
Sorry sayang, mama sama papa sudah memutuskan segalanya untukmu, kau putri kami satu-satunya, jadi menurutlah...!" Seru mama Liana, merasa tak tega sebetulnya melihat kesedihan sang putri yang baru kembali, namun semua demi memberi kejutan dihari ulang tahun putrinya yang ke 21, dan ingin mengetahui sejauh mana anaknya mencintai suaminya, secara pernikahan mereka karena terpaksa, mereka harus berakting dengan baik sesuai rencana.
Alghi menghampiri Ameldita yang berlutut sambil menangis dihadapan kedua orang tuanya, tak tega dia melihatnya, dia meraih tubuh Ameldita dan memeluknya.
"Sayang tolong jangan seperti ini, kita hadapi sama-sama, yakinlah Alloh akan menolong kita, aku tak mau berpisah denganmu." Kata Alghi.
"Pengawaaalll...,tolong antarkan tuan Alghiantara pulang..." Teriak papa Aldiando menggema, dan langsung saja sekelompok orang yang tinggi berbadan besar menghampiri Alghi yang masih memeluk istrinya.
"Silahkan tuan..." Ucap salah satunya.
Alghi melepaskan pelukannya lalu menggenggam erat tangan sang istri yang semakin histeris. " Saya akan pergi tapi bersama istri saya, tolong kalian pahami..." Suara Alghi mengeras, benar-benar kejam juga kedua orang tuanya Ameldita.
"Pengawal bawa putri saya ke rumah utama..." Teriak papa Aldhiando kembali.
Ameldita semakin menangis, dia tak mau berpisah dengan suaminya, kenapa kedua orang tuanya sekejam ini, tahu akan begini dia tadi cancel acara meetingnya.
"Papa, mama tolong jangan sekejam ini, Meldi mencintai kak Al, jangan pisahkan kami, kak Alll..." Teriak Meldi histeris disaat para pengawal itu melepas paksa genggamam tangan Ameldita dan Alghi, kemudian dengan paksa membawa Ameldita pergi dari sana, Alghi meronta ingin mengejar istrinya, namun para pengawal itu mencengkram tubuhnya, kalau saja jumlahnya sedikit sudah pasti Alghi bisa mengalahkan mereka. Nah ini seperti pasukan bala tentara yang mengepung musuhnya, gila bukan?
"Sayangngng...ku pasti akan membawamu kembali..."Teriak Alghi memandang jauh tubuh istrinya yang menghilang dibalik pintu.
__ADS_1
"Tuan Alghiantara, silahkan keluar kalau tidak kami akan mengusirmu secara tidak terhormat." Ucap pengawal itu sambil memegang tangan Alghi dengan keras.
"Lepaaasss...saya bisa keluar sendiri!" Teriak Alghi kasar.
"Kriiing...kriiing...kriiing." suara handphone Alghi berbunyi, terlihat nama Papanya disana, dia pun langsung mengangkatnya.
"Hallo pah...kenapa kedua orang tuanya Ameldita sangat kejam, papa kami dipisahkan oleh mereka, tolongin Alghi pah...mereka membawa istriku..." Ucap Alghi meraung mengeluarkan air matanya, pantang bagi seorang Alghi untuk meneteskan air mata dikala masalah menerjangnya, tapi kali ini dia kehilangan separuh jiwanya, dia tak sanggup kalau harus hidup tanpa istrinya.
"Al apa kau seorang laki-laki? Apa kau tidak bisa mengalahkan para pengawal itu?" Kata pak Ghian.
"Apa papa tidak tahu seberapa banyak para pengawal yang dikerahkan, tu lihat..." Sahut Alghi mengarahkan video callnya ke arah jumlah puluhan para pengawal yang berbaris.
"Papa tolong Al pah...istri Al etah dibawa kemana? Kalau tahu akan begini, lebih baik tak bertemu kedua orang tuanya Meldi pah."
"Al apa kau ingat, papa pernah mengatakan kalau perempuan yang akan dijodohkan itu adalah Ameldita istrimu sendiri, dia anaknya sahabat papa, ingat kan?"
" Whattt...Al melupakannya karena panik pah, apakah kedua orang tuanya Meldi sudah mengetahui hal ini pah?" Ucap Alghi seraya mengerutkan keningnya mencerna apa yang dikatakan papanya.
"Tentu saja tahu Al, ini adalah sebagian rencana kami Al, apa kau tidak tahu besok hari ulang tahun istrimu? Mereka ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian sekaligus memberi kejutan ulang tahun istrimu, papa sama mama juga nenek dan kerabat lainnnya besok datang kesana, undangan sudah kami sebar seminggu yang lalu, dan akan banyak juga relasi bisnis kita akan datang, jadi jangan khawatir lagi, bersiaplah untuk hari esok." Kata Pak Ghian, tak bisa lagi menutupinya dari sang putra, merasa tak tega, bener-bener sahabatnya itu, memberi shock terapi terhadap anaknya.
__ADS_1
Sedangkan Ameldita berada dikamarnya, setelah para pengawal itu membawanya dengan paksa, dia masih menangis tiada henti." Kak Al dimana sekarang? Meldi tak mau berpisah dari kak Al, jemput Meldi kak..."
Ingin menelpon suaminya, namun handphone pun dirampas kedua orang tuanya, karena kelelahan menangis akhirnya dia tertidur.
Sore menjelang tiba, dia menatap dirinya depan cermin, terlihat cantik dan elegan menggunakan gaun indah rancangan designer kelas dunia, dengan riasan wajah yang flawless nampak sempurna bagaikan seorang ratu, namun raut wajahnya nampak sendu tak bersemangat, ingin rasanya dia melarikan diri lagi, namun apa daya kiri kanan depan belakang selalu ada pengawal yang bersiaga menjaganya. Benar-benar keterlaluan kedua orang tuanya ini.
"Sayang kamu terlihat sangat cantik, benar-benar luar biasa, tersenyumlah jangan terus ditekuk mukanya, nanti kami malu sayang." Ucap mama Liana, seraya memeluk putri kesayangannya, kemudian menatapnya lekat.
"Bagaimana Meldi bisa tersenyum mah, sedangkan hati Meldi sakit dan tak ingin hidup lagi, jika papa dan mama terus memaksa." Kata Ameldita cemberut, dan berurai air mata.
"Cukup sayang jangan katakan hal itu lagi, mama tak mau mendengarnya, sekarang kamu sudah sah menjadi istri seorang pria yang menjadi pilihan kami, jadi terimalah, ini semua demi kebaikan kamu!" Seru mama Liana sedikit mengeras.
"Apa sah menjadi istrinya...? Ini tidak mungkin mah, Meldi sudah menikah, kenapa kalian tidak paham, dan kapan ijab qabulnya? Kenapa kalian sejahat ini?" Ucap Meldi benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pemikiran kedua orang tuanya.
"Tadi pagi papamu sudah melakukan ijab qabul dengannya, jadi sekarang acara resepsinya sayang..." Kata mama Liana serius.
"Whattt...jadi Meldi punya suami dua, begitu maksud mamah, ini tidak benar mamah, ini tidak mungkin..." Ameldita merasa shock, mendengar penuturan mamanya.
"Tidak ada yang tidak mungkin sayang, kau terima saja dengan ikhlas ya, ini sudah menjadi keputusan kami sayang...ayo kita berangkat sekarang, semua tamu undangan sudah semua, tinggal menunggu kedua mempelai." Kata mama Liana memaksa, dan berusaha menghapus air mata putri kesayangannya, yang terlihat benar-benar sedih, Ameldita berjalan dengan gontai, ini bukan impiannya, apa lagi mengingat suaminya yang etah kemana, dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengannya dan semoga bisa bertemu lagi.
__ADS_1