
Hanphone itu menyala, tandanya ada pemberitahuan atau chat yang masuk, Ameldita penasaran lalu membuka handphone itu, tapi harus memasukkan password atau scan wajah, dia mencoba iseng-iseng memasukkan tanggal lahirnya, karena menurut para pakar cinta, orang yang sangat mencintai kita, maka salah satunya akan menggunakan kode password tanggal lahir orang yang dicintainya.
Dan benar saja handphone itu terbuka, dia menscroll layar depan dan nampak chat dari no baru.
"Sayang...jangan lupa kita sudah membuat janji, I Love You so much."
Deg hati Ameldita merasa tertusuk duri yang tajam, sakit namun tak berdarah, benarkah suaminya berselingkuh dibelakangnya, benarkah dia menghianati pernikahannya yang baru seumur jagung.
"Tidak, ini tidak mungkin, aku tak percaya hal ini, kak Al tak mungkin menghianatiku, aku harus tanya padanya."
Guman Ameldita berbicara sendiri, bola matanya berkaca-kaca, tak ingin menangis namun air itu selalu memenuhi kelopak matanya, dan memaksa untuk meluap membasahi kedua pipi cantiknya.
Dia mengusap air matanya dengan kedua telapak tangan, berusaha untuk tenang dan mengucap istighfar berulang kali. Dia harus minta penjelasan dari suaminya, sekilas berpikir bagaimana kalau itu sebuah kenyataan, apa dia sanggup menerima dan meninggalkan suaminya?
"Tidak...aku tidak mau, aku baru saja memulai kehidupan ini, aku mencintai suamiku..." Kata Ameldita.
Suaminya belum juga datang, waktu sudah hampir maghrib, dia pun kesal mondar mandir diruangan itu, dengan sejuta pertanyaan diotaknya.
"Ka Al dimana...?"
Ameldita berjalan keluar dari ruangan kerja suaminya, dia berjalan ke taman yang ada dilantai atas, menikmati udara menjelang maghrib tiba, berharap sang suami cepat beres meetingnya. Dia mencoba menghubungi no Anton, namun tak diangkat juga, kesal jadinya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang duluan, kesal kenapa suaminya tak juga selesai meetingnya, apa dia benar-benar meeting atau kemana, tadi ketika dia makan siang Alghi sempat bercerita mau meeting diluar, namun kenapa selama ini.
Ameldita memesan taxi, dan berjalan lewat belakang, memakai masker dan kacamata, untuk menutupi wajahnya dan mengelabui semua pengawal-pengawal itu, dia kesal tak ingin dibuntuti oleh siapa pun.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, dia pun sudah sampai dirumah mertuanya, nampak rumah sepi, mungkin mertua dan para pelayan lagi sembahyang maghrib, dengan cepat dia menuju kamarnya, lalu dia menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Halooo...mah apa istri Al sudah ada dirumah belum?" Kata Alghi ditelpon.
"Mama sama papa baru beres sembahyang, emang kalian tidak bersama disana?" Jawab mama Fiandra heran.
"Tadi kami bersama mah, tapi pas jam 2 Alghi ada meeting diluar dan istri Al lagi istirahat, jadi Al pergi sama Anton saja, handphone Al ketinggalan dikantor, Anton tadi mau memberi kabar namun handphonenya lowbat, terus Al pas pulang ke kantor istri Al sudah tak ada, coba minta tolong cek dikamar mah, ni Al jalan pulang sudah di mobil, Al khawatir kita miscom mah..." Ucap Alghi panjang kali lebar.
"Ya Alloh, semoga istrimu sudah ada dirumah, sebentar mama cek dulu dikamar ya..." Kata mama Fiandra mulai cemas.
"Kenapa mah...?" Kata papa Ghian.
"Ini pah tadi hanphone Al ketinggalan pas meeting diluar jadinya miskomunikasi sama Meldi, dan Meldi sudah tak ada dikantor karena kelamaan menunggu, mungkin Meldi kesal..., sebentar mama cek dulu ke kamar mereka, semoga Meldi ada disana." Jawab mama Fiandra.
"Oh oke...haduuuh ada-ada saja mereka tu...semoga mereka baik-baik saja." Kata Papa Ghian.
"Nyonya makan malam sudah siap..." Kata Sari.
"Oke...nanti ya, masih nunggu Alghi datang, apa kau tadi melihat non Meldi pulang?" Kata Mama Fiandra sambil berjalan.
"Tidak nyonya, bukannya biasa sama tuan Alghi bareng non Meldi...?" Kata Sari penasaran.
"Iya cuma hari ini Alghi sibuk, jadi Non Meldi pulang duluan, sebentar ya ku cek dulu dikamarnya." Kata mama Fiandra.
Namun Sari mengikutinya sampai ke depan pintu kamar, sementara mama Fiandra langsung masuk karena pintu kamar tak terkunci.
__ADS_1
"Sayang...Meldi...sudah pulangkah?" Kata mama Fiandra.
"I-iya mah Meldi sudah pulang, baru saja..." Ucap Meldi seraya menghapus air matanya.
Nampak disofa Meldi sedang berbaring, lalu ia duduk karena ada mertuanya, terlihat matanya sembab, hidung mancungnya memerah, mukanya kusut, mama Fiandra yakin kalau menantu kesayangannya itu habis menangis karena kesal, mungkin karena kelamaan menunggu Alghi, begitu pikirnya. Lalu mamah Fiandra duduk juga disamping Ameldita.
"Sayang apa kau baik-baik saja? Sorry Alghi telat menjemput...kenapa pulang sendiri, mama khawatir, kenapa tidak pulang bersama para pengawal saja, berbahaya sayang." Kata mama Fiandra.
"So sorry mah tadi Meldi naik taxi..." Ucap Ameldita, air matanya keluar lagi tak bisa ditahan, padahal sudah berusaha untuk menahannya.
"Kenapa sayang...? Kemarilah..." Kata mama Fiandra seraya memeluk tubuh Ameldita, dan Ameldita pun menangis sedih, apa lagi mengingat chat dihandphone suaminya, semakin mengiris hatinya.
"Ceritalah...kenapa? Apa Alghi menyakitimu? Katakan biar mama beri pelajaran, dia lagi on the way katanya." Kata Mama Fiandra khawatir ada masalah diantara mereka.
"Gak ko mah, kak Al sangat baik, cuma Meldi masih sakit kaki saja, jadi menangis..." Kata Ameldita, berusaha menutupi masalahnya, dia tak ingin mertuanya tahu apa yang terjadi hari ini.
"Kaki Meldi kenapa sayang? Apa terluka?" Tanya mama Fiandra seraya melihat kaki Ameldita.
"Tdak apa-apa mah tadi cuma luka sedikit, Meldi kesandung." Ucap Ameldita memegang ibu jari jempolnya, dia berbohong takut mama Fiandra merasa cemas.
"Oh ya Alloh, berhati-hatilah sayang, mari mama obatin ya..." Kata mama Fiandra.
"Nanti saja mah, tadi sudah ka Al obatin, Meldi mau mandi dulu." Sahut Ameldita.
"Oke sayang mandilah, nanti turun ya, makan malam sudah siap." Kata mama Fiandra.
__ADS_1
"Baik mah..." kata Ameldita, kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Sementara Sari yang dari tadi mwnguping pembicaraan majikannya, dia tersenyum sinis." Hah ku yakin si Ameldita menangis karena bertengkar dengan tuan muda, yes rencana lumayan berhasil..., selamat menikmati Ameldita..." Gumannya dalam hati.