
Mereka cepat-cepat menuju kamar putranya berada, dimana disana Ameldita berbaring, dan masih ada selang infus tertanam ditangannya, dengan rasa cemas dan khawatir mereka menghampiri tubuh lemah itu, mama Fiandra menangis sedih, melihat keadaan sang menantu yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
"Sayang kenapa bisa seperti ini, bagaimana keadaannya Al, apa mereka baik-baik saja? Kenapa bisa istrimu berada disana?" Ucap mama Fiandra dan papa Ghian.
"Itulah mah Al juga tidak mengerti, Alhamdulillah mereka baik, namun istri Al belum sadar mah, pah...lihat kakinya mah tertusuk pecahan kaca." Ucap Alghi sedih.
"Ya Alloh...kasian kamu sayang...cepatlah siuman..." Kata mama Fiandra prihatin, seraya mengelus kepala sang mantu.
"Ini harus diselidiki, tak mungkin kan istrimu berjalan sambil tidur kesana, pasti ada seseorang yang membawanya." Kata papa Ghian serius, dia tak rela menantu kesayangannya teraniaya oleh orang yang dengki.
"Iya pah...harus dan mesti ditemukan siapa orang jahat itu, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, aku benar-benar merasa sakit hati dengan segala perbuatannya terhadap istriku." Geram Alghi sangat emosi.
"Tenang dulu Al, jangan mengikuti emosi, kita harus berpikir logis, papa yakin ada orang dalam rumah ini yang melakukannya." Kata papa Ghian seraya melipat kedua tangannya dibawah dada.
"Lalu siapa pah, kenapa kita tak menyadari ada orang jahat dirumah kita ini...?" Sahut mama Fiandra seraya mengusap air matanya.
"Papa juga belum tahu mah, tapi Papa sudah memasukan seorang mata-mata yang handal, dijamin dia tak kan lolos, papa benar-benar benci sama penjahat itu, ingin secepatnya menjerat dia dengan hukum." Geram papa Ghian.
"Semoga orang jahat itu cepat ditemukan, aku tak sabar ingin memberi pelajaran terhadapnya." Geram Alghi seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Ok mamah mandi dulu sayang, nanti gantian ya jagain istrimu, bersabar dan berdo'alah, semoga dia lekas siuman, nenekmu sebentar lagi datang, beliau lagi dijalan, beliau sangat khawatir mendengar berita ini." Ucap mama Fiandra sedih.
__ADS_1
"Ok mah, pah...thanks..." Kata Alghi lalu dia duduk kembali disamping sang istri, mengelus kepalanya perlahan kemudian dia mencium keningnya.
"Sayang bangunlah...jangan terlalu lama seperti ini, kasian baby kita sayang..." Ucap Alghi sambil mengelus perut sang istri yang mulai nampak membesar.
"Kak...Meldi disini..., jangan bersedih..." Ameldita menyentuh punggung suaminya sambil berbicara, namun etah kenapa Alghi tak menghiraukannya, dia pun memeluknya erat suaminya dari belakang, dan melabuhkan dagunya diceruk leher Alghi, tetap saja suaminya tak peduli.
"Kak...kak Al...Meldi disini, hiii...!" Teriak Ameldita dengan keras dan menatap kedua bola mata suaminya, namun tetap Alghi tak mendengar, mata Alghi tetap memandang tubuh yang terbaring didepannya sambil memegang tangan putih itu.
Ameldita menangis lalu melihat orang yang terbaring itu, ternyata dirinya, dia shock berat lalu mundur beberapa langkah: "Aku kenapa?" Ucapnya sedih.
Jiwa Ameldita masih melanglang buana enggan untuk memasuki raganya, dia berjalan menyusuri taman bunga yang warna-warni nan indah, banyak kupu-kupu berterbangan disana seakan mengajaknya bermain, dia pun melompat-lompat mengejar kupu-kupu hingga barakhir ditepi jembatan emas nan berkilau, disana nampak Alghi dan dua orang anak kecil yang lucu dan sangat menggemaskan.
Ameldita berjalan menghampiri ketiga orang itu, yang terus melambaikan tangan ke arahnya, dan setelah dekat mereka bertiga memeluk tubuhnya dengan erat, sambil berbicara: "Kembalilah sayang, kita sangat merindukanmu, jangan pergi lagi, kami mohon..."
Satu minggu sudah Ameldita masih dalam keadaan koma, Alghi pun dengan setia berada disampingnya, berdo'a dan selalu bersabar memohon keajaiban Yang Kuasa untuk membangunkan istrinya.
Dokter pun dengan cepat memeriksa keadaan Ameldita, dan Alhamdulillah kondisinya semakin membaik.
"Bagaimana dok keadaannya...?" Tanya Alghi tak sabar.
"Alhamdulilah, berangsur lebih baik tuan, semoga secepatnya siuman..." Jawab dokter itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Amiiin....!" Kata Alghi sambil menarik nafas perlahan.
"Ya Alloh sadarkanlah istriku secepatnya, jangan terlalu lama Engkau mengujinya, hamba mohon ya Alloh." Mohon Alghi dalam do'anya.
"Al istirahat dan makanlah dulu, ini sudah waktunya makan malam, biar mama yang menjaganya." Kata mama Liana menghampiri Alghi, ya sejak sehari Ameldita belum sadarkan diri, kedua orang tuanya langsung dikasih tahu, karena takut mereka menyalahkan terhadap kejadian yang menimpa Ameldita, hingga mereka dengan cepat datang menjenguk sang putri. Dan mereka akan tinggal disana selama kondisi Ameldita masih belum membaik.
"Tidak mah, Al tidak lapar...nanti saja, mah tadi tangan istri Al bergerak, Al yakin dia akan segera bangun..." Ucap Alghi berbinar bahagia.
"Benarkah Al, itu tandanya putri mama akan segera pulih, terimakasih Al, sudah setia menemani putri mama..." Kata mama Liana sambil mengelus kepala sang putri tercintanya.
"Sama-sama mah, so sorry Al belum bisa menjadi suami yang baik." Sahut Alghi sendu.
"Is ok Al, ini semua sudah suratan Yang Maha Kuasa, jangan merasa bersalah, Al lebih baik makanlah dulu, jangan sampai kondisimu ngdrop, lalu siapa yang akan menjaga istrimu? Jaga kesehatan Al..." Ucap mama Liana, dia khawatir terhadap menantunya, karena Alghi terus menjaga putrinya, sampai suka lupa makan dan minum, bahkan dia sambil mengerjakan pekerjaannya disana. Kamar mereka yang mewah dan megah itu kini bagaikan ruang rumah sakit karena berbagai peralatan medis berpindah kesana, Ya Alghi tak mau Ameldita dirawat dirumah sakit, dia memilih rumah yang tepat untuk merawat sang belahan jiwanya.
"Baik mah, nanti Al akan makan, mama jangan khawatir..." Kata Alghi sambil menatap mertuanya, sedih dia merasa tak becus menjadi suami yang baik bagi anaknya.
"Ok mama keluar dulu, kalau ada apa-apa kasih tahu, kami semua ada dibawah." Ucap mama Liana.
"Baik mah..." Sahut Alghi sambil menganggukkan kepala.
"Sayang...bangun, ku mohon bangunlah, ku rindu semua canda tawamu, dirimu yang manja dan juga marah, aku mohon sayang..." Ratap Alghi menyentuh perlahan seluruh wajah sang istri, lalu mengecup kening dan punggung tangannya, kemudian mengelus-ngelus perutnya.
__ADS_1
"Sayang anak-anak daddy baik-baik ya disana, bantu mommy untuk bangun dari tidurnya, supaya kita bisa bermain lagi." Cup Alghi pun mendaratkan ciuman hangatnya diperut sang istri.