
BAB 23
"Is ok sayang, yang penting Meldi tidak kenapa-kenapa, jangan repot-repot sayang, biar para koki yang menyiapkan makanan, mama tidak mengizinkan Meldi berkutat didapur." Kata mama Fiandra, dia tak ingin menantunya terluka, bahkan dia sendiri pun jarang menginjakkan kaki untuk memasak.
"Bu Ani siapa yang bertugas membersihkan lantai, kenapa bisa licin begitu, dan semalam diperpustakaan ada banyak tikus, Ameldita kena gigitannya, berbahaya bukan? Nanti semua pegawai disuruh ke ruangan saya ya!"Seru mama Fiandra tegas, dia harus memberi peringatan bagi semuanya, karena mereka begitu teledor. Satu berbuat kesalahan yang lain pun kena semprot.
"Iya nyonya, itu tugasnya Icih dan Oka nyonya, saya minta maaf atas keteledoran mereka, baik nanti mereka saya suruh ke ruangan nyonya." Sahut bu Ani sedikit gemetar.
"Ok ditunggu..."
"Sayang apa ada yang sakit...?" Tanya Alghi memeriksa kedua tangan Ameldita takutnya ada yang terluka lagi.
"Gak ada ka, semua baik-baik saja..." Jawab Ameldita menatap suaminya.
"Sayang kaki kamu bagaimana, apa sudah membaik?" Ucap mama Fiandra khawatir.
"Sudah sedikit baik mah, jangan khawatir." Jawab Ameldita seraya tersenyum.
"Syukurlah, Al nanti sebelum berangkat obatin dulu, biar lebih baik,ingat kalian terbang pukul 9." Ucap mama Fiandra.
"Iya mah...kalau begitu kami siap-siap dulu y..., ayo sayang." Sahut Alghi seraya menggendong Ameldita ala bridal style, dia tak membiarkan istrinya berjalan, dia takut kakinya masih sakit, ya padahal tadi pun Ameldita sudah jalan kan ke dapur, dasar suami posesif.
"Oke sayang...nanti sebelum jalan sarapan dulu y..." Ucap mama Fiandra, dia merasa bahagia melihat kedekatan mereka.
__ADS_1
"Oke mah..."Sahut Alghi seraya berjalan menggendong sang istri tanpa menoleh lagi.
"Ka Al aku bisa jalan sendiri, malu ih dilihatin banyak orang." Protes Ameldita dia merasa malu digendong dihadapan semua pelayan dan mamanya Alghi, benar-benar suaminya bikin dia kesal saja. Termasuk Sari mereka melongo melihat kemesraan yang ditunjukkan tuan mudanya, dan Sari merasa makin sakit hati, dengan wajah yang geram ditambah lagi tadi kena omlet yang Ameldita buat, salah dia sendiri sih berbuat jahat jadi kena batunya kan.
"Gak apa-apa sayang, aku takut kakimu masih sakit, nanti berbahaya ditangga." Ucapnya seraya mencium kening Ameldita dan Ameldita pun mengalungkan kedua tangan ke lehernya sambil menatap lekat wajah tampannya, ada getaran-getaran aneh didalam hatinya, etah apa itu? Apa benar dia sudah jatuh cinta pada suaminya yang so care ini?
"Aku tahu aku memang ganteng dari pabriknya jadi jangan memandangku seperti itu, apa kau terpesona dengan ketampananku?" Kata Alghi geer, ditengah-tengan mendudukan Ameldita ditepi ranjang, sepertinya dia baru bangun tidur, langsung mencari sang istri karena tak ada disampingnya, terlihat rambutnya berantakan dan masih memakai baju piyama.
"Jangan geer ka...coba lihat deh rambut ka Al, lucu kan mirip naruto..." Ameldita tertawa sambil mengacak-ngacak rambut suaminya.
"Ini semua karena kamu sayang...tadi pas bangun tak ada disampingku, jadi ku berlari mencarimu tak peduli dengan penampilan, kau memang selalu membuatku khawatir, dasar ya..." Sahut Alghi seraya menggelitik perut Ameldita dengan gemas.
"Ka sudah, sudah, ampuuun...tolong hentikan ku gak tahan geli ni..." Teriak Ameldita seraya tertawa dan menggelinjang kegelian, dan Alghi menghentikannya sambil menatap lekat kedua bola mata yang cantik itu.
Lama-lama ciuman itu mendalam dan menuntut, tangan Alghi mulai berkeliaran ke bagian dada, punggung, bokong dan mulai bermain dibagian inti Ameldita yang membuat sang istri mendesah merasakan nikmat yang hakiki, ciuman Alghi pun berjalan menyusuri leher dan menghisap bagian buah ceri yang menempel dibuah dada Ameldita.
"Sayang aku menginginkanmu..." Ucap Alghi parau.
"Tapi kakiku lagi sakit ka..." Jawab Ameldita mengelak padahal reaksi tubuhnya sama-sama menginginkan yang lebih.
"Tapi aku tak tahan lagi sayang...please sebentar saja ya..." Tatapan mata Alghi mendamba.
Tak menunggu jawaban dari sang istri Alghi langsung membuka seluruh baju yang menempel diantara mereka, lalu dengan cepat dia mengarahkan senjatanya yang sudah mengeras dari tadi ke bagian inti sang istri.
__ADS_1
"Awww...sakit..." Rintih Ameldita meringis, meski pun sudah beberapa kali Alghi memasukinya tetap saja merasakan sakit, namun lama kelamaan terasa melayang juga, nikmat tiada tara, masih posisi dipinggir ranjang dengan kaki memijak lantai.
Satu jam berlalu Alghi pun mengakhiri olah raga paginya, mereka berada dititik ******* bersama, mengerang dan mendesah mengarungi segala kenikmatannya.
Karena waktu yang mengejar, Alghi dengan cepat membawa sang istri untuk mandi bersama, kalau saja tidak akan melakukan perjalanan Alghi ingin rasanya menikmati tubuh indah sang istri dibathub, karena sang junior sudah mengeras lagi melihat keindahan yang terpangpang depan matanya itu.
Setelah bersiap dan berpakaian rapi, mereka turun menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama. Disana sudah ada kedua orang tuanya dan juga sang nenek serta Mona sepupunya kemudian sarapan bersama.
"Al...Mel...semoga pulang dari bulan madu, kalian secepatnya memberikan nenek cicit ya, sudah gak sabar nenek ingin menimang baby..." Ucap nenek Elisa disela-sela makannya.
"Iya kami kangen suasana ramai dengan tangisan anak-anak dirumah ini, kalian lihat betapa sepinya kan?"
kata Mama Fiandra berharap juga.
"Iya papa juga berharap kalian cepat dapat momongan."
Ucap papa Alghi seraya menatap ke arah pasangan yang baru itu.
"Do'ain saja, semoga kami diberi kepercayaan secepatnya." Jawab Alghi semangat, sementara Ameldita hanya menanggapi dengan senyuman saja, dia bingung harus menjawab apa.
"Dan aku siap menjadi pengasuh keponakanku..." Ucap Mona seraya tersenyum ramah.
Dan setelah selesai mereka sarapan, akhirnya mereka bertolak ke bandara, mereka sengaja beramai-ramai mengantarkan pengantin baru itu. Tadinya mau menggunakan jet pribadi, secara dia orang kaya gitu jadi apa sih yang tidak dia miliki?
__ADS_1
Namun Ameldita menolaknya, dengan alasan ingin menikmati suasana pesawat umum.