi cepat siuman.


flashback of


Empat bulan kemudian, Ameldita kini sedang hamil besar, dia bekerja diperusahaan Bisma untuk bertahan hidup demi sang buah hati yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Dia berada dikota Bern Swiss, ya Bisma dan sang nenek menetap disana, karena perusahaannya membutuhkan ekstra penanganan dari sang pemilik.


Bisma selalu setia mendampingi Ameldita, disaat-saat Ameldita butuh dukungan moral dan spiritual, apa lagi dalam keadaan hamil, dihati Bisma tumbuh rasa kasih sayang yang mendalam terhadapnya, namun sayang Ameldita hanya menganggapnya sebagai kakaknya saja.


Etah kenapa hati kecilnya, selalu menyimpan seseorang yang selalu hadir didalam mimpinya, namun orang itu begitu samar, dan selalu mengucapkan kata I love you sayang. Dia selalu berpikir siapakah dia? Semua hanya jadi pertanyaan dan misteri bagi dirinya.


"Missya...kalau kau lelah jangan bekerja, istirahat saja, jangan memaksakan diri, kasian baby kamu, kata dokter tinggal menghitung hari kan?" Ucap Bisma, tak tega melihat kondisi Missya saat ini, meskipun sudah waktunya cuti hamil dia tetap saja ingin bekerja, dengan alasan jenuh kalau dirumah.


"Tidak apa-apa ku masih kuat kak, jangan khawatir, hari ini ada jadwal meeting dengan klaen kan, aku tak bisa mengabaikannya..." Kata Missya seraya menyuapkan sarapan ke mulutnya.


"Ya miss, nenek khawatir perutmu sudah besar begitu masih saja beraktivitas, sebaiknya istirahat..." Kata nenek Briska sangat khawatir dengan keadaan Missya yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri, semenjak wanita ini hilang ingatan, nenek Briska merasa kasian dan mengizinkan untuk tinggal dirumahnya apa lagi dengan keingin Bisma yang memohon agar membiarkan dia tetap tinggal bersamanya.


Ada rasa yang terpendam dalam hati Bisma, ingin mengungkapkannya namum menunggu Missya melahirkan dulu, dia takut Missya tak menerimanya, dia berusaha menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya dengan tindakkan yang penuh perhatian.


Bisma memberi nama Missya karena Ameldita tak ingat apa pun ketika dia terbangun dari komanya selama satu bulan, bingung mau mengantarkan kemana tak ada identitas yang menunjukkan siapa dirinya.


"Jangan khawatir nek semua baik-baik saja, percayalah, kami pergi dulu nek..." Ucap Missya pamitan sambil mencium tangan nenek Briska, yang ia tahu, nenek Briska benar-benar neneknya dan Bisma adalah kakaknya.

__ADS_1


"Ok Missya, hati-hati dijalan, dan kalau terasa apa pun langsung hubungin nenek ya..., Bisma jagain adikmu jangan lengah...!" Ucap nenek Briska.


"Ok nek...kami berangkat..." Ucap Bisma seraya meraih tangan neneknya, lalu berpamitan.


"Kak waktu meeting pukul 9 ni, jangan lelet..." Kata Missya sambil duduk dikursi mobilnya


"Tenang saja, jangan tergesa-gesa juga, biarkan kali-kali klaen yang menunggu kita, rajin banget sih adikku ini..." Kata Bisma seraya memakaikan sabuk pengaman Missya, Bisma menatap mata indah itu, ada getaran yang berkobar didadanya, perlahan wajahnya mendekat, ingin mendaratkan bibirnya di bibir merah itu, namun Missya selalu saja menghindari kontak fisik, wajahnya sengaja menoleh ke arah kiri.


"Kak...kau ini selalu saja nakal ih...bau ih mulutnya, belum gosok gigi kali..." Ucap Missya menepis wajah Bisma dengan tangannya.


"Enak saja, wangi juga ku makan permen ni..., lagian jangan geer kau tu selalu lupa memasang sabuk pengaman." Kata Bisma menjulurkan lidahnya, setelah memasang sabuk pengamannya Missya, dia duduk kembali dan mengecek hanphone mengalihkan perasaan yang dari tadi tak menentu.


"Tapi babyku tak suka dengan bau mulutmu, weew..." Ucap Missya mengusap perutnya yang besar.


"Haduuuh...benarkah baby, kau tidak menyukai aroma mulutku? Tapi kau menyukai ini kan?" Kata Bisma sedikit menggelitik pinggang Missya, hingga membuat si empunya tertawa kegelian.


"Makanya jangan mengejekku, rasain tu, enak kan?" Kata Bisma menyentil kening Missya gemas.


"Kak...kau ini sakit tahu...kenapa selalu saja menyentil keningku?" Kata Missya cemberut.


"Sudah sampai tuan..." Kata Josep menggangu canda tawa mereka, dari tadi dia jadi pendengar yang setia, menyaksikan betapa bahagianya tuan muda saat ini, jauh sebelum kehadiran Missya disisinya, andai saja Missya tak hamil, mungkin tuannya sudah menikahi wanita itu, nampak aroma cinta yang membara diwajah tuan mudanya.


"Oh ok Jos..." Ucap Bisma seraya melepas sabuk pengamannya.


"Ayo turun, atau mau ku gendong ni..." Sahut Bisma lagi.


"Emang kuat, ku ni bertiga bukan cuma seorang?" Ucap Missya langsung mau turun tapi lupa sabuk pengaman belum dibukanya.

__ADS_1


"Kan...kan...selalu saja lupa, sabuknya dibuka dulu adikku sayang..." Kata Bisma sambil melepas sabuk pengaman Missya.


"He he heh...so sorry..." Ucap Missya tersenyum.


Bisma menatap senyuman itu, sungguh indah luar biasa, bumil ini nampak semakin bersinar terang, andai saja dia istrinya sudah pasti bibir itu habis dilahapnya. "Tunggu Bisma, belum saatnya..." Gumannya dalam hati.


"Kak..kak...woy...malah melamun, jangan melamun nanti kesambet tahu...!" Tegur Missya seraya menepuk bahu Bisma.


"Oke..oke kita masuk..." Ucap Bisma gelagapan.


Mereka pun memasuki ruang kerjanya dan siap-siap untuk meeting, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, mereka pun segera memasuki ruang meetingnya, namun baru saja Missya mau duduk dikursi eh ada yang file yang tertinggal, dia pun pergi keluar lagi, dan karena terburu- buru ketika mau masuk ruangan meeting setelah mengambil filenya, dia bertabrakkan dengan seorang pria yang berwajah tampan, gagah namun sombong dan berwajah masam serta serius.


"Awww...so sorry tuan...!" Ucap Missya.


"Oh ok...lain kali kalau berjalan lihat-lihat dulu, jangan asal nyelondong." Ucap pria itu tegas seraya menepuk-nepuk bajunya takut kusut dan kotor karena bertabrakkan dengan orang lain, so perfect.


Mereka saling menatap sesaat, pria itu melihat ke perut besar Missya, namun setelah itu dia memasuki ruang meetingnya begitu pun dengan Missya.


Pria itu ternyata klaennya Bisma, mereka akan menjalin kerjasama. Dan pria itu bernama Alghiantara Putra Pratama suaminya Ameldita Pranata, mereka dipertemukan kembali, namun dalam keadaan sama-sama hilang ingatan, sama-sama tak saling mengenal, sungguh sangat menyedihkan bukan?


Meeting pun berjalan lancar, dan mereka kini resmi menjalin kerja sama, berharap saling menguntungkan terhadap perusahaannya.


"Terimakasih atas kerja samanya tuan Alghiantara, sebagai tanda hormat saya, bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu?" Ajak Bisma mengulurkan jabatan tangannya, sementara Missya merapikan filenya lalu menutup laptop dimejanya.


"Mmm...baiklah saya terima ajakkan anda tuan Bisma..." Jawab Alghi seraya menatap wajah cantik Missya.


"Ok tuan Alghi, kita makan direstoran terdekat saja, Bagaimana Missya, apa kau masih kuat atau merasa lelah?" Tanya Bisma menoleh ke arah Missya, takutnya Missya merasa cape secara dia kan hamil besar.

__ADS_1


"I'm ok, ikutan saja kak..." Kata Missya tanpa menoleh sedikit pun, dia menyentuh perutnya perlahan, baby dalam kandungannya bergerak-gerak terus dari tadi, seakan mereka berbahagia.


__ADS_2