TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 38


__ADS_3

"Dimana putriku, cepat katakan...!" Teriak Aldhiando mencengkram kerah pria itu, yang kini menciut, ketakutan disaat melihat kiri kanan depan belakang sudah dikepung oleh para pengawal dan satuan kepolisian serta para tentara.


"Di-di-didalam mobil tuan..." Kata pria penjahat itu terbata.


Sementara Alghi langsung membuka pintu mobil belakang, dan betapa terkejutnya melihat sang istri pingsan dengan kaki yang berlumuran darah, dia meraih tubuh lemas itu ke pelukkannya, lalu menggendongnya dengan cepat.


"Pah istriku pingsan dan dia berlumur darah dikakinya, lihat pah...,beri hukuman yang setimpal bagi penjahat itu, Alghi tidak rela pah..." Teriak Alghi menatap tajam dan penuh kebencian terhadap pria itu.


"Kurang ajar berani kau melukai putriku hahhh...apa salah putriku? Siapa dalang dari semua ini? Katakan...!"" Satu tamparan melayang diwajah pria itu dan menetes darah dari bibir pria itu, si pria itu diam membisu, tak mau mengatakan apa pun, membuat darah Aldhiando mendidih, namun sebisa mungkin dia menahannya, bagaimana pun tak ingin dia main hakim sendiri.


"Tangkap dia...dan bawa ke markas untuk kita introgasi...!" Teriaknya lagi dengan suara yang menggema.


"Pah ku bawa istriku ke rumah sakit terdekat, aku takut terjadi apa-apa...! Kata Alghi panik bukan main.


"Ok nanti papa menyusul kesana, pastikan putriku baik-baik saja...!" Ucap Aldhiando cemas bercampur emosi.


"Ok pah..." Dengan tergesa Alghi membawa Ameldita ke dalam mobilnya dan segera melaju ke rumah sakit terdekat.


"Sayang bangun, tolong jangan membuatku takut..."Ucap Alghi seraya mencium keningnya beberapa kali.


Beberapa menit kemudian sampai di rumah sakit, Alghi menggendong sang istri yang terlihat pucat.


"Dokter...selamatkan istriku...!" Teriak Alghi menggema.


Alghi sangat cemas melihat darah dibetis sang istri begitu banyak, hingga dokter menyuruhnya untuk meletakkan aameldita diranjang pasien.

__ADS_1


"Tuan tolong anda keluar dulu, biar kami menanganinya terlebih dahulu..." Kata dokter serius.


"Tolong tangani istri saya dengan baik...!" Kata Alghi memohon.


Alghi menghuhungi kedua orang tuanya, dan beberapa saat kemudian datang mamanya Ameldita, nampak mamahnya menangis karena khawatir terhadap putri kesayangannya, baru saja putrinya mendapat kebahagiaan dan kini harus menerima musibah seperti ini, sungguh sangat menyakitkan bagi seorang ibu.


"Mah...maafkan Al gak bisa jagain istri dengan baik..." Ucap Alghi sedih seraya menyalami mama Fiandra, lalu memeluknya.


"Bukan salahmu Al, tenangkan dirimu, dan kita berdoa semoga dia baik-baik saja." Kata mama Fiandra mengusap bahu san menantu.


Dan beberapa saat kemudian datang kedua orang tuanya bersama sang nenek, mereka menghampiri Alghi yang sedang berdiri mondar mandir didepan pintu ruangan dimana Ameldita sedang ditangani dokter.


Mereka belum balik ke Brunei karena masih ingin menikmati suasana di Indonesia sekalian berlibur sejenak.


"Al bagaimana keadaan istrimu? Semoga tidak terjadi apa-apa?" Sahut mereka hampir serempak.


"Alghi tak bisa menjaga istri, benar-benar tak berguna...!" Sesal Alghi, menyalahkan dirinya.


"Sudah tenangkan diri, ini bukan kesalahanmu sayang, ini musibah..." Kata mama Fiandra, memeluk sang putra.


Pintu ruangan dokter pun terbuka, Alghi dengan cepat menghampirinya, dengan beberapa pertanyaan begitu pun dengan yang lainnya.


"Dok bagaimana keadaan istri saya..., dia baik-baik saja kan?" Tanya Alghi.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Kata mama Liana seraya mengusap air matanya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan dia dok?" Tanya mama Fiandra.


"Ya bagaimana dengan keadaan cucu mantu saya dok, jelaskan...!" Ucap nenek dan kakek dari kedua belah pihak.


"Sebaiknya harap tenang semua, biarkan dokter menjelaskannya."Kata papa Ghian bijak, merasa kasian dengan dokter yang diberondong banyak pertanyaan.


"Coba jelaskan dok..." Ucap Alghi tak sabar ingin mendengar kabar sang istri tercintanya.


"Istri anda baik-baik saja dan sudah melewati masa kritisnya, tetapi..." Kata dokter itu sedikit terbata.


"Tetapi apa dok, katakan...!"Teriak Alghi tak sabar.


"Kami tak bisa menyelamatkan anak anda tuan, itu diluar kehendak kami, terlalu lama pendarahannya dibiarkan, hingga terjadi keguguran, dan kami sudah melakukan kuret untuk membersihkan kandungannya, jika tidak maka nyawa istri anda taruhannya tuan." Jelas dokter itu, menatap ke arah mereka yang sangat shock mendengar berita tersebut.


"What...? Istri saya keguguran...? Jadi dia sedang hamil?"


Teriak Alghi, seraya menahan laju air mata yang menggenang dibola matanya, dia gak nyangka istrinya tengah hamil, menyesal karena dia baru mengetahuinya, dan kini harus kehilangan buah cintanya, dia ambruk dilantai dengan lutut yang bertumpu, meremas rambutnya dan mengusap mukanya kasar.


Begitu pun dengan kedua orang tua serta kakek nenek mereka, benar-benar merasa shock berat, disaat mengetahui bahwa calon penerus keluarga besarnya tak dapat diselamatkan, mereka menangis pilu, saling berpelukan, sedih dan berduka yang mendalam.


"Apa yang terjadi dengan Ameldita, kenapa kalian seperti ini?" Kata papa Aldhiando yang baru saja datang, merasa heran, karena melihat semua orang disana menangis, apa lagi melihat Alghi yang sedang berlutut dan meremas kepalanya dengan kasar.


"Pah Ameldita mengalami keguguran, ternyata dia sedang mengandung cucu kita, dan sekarang sudah kehilangannya, mama benar-benar sedih pah..." Isak mama Liana, dan dia langsung memeluk suaminya.."


"Apa...? Anak kita mengandung dannnn..." Kata papah Aldhiando tak kuasa juga menyebutkan kata-kata duka itu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan putri kita?" Ucap papa Aldhiando cemas dan sedih bukan main, baru saja dia akan mendapatkan cucu, tapi takdir Tuhan belum mengizinkannya untuk menimang cucu, semua gara-gara penjahat itu. Dia mengepalkan kedua tangannya, belum diketahui siapa dalangnya, semua masih dalam penyelidikkan.


.


__ADS_2