TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
Draft


__ADS_3

BAB 19


Setelah semua acara berakhir, akhirnya semua orang pun meninggalkan hotel Corrason bintang 5 itu, berbeda dengan kedua orang tua Alghi dan Ameldita, mereka berkumpul dihotel sebelah untuk merayakan kebahagiaan mereka karena sudah resmi menjadi besan. Sedangkan kedua mempelai masih berada dihotel tersebut.


"Haduuuuh...Awww..." Teriak Ameldita kesakitan karena kakinya kesandung kursi, baju kebaya yang menjuntai itu membuat dia susah melangkah, tadi pun saat jalan ada pelayan yang mengusainya dari belakang, nah sekarang mau ke kamar tak ada orang dan Alghi tadi pergi ke toilet belum kembali, dan saat dia terhuyung tiba-tiba ada tangan kekar yang menghalaunya, siapa lagi kalau bukan Alghi yang sudah sah menjadi suaminya.


"Hati-hati sayaaang..., pasti lelah kan?" Sahut Alghi seraya menggendong Ameldita ala bridal style yang membuat Ameldita terkejut apa lagi mendengar kata sayang, seolah-olah dia benar mencintai dirinya, padahal kan dia menikahi dirinya hanya untuk menghindari perjodohan yang sudah ditentukan, itu yang dipikirkan Ameldita, dia belum tahu kalau dirinya gadis yang selama ini dicari oleh Alghi.


"Eh turunkan tuan, ih malu tahu sama orang yang melihat kita, dan kenapa tuan memanggil sayang, seperti beneran saja mencintaiku padahal kan menikahiku hanya untuk menghindari perjodohan kan?" Ameldita memberontak seraya memukul-mukul dadanya Alghi.


"Kenapa harus malu, kita kan sudah menikah, kalau iya aku mencintaimu, kau mau apa?" Sahut Alghi menatap kedua bola mata yang indah itu.


"Ta-ta-tapi kan kita baru saling mengenal beberapa saat, tak mungkin tuan semudah itu jatuh cinta? Lagian katanya kita nikah kontrak, iya kan?" Ucap Ameldita seraya mengalungkan kedua tangan ke leher pria tampan yang setatusnya sebagai suami itu karena takut terjatuh.


"Tidak ada yang tidak mungkin Mrs.Ameldita Pratama...,Lalu apa pernah ku memberikan surat kontrak atau perjanjian, sebelum kita akad?" Ucap Alghi,sambil terus berjalan dan sesampainya depan kamar dia menurunkan Ameldita untuk membuka pintu, kemudian setelah pintu terbuka dia menggendong kembali tubuh ramping itu, dia menutup pintu dengan satu kakinya, dan berjalan menuju ranjang besar yang berhiaskan kelopak bunga berbentuk love, indah dan penuh dengan hiasan lainnya, Alghi membaringkan tubuh cantik nan menggoda itu diatas kelopak bunga, dia tak tahan lagi untuk tidak menyentuh istrinya, dia mendaratkan ciuman hangat dibibir seksi Ameldita, walau pun Ameldita berusaha menolak namun tangannya tak tinggal diam, dia memegang tengkuk Ameldita dengan lembut, menyentuh leher jenjangnya serta memperdalam ciumannya sedikit menggigit bibir Ameldita agar bisa menerobos menggapai lidahnya, dan setelah hampir kehabisan oksigen dia melepasnya.


Dengan nafas yang memburu dan suara yang ngos-ngosan, Ameldita berusaha duduk dan menatap kedua mata sayu Alghi yang sedang menempelkan hidung mancungnya dihidung Ameldita.

__ADS_1


"Tu-tu-tuan... aku ingin ke toilet." Ameldita mencari alasan untuk menghindar, dia belum siap untuk melakukan tugas seorang istri yang sesungguhnya, jantungnya terus berdetak kencang, deg degan tak karuan. Dia takut menghadapi malam pertamanya.


"Benarkah? Atau kau berusaha menghindar, aku tahu apa yang ada dipikiranmu, daaan...apa kau akan ke toilet dengan pakaian seperti ini?" Ucap Alghi penuh selidik, gereget rasanya sama istrinya itu.


Ameldita berdiri dan benar saja dia kesusahan untuk berjalan karena pakaian pengantin masih melekat ditubuhnya. "Tuan bisa berbalik badan atau keluar dulu, aku mau buka baju ni..."


"Ya buka saja, emang kenapa? Kita ini suami istri, tidak perlu malu Mel..." Sahut Alghi seraya membuka jasnya sendiri dan diletakan diatas sofa.


"Ta-ta-tapi kan aku..." Sahut Ameldita canggung.


"Karena kita belum terbiasa, jadi merasa canggung kan..." Ucap Alghi seraya tersenyum, kemudian dia membalikan badannya, memberi kesempatan untuk Ameldita membuka kebaya yang menjuntai panjang itu.


"Aduuuhhh...kenapa susah sekali membukanya, iiih...." Gerutunya kesal bukan main.


Dan tiba-tiba ada tangan kekar membukakan resleting dengan perlahan,yaitu Alghi sang suami, ketika membuka resleting tersebut Alghi tertegun melihat punggung yang putih bagaikan perselen, indah dan sangat menggiurkan untuk disentuh, hingga membangunkan bagian intinya, semakin mengeras dan ingin dipuaskan, dia pun tak membiarkan begitu saja, mencoba menyentuhnya dengan punggung tangannya penuh kelembutan, hingga Ameldita sedikit geli dan merasakan sensasi baru.


Tentunya Alghi tak berhenti sampai disitu, dia pun menempelkan bibirnya dipermukaan kulit punggung yang indah itu, mengendusnya perlahan dan kedua tangan Alghi berkeliaran yang satu meraba bagian pinggang dan yang satu lagi berusaha meraba bagian dada yang besar dan sedikit mengeras, berusaha melepas kebaya itu hingga melorot kebawah, nampak sudah harta karun yang bulat seperti semangka itu menyembul dibalik bra warna putih, benar-benar menantang.

__ADS_1


Ameldita berusaha menutup kedua asetnya dengan kedua tangan, namun itu semua sia-sia, Alghi mengusapnya lembut dari belakang, kedua tangannya melingkar dibagian perut dan dengan nakalnya merapatkan tubuh Ameldita kedadanya, Ameldita menengok kebelakang maksud mau protes, namun Alghi membekap mulutnya oleh bibir sensualnya, menyesap dan ******* penuh hasrat, tanpa sadar Ameldita mendesah saat tangan Alghi meremas dan memainkan buah ceri yang menempel didadanya, serta tangan lihai Alghi menyelinap ke bagian intinya, mengusapnya perlahan membuat dia merasakan sesuatu yang menjalar keseluruh tubuhnya.


Alghi semakin diliputi nafsu yang membara, dia membuka bra yang masih melekat ditubuh Ameldita, dan bawahan kebaya yang tadi masih menempel kini sudah terongok dilantai bersama lepasnya benda segitiga yang Alghi buka, kini Ameldita tak lagi mengenakan sehelai benang pun, tubuhnya bergetar hebat merasakan sentuhan demi sentuhan yang Alghi berikan, nikmat seakan melayang, "perasaan apa ini?" Ucapnya dalam hati.


"Ahhh...tu-tuan..."******* itu lolos lagi dari mulut Ameldita, disaat Alghi semakin gencar menyentuh bagian depan tubuhnya yang posisi masih berada dibelakang. Alghi pun tak tahan lagi senjatanya terus meronta, dengan cepat kilat dia memangku sang istri dan membaringkannya diatas ranjang yang berhiaskan kelopak bunga itu, lalu dia melepas seluruh pakaiannya, dia melahap kembali bibir gadis itu dan kali ini Ameldita membalasnya karena dia pun sudah memanas dan menginginkan yang lebih, ciuman itu kini merambat ke leher jenjangnya meningggalkan jejak kemerahan disana, lalu ke bukit kembar dan menyesapnya perlahan serta kedua tangannya yang satu meremas bagian dada, yang satu menyentuh bagian intinya yang sudah basah. "Ahhh..."Ameldita kembali mendesah disaat rasa nikmat itu datang lagi dan mendapatkan pelepasan.


"Sayang aku menginginkanmu..." Ucap Aghi parau, seraya tak lepas mencium setiap inchi bagian tubuh Ameldita.


"Ta-ta-tapi aku takut..." Jawab Ameldita parau juga, walau pun sudah terbakar hasratnya tapi tetap merasa was-was dan takut melakukannya.


"Aku janji akan pelan-pelan..." Tanpa menunggu jawaban, Alghi mengarahkan senjatanya yang sudah mengeras itu ke bagian inti Ameldita, dia pun sedikit membuka kaki Ameldita agar memudahkan aksinya, tapi ko kesusahan untuk memasukinya, butuh perjuangan juga, maklum mereka sama-sama bujang.


Beberapa detik kemudian Alghi kembali menekan bagian intinya dengan sedikit keras karena dari tadi gak masuk juga. "Aaaw sakittt..." Teriak Ameldita sambil memukul-mukul punggung Alghi lalu mencakarnya tanpa ampun, dan air mata pun luruh sudah membasahi kedua pipinya, sakit bukan main bagaikan senjata membelah tubuhnya.


"Maafkan sayang...tapi nanti mungkin tak kan terasa sakit." Ucap Alghi sambil mengecup kening istrinya lalu mengusap air mata yang mengalir itu, setelah berhasil memasukinya dia berhenti sesaat dan membiarkan senjatanya bersarang, namun beberapa detik kemudian dia mulai menarik mundurkan senjatanya secara perlahan seraya mencium bibir Ameldita agar memberi kenyamanan, sedikit demi sedikit rasa sakit itu menghilang dan berganti dengan rasa nikmat yang menjalar keseluruh tubuhnya, hingga pelepasan pun berulangkali ia rasakan, dan setelah berjam-jam mereka bertempur akhirnya Alghi mendapatkan klimaksnya hingga melenguh bersama. Dia menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya, dan dia melabuhkan kecupan mesra dikeningnya lalu mengusap peluh yang membanjiri wajahnya kemudian membenamkan tubuh lelah Ameldita didadanya.


"Terimakasih sayang, telah memberikan segalanya untukku."

__ADS_1


Ameldita pun tersipu malu, tersenyum dan melabuhkan tubuhnya didada bidang Alghi, dia merasa lelah setelah melewati malam panjangnya, beberapa saat kemudian dia terlelap, begitu pun dengan Alghi dia pun terlelap merangkai mimpi indah bersama pujaan hati yang kini sudah dimiliki seutuhnya. Malam pertama pun terlewati dengan sempurna, tak ada kata menunda-nunda bagi Alghi, dia harus benar-benar menjadikan Ameldita istri yang sesungguhnya, ya walau pun Ameldita belum mencitainya, mungkin seiring waktu cinta itu akan hadir, yang penting dirinya sangat mencintai Ameldita.


__ADS_2