TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 31


__ADS_3

"Makanya bos jangan berani bermain api, kalau tidak ingin terbakar." Guman Anton dalam hati.


Hari sudah menjelang maghrib, akhirnya mereka sampai juga dirumah, Alghi turun dari mobilnya dengan posisi masih memangku sang istri yang terlelap, nampak sudah mama dan nenek sedang berbincang, mereka terperanjat melihat Alghi menggendong Ameldita, dan langsung memberondong beberapa pertanyaan.


"Al sayang...apa yang terjadi dengan istrimu?"


"Ya Alloh lututnya berdarah tu, kenapa sih Al?"


"Apa istrimu baik-baik saja sayang?" Tanya mereka hampir bersamaan.


"Apa yang terjadi Al, kenapa istrimu?" Ucap Papa Ghian yang baru datang ke ruangan itu.


"Sssttt...nanti Al jelaskan..." Kata Alghi pergi masuk ke dalam lift menuju kamarnya, tak menghiraukan pertanyaan mereka yang bikin kepalanya tambah pusing.


"Anton...jelaskan semuanya sebelum kau pulang." Titah Papa Ghian seraya mendudukan dirinya dikursi.


Mau tidak mau Anton menjelaskan semuanya, dari awal sampai akhir, dia bagaikan seorang pembawa berita diTV dalam membicarakan kejadian yang menimpa tuan dan istrinya.


"Begitu ceritanya tuan."


"Si Carolin memang mengejar Alghi dari dulu, rupanya gadis itu pantang menyerah, nasib memiliki kegantengan yang maksimal, dimana pun dikejar-kejar perempuan." Ucap papa Ghian sedikit membanggakan anaknya.


"Keterlaluan sih Al ini, kenapa dia meluangkan waktu untuk makan siang segala?" Kata mama Fiandra.


"Bener cucu ku itu gak sadar diri sudah beristri." Ucap nenek Elisa sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ameldita pasti sakit hati, dikira Alghi selingkuh." Kata Papa Ghian.


"Kalau mama dalam posisi Ameldita, sudah pasti akan marah juga, apa lagi Ameldita dia masih labil dan emosi belum terkontrol, namanya juga masih muda, Al Al kau ini..." Ucap Mama Fiandra ikut prihatin.


"Berita bagus ni, rasain tu sakit kan, makanya jangan so soan romantis, sekarang baru terasa, hancur...puas lho..., ku doakan segera bercerai biar ku ambil duda tuan muda he he..." Guman seorang gadis yang dari tadi menguping pembicaraan majikannya, ketika dia menyiapkan makanan dimeja. Ya dia Sari orang yang sangat membenci Ameldita, karena merasa Ameldita merebut orang yang dia cintai.


Setengah jam kemudian Alghi turun dengan memakai pakaian rumahnya, dia menghampiri kedua orangtuanya yang sedang berkumpul.


"Malam pah, mah, nek." Ucapnya seraya duduk dikursi.


"Malam sayang...gimana keadaan istrimu? Ucap mama dan nenek bersamaan.


"Dia baik-bakk saja mah,nek...lututnya sedikit terluka tapi sudah Al obati, dia lagi istirahat sekarang, jadi begini ceritanya Pah, mah juga nenek..." Ucap Alghi, namun menggantung kata-katanya.


"Kami sudah tahu, Anton sudah menceritakannya..." Ucap nenek Elisa seraya meminum tehnya.


"Tidak bos, ngapain harus diedit, emangnya photo apa?"


Ucap Anton menutup mulutnya dengan telapak tangan, takut menyinggung tuannya.


"Totooon...sudah tahu kan konsekuensinya?" Kata Alghi.


"Iya bos sorry, sorry..." Ucap Anton sedikit takut, karena tuannya bener-bener tersinggung.


"Al papa kan jauh-jauh hari sudah bilang, jaga istrimu dengan baik, perempuan itu hatinya halus, jika sudah terluka maka sulit untuk mengembalikan kepercayaan itu, tapi malah meluangkan waktu makan siang dengan si Carolin, sudah tahukan kalau dia itu menyukaimu...?"

__ADS_1


"Iya pah sorry, Al pikir dia sudah melupakan Al dan menganggap Al sebagai temannya saja. Ternyata dia makin agresif saja sikapnya, menyebalkan bukan?"


"Makanya jangan sekali-kali melakukan hal bodoh lagi Al, kasian tu istrimu, sedih kan, mama pun pasti marah kalau melihat papa mu disentuh-sentuh perempuan lain." Kata mama Fiandra.


"Al istrimu masih muda, emosinya masih tidak terkontrol, jadi jangan coba-coba membuatnya marah, kasian kan, kau sendiri yang bingung nantinya." Ucap nenek Elisa.


"Terus sekarang harus gimana, Al bingung ni, takut istri Al masih marah, pah, mah, nek, gimana dong?" Kata Alghi galau tingkat tinggi.


"Ya bujuklah, jelaskan dengan cara baik-baik, ingat jangan emosi, laki-laki harus bisa mengalah untuk menang, papa yakin kamu bisa mengatasinya." Kata papa Ghian bijak.


"Benar Al, kamu pasti bisa meluluhkan hati istrimu, tunjukkan rasa cintamu, pasti dia akan luluh, mama yakin dia sangat mencintaimu juga." Kata mama Fiandra, seraya mengusap bahunya.


"Wajar jika istrimu marah berlebihan, dia terlahir menjadi anak yang manja, yang selalu harus dilayani segalanya, hingga dia belajar untuk mandiri dengan bekerja dinegeri orang, dan akhirnya dia terpaksa harus menikah dengan orang yang baru dikenalnya, disaat dia sudah jatuh cinta, tanpa sadar kau melukainya, jadi pasti dia kecewa Al, nenek yakin kamu bisa mengembalikan kepercayaan istrimu, sayangilah dia sepenuh hati hingga maut memisahkan, semangat Al nenek selalu mendukungmu." Ucap nenek Elisa panjang kali lebar.


Tepat pukul 11 malam, Ameldita terjaga dari tidurnya, ketika dia meraba perutnya, ada satu tangan yang melingkar disana, melirik kesamping ternyata ada wajah tampan suaminya yang sedang terlelap, menatapnya intens, dan berguman:" Kak mengapa kau membuatku kecewa disaat hatiku sudah ku labuhkan untukmu, disaat jiiwa dan raga ku pasrahkan padamu, disaat aku ingin selalu bersamamu, sanggupkah aku bertahan disisimu?"


Dia mencoba mengangkat tangan kekar itu, perutnya keroncongan minta diisi, dari tadi waktu makan siang belum sempat makan apa pun, keburu terganggu dengan pemandangan yang buruk, namun tangan itu makin erat mendekap tubuhnya.


"Ka...lepas, ku lapar ni..."


"Sayang...sudah bangun? Baiklah ni sudah disiapkan makanannya, tapi sepertinya dingin, ku panaskan dulu ya." Ucap Alghi seraya membawa nampan yang berisi makan malam sang istri, dia turun ke bawah dan membawanya ke dapur, ketika mau dimasukan ke microwave Ameldita melarangnya.


"Gak usah kak, aku mau mie instan." Kata Ameldita, lalu dia mengambil mie instan yang korean spicy.


"Biar aku yang buat sayang." Kata Alghi seraya meletakkan panci yang sudah berisi air panas diatas kompor.

__ADS_1


"Cukup kak, jangan lagi beri perhatian lebih, aku tak kan sanggup." Ucap Ameldita ketus, dia mengambil alih pancinya.


Deg jantung Alghi seakan berhenti berdetak, rupanya sang istri benar-benar masih kecewa. Alghi menarik nafas perlahan, berusaha memahami perasaan sang istri, dia benar-benar merasa bersalah, sakit rasanya dikala istrinya merajuk.


__ADS_2