
"Selamat tuan bayi kembarnya mirip sekali dengan anda, yang perempuan sedikit ada garis wajah mommynya." Kata Dokter Rebeca seraya tersenyum.
"Alhamdulillah, semua lancar, ya dok semua identik dengan wajah saya, tapi tolong istri saya dok dia pingsan..." Kata Alghi panik.
"Kami akan menanganinya, dia kelelahan..." Ucap dokter Rebeca, dia langsung memerintahkan para perawat untuk memasang infus.
Dan Alghi langsung mengadzani kedua bayi itu, mata mereka menatap Alghi seakan mereka tahu bahwa Alghi memang daddynya, sungguh sangat lucu kedua bayi mungil itu.
Alghi menitikkan air mata bahagia, bisa menggendong dan mengadzani baby-baby itu, andai saja itu benar anak-anaknya, betapa bangganya dia, begitu pun dengan kedua orang tuanya, pasti mereka sangat bahagia, karena mereka sudah lama mengharapkan hadirnya cucu dalam keluarga besarnya.
"Missya terimakasih, kau sudah mengizinkan ku menemanimu disini, aku mencintaimu Missya, cepatlah pulih lihat anak-anakmu yang sangat lucu." Sahut Alghi seraya mencium keningnya, walau pun dia sedikit bingung kenapa kedua bayi itu mirip dengan wajahnya.
"Tuan kami akan memindahkan Nyonya Missya keruang rawat dan babynya berada diruang khusus." Kata dokter Rebeca.
"Baiklah, saya akan menemui keluarga saya dulu diluar." Ucap Alghi.
"Oke tuan..., nyonya Missya sudah saya beri obat jadi biarkan dia istirahat dulu." Kata dokter Rebeca.
"Oke dok, terimakasih." Ucap Alghi, lalu dia beranjak pergi menemui kedua orang tuanya diluar.
"Al bagaimana apakah sudah lahiran?" Ucap mama Fiandra dan yang lainnya.
"Sudah Alhamdulillah semua dilancarkan, Missya kelelahan dia tak sadarkan diri, tapi dokter sudah mengatasinya." Kata Alghi.
"Saya akan menemui Missya..." Ucap nenek Briska.
Dan dokter pun keluar dari ruangan Missya, dia memberitahukan jika ingin menemui Missya maka hanya boleh satu atau dua orang saja yang masuk secara bergantian.
Bisma terlihat kesal wajahnya, karena disaat hal penting terjadi mengapa orang lain yang menemani Missya, padahal berharap dirinyalah yang selamanya ada disisi Missya.
"Kalau begitu, mari kita masuk nek..."Kata Bisma mengajak sang nenek untuk menemui Missya dan babynya.
"Oke, kami duluan ya..." Ucap nenek Briska kepada orang-orang disana.
__ADS_1
"Alghi apa kabar?" Kata Ricard menyapanya.
"Saya baik, tapi siapa dia pah, mah?" Tanya Alghi menatap Ricard, dia tak mengenalinya.
"Saya Ricard Ricardo, dulu kita bersaing Al." Jawab Ricard.
"Dalam hal?" Kata Alghi heran.
"Dia Ricard anak sahabat papa Al, dan dia juga mantan kekasih istrimu." Ujar papa Ghian menimpali.
"Whattt...., benarkah? Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Kata Alghi.
"Ya tadi kita sama-sama berada dimall, kebetulan saya jumpa klaen disana." Ucap Ricard.
"Benarkah? Lalu kenapa anda berada disini juga?" Tanya Alghi lagi.
"Karena saya ingin memastikan hal penting dalam kehidupan anda tuan Alghiantara." Jawab Ricard.
"Mengenai hal apa tuan Ricard hingga kau bersedia membantu saya?" Ucap Alghi.
"Anda serius tuan Ricard?" Tanya Alghi lagi.
"Mengapa saya harus main-main dalam hal penting ini, dan anda harus tes DNA bersama kedua baby itu, secepatnya, sebelum Bisma melakukan tindakkan yang diluar dugaan." Ucap Ricard serius.
"Benar Al ayo lakukan sekarang juga, mungpung Bisma dan neneknya berada diruangan Missya." Kata Papa Ghian dan mama Fiandra.
Alghi dengan cepat menemui dokter khusus tes DNA untuk mengambil sedikit rambut baby mungil itu, dan mengambil rambutnya sendiri.
Dan betapa terkejutnya mama Fiandra dan papa Ghian disaat melihat kedua baby mungil itu wajahnya identik dengan wajah Alghi sang putra kesayangannya, mereka pun dengan cepat mengabadikan kedua bayi itu dengan mengambil gambarnya.
"Pah ini Alghi kecil kita, coba lihat pah, ini anak Alghi cucu kita, kita tak bisa meragukannya...mama yakin seratus persen." Kata mama Fiandra seraya menggendong bayi itu.
"Benar mah, mereka cucu kita, Missya adalah Ameldita, tapi kita harus menunggu bukti nyata untuk menunjukkannya pada keluarga Bisma, jadi bersabarlah." Ucap papa Ghian sambil mencium kedua pipi bayi mungil itu.
__ADS_1
"Tapi pah, mama ingin secepatnya memberi kabar kepada kedua orang tua Ameldita, kasian mereka, apa lagi Liana mengalami sakit parah sejak kepergian Ameldita pah." Kata mama Fiandra bersedih.
"Iya mah tapi nunggu dulu hasil tes DNA, papa sudah mendapatkan laporan dari Elkam papa kirimkan ke mama filenya, nanti bisa dibaca." Ucap papa Ghian.
"Benarkah, kalau begitu kita bicara diluar saja, kasian bayinya mau dibersihkan suster." Kata mama Fiandra
"Oke...nanti kita lihat dulu Missya mah, kasian..., begitu rumit perjalanan hidupnya, Ya Alloh biarkan mereka hidup bahagia selamanya, cukup sudah penderitaanya." Ucap papa Ghian mengusap wajahnya, sambil berjalan keluar ruangan.
"Oke pah, Amiiin yra..., Ya Rob, dosa apakah yang telah ku perbuat hingga membuat mereka menderita." Ujar mamah Fiandra, sambil menangis sedih.
"Sabar mah itu semua ujian buat keluarga kita..., jika sudah saatnya mereka pasti akan bersama dan bahagia." Kata papa Ghian.
"Kita jenguk dulu Missya pah, setelah itu kita pulang, kita bicarakan hal ini dirumah." Ucap mama Fiandra.
"Oke mah ayo...!" Kata papa Ghian.
Akhirnya mereka pun menjenguk Missya, mereka penasaran dengan apa yang dikatakan Ricard apa benar Ameldita memiliki tanda lahir dijari tengahnya? Mereka pun mencoba melihatnya, dan ternyata benar ada tanda lahir yang berbentuk love namun kecil bagaikan tahi lalat. Kebetulan Ricard pun menghampiri mereka.
"Nak Ricard, ternyata benar tanda itu ada, dia benar-benar Ameldita, kita harus memberitahu kabar ini kepada kedua orang tuanya, mari kita bicarakan dirumah." Ucap papa Ghian.
"Terimakasih atas petunjukmu nak Ricard, kau sangat membantu kami." Ucap Mama Fiandra.
"Sama-sama, saya akan melakukan apa pun demi kebahagiaannya." Kata Ricard.
Setelah itu datanglah Alghi, yang tadi sudah melakukan tes DNA diruang khusus dokter.
"Mah bagaimana keadaan Missya, apa dia sudah siuman?" Tanya Alghi menghampiri mereka.
"Belum Al, dia masih dalam pengaruh obat." Jawab Mama Fiandra.
"Iya Al bersabarlah..." Kata papa Ghian.
"Coba kau lihat Al, jari Missya..." Ucap Ricard menatap Alghi.
__ADS_1
Alghi pun meraih jari itu perlahan, dan ternyata memang benar adanya tanda lahir itu disana, sungguh Alghi belum bisa mengingat kenangan bersamanya, yang dia tahu saat ini Missya kekasih hatinya, dan betapa terngiang-ngiang dikepala saat tadi proses bersalin Missya, benar-benar membuat jiwa dan raganya ikut sakit, menyaksikan bagaimana pejuangan seorang ibu dalam melahirkan buah hatinya. Dia mengelus kepala Missya lalu mencium keningnya serta menggenggam tangan yang masih lemah.