
BAB 15
Etah kemana si pengawal setia Alghi tak menampakkan hidungnya, mungkin dia sibuk menghandle pekerjaan lainnya, dengan terpaksa Ameldita memapah tubuh tinggi untuk masuk ke mobil mewahnya untung saja badannya pun sama-sama tinggi walau pun dia masih gemetaran dengan kejadian tadi.
Ameldita mencari P3K disana, namun tak menemukannya. "Mobil apaan ni tak tersedia apa pun." Gerutu Ameldita, terpaksa memakai tisue basah untuk mengelap darah dibibir Alghi.
"Awww...perlahan Mel...!" Ucap Alghi meringis seraya memegang tangan Ameldita dan menatapnya.
"Kenapa sih harus berkelahi, apa yang menjadi masalahnya, rugi kan babak belur..." Seru Ameldita kesal.
"Kau masih tanya masalahnya apa, itu semua karena dirimu, dan yang mulai pertikaian bukan aku tapi dia tu mantanmu, sudahlah kita jalan..." Ucap Alghi serius.
"Hah...a-aku..." Ameldita menunjuk dirinya sendiri, kemudian pindah ke kursi kemudi, ya dia yang akan mengemudi karena dia melihat kedua tangan tuannya ada sedikit lecet, takutnya merasa sakit, walau pun bagi Alghi itu biasa saja hanya sedikit perih. So care juga ya Ameldita ni.
"Lho kenapa kau yang mengemudi, emang bisa?"
Sahut Alghi heran.
"Tentu saja emang kenapa, masalah?" Sahut Ameldita seraya mulai menjalankan mobilnya.
"Hati-hati Mel bahaya, ya maksudku dikira kau tak bisa mengemudi."
"Siapa bilang? Ya bisalah ni buktinya, sudahlah mau ke rumah atau ke kantor lagi." Ucap Ameldita seraya memegang setir dengan lihai.
__ADS_1
"Apartemen..." Jawab Alghi singkat.
"What apartemen...? Mau ngapain bukannya pulang saja kita ke rumah, obatin dulu lukamu, nanti takut infeksi."
"Ya obatinnya disana, kan kotak P3K tertinggal disana, Anton lupa memasukinnya."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di apartemennya Alghi, dia sengaja pura-pura sakit biar dipapah lagi sama Ameldita, kan kempatan ni bisa dekat terus, modus juga dia ni.
Setelah masuk ke apartemen Ameldita mendudukkan Alghi disofa dan mengambil kotak P3K yang Alghi tunjukkan tadi, dengan perlahan dia obati dan sesekali Alghi meringis manja, membuat Ameldita sedikit kesal, bagaimana tidak Alghi menunjuk semua badannya untuk disentuh dia bilang terasa sakit padahal yang luka dibagian bibir dan tangannya saja.
"Mel dada ku juga terasa sakit, bukain kemejaku, please..."Alghi memelas, baru beres mengobati tangan dan luka sobek dibibirnya, eh minta yang lainnya, dasar modus.
"Buka saja sendiri aku mau ke toilet." Tolak Ameldita, karena tadi memegang bibirnya saja jantungnya sudah deg degan, apa lagi harus membuka bajunya, baagaimana?
"Suruh saja pacarmu yang seksi itu." Seru Ameldita seraya merapikan kotak P3Knya, masih ingat betul bagaimana tadi cewe itu memeluknya erat, giliran sakit kenapa dia yang harus repot.
"Aku suka kalau kamu cemburu Mel...kamu nampak menggemaskan." Ucap Alghi seraya menoel hidung mancung Ameldita.
"Siapa juga yang cemburu, apa urusannya harus cemburu? Aku tak peduli...." Elak Ameldita padahal hatinya merasa kesal, etah perasaan apa itu, semenjak bekerja bersama Alghi jantungnya selalu bermasalah, dan suka merasa kesal hati kalau melihat tuannya dekat dengan cewe lain.
"O ya...beneran?" Alghi berusaha menggoda.
Ameldita mengerucutkan bibirnya sebal dan itu membuat Alghi semakin ingin menggodanya, cantik dan lucu, kalau saja bibirnya tidak sakit ingin sekali melahapnya.
__ADS_1
"Ya benerlah, masa bebohong..."
"Dia mantanku sudah sejak 2 tahun lalu kami putus." Jelas Alghi berharap Ameldita percaya.
"Siapa...???" Jawab Ameldita singkat
"Aku sama Dinalah"
"Yang nanya...???" Ameldita melempar bantal sofa ke bahu Alghi sambil menjulurkan lidahnya.
"Aduuuuhhh sakit Mel..." Pura-pura Alghi.
Ameldita pun spontan mengusap bahu Alghi." Perasaan pelan deh ku memukulnya, kenapa terasa sakit ya." Gerutunya dalam hati.
"Mel kemejaku belum dibuka ni..." Sahut Alghi memaksa.
"Oh ya apuuun...bener deh bikin naik darah." Gerutunya lagi, namun masih terdengar ditelinga Alghi.
"Apa kau bilang, harus ikhlas menolong orang itu."
"Dan sayangnya kau bukan orang tuan he he..." Sahut Ameldita sedikit tertawa, dan terpaksa dia pun membuka kemeja tuannya, perlahan membuka kancing kemeja itu, jantungnya mulai maraton lagi, dag dig dug tak karuan apa lagi saat melihat dada bidang dengan perut yang berbentuk roti sobek itu, dan Alghi pun dengan cepat menarik tubuh gadis cantik itu kearah dadanya, menempel dan sangat intim, kedua dada insan itu naik turun tak beraturan hingga tak terkikis lagi jarak diantara mereka.
Mata Alghi mendamba menginginkan sesuatu yang lebih, bagian tubuhnya yang lain nampak terbangun apa lagi saat melihat harta karun dibagian dada Ameldita membusung, seakan menantang untuk dinikmatinya."Haduuuhhh bahaya kalau sudah begini, saba-sabar Joni" Gerutu Alghi dalam hatinya, seraya mendaratkan bibirnya dikening Ameldita, kemudian ia pergi ke kamar mandi, biasa menuntaskan hasratnya yang terpendam.
__ADS_1
Ameldita pun tertegun sambil memandang ke arah Alghi yang pergi ke kamar mandi, ada perasaan bahagia yang membuncah saat Alghi mendaratkan kecupan manis dikeningnya."Apa itu, dan kenapa bisa begini?" Rutuknya dalam hati.