TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 30


__ADS_3

"Tentu saja kau pikir aku berbohong apa, aku sudah lama bekerja sebagai sekretarisnya, dan sudah sering melihat bos bersama dengan seorang wanita cantik lebih dari kamu, bahkan aku pernah melihat mereka tidur bersama." Ucap Susan lagi, dia sengaja memanas-manasi hati Ameldita, karena sudah sering melihat keintiman Ameldita dan bosnya, dia gak rela dong...dirinya saja dicuekin.


"Ok thanks infonya, saya duluan ya..." Ucap Ameldita, setelah merapikan bajunya dan merias wajah dengan bermake up tipis, nampak cantik dan elegan, namun wajahnya nampak murung.


" Non Meldi, kita disuruh menyusul tuan ke restoran depan, untuk makan siang, tuan sudah menunggu kita disana." Kata Anton yang sedari tadi sudah menunggu depan toilet.


"O ya...tapi sepertinya ku gak lapar Om..." Ucap Ameldita sedikit malas.


"Jangan begitu non, nanti saya kena marah, kalau non Meldi gak kesana, please..." Ucap Anton memohon.


"Baiklah ku kesana Om..." Kata Ameldita kasian terhadap Anton, dia menarik napas dan membuangnya kasar.


Beberapa menit kemudian sampai direstoran itu, deg hati Ameldita benar-benar bagaikan tertusuk duri yang kecil namun tajam, terlihat tangan suaminya sedang diatas meja dan disentuh Carolin, dengan menatap wajahnya walau pun Alghi fokusnya pada handphonenya.


Ameldita mematung beberapa senti dari tempat mereka duduk, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ternyata benar apa yang dikatakan Susan itu, sungguh sangat menyakitkan, walau pun cuma melihat Carolin menyentuh tangan suaminya, dia membalikkan badannya bermaksud akan menjauh dari sana.


"Hi...kemarilah makan bersama...!" Ajak Carolin seraya melepas sentuhannya dari tangan Alghi.


"Kemarilah, ditunggu dari tadi, kemana Anton?" Kata Alghi menatap manik sang istri yang nampak tak bersahabat, dan mimik mukanya yang sedang kesal namun berusaha menahannya, sepertinya sang istri cemburu melihat kedekatannya sama Carolin.


"Dia asisten atau sekretaris kamu Al, cantik sekali?" Ucap Carolin.


"Saya asisten pribadinya, terimakasih." Kata Ameldita seraya mendudukkan dirinya dikursi sebrang Carolin.

__ADS_1


"Sayang ayo pesan apa? Pasti laparkan?" Kata Alghi spontan, sambil memberikan buku menu.


"Sa-sa-sayang, itu pangilanmu terhadap asisten?" Ucap Carolin terkejut.


"Namaku sayang, Ameldita sayang, jadi selalu dipanggil sayang." Kata Ameldita, sementara Alghi menatapnya tajam, kenapa istrinya itu masih kukuh tak mau diketahui setatusnya, padahal terlihat jelas dia sedang cemburu, dan hanya Alghi yang merasakan hal itu.


"Oh, cantik sekali namamu sesuai dengan wajahmu, pantas saja semua orang menyukaimu." Sahut Carolin.


"Biasa saja, terimakasih..."Ucap Ameldita senyum terpaksa.


Setelah makanan datang mereka pun makan bersama, sambil bercerita mengenai masa lalu, nampak asik Alghi dan Carolin bersenda gurau, sedangkan Ameldita wajahnya makin ditekuk, makanannya hanya diaduk-aduk tanpa dimakan, kesal, boring hanya jadi obat nyamuk menurutnya, sang suami pun tidak peka.


"Sayang...makanlah, apa tidak enak makanannya, coba ganti menu saja?" Kata Alghi, menatap wajah istrinya yang bad mood.


Sementara Anton dari tadi serius makan, bener-bener kelaparan, sesekali menoleh ke arah mereka. "Haduuuh...si bos cari masalah, bisa-bisa perang dunia ke 4 dimulai ni..." Guman Anton dalam hati.


"Ok hati-hati..." Kata Alghi.


Beberapa detik kemudian Carolin pun pamit, bosnya sudah selesai dengan segala urusannya, jadi langsung mau pulang ke Inggris, dan namanya orang yang hidup dinegara sana, peluk cium sepertinya bukan hal yang aneh lagi, seperti Carolin saat ini.


"Al sampai jumpa lagi ya, ku pamit, ku masih kangen sih setelah sekian lama kita tak bertemu." Kata Carolin seraya memeluk erat tubuh Alghi yang berdiri, dan berusaha melepas pelukannya.


"Ok bye... lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi." Ucap Alghi basa-basi, padahal hatinya galau takut sang istri melihat.

__ADS_1


Sedangkan Ameldita keluar dari restoran itu, dia kesal, emosi dan etah apa lagi yang dia rasakan, yang jelas sakit namun tak berdarah, tak tahan lagi air mata pun luruh sejak tadi melihat Carolin dan Alghi sedang berpelukan, dia berjalan menyusuri trotoar sesekali menendang benda yang tergeletak disana.


"Aku benci kehidupan seperti ini, ternyata ini lebih menyakitkan, kenapa aku harus mencintainya jika akhirnya akan seperti ini...aaa..." Teriak Ameldita sambil menangis menumpahkan segala kekesalannya.


Tak sadar dia berada dijembatan dan dibawahnya terbentang lautan yang luas, dia terus menangis meratapi nasib buruknya. "Kenapa semuanya palsu, kebahagiaan itu seakan mampir sesaat saja, apa ini akibat dari dosaku terhadap mama dan papa? Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku akan menyandang gelar seorang janda diusia yang masih muda?"


"Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi, sampai kapan pun aku tak akan pernah melepaskanmu!" Seru Alghi dari samping kanannya, dia berjalan menghampiri sang istri yang sedang meluapkan segala emosinya.


Ameldita menoleh ke arah suara itu dan ia bringsut mundur." Jangan mendekat...,jika tidak aku akan melompat kesana...!"


"Aku tahu kamu cemburu dan marah tapi tolong jangan melakukan hal itu, aku sangat mencintaimu sayang, yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan." Kata Alghi merangsek maju tak peduli Ameldita melontarkan kata-kata penolakannya, dia khawatir kalau istrinya benar-benar melompat ke bawah laut itu.


"Jangan membual, aku tidak percaya lagi dengan kata-kata manismu, semua laki-laki ternyata sama, jangankan dibelakang sang istri dihadapannya pun mereka berbuat gila, aku benci, aku benar-benar benci semuanya...!" Teriak Ameldita, dia mencoba naik ke dinding jembatan itu, dia kalap dan kalah dengan rasa emosinya.


Alghi sangat shock ternyata istrinya benar-benar nekad, dia berusaha meraih tubuhnya, memeluknya erat, meski pun istrinya meronta, memangkunya menjauh dari sisi jembatan itu, pukulan demi pukulan dia dapatkan, namun tak dihiraukannya, yang penting dia berhasil membawa istrinya dari sana.


Anton dengan sigap membukakan pintu mobil, Alghi membawa istrinya masuk ke dalam masih berada dipangkuannya, Ameldita terus menangis dan memukul-mukul dada Alghi dengan sekuat tenaga, dan Alghi membiarkannya sampai dia berhenti meskipun terasa sakit, dia paham istrinya sedang emosi.


"Anton jalan..." Ucap Alghi setelah melihat Ameldita sedikit tenang dan terlihat memejamkan matanya.


Alghi mengusap air mata yang masih basah dipipi merah sang istri, mengecup keningnya penuh kasih.


"Ok bos..." Kata Anton.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, telah melukai hatimu, tapi percayalah dihatiku hanya ada kamu seorang, aku sangat mencintaimu." Kata Alghi sambil membelai rambut sang istri yang berantakan. Sepertinya Ameldita tertidur karena kelelahan, namun masih terdengar sesenggukan disela-sela tarikan nafasnya.


"Makanya bos jangan berani bermain api, kalau tidak ingin terbakar." Guman Anton dalam hati.


__ADS_2