
BAB 11
"Mel tungguuu..."
Alghi pun melepaskan kedua tangannya dari bahu Ameldita, dia menatap tajam ke arah suara.
"Tuan Ricard, ada apa ya...?Ini Ameldita asisten saya, apakah kalian saling mengenal?" Tanya Alghi setelah mereka bertatap muka.
"Ya tentu saja saya sangat mengenalnya karena dia adalah kekasih saya." Jawab Ricard penuh penekanan, tak menyangka Ameldita seorang gadis manja yang serba berkecukupan bekerja sebagai asisten.
"Lebih tepatnya mantan, ingat itu...!" Sela Ameldita penuh dengan emosi, seraya menyeka air matanya.
Deg hati Alghi seakan tercubit, mendengar kata kekasih membuat hatinya tak rela, tak menyangka relasi bisnisnya itu adalah kekasih asistennya. Tidak... dia benar-benar tidak rela.
"Oh begitu rupanya...saya mengerti tapi maaf tuan untuk saat ini kita sedang bekerja jadi tolong urusan pribadi selesaikan diluar jam kerja, dan mari kita lanjutkan lagi meeting yang tadi tertunda" Ucap Alghi seakan bijak padahal hatinya kesal bukan main, dan dia pun pergi begitu saja meninggalkan Ameldita.
__ADS_1
" Mel tunngu ku selesai meeting, aku akan menjelaskan sesuatu."
"Sorry ku sibuk tak ada waktu."Ketus Ameldita seraya berlari dengan cepat, yang ia tuju adalah lantai paling atas kearah taman.
Dan sesampainya disana, dia langsung mendudukan tubuhnya dikursi yang ada ditaman itu, sambil menangis sekencang-kencangnya meluapkan segala kekesalannya.
Beberapa bulan ini dia berusaha melupakan kejadian yang menyakitkan itu, namun etah kenapa dunia ini mempertemukannya kembali dengan orang yang sangat dibencinya. Luka yang sudah ditutupnya kini menganga kembali. Hujan pun tiba-tiba datang membasahi seluruh tubuhnya seakan ikut besedih, hingga ada sebuah payung meneduhkan tubuhnya yang menggigil.
Seseorang memberikan tangannya untuk diraih, Ameldita pun mendongakkan kepalanya dan menatap mata elang itu, tanpa menolak untuk meraih tangan tersebut, dia memang membutuhkan seseorang untuk menjadi tumpuannya, tanpa pikir panjang dia pun melabuhkan tubuhnya ke dada bidang itu, memeluknya dengan erat sambil menumpahkan sisa air matanya, tak peduli bagaimana akhirnya.
Sehabis meeting dia tak menemukan asistennya
kemudian menyuruh Anton mengecek cctv untuk mengetahui keberadaannya. "Anton tolong selidiki tentang Ricard Ricardo sepertinya mempunyai hubungan khusus dengan Ameldita."
"Ok bos siap, tapi kenapa bos?" selidik Anton penuh tanda tanya, karena dia juga heran dengan sikap Alghi yang selalu perhatian terhadap asistennya itu, apakah bosnya jatuh cinta ya.
__ADS_1
"Dilarang protes Totoooon..." Ucap Alghi serius.
"Ton ku bingung ni papa sama mama memaksa terus untuk menjodohkanku, sementara aku tak sudi dengan perjodohan ini, kamu tahu sendiri ku sudah punya wanita impian. Tadi pagi kedua orang tuanya sempat membicarakan tentang perjodohan itu, namun Alghi tetap menolak dengan seribu alasan.
" Gimana kalau ku beri ide bos." Sahut Anton seraya mengetuk-ngetukkan pena ke atas keningnya.
"Ya apa idemu itu, cepat katakan Totooon gak pakai lama." Ucap Alghi seraya merebahkan tubuh ke kursi dan melipatkan tangan didadanya.
"Bagaimana kalau bos nikah kontrak saja dengan Ameldita, sebelum bos menemukan gadis impian bos sendiri."
"Mmmm...idemu cemerlang juga Ton, bagus siapkan pernikahan besok lusa, ku tak ingin semuanya terlambat." Ucap Alghi penuh dengan semangat, tentu saja semangat karena Amelditalah gadis impiannya, Anton saja yang ketinggalan info tentang hal itu.
"Benarkah bos setuju dengan ideku?" Ujar Anton merasa heran kenapa bosnya langsung setuju tampa berpikir dulu.
"Iyaaaa totoooonnn....serius, cepat lakukan tugas-tugasmu." Ucap Alghi setengah berteriak.
__ADS_1
Terlihat dari cctv Ameldita masih ditaman, dan karena hujan lebat ia pun bergegas menuju kesana.