TERPERANGKAP JODOHKU

TERPERANGKAP JODOHKU
BAB 62


__ADS_3

"Hajar mereka dan minta kunci cadangan ke petugas hotel, saya sudah menghubungi polisi, ini termasuk tindak kriminal...!" Ucap Ameldita geram.


"Siap laksanakan...!" Kata para pengawal itu.


"Ckrek, ckrek..." Royko mengambil photo bersama Alghi yang lagi tak sadarkan diri, dia pun nekad membuka jas Alghi, dan ketika dia mau membuka kancing kemeja putihnya, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras bersama suara seseorang yang menggema memenuhi ruangan itu.


"Jangan sentuh suamiku, kalau tidak maka nyawamu akan melayang saat ini juga...!" Teriak Ameldita seraya maju dan menodongkan senjata api yang sempat diambilnya dari balik baju Anton sebelum ia masuk.


Royko mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, dia shock juga dikiranya tak akan ada yang mengetahui niat busuknya, dia tidak tahu bahwa feeling seorang istri itu tajam.


Ameldita langsung merangsek maju, dengan cepat dia menarik baju bagian dada Royko, dia melayangkan beberapa tamparannya ke wajah wanita itu, dia tak rela suaminya diperdaya dan disentuh wanita lain.


"Dasar wanita murahan tak tahu diri, apa tak ada laki-laki lagi selain suami orang hah..., hingga kau memanfaatkan suamiku benar-benar keterlaluan, wanita terhormat sepertimu melakukan hal serendah ini...!" Teriak Ameldita membabi buta, dengan mulut tak berhenti mengeluarkan kata-kata sumpah serapah.


Bibir si Royko pun berdarah akibat tamparan Ameldita yang sangat emosi, dia bangkit dan mau membalas Ameldita, namun ketika tangannya melayang di udara, tiba-tiba dari arah pintu datang beberapa polisi dan para pengawal Ameldita, mereka menangkap paksa wanita itu.


"Hi aku mencintai suamimu dari dulu, jauh sebelum kau mengenalnya, mengerti....!" Teriak Royko seraya memberontak dari cekalan para polisi itu.


"Sungguh tak tetolong kasian..." Kata Ameldita geleng-geleng kepala.


Ameldita tak peduli dengan ocehan wanita itu dia memeluk suaminya sambil menangis." Kak kenapa bisa seperti ini, kak...?"


"Pak tolong bawa suamiku ke rumah sakit terdekat, dan juga orang-orang yang pingsan diluar." Ucap Ameldita.


Dia takut terjadi hal buruk dengan suaminya, air mata pun terus bercucuran membasahi kedua pipinya yang cantik, dia terus menggenggam tangan suaminya dan sesekali mencium keningnya.

__ADS_1


"Kak bangun...jangan begini dong, aku takut..." Ratap Ameldita.


Dan mereka pun sampai ke rumah sakit, Alghi langsung dibawa ke ruang emergency, Ameldita gelisah dan cemas, dia mondar-mandir menunggu sang dokter keluar. Hingga datang kedua orang tua Alghi yang sempat dia hubungi.


"Sayang bagaimana keadaan Alghi? Ucap mama Fiandra yang baru datang, dia nampak sangat khawatir terhadap putra kesayangannya.


"Mamaaa...kak Al mah..." Kata Ameldita seraya memeluk mama Fiandra sambil menangis.


"Tenang sayang relax, tak akan terjadi apa pun dengan Alghi, dia laki-laki yang kuat, percayalah sayang..." Ucap mama Fiandra mengelus rambut dan bahu menantunya, dia berusaha menenangkannya, juga papa Ghian ikut mengelus bahu sang mantu.


"Relax dan berdo'a semoga Alghi baik-baik saja..." Kata papa Ghian dua berusaha tegar walau pun hatinya sangat terpukul dengan apa yang menimpa putra kesayangannya.


Pintu ruangan Alghi diperiksa pun terbuka, nampak dokter keluar dari sana, Ameldita dan kedua orang tua Alghi pun langsung menghampirinya.


"Bagaimana kondisi putra saya dok?"Tanya papa dan mama Alghi.


"Tenang, semuanya tenang dulu, tuan Alghi baik-baik saja, dia pingsan karena pengaruh minum obat perangsang yang berlebih, dan kami sudah memberi obat peredanya, tapi efeknya setelah dia terbangun akan kembali terasa, dan itu membutuhkan istrinya untuk menetralisir pengaruh obat tersebut." Tutur dokter itu menoleh ke arah Ameldita, yang nampak sedih dan masih berurai air mata.


"Terimakasih dok, apa kami sudah boleh menemuinya?" Ucap mereka bersamaan.


"Tentu saja boleh, silahkan dia sudah dipindah ke ruang rawat." Ucap dokter itu seraya tersenyum ramah.


"Terimakasih banyak dok..." Kata mereka.


Dengan segera mereka menuju ruangan VIP dimana Alghi sedang dirawat. "Al ya Alloh kenapa bisa begini sayang, harusnya lebih berhati-hati, tidak semua klaen baik sayang..." Ucap mama Fiandra sedih, seraya mengelus kepala sang putra, begitu pun dengan papa Ghian dia benar-benar sedih melihat kondisi putra kesayangannya.

__ADS_1


Dan dia sangat geram terhadap Mr.Yukito apa lagi sama anaknya, yang telah membuat kondisi Alghi buruk, dia akan memenjarakan mereka, khususnya anak perempuan Mr.Yukito dia harus membayar atas semua kejahatannya.


Ameldita terus menangis dia takut sekali, apa lagi membayangkan bagaimana jika tadi dia tidak datang kesana, sudah pasti akan hancur hidupnya, karena suaminya berhubungan dengan wanita lain.


"Sayang papa sama mama akan mengurus dulu orang jahat itu, kami akan menyuruh nenek untuk menemanimu disini ya atau Mona, bagaimana?" Kata kedua orang tua Alghi, mereka harus pergi mengurus semua masalah ini, mereka tidak rela musuhnya lolos dari jerat hukum.


"Tidak usah mah, pah, biar Meldi saja yang nungguin ka Al, kasian juga nenek sama Mona..." Ucap Ameldita menatap kedua mertuanya.


"Jangan terus bersedih sayang, dan jangan menangis lagi ya, kasian babynya ikut bersedih nanti, Alghi pasti baik-baik saja." Kata mama Fiandra mengelus bahu sang menantu.


"Dan siap-siap Alghi sepertinya sekejap lagi bangun sayang, ingat tadi kata dokter apa?" Ucap papa Ghian tersenyum, dan blush muka Ameldita memerah karena malu, dia sudah paham apa yang dimaksud papa mertuanya.


"Papa jangan menggoda Meldi, ayo kita berangkat..., hati-hati sayang..." Kata mama Fiandra tersenyum.


"Ok sayang...kami berangkat dulu ya, jangan khawatir diluar ada banyak pengawal yang menjaga kalian..." Ucap papa Ghian.


"Kalau ada apa-apa hubupngi kami ya..." Kata mama Fiandra.


"Ok mah, pah, terimakasih..." Ucap Ameldita tersenyum, lalu menyalami mereka.


Setelah kedua mertuanya pergi, Ameldita duduk disamping sang suami, dia memegang tangannya lalu menciumnya.


"Kak bangun, jangan lama-lama begini, Meldi takut kak..." Ratap Ameldita menaruh telapak tangan Alghi dipipinya, dia sedih suaminya belum ada tanda-tanda bangun dan masih setia memejamkan kedua matanya.


"Sayang kenapa dady belum bangun juga, apa dia ingin membuat kita sedih terus..." Ucap Ameldita meraba perut ratanya dengan sebelah tangan, lalu dia melabuhkan kepalanya didada sang suami seraya terus berurai air mata.

__ADS_1


__ADS_2