TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 75


__ADS_3

Dia pun melihat ke arah buku-buku tentang management dan bisnis, dia mengambil satu buku tebal lalu membukanya perlahan dan dia merasa shock, karena disana terdapat photo seorang perempuan cantik, dia pun masih ingat itu adalah photonya Dina mantan pacar suaminya. Deg hatinya merasa tercubit, apakah suaminya masih mengenang perempuan itu? Begitu yang ada dipikirannya.


"Apa benar cinta pertama itu sukar dilupakan? Hingga orang-orang selalu mengenangnya? Tapi kenapa aku tidak seperti itu? Semua kenangan cinta pertamaku sudah terlupakan, semua hilang dan tak tersisa..." Guman Ameldita bersedih.


"Ya Alloh kenapa ada rasa sakit disaat suamiku masih menyimpan photo sang mantan, lalu aku harus bagaimana...untuk menghilangkan rasa sakit ini?" Luruh sudah air matanya, tak bisa ditahan lagi, dia berjalan ke luar ruangan dan etah kenapa langkah kakinya menuju jalan trotoar. "Mungkin dengan berjalan kaki sejenak rasa sakit ini akan hilang." Guman Ameldita seraya terus melanjutkan langkahnya tak peduli dengan suaminya yang masih meeting.


Ameldita duduk dikursi pinggir danau, nampak sedikit sunyi karena ini jam kerja, orang-orang masih bergelut dengan kesibukkan masing-masing. Dia mengambil beberapa batu kecil-kecil, lalu melemparkannya satu persatu ke danau tersebut.


"Pergiii...pergi jauh rasa sakit, aku tak ingin memilikimu lagi...aaa...!" Teriak Ameldita.


"Berisik...!" Terdengar suara yang menyahut, Ameldita terkejut, lalu dia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tak nampak ada orang.


"Ya Tuhan dimana suara orang itu? Apa hanya halusinasiku saja ya..." Ucap Ameldita bermonolog sendiri.


"Aku disini...! Makanya jangan berisik, kau pikir aku makhluk gaib apa?" Jawab seseorang, dia turun dari ayunan yang terbuat dari tali berbentuk jaring, posisi orang itu ada dibelakang Ameldita, disana ada dua pohon yang menjadi penghubung antara ujung ayunan tersebut. Disana memang banyak ayunan kira-kira berjarak dua sampai empat meter dari satu ayunan ke ayunan berikutnya, kalau hari libur tentunya banyak orang yang bermain kesana hanya untuk berwisata dan refreshing sejenak.


Ameldita menoleh ke belakang dan dia benar-benar terkejut, ternyata orang itu Ricard Ricardo sang mantan yang sudah lama tak nampak, sejak kejadian terakhir bersama suaminya, dikira orang ini tak kan pernah muncul lagi dihadapannya, setelah mendapat ancaman dari sang suami posesif serta arogannya.


"Eh ke-kenapa kau ada disini? Apa kau mrngikutiku hah...?" Bentak Ameldita menatap tajam Ricard yang menghampirinya.


"Jangan geer Mrs.Alghiantara, kau pikir aku penguntit atau ekormu yang selalu mengikuti kemana kau pergi apa? Kau itu yang datang mengganggu ketenanganku...! Ucap Ricard seraya memasukan kedua tangannya ke saku jaket.

__ADS_1


"Maksudmu aku penggangu hah? Ini adalah tempat umum siapa pun boleh datang kesini, jangan mencari-cari alasan tuan Ricard, dan sebaiknya anda segera pergi dari sini, sebelum suamiku datang!" Kata Ameldita kesal dia tak berharap bisa bertemu lagi dengannya.


"Ya kau mengganguku Mrs.Alghiantara, kau datang dan berteriak-teriak, kenapa apa kau sedang punya masalah?" Tanya Ricard penasaran, dia masih ingat dengan karakter Ameldita, jika dia kesal maka dia akan menangis dan berteriak sekeras mungkin, dan dia khawatir jangan-jangan Ameldita sedang mempunyai masalah, hingga dia nekad keluar sendirian.


"Bukan urusanmu tuan Ricard, tolong pergilah...!" Ucap Ameldita seraya memandang ke arah danau.


"Aku tak akan pergi sebelum suamimu datang, kenapa kau sendirian, apa tidak tahu itu sangat berbahaya bagimu dan anak-anakmu?" Kata Ricard khawatir, karena dia tahu banyak orang-orang jahat yang mencari kesempatan untuk mencelakainya, bahkan menginginkan Ameldita tiada.


"Sudahlah aku akan kembali ke kantor, tolong jangan ikuti aku...!" Bentak Ameldita kesal, kenapa Ricard ini ngotot, bukannya dia sudah tahu kalau suaminya datang malah akan menjadi ribut. Namun dasar sial ketika membalikkan badan, kaki Ameldita menginjak batu kecil hingga mau terjatuh, untung Ricard dengan cepat menahan tubuhnya, dan lebih sial lagi dibelakangnya sudah ada seseorang yang menyaksikan kejadian itu, dengan wajah dan emosi yang membakar.


"Prok,prok, prokkk..." Suara tepuk tangan berbunyi dengan keras. Ameldita segera melepaskan diri dari genggaman tangan Ricard dan dia menoleh ke arah suara tersebut.


"Good job...ternyata kalian berdua disini, menyaksikan indahnya danau, saling memandang dan memeluk, bahagianya bertemu mantan...aku tak menyangka istriku berbuat seperti ini, diam-diam ketemuan dengan mantan terindahnya, hah...baiklah puaskan dan nikmatilah...!" Ucap Alghi sinis seraya melengos pergi meninggalkan Ameldita yang mematung disana.


"Kak...! Kenapa kau menuduhku seperti itu, aku tidak sengaja bertemu dengannya..." Teriak Ameldita, seraya memandang punggung sang suami yang pergi meninggalkannya, dan tak bisa ditahan lagi tetesan bening dari matanya pun tumpah ruah membasahi rona pipinya.


Ricard pun bingung kenapa Alghi menuduh mereka seperti ini, dan kenapa meninggalkan istrinya begitu saja, apa dia tega membiarkan istrinya menangis seperti ini. " Kurang ajar si Alghi ini, berani dia menuduh hal yang tidak kami lakukan, dasar kau...awas ya...!" Guman Ricard dalam hatinya, kesal bukan main."


Dia tak tega melihat Ameldita menangis sedih, bingung mau menenangkannya bagaimana, dia istri orang yang tak dapat disentuh.


"Kak kenapa semua berbalik seperti ini, kenapa jadi aku yang disalahkan...kenapaaa...?" Teriak Ameldita dalam tangisnya.

__ADS_1


Dia pun berjalan dalam tangisnya, tak peduli Ricard memanggilnya berulang kali, sedih tak menyangka suaminya bisa menuduh tak beralasan, padahal dia sendiri yang masih menyimpan photo mantannya.


"Aku harus kemana? Ke kantor tak mungkin karena suasana hatiku yang kacau begini, ke rumah pun tak mungkin disana nenek pasti bertanya-tanya, lalu aku harus pergi kemana, aku disini sendiri tak punya siapa pun..." Ameldita berbicara sendiri dan tak tahu apa yang harus diperbuat.


Sementara Alghi tengah emosi terbakar api cemburunya,


ya tadi setelah meeting selesai, Alghi menelpon Ameldita namun tak ada jawaban, dia pun menyuruh Anton memanggil istrinya untuk mengajak makan siang diluar sebelum berangkat ke kantor sang istri, namun Anton bilang tak ada diruangan, Alghi pun mencarinya ke toilet dan ke ruang istirahat namun tak ada juga, hingga dia memeriksa sinyal lokasi keberadaan sang istri.


Setelah mengetahui lokasinya dia pun pergi kesana dan apa yang terjadi ketika dia turun dari mobil pemandangan pertama yang dia lihat sangat membuatnya emosi, ternyata sang istri berada dipelukkan sang mantannya.


Alghi mendudukkan diri disofa, dia meremas kepalanya, lalu mengusap wajahnya kasar, menarik nafas dan membuangnya.


"Bos tenangkan pikiran anda, jangan mengikuti emosi, luruskan dulu apa benar semua yang anda lihat tadi? Terkadang orang menyesal setelah meluapkan rasa emosinya, kenapa meninggalkan non Ameldita disana, saya melihat tadi dia menangis sedih, dan photo ini..., ini bukannya photo Dina bos, mantannya bos...?" Tutur Anton panjang kali lebar, supaya bosnya itu terbuka mata hatinya, jangan sampai dia menyesal karena emosi sesaat.


"Hahhh...kenapa photo wanita ini ada disini? Kenapa ton?" Ucap Alghi terperangah dan merebut photo itu dari tangan Anton.


"Mana saya tahu bos, dari tadi sudah ada di atas meja..." Ucap Anton mengedikkan kedua bahunya.


"Benar katamu Ton...jangan-jangan istriku yang menemukan ini, oh my God..." Alghi meremas kepalanya kasar.


"Bos istri anda pergi keluar gara-gara photo ini, mungkin dia pikir anda masih mengenang mantannya...iya kan? Dan bos jangan berpikir macam-macam tentang pemandangan yang tadi anda lihat, bisa saja mereka bertemu secara kebetulan, coba anda renungkan...!" Ucap Anton menatap bosnya.

__ADS_1


__ADS_2